::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Tuesday, 1 March 2011

Import Budaya,

Akhir-akhir ini beberapa media baik cetak maupun elektronik lagi asik-askinya membahas tentang import yang dilakukan oleh pemerintah. Mulai dari import beras (katanya negara agraris, tapi kok import beras), import minyak (padahal termasuk anggota OPEC, kok import minyak), import kedelai (jadi, bagi Anda penikmat mendoan, kering tempe, tempe goreng, dan lain-lain, kemungkinan Anda telah memakan makanan import. mantab dah), sampai garam juga import (padahal salah satu negara dengan pantai terluas). Tapi, yah, bisa maklum lah ya kalo kita import beras, lihat aja, penduduk Indonesia yang 230 juta lebih, dan mereka makan semua. jadi wajar, kalo butuh beras melimpah. Atau garam, maklum aja lah ya, soalnya pantai di Indonesia kan kebanyakan kotor, jadi garam laut nya g baik untuk dikonsumsi.

Itu tadi, masalah import-import yang memang dilakukan oleh pemerintah, 'demi' kemakmuran kita bersama. tapi, tahukan Anda bahwa secara tidak langsung kita, bangsa Indonesia telah melakukan yang namanya 'import budaya??'. How comes?

Memang import budaya tidak seperti import beras yang karung-karung beras nya bisa kita lihat di bulog atau drum-drum minyak di pelabuhan sana. Tapi import budaya dapat kita lihat dari bagaimana kita bertingkah laku, berpakaian, berekspresi, dan kegiatan-kegiatan berbudaya lainnya.

Ringan saja (ini sebenernya yang nulis juga g ngerti-ngerti amat. makanya yang ditulis yang ringan-ringan aja. ilmunya g nyampe. hehehe), sesuatu yang bisa kita sebut sebagai budaya misalnya adalah tarian. Coba perhatikan di TV atau di show-show (wuis, bahasanya mang!!). Berapa banyak sih yang menampilkan tari-tarian lokal Indonesia yang merupakan manifestasi dari budaya bangsa? ada banyak banget tari-tarian di Indonesia, mulai dari ujung barat Indonesia, tari Saman dari Aceh, sampai di ujung timur Indonesia, tari perang dari Papua. Belum yang tengah-tengah kayak di Jawa Tengah, tari serimpi, tari gambyong, tayub, hingga yang dipadu dengan seni drama, sendratari ramayana. tapi sekali lagi lihat, berapa banyak mereka diekspose di media??? yang banyak malah tari-tarian bangsa lain, kayak salsa, balet, breakdeance, dll. jadi?? di bidang tari-tarian bisa dikatakan kita import lah ya,

kita ke bidang lain. emmmm. berpakaian. selain sebagai alat pelindung tubuh, pakaian juga merupakan aset budaya Indonesia. ada banyak jenis dan motif pakaian adat di Indonesia, seperti pakaian batik, dan kebaya. tapi lihat sekarang, berapa banyak orang Indonesia yang senang memakai produk Indonesia? bahkan ada lho orang yang bilang, 'mau kondangan mas?', saat saya memakai pakaian batik. seakan- akan tu ya pakai batik terkesan untuk orang-orang berumur dan buat acaara-acara resmi kayak kondangan, dan lain-lain. padahal kan batik kebanggaan kita (saya khususnya,karena hampir setiap hari saya pakai batik (padahal g ada yang lain. hihi)). alih-alih bangga dengan apa yang kita miliki, orang-orang lebih suka mengenakan pakaian 'import', kayak jas, gaun, kimono, atau pakaian-pakaian 'u can see'. hihi,


ada lagi makanan. yah, ngomong-ngomong soal makan, memang tidak bisa dipaksakan, karena setiap orang punya selera makan yang berbeda-beda. Ada lho orang yang g doyan nasi, dan tiap hari cuma makan roti. tapi kenapa sih, kita tidak mencoba untuk menikmati makanan asli Indonesia. kan walopun si A misalnya, g doyan balado yang pedes, masih ada gado-gado yang g begitu pedes. kalo g doyan rendang atau sate yang dari daging, masih ada pecel. kenapa mesti beralih ke pizza, hamburger, spagheti. toh, kita juga punya martabak, jadah, atau mie jawa. Jadi, kenapa kita harus import??


masih mau lagi? tenang, masih ada kok. bahasa. bahasa adalah salah satu produk budaya yang menurut saya paling hebat. g peduli, mau pakai jas, gaun, kimono, atau kolor doang sekalipun, asal dia ngomongnya 'kunaon atuh?', kita langsung tahu kalo itu orang sunda. g peduli ada orang di Makasar sono yang makan di restoran padang, asal dia ngomong 'mantebs tenan iki sambele!', kita langsung tahu dia orang jawa atau paling tidak pernah tinggal di jawa. tapi coba dengarkan suara-suara yang ada sekarang. anak-anak TK aja kalo ditanya 'hy, how are you?' langsung jawab 'i'm fine, thank you'. tapi ketika ditanya 'pripun kabare nang?' langsung jawab 'ngapa takok-takoK? kethek!'. oke, ini bukan contoh yang baik. tapi beneran. kita udah import bahasa. oke, memang bahasa inggris misalnya, memang bahasa international, dan bagus kalo kita bisa. tapi apa kita g bisa kayak jepang atau china, yang walopun mereka adalah negara maju, mereka tetap bangga menggunakan bahasa mereka sendiri.


dan satu lagi yang paling parah adalah, import sikap. efek dari tidak ada kebanggaan terhadap bangsa sendiri, dan cenderung kepada bangsa lain, menyebabkan kita harus mengorbankan segalanya, termasuk sikap asli kita sebagai bangsa indonesia. g usah jauh-jauh, asal kita lihat rumah dengan pager yang tinggi plus anjing penjaga yang galak, itu sudah menunjukkan kita import sikap. coba jawab, dimana Indonesia nya saat menyambut tamu yang harusnya ramah, e, malah anjing yang menjawab. dimana Indonesia nya saat harusnya kita berbuat baik kepada tetangga dan saling sapa, e, malah dipisahin sama tembok yang tebelnya kayak tembok china. dimana Indonesianya saat harusnya kita gotong royong, e, malah eneteng negjawab 'awh, itu ma urusan dinas lingkungan, bukan urusan gue!'.

oke, saya rasa itu semua sudah cukup menjelaskan kenapa saya sebut kita import budaya, dan rasanya miris, karena kita, bangsa Indonesia yang katanya kaya akan khasanah budaya ternyata harus import budaya, karena tidak ada kebanggaan akan budaya sendiri. jadi, ayo kawan, kita pupuk kebanggaan kita sebagai anak Indonesia. karena memang benar, kita lah satu-satunya harapan bangsa ini. Mari Berbudaya Indonesia!!

No comments:

Post a Comment