::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Tuesday, 29 March 2011

Menabung Penderitaan

Setiap minggu malam senin, saya selalu setia menanti kehadiran Bapak Mario Teguh dalam acaranya Golden Ways di Metro TV. Entah kenapa dan entah percaya atau tidak setiap kali saya menonton acara beliau, tema yang diusung pasti tepat dengan apa yang saya alami. Seperti kemarin malam misalnya, Golden Ways mengangkat tema Master of Alasan, yang pada intinya adalah mengajak kita sekalian untuk tidak menjadi master of alasan dan menunda-nunda pekerjaan dengan berbagai argumen yang sering demi sesuatu yang jauh lebih tidak penting.

yah, akhir-akhir ini saya merasa hidup saya sangat tidak bermutu. Hari-hari cuma diisi dengan tidur, kerja, kuliah, tidur lagi. Tidak ada yang istimewa, hanya rutinitas itu-itu saja. Sering saya brontak terhadap diri saya sendiri, kenapa hidup saya sangat datar dan begitu tidak bermutu? Biasanya setelah merasa seperti itu, saya akan memliki semangat yang tinggi untuk mengubah perilaku saya. Misalnya, kalo biasanya saya bangun jam setengah 6, maka mulai besok saya harus bangun jam setengah 5, sholat subuh berjamaah di masjid, lari pagi, siap-siap ke kantor. Tapi, ketika hari esok telah datang, dan saya sudah benar-benar bangun jam setenga lima, saya mulai membaut alasan terhadap diri saya sendiri, '5 menit lagi awh!', dan kemudian tertidur lagi. Setelah bangun, ternyata sudah jam 5. Itu artinya rencana satu untuk sholat subuh berjamaah gagal. Tapi setelah jam 5 itu tadi, alih-alih bangun dan lari pagi , saya malah mengambil selimut dan melanjutkan tidur. 'dingin!'. dan akhirnya saya bangun seperti biasa jam setengah 6. Seperti itu seterusnya. Dan benar kata pak mario, nampaknya saya sudah menjadi master of alasan.

dalam acara itu pak mario juga menjelaskan bahwa menjadi master of alasan, dan menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan, sama artinya dengan menabung penderitaan bagi diri sendiri. Misalnya saja saya (lagi. contoh yang tidak baik). Sebagai seorang Mahasiswa tentu saja tidak terlepas dari yang namanya tugas. Suatu saat ada tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Sebenarnya sekarang saya sudah bisa menyicil untuk mengerjakan tugas tersebut, toh sekarang lagi g ada kerjaan. Tapi biasanya, dengan alasan 'kan tugasnya masih minggu depan, masih ada banyak waktu', saya tinggalkan tugas tersebut, dan melakukan kegiatan yang sebenarnya tidak lebih penting dari tugas tersebut, seperti tidur, baca novel, atau nonton TV. 3 hari menjelang pengumpulan tugas, saya masih santai, 'masih 3 hari lagi. masih sempet lah!'. sehari menjelang pengumpulan, 'ntar malem deh gue kerjain'. malemnya 'nanggung neh acara TV lagi bagus. ntar jam 9 nan aja'. jam 9 malem, 'ngantuk, besok pagi deh!' besok paginya, 'ntar awh abis subuh!'. pas subuh, 'ntar kan kulia agak siangan, ngerjain ntar awh!' jam 8, 'ngerjain di kampus aja, nyontek punya temen!'. di kampus, ternyata temen-temen juga berpikiran sama dengan saya. dan akhirnya, pusing sendiri, karena sebentar lagi dosen datang dan tugas sama sekali belum dikerjakan. stres. dan akhirnya dimarahin sama dosen, dan ujung-ujungnya nilai jelek. yah, seperti itulah akibat dari menunda-nunda pekerjaan. maka, g salah kalo pak mario bilang, menunda-nunda pekerjaan, menjadi master of alasan sama aja dengan menabung penderitaan bagi diri sendiri.


Tentu saja, kita semua g ingin lah ya, yang namanya menabung penderitaan. tapi biasanya toh kita tetep aja suka menabung penderitaan itu sendiri. Meskipun kita tahu bahwa menunda-nunda pekerjaan itu adalah akar-akar dari penderitaan, tapi toh tetep aja kita bilang 'nanti'. Kita sadar akan akibatnya, tapi kita nekat melakukannya. Dan akhirnya kita akan menyesal atas apa yang kita tunda-tunda. Tapi pada saat itu, semuanya sudah terlambat. Lalu bagaimana caranya agar kita berhenti melakukan tindakan bodoh ini? saya sudah mencoba cara ampuh, dan terbukti berhasil, meski kadang-kadang tidak berhasil juga. Tapi banyak berhasilnya kok. Cara ampuh yang saya maksud adalah, 'melawan' rasa males, berhenti memberikan alasan, dan langsung berdiri, kerjakan! atau sebaliknya, beri alasan-alasan mengapa Anda harus melakukan hal tersebut. Tapi cara satu lebih ampuh, karena semakin cepat Anda bertindak, semakin Anda tidak memberi kesempatan rasa males untuk mampir dan sekaligus tidak memberikan waktu untuk otak membuat alasan-alasan lain yang dapat menggoyahkan iman kita. Ini sering saya lakukan, ketika saya berniat untuk sholat malam. Biasanya dari malam sebelum tidur, saya sudah menyiapkan alarm, dan berdoa agar bisa bangun malam. ketika alarm berbunyi dan itu waktunya saya harus bangun, sesaat setelah bangun, saya akan segera berdiri, dan mengambil air wudlu. Jangan duduk, dan jangan berlama-lama. Intinya jangan biarkan diri Anda membuat alasan-alasan. Dan cara ini terbukti manjur. Pernah beberapa kali, saya masih sangat ngantuk, dan saya beri kesempatan tubuh untuk duduk sejenak setelah bangun, dan pada akhirnya saya tidur lagi, dan tidak sholat malam. Besoknya, ketika bangun, hati saya tersiksa, karena telah mengecewakan Tuhan (walau saya tahu, Tuhan Maha Kuasa), dan yang paling menyiksa adalah, bahwa saya telah membuat alasan-alasan untuk menipu diri sendiri. Dan tidak ada orang yang lebih bodoh, daripada orang yang mencoba menipu dirinya sendiri.

jadi sodara-sodara, mulai dari sekarang, berhentilah menambah penderitaan diri Anda dan 'menghindar' dari nikmat Tuhan, dengan berhenti membuat alasan-alasan untuk menunda pekerjaan. Setiap terpikir sesuatu, do it! jangan tunggu hingga rencana menjadi sempurna, tapi segera lakukan dan Anda akan segera tahu bagaimana menyempurnakan kegagalan Anda. Ingat, rencana yang sempurna tetaplah hanya sebuah rencana.

No comments:

Post a Comment