::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Monday, 14 December 2015

any suggest.. ?

    Something is not right. This week, my English Conversation Course ended. I am still in Level 3 and need one level more to complete all level in this course. But, i don't really have a choice. I have two choice, but only can choose one. First, is to continue this course to Level 4. And second choice is to come back to d campus and continue my job as a lecturer. It's not easy for me to decide, because i love both of them. But, d time and scheduled do not allow to do both.

    To be honest, right now, i like to continue my course. Simple, because it's fun. Even, you can see, my english is still lack, but the important thing is i can try to speak and listen and have a conversation in english. This course, encourage me much, to be more confident and brave enough to use english. Even, once more, it lack everywhere. And one more, I take this english course to increase my TOEFL score. Until now, I can increase my TOEFL score in about 30 point. It still 510 and my target is 550 (minimum requirement to register to abroad scholarship), so actually i haven't reach my target. I still need this course as well.

    But also, i can not abandon my job as a lecturer. This semester i took an absent. And it'll be more complex problem if i take absent again next semester. Who're you? Newbe Lecturer and brave enough to take a year absent. Haha. I can not lose this job because I hardly get it. It'll be such a waste if I just give up on it. Also, to be lecturer is one of my plan getting scholarship, because I'll have a big chance to take it as a lecturer. Despite that i need to wait longer.

    I haven't decided it, yet. To be honest, i don't know what should I choose. Situation like this, to choose something is always make me crazy. If just i can do both of them..... any suggest.. ?

Tuesday, 1 December 2015

Liburan di Pangrango,

    Akhirnya, setelah berapa abad gw stres karena ga pernah liburan, weekend kemarin gw akhirnya bisa berlibur. Horeeee. Gw sama temen-temen kantor camping n hiking ceria ke gunung pangrango.

    As you know, gw sama orang-orang kantor sebenernya kurang begitu akrab. Tahu namanya aja kagak. Tapi entah kenapa mereka tahu gw dan ngajakin gw buat ikutan naik gunung. Kaki gw yang udah gatel karena jarang mandi, eh, jarang diajak jalan, langsung memerintah otak untuk mengiyakan ajakan mereka. Saat itu, kendali diri gw emang ada di kaki. Kaki gw niru para buruh yang pada demo karena jarang diajak liburan. Dan, weekend kemarin kita jalan.

    Jumat malem kita jalan. Agak memalukan memang ketika kita udah jalan bareng-bareng, ngobrol ngalor ngidul, tapi gw ga tau nama mereka. Akhirnya, dengan mengandalkan intelegensi tertinggi gw, gw memperhatikan, merekam, dan menganalisa percakapan mereka, dan kemudian menyimpulkan nama-nama mereka. Pak Ketua kita namanya Ari Latiman, Pak Guide kita yang udah pengalaman jadi penjaga gunung, Denis dan adiknya, Dea. Yang tua dan dituakan Pak Widi dan Pak Rosadi. Kumpulan gadis dan emak-emak : Bu Ida, Mba Hana, Mba Ika, Mba Addah, Darni. Dan para pemuda kurang belaian : Mas Raja, Andre, Watt, dan gw. Yeah, gw apal nama mereka semua. Merdeka. Hahahaha.


     Sejak terakhir kali ke Gunung Gede, ga ada yang berubah. Namanya tetep Gunung Gede, pengunjungnya tetep seabrek, air terjunnya masih tetep terjun, cipanas masih tetep panas. Semuanya masih sama. Hanya cerita kita yang berbeda. Kau bahagia disana, aku mendaki disini. Pret.

    Singkat cerita, perjalanan dari Cibodas sampe Kandang Badak butuh waktu sekitar 6 jam dan jam 1 siang semua anggota tim baru lengkap. Terjadi perdebatan kusir disini, apakah kita akan lanjut ke Pangrango dan ngecamp di Mandalawangi atau kita ngecamp di Kandang Badak dan lanjut Pangrango besok pagi, mengingat ada beberapa anggota tim yang kakiya cramp, badan ga fit, dll. Debat kusir berakhir dengan kita ngecamp di Kandang Badak. Gw yang tergabung dalam tim kontra, akhirnya bosen. karena masih jam setengah tiga siang dan harusnya masih banyak hal yang bisa dilakukan. So, daripada garing, gw memutuskan untuk jalan ke puncak Gede sendiri. Yang pada akhirnya jadi ga sendiri juga, karena satu rekan, si Watt pengen ikutan.

    Gw dan Watt sampe puncak Gede sejam kemudian. Kita juga engga nyangka bakal secepet ini nyampe puncak. Mungkin karena ga bawa beban hidup dan beban keril, jadi jalannya lebih cepet. Yang berbeda dari Puncak Gede saat itu adalah sepi. Puncak Gede yang biasanya kayak pasar, sore itu kayak Mesjid. Pas nyampe puncak cuaca cerah dan matahari pun bersinar terang. Tapi setengah jam kemudian, kita kudu nyari tempat berlindung karena tiba-tiba angin di puncak Gede kenceng banget. Cuaca yang tadinya cerah, cuma dalam waktu 20 menit jadi penuh kabut. Saking tebelnya tuh kabut, kita cuma bisa liat dalam jarak pandang kurang dari 20m. Depan, belakang, kanan, kiri yang keliatan cuma warna putih. Nothing else. Disambangi dengan angin yang kenceng dan dingin banget, memaksa kita untuk segera turun, karena takut ada apa-apa di puncak. Sejam berlalu dan kita selamat dari kepungan kabut. Well, meskipun agak-agak ngeri. Tapi ini adalah pengalaman pertama gw dalam kondisi kayak gini. Thrilling but exciting.


    Malem di Kandang Badak lumayan dingin. Gw yang biasanya tahan sama dingin, malem itu kudu ngeringkuk kedinginan. Dingin juga memaksa gw ga bisa tidur nyenyak malem itu. Padahal jam 1 dini hari, kita udah kudu siap buat ngedaki puncak pangrango.

    Persiapan ke puncak pangrango agak ribet karena anak-anak pada susah dibangunin. Dari rencana jalan jam 1 subuh, molor sampe jam 2 karena ga ada yang bangun. Belum packingnya. Belum yang pada galau mau ikut naik apa kagak. Tapi pada akhirnya, jam setengah tiga semua udah ready, dan kita mulai perjalanan ke puncak pangrango.

    Trek ke Pangrango beda banget sama ke Gede. Keren parah. Treknya menantang banget. Pohon ngehadang dimana-mana, jadi kita kudu ngerayap atau lompat sana sini. Belum lagi trek tanah yang bikin sendal/sepatu kudu nyelup lumpur. Ada juga trek dimana kanan-kiri dinding tanah dan cuman nyisain space sebadan doank buat jalan. It's very different with the first route from Cibodas to Kandang Badak.

    Jam setengah enem kita nyampe puncak Pangrango dan ga ada apa-apa disana. Ya, cuma ada plank puncak Pangrango dan ketinggian. Itu doank. Ga ada pemandangan kayak di Gede. Karena ga banyak yang bisa dilakukan di puncak, kita akhirnya turun ke Mandalawangi. Katanya Mandalawangi itu keren parah, tapi pagi itu tebelnya kabut ga kalah parah. Di Mandalawangi, kita ga bisa liat apapun di jarak lebih dari 10 meter. Putih doank. Sementara anginnya bikin beku. Kita nunggu di Mandalawangi beberapa saat, berharap tu kabut pada kabur. Tapi sejam berlalu dan kabut masih disitu melulu. Akhirnya, karena perjalanan kita masih panjang, masih kudu turun gunung di hari yang sama, kita mutusin untuk balik ke Kandang Badak. Yang menarik dari pas balik dari Puncak ke Kandang Badak adalah treknya. Ya, kita semua ga percaya kalo kita semalem ngelewatin trek gila kayak gini. Jadi selain turun gunung, kita juga disibukkan dengan geleng-geleng kepala ga percaya.


    Ga banyak waktu tersisa pas kita nyampe di Kandang Badak. Makan, packing, dan langsung turun lagi ke Cibodas. Mungkin karena terlalu capek, beberapa anggota tim ada yang kram, keseleo, dll. Rencana nyampe Cibodas jam 2 siang molor sampe jam 6 maghrib. Apa daya kan, orang pada cidera gitu, masak dipaksain jalan cepet-cepet. Karena nyampe Cibodas jam 6 maghrib, maka gw sampe kosan jam setengah sebelas malem. Karena udah malem dan badan gw juga udah capek banget, maka ga ada yang bisa dilakukan lagi selain tidur. Selesai.

Note :
- Thanks to this trip so that i can know more about our workmate. Gw ngobrol banyak sama Mb Hana, Mb Ika, dan make a friend dengan temen-temen yang pada awalnya kenal aja kagak, Mas Ari, Watt, dkk. It's not about reaching the top, but about our friendship and togetherness.


Monday, 23 November 2015

Dunia (yang) tiada akhir..

“Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam dirinya :
1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
2. Kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya.
3. Kebutuhan yang tidak prnah terpenuhi.
4. Keinginan yang tidak akan tercapai.”
(H.R. Imam Thabrani)


    Untuk beberapa bulan ini dan terutama sebulan terakhir, hadits itu cocok banget buat gw. Ya, dari bangun sampe tidur lagi hanya dunia. Seakan gw hidup cuman untuk dunia. Astaghfirullah. Setidaknya dari empat penyakit yang diancamkan tersebut, dua diantaranya sudah kejadian sama gw. Kesibukan yang tiada pernah ada ujungnya dan kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi. Gw nulis ini pun nyempet-nyempetin diantara kesibukan yang tiada pernah ketemu dimana ujungnya. Bener-bener dah.

    Selain kerja, kuliah bener-bener banyak nyita waktu senggang gw. Hampir setiap hari di weekdays gw kuliah. Berangkat setelah pulang kerja dan pulang paling cepet jam setengah sepuluh malem. Praktis gw cuman punya waktu tersisa sejam atau maksimal dua jam buat makan malem dan istirahat. That's it. I don't have enough energy to do the other things. No reading a novel, no more study, and no reading The Qoran. Astaghfirullah. Satu hal yang masih bisa kejaga alhamdulillah adalah gw masih bisa sholat jamaah. Cuman itu yang bisa gw banggain. Itupun masih kudu dikurangin poinnya karena gw jamaah maghrib bukan di masjid, tapi di station. Dan jamaah isya di kampus bareng temen-temen, itupun waktunya udah jauh dari adzan, jam 9 atau setengah sembilan. Terkadang gw capek dan memutuskan untuk bolos kuliah. Pengen jamaah maghrib dan isya di masjid deket kosan, pengen buka dan baca Quran abis maghrib, tapi yang ada ga lama setelah buka Quran gw keserang ngantuk berat. Paling lama 30 menit setelah gw udah tepar.

    Weekend ga jauh bedanya. Gw ambil kursus tiap sabtu dari jam 8 sampe jam 1 siang. Menyenangkan sih, but see, dunia lagi. Dulu banyak temen yang suka ngajakin gw ikutan pengajian atau seminar islam di hari sabtu, tapi sekarang pun ga ada lagi. Bosen kali karena tiap kali ngajakin gw, gw selalu ga bisa dengan alasan dunia dan dunia lagi.

    Nah, kalo dulu gw punya waktu luang di hari minggu (pun ga dipake buat akhirat), buat joging pagi, full istirahat, maka sekarang pun gw ga punya cukup waktu buat itu. Gw mulai bisnis kecil-kecilan sama temen gw. Jualan es cendol franchise. Emang sih kita ngehire orang buat doing operational work, tapi tetep aja butuh kontrol. Temen gw kontrol tiap malem, sepulang kerja. Sedangkan gw ga memungkinkan untuk itu, karena gw kudu kuliah. So, mau ga mau gw harus ikutan nimbrung di weekend. Sabtu gw ga bisa karena harus ikut kelas kursus. So, mau ga mau ya minggu gw kudu setidaknya 'liat'. Ga enak juga kan, kalo gw sama sekali ga dateng. Bisa-bisa temen gw pecah kongsi karena ngerasa dia doank yang ngurusin.

    Well, gw sedang berusaha buat bikin jadwal yang bisa mengakomodasi both of them , baik dunia maupun akhirat. Bukan hal yang gampang, karena semuanya 'terlihat' penting. Gw udah nyoba buat nyempilin jadwal baca Quran pas di kereta selama perjalanan ke kampus, tapi yang ada gw banyak ga bisa konsennya. Gw gampang terattract sama hal-hal lain yang terjadi di sekitar gw. Gw juga sedang mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan kursus bahasa inggris gw untuk tingkat selanjutnya, so gw bisa punya waktu di hari sabtu. Tapi itu bakal mempengaruhi mimpi gw buat get a scholarship abroad, secara TOEFL gw masih belum memenuhi syarat dan gw kursus untuk memenuhi syarat. Gw coba saran temen gw buat mengurangi waktu tidur, tapi itu juga berat, karena saat inipun waktu tidur gw udah kurang dari 6 jam. Bukannya ga bisa, tapi gw udah nyoba dan gagal. Gw sakit keesokan harinya. I don't know. End.

Wednesday, 21 October 2015

Sakit Gigi dan RSKGM UI

    Sakit Gigi. Katanya, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Buat gw, ga gitu juga sih. Alesannya simpel aja. Karena bagi jomblo menahun kayak gw, gw jarang sakit hati. Yang ada hanya sakit gigi.

    FYI, sakit gigi ini tambah sakit karena jatah pengobatan di kantor gw dicabut sejak Agustus lalu. Pun, gw juga berusaha segera cabut dari kantor gw, karena melihat gelagat yang ga beres, tapi sayang belum dapet-dapet. Huft.

    Sebenernya gw bisa pake BPJS, tapi melihat pengalaman temen-temen kantor gw yang pake layanan BPJS dan ga ada yang beres, akhirnya gw mengurungkan niat itu. Sebagai contoh, kemarin anak temen kantor gw sakit. Periksa ke klinik kantor yang merupakan PPK 1. Dikasih obat dengan dosis seadanya dan berakhir dengan seminggu ga sembuh juga. Akhirnya dirujuk ke PPK 2. Eh, pas ke PPK 2 katanya untuk layanan BPJS hari itu sudah tutup, dan harus balik lagi besok. Besoknya temen gw dateng lagi. Dapet sih, tapi setelah ngantri sekian lama. Bukan apa-apa, kasihan anaknya. Ada lagi temen kantor gw juga. Rumahnya di Jonggol, tapi PPK 1 nya di klinik kantor di Cielungsi (20km lebih). Doi sakit dan ke klinik kantor. Dari klinik dapet rujukan ke RS Umum Cileungsi, yang mana lokasi rumah sakit ini deket rumahnya dia. Akhirnya doi kudu puter balik lagi. Nyampe di RSU Cileungsi, doi disuruh balik lagi besok karena layanan hari itu udah penuh. Shit banget kan. Orang sakit gitu, malah dimainin. Ngeliat pengalaman itu, gw jadi males pake BPJS.

    Alternatif kedua adalah bayar sendiri. Tapi biaya perawatan gigi itu mahal sodara. Gw pernah periksa dan tambal gigi di klinik kantor. Sekali tambal itu bisa abis 200rb an belum termasuk jasa dokternya. Udah gitu, waktu itu gw disuruh rongten dulu, yang mana di klinik kantor ga ada dan harus dirujuk ke RS. Berapa biayanya? 320rb untuk rongten panoramic. Gw juga udah telpon-telpon ke klinik gigi di sekitar kosan gw di Depok dan jawabannya adalah minimal 300rb untuk tambalan satu gigi. Miskin dah gw. Mana asuransi prudential gw ga ngecover pengobatan gigi lagi. Sial. Dan akhirnya, tanpa lelah gw browsing-browsing dan nemu tempat yang layak gw coba yaitu Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) UI, Salemba.

    FYI, RSKGM ini adalah tempat prakteknya mahasiswa kedokteran gigi UI. Jadi otomatis, ga ada biaya dokter. Gw coba dateng pertama kali tiga minggu yang lalu. Daftar, bayar biaya administrasi (15.000), nunggu antrian diagnosa. Nah, yang ngediagnosa ini dokter beneran. Jadi ga perlu khawatir salah diagnosa dan tindakan. Oleh si dokter gw disuruh rongten panoramic dan details. 'Wah, mahal ni', gw pikir. Pas gw dapet struk pembayarannya, gw shock, karena biaya rongten panoramic cuman 60rb dan detailnya 15rb. Bandingkan dengan rongten gw di RS yang mencapai 320rb. Something banget. Dari diagnosis dokter, gw disuruh ke ruang perawatan. Disana sudah menunggu mahasiswa (gw harap sih mahasiswi :P) yang akan melakukan tindakan atas diagnosis dokter. Puji Tuhan, gw dapet mahasiswi. Gw ga berani liat mukanya, karena itu dilarang agama :p. Bukan mahrom. Tapi apa daya, ketika perawatan berlangsung ya gw akhirnya ngeliat mukanya dia juga, lama malah. Apa daya, posisi pemeriksaan membuatku seperti ini. Alhamdulillah. Gw mau nutup mata, taku dia nyangka gw cemen, ga kuat nahan sakit. Jadi ya, gw buka mata terus :p.

    Yang jadi masalah kalo berobat ke sini adalah LAMA. Untuk kasus gw aja, yang cuma mau nambal aja, memakan waktu sekitar 4 jam, dari jam 9 sampe jam 1. Beberapa hal yang bikin lama adalah :
satu :
semua gigi diperiksa dulu. Positifnya adalah kita jadi tahu kondisi keseluruhan gigi kita kayak apa. Tapi negatifnya, waktu yang dibutuhkan jadi tambah lama.
dua :
setiap si mahasiswa mau dan sudah melakukan tindakan, apapun itu, harus dicatet. Jadi, periksa satu gigi selesai, dicatet. Gigi dua selesai, dicatet. Gitu terus sampe semua gigi terperiksa. Bayangkan sodara, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa semua gigi.
tiga :
setiap mau melakukan tindakan, mahasiswa harus lapor ke dosennya dulu. Padahal seringnya dosen ga ada di tempat. Jadi si mahasiswa kudu bolak-balik sana-sini untuk nemuin dan konsultasi sama si dosen.

    Selain lama, si mahasiswa juga kadang ceroboh dan kurang sigap. Misalnya, untuk melakukan satu tindakan dibutuhkan alat dan bahan a, b, dan c. Si mahasiswa, biasanya ambil a nya dulu, taro di meja, terus pergi lagi, ambil b, dan gitu seterusnya. Cerobohnya, gw kemarin sempet kesemprot sama air yang untuk nyemprot gigi, lantaran si mahasiswa keburu mencet tombolnya padahal tu alat belum masuk mulut gw, dan tepat ada di depan muka gw. Mungkin si mahasiswa lelah.

    Tapi, selain daripada yang gw sebutin di atas, semuanya oke. Misalnya, dengan diperiksa gigi satu-satu kita jadi tahu kondisi gigi kita secara detail, mana-mana yang berpotensi bermasalah, dan mana-mana saja yang masih oke. Tindakan si mahasiswa buat ngecatet dan lapor sama dosennya juga memberikan waktu untuk analisa gejala menjadi lebih cermat dan ga asal. Lagian, si mahasiswa disitu kan praktek sekaligus belajar, jadi otomatis orientasinya 'tindakan yang benar', bukan 'uang', jadi gw yakin mereka melakukan yang terbaik. Dan sudah terkonfirm oleh dosennya, itu bikin tambah yakin lagi. Masalah biaya, RSKGM UI juara pisan. Gw sudah tiga kali kunjungan, dan masing-masing kunjungan ga pernah keluar sampe lebih dari 100rb. Terakhir buat tambal amalgam cuma abis 35rb. Untuk pelayanan, dengan mengecualikan faktor 'penanganan yang lama', semuanya oke. Si calon-calon dokter ini aktif dan berusaha dekat dengan pasien dengan terus ngajak ngobrol, nanya2 keluhan, sampe ngingetin jadwal kunjungan berikutnya. Well, dari segi apapun, RSKGM lebih baik dari klinik di kantor gw, dan buktinya gw merasa gigi gw jauh lebih baik dibanding dengan ketika gw perawatan di klinik kantor.

    Kesimpulannya, gw cukup puas periksa di RSKGM UI dan berharap gigi-gigi gw bisa kembali normal. Sekian.
   

Monday, 28 September 2015

Unplanned Trip - #go(w)esToWayKambas

    Ini semua gara-gara Jepun yang cancel rencana ke Bandung dan Pangandaran. Jadinya, hari rabu gw stres berat ngebayangin libur panjang (Kamis - Minggu) tanpa liburan. Ya, gw emang stres kalo liat tanggal merah tapi ga ngapa-ngapain dibanding liat tumpukan tugas kerja dan kuliah. Males juga kalo backpackeran ke Pangandaran sendirian. Selain berat di ongkos juga berat di hati. Males banget kan nyari-nyari angkutan umum di terminal sendirian. So, hari rebo sore, menjelang detik-detik pulang kantor tiba-tiba gw inget sepeda gw, Channel Jr. 'Asik juga kali ya kalo gw sepedaan aja. Secara terakhir kali sepedaan jauh adalah #go(w)esToBali akhir taun kemarin', pikir gw. So, jadilah gw buka Google Maps, nyari lokasi di sekitar Jakarta yang bisa kejangkau sepedaan selama empat hari.

    Lokasi pertama yang ada di pikiran gw adalah Bandung dan Pangandaran, yang kemudian gw coret karena gw lagi males sepedaan nanjak. Ke Semarang atau Yogya bukan opsi karena gw udah tiga kali sepedaan nyampe Semarang dan bosen. Dan akhirnya, ketika gw ngelihat Lampung, mata gw berbinar-binar. 'Bandar Lampung nih kayaknya', gw ukur-ukur jaraknya cukup. Beres? Belum. Karena setelah gw pikir-pikir lagi, ga ada apa-apaan di Bandar Lampung. Lalu gw googling-googling lagi dan ketemulah Way Kambas, Pusat Konservasi Gajah. Gw liat jaraknya dan ternyata masuk. Dan deal. Sore itu, sepulang kantor gw langsung beli perlengkapan jalan (ban dalem, pelumas, lampu, dll), malemnya bolos kuliah, dan tidur.

    Besoknya gw langsung tancap gas. Terpaksa absen sholat ied tahun ini biar ga telat nyampe Pelabuhan Merak. Menurut Google Maps jarak Depok - Merak sekitar 130km, dan menurut estimasi gw butuh waktu maksimal 8 jam perjalanan atau jam 2 siang gw udah nyampe sono. Nyatanya? Jam 5 sore gw baru nyampe Merak. Jalanan Depok - Merak bener-bener asem, terutama setelah masuk Kabupaten Tangerang - Serang. Lobang dimana-mana dan bau. Banyak pabrik, kering, panas, debu, dan kotor. Lengkap dah. Sampai di Merak gw langsung beli tiket masuk, tapi nyebrangnya nunggu besok pagi, karena gw ga mau nyampe Sumatra tengah malem. Ngeri. Akhirnya, untuk ngabisin waktu gw muter-muter pelabuhan, liat-liat fasilitasnya apa aja, iseng ngobrol sama petugas, sampe gw ngantuk dan tidur di teras masjid. Yang unik ni menurut gw, kalo biasanya di masjid-masjid di tempel tulisan 'Dilarang tidur di masjid', nah di masjid pelabuhan merak, ada tambahan satu kalimat lagi, jadi 'Dilarang tidur di masjid lebih dari 24 jam'. Dan tentu saja, sebagai pengelana gembel gw segera cari lokasi enak buat tidur. Lumayan kan hemat ongkos buat penginapan. Hihi.

(Malam di Pelabuhan Merak)

    Jam 2 dini hari gw bangun dan segera cus ke dermaga. Lucky, gw langsung dapet kapal tanpa harus nunggu lama. Unlucky, gw dapet kapal model lama yang ga ada ruang eksekutifnya. Ruang bisnisnya pun ga beda sama yang ekonomi. Cuma beda kipas sama ac doank, sementara desain tempatnya tetep sama. Dan berhubung ini malem udah dingin, gw memutuskan untuk tetep di ruang ekonomi. Percuma kan di ruang bisnis, wong udara udah bikin mriang gini.

    Sumatra masih gelap. Bukan lantaran ga ada listrik, tapi karena gw nyampe Bakauheni masih jam 4 pagi. Selesai menunaikan tugas pagi gw langsung cus untuk sepedaan di tanah sumatra untuk pertama kalinya dalam hidup gw. Dan Lampung bener-bener tahu gimana nyambut tamu baru kayak gw. Baru keluar pelabuhan langsung dikasih tanjakan. Gw yang masih ngantuk-ngantuk seketika langsung melek. Gw mikir, 'mati aja ni kalo sampe Way Kambas jalannya gini terus'. Tapi ternyata ini belum waktunya gw mati, karena ga lama kemudian jalannya jadi lempeng. Lempeng banget, sampe gw ngantuk lagi. Sampe pada akhirnya ada tiga ekor anjing yang ngegonggong dan ngejar-ngejar gw. Sampe gw kudu ngebut biar ga kekejar. Sampe napas gw abis. Sial. Tapi disitulah kemudian otak gw jalan dan bertanya-tanya. 'Ini kok banyak anjing ya? Kok di depan rumah-rumah penduduk ada mini pura ya? Ini kok ada pura beneran ya? Ini kok ada bunga-bunga buat sembahyang orang Hindu ya? Ini gw lagi di Bali atau di Lampung?'. Konklusi sementara gw adalah 'orang Lampung banyak yang Hindu'. Lalu kemudian gw gowes lagi sampe ke Ketapang, dan menemukan fakta bahwa orang-orang pada ngomong pake bahasa Jawa ga ketinggalan logat medoknya. Gw tambah bingung, 'ini gw ada dimana sih sebenernya? Lampung, Bali, apa Jawa'. Gw gowes lagi dan sampe di Labuhan Maringgai, mampir di warung buat isi perut dan lagi orang-orang pada ngomong pake bahasa jawa dan tentu saja.. medok. Kemudian ada seorang bapak-bapak yang seakan bisa ngebaca pikiran gw dan menjelaskan bahwa Lampung adalah salah satu daerah tujuan Transmigrasi di jamannya Pak Harto. Dan 70% warga Lampung adalah orang Jawa, sisanya warga asli Lampung, dan beberapa suku lain seperti Bali (transmigran juga).Gw cuma bisa 'ooo' dan baru yakin bahwa gw memang ada di Lampung.

    Sejujurnya gw sempet waswas ketika mau gowes ke Lampung. Secara banyak banget berita kriminal soal jalan-jalan di Lampung. Begal, rampok, sampe pembunuhan. Ga ketinggalan tiap gw istirahat dan ngobrol sama orang (yang kebetulan selalu orang Jawa) bilang bahwa 'hati-hati kalo di daerah sini sama sini, rawan'. Tapi nyatanya ketika gw sampe di daerah sini dan sini, nyatanya malah banyak anak-anak kecil yang nanya dan ngasih semangat 'Kemana Om? Ikut donk!', atau para pengendara motor yang papasan sambil ngasih 'jempolnya'. Tidak ada tanda-tanda kriminalitas dan semua berjalan baik-baik saja. Gw sampe di Way Kambas dengan selamat.


    Sampai di Way Kambas gw langsung nyari penginepan. Beruntung gw ketemu Mas Radi yang dengan baik hati nunjukin gw ke tempat homestay nya Pak Sabar. FYI, hampir semua warga di Way Kambas orang Jawa. Jadi pas gw ada disana rasanya malah bikin gw kangen suasana rumah. Sore harinya gw minta tolong Mas Radi buat lihat gajah di area konservasi dan jadilah kita kesana. Sepanjang perjalanan menuju pusat konservasi (yang jaraknya 10km dari gerbang masuk Taman Nasional), Mas Radi cerita tentang gajah-gajah liar yang sering merusak tanaman warga, tentang masih banyaknya hewan liar di hutan, dan bukan hal yang baru kalo tiba-tiba ada Macan, Rusa, Kijang, Monyet, atau Gajah ada di ladang. Gw sendiri cuma berhasil liat Kijang sama Monyet yang sliweran di jalan menuju Pusat Konservasi. Dan ketika sampe di Pusat Konservasi, kesan pertama gw adalah 'Ini tempat ga keurus'. Banyak bangunan yang udah rusak dan dibiarin aja. Sayang banget, padahal ini potensi wisata yang luar biasa. Ini juga pertama kalinya gw liat kerumunan gajah di satu lokasi. Rasanya kayak liat video di National Geographic. Haha. Menjelang malam, kita udah balik lagi, karena akan bahaya kalo ada di tengah hutan malem-malem. Gw ngikut aja.


    Malem harinya gw ngobrol sama anaknya yang punya homestay. Namanya Wahyu, baru lulus SMA. Dalam waktu singkat kami udah sohib banget lah. Lalu ada beberapa orang kampung yang ikut nimbrung dan ngobrol bareng. Asik lah. Dan ternyata gw cukup beruntung, karena malem itu kebetulan ada 'Latihan Reog'. Gw sempet bertanya-tanya, apa maksud dari 'Latihan Reog'. Dan ketika gw diajak ke TKP. Reog yang dimaksud adalah Reog. Ternyata transmigran disana kebanyakan dari Ponorogo dan sekitarnya. Dan mereka kesana ga cuma bawa badan, tapi juga kebudayaan. Yang gw amaze adalah, para pemuda disana. Mereka latihan dengan sangat antusias. Ga bakal gw temuin hal kayak gini di Jakarta. Bahkan di kampung gw aja ga ada yang kayak gini. Disini, anak-anak SMP-SMA pada latihan nari reog dengan serius, sementara yang udah senior dengan sabar ngelihatin dan sesekali ngebenerin yang salah, di lain sisi bapak-bapak dan ibu-ibunya ada yang nyiapin teh dan camilan, sementara beberapa sesepuh terlihat menikmati melihat cucu-cucunya pada latihan. Keren gw pikir. Betapa suasana kampung hidup dengan begitu cairnya. Dan ga cuman itu, Reog Ponorogo 'Way Kambas' udah cukup terkenal di Lampung dan mereka sering diundang untuk tampil di berbagai event. Meskipun dengan fasilitas yang serba terbatas. Peralatan tari udah banyak yang uzur dan mereka latihan di halaman rumah warga dan debu terbang kemana-mana setiap kali ada gerakan menghentak. Anda lihat potensi wisata? Tentu saja. Catat, ini potensi yang kedua ya.

   
    Setelah melihat anak-anak pada latihan, Mas Radi ngajakin untuk safari malam. What is that? Jalan-jalan malam di sekitaran kampung dan pinggiran hutan. Melihat-lihat hewan-hewan malam pada berkeliaran. Katanya sih gitu. Tapi nyatanya gw ga tau, karena gw udah terlanjur kecapean dan kudu tidur secepatnya. But, anyway gw melihat ini sebagai satu potensi wisata yang bisa dikembangkan, karena faktanya banyak wisatawan yang tertarik ikut safari malam. Potensi yang ketiga.

    Pagi-pagi, ga lama setelah bangun, bapak pemilik homestay, Pak Sabar ngajakin gw ke hutan lagi. Kali ini bukan gajah. Coba tebak apa? Kita kesana buat ngelihat badak sumatra. Menurut cerita Pak Sabar, badak disana cuman tinggal 30an ekor. Sepanjang perjalanan ke Pusat Konservasi Badak di daerah Way Kanan, 13 km dari gerbang Taman Nasional. Berbagai suara hewan di tengah hutan bikin gw ngeri. Takut kalo tiba-tiba ada gajah sama harimau lewat. Bermacam burung, kijang, monyet, sampai babi hutan tampak asik dengan sarapan mereka. Sayang sekali, pas nyampe pusat konservasi badak, badaknya udah ga ada. Udah dilepas ke tengah hutan. Telat bro!


    Sebelum pulang, gw juga sempet ngobrol sama Wahyu. Doi bilang pengen jadi atlet voli. Ya, Lampung emang terkenal dengan atlet volinya. Dan Way Kambas jadi salah satu lokasi pembibitan atlet voli. Si Wahyu juga pernah kerja di perusahaan entah apa namanya, perusahaan yang mengekspor buah segar ke luar negeri. Buah diambil dari perkebunan sendiri yang luasnya (katanya) sampe 2000 hektar. Luar biasa. Gw ngebayangin, kalo dari 2000 hektar itu diambil aja satu atau dua hektar buat lokasi agrowisata kayak di Mekarsari, pasti jadi sesuatu. Menurut gw ini bisa jadi potensi wisata yang keempat.

    So, sekarang bayangin ketika lo dateng sore hari, lo bisa lihat kawanan gajah main-main di konservasi gajah. Malemnya, ikut safari malam, dan selesai safari malam diakhiri dengan pertunjukan reog. Pasti keren. Apalagi besoknya, wisatawan bisa berkunjung ke perkebunan dan metik buah sendiri-sendiri. Keren.

    Well, karena keterbatasan hari libur, maka hari ketiga sekitar jam 10 pagi gw udah kudu balik. Jakarta masih 300km dari sini, sedang senin udah harus masuk kerja lagi. Perjalanan pulang menjadi lebih santai, karena gw udah apal jalannya. Plus berbagai memori yang gw dapet di Way Kambas bikin perjalanan jadi ga begitu melelahkan. Like found another family there yeah. See ya.

Sunday, 27 September 2015

[Tugas Kuliah - Manajemen Pemasaran Berbasis Web] : Marketing Mix pada Matahari Department Store

    Matahari Dept Store (PT Matahari Departement Store, Tbk) adalah salah satu perusahaan ritel terkemuka di Indonesia yang menyediakan perlengkapan pakaian, aksesoris, produk-produk kecantikan dan rumah tangga dengan harga terjangkau , namun tetap berkualitas tinggi (www.matahari.co.id/about).  Gerai-gerai Matahari yang modern dan luas menyajikan pengalaman berbelanja dinamis dan inspiratif yang membuat konsumen datang kembali dan membantu menjadikan Matahari sebagai department store pilihan di kalangan kelas menengah Indonesia yang tumbuh pesat.

    Dalam usahanya, Matahari Dept Store menggunakan Marketing Mix untuk menarik konsumen. Apa itu Marketing Mix? Marketing Mix adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam memenuhi target pasarnya. Ada 7 kriteria dalam Marketing Mix yang bisa dijadikan acuan, yaitu :
1. Price
2. Product
3. Promotion
4. Place
5. People
6. Process
7. Physical Environment

Bagaimana Matahari Dept Store menerapkan tujuh poin dalam Marketing Mix tersebut? Berikut adalah ulasannya.

1. Price
Jika Anda membandingkan harga pakaian di gerai-gerai Matahari dengan gerai-gerai pakaian yang ada di mal-mal, maka Anda akan mendapatkan fakta bahwa harga-harga di Matahari relatif lebih murah. Harga yang murah menarik minat konsumen, terutama dari kalangan menengah untuk lebih memilih berbelanja di Matahari ketimbang di tempat lain. Selain itu, jika kita perhatikan hampir setiap hari Matahari selalu memberikan diskon untuk semua produknya. Meskipun pada kenyataannya harga produk sudah dinaikkan dulu sebelum dilabeli 'diskon', sehingga harga diskon sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga sebenarnya, namun tetap saja secara psikologis konsumen akan tertarik untuk membeli atau setidaknya melihat-lihat produk tersebut.


2. Product
Sebagai Departement Store terkemuka, tentu saja Matahari tidak akan menjual produk yang abal-abal. Matahari bekerja sama dengan pemasok terkemuka baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga kualitas produk tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, hampir semua jenis pakaian akan bisa Anda ditemukan di sini. Sehingga, konsumen bisa mendapatkan semua kebutuhannya hanya dengan berbelanja di satu tempat saja.
Tags : kualitas, brand,

3. Promotion
Meskipun sudah memiliki brand yang cukup kuat, Matahari masih terus melakukan promosi, baik secara offline maupun online. Kita masih bisa menemukan iklan Matahari Dept Store di TV, koran, baliho, dll. Matahari juga mengembangkan eNewsLetter dan eKatalogs yang bisa konsumen download di website Matahari ataupun melalui langganan email. Tidak hanya itu, saat ini Matahari juga mengembangkan eComerce di www.mataharimall.com, dimana Matahari bisa langsung melakukan penjualan sekaligus promosi online. Belum lagi melalui berbagai media social seperti Facebook dan Twitter.

4. Place
Seperti yang tercantum di websitenya, gerai Matahari menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Pemilihan lokasi pun selalu yang terbaik dengan hadir di tengah kota atau pusat perbelanjaan sehingga mudah diakses oleh konsumen. Tidak hanya itu, melalui www.mataharimall.com, konsumen yang lokasinya tidak terjangkau oleh gerai Matahari juga bisa berbelanja secara online.


5. People
Seperti yang bisa dilihat di gerai-gerai Dept Store, karyawan yang siap melayani konsumen jumlahnya sangat banyak. Hal ini memberikan kenyamanan kepada konsumen karena akan merasa dilayani secara lebih private dan cepat. Matahari Dept Store juga selalu memberikan training kepada karyawannya, sehingga tidak asal melayani konsumen, namun juga memberi kesan bersahabat dan nyaman.

6. Process
Area gerai yang luas memberikan kenyamanan kepada konsumen untuk berbelanja. Berbagai fasilitas yang disediakan, mulai dari toilet, kamar ganti, hingga tempat bermain anak juga menambah kenyamanan konsumen. Bagi konsumen online, disediakan pula NewsLetter dan eKatalog yang akan dikirim ke email konsumen masing-masing.

7. Physical Environment
Dan kriteria terakhir adalah lingkungan fisik. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Matahari Dept Store memiliki kondisi fisik yang megah. Area yang luas yang dilengkapi dengan pendingin ruangan, musik, rak-rak yang tertata rapi, hingga tempat parkir menjadikan konsumen merasa lebih nyaman saat berbelanja.

    Dengan menerapkan berbagai kriteria dalam Marketing Mix di atas, Matahari Department Store berhasil menggaet jutaan pelanggan dan menjadi perusahaan retail terkemuka di Indonesia.

Monday, 7 September 2015

Run For River, Run For Remember

    Hari minggu kemarin gw ikut race lari yang diadain Mapala UI, Run For River. Tahun ini adalah penyelenggaraan Run For River yang ketiga dengan tetap mengambil lokasi race di kawasan kampus UI. Kawasan yang sudah sangat familiar buat gw, karena tiap lari ya gw pasti ke UI. UI juga jadi basecamp nya komunitas lari gw (Derby) dan tuan rumah UI Runner. Sesekali juga jadi tempat kumpul beberapa komunitas lari kayak JAR, Burner (Cibubur Runner), dll. Jadi ya, udah khatam lah. Namun begitu, ini adalah pertama kali nya gw ikut ngramein Run For River. Kalo hidup di jamannya Malin Kundang, mungkin gw udah dikutuk jadi batu akik, karena durhaka pada tempat lari sendiri. Hihi.

    But anyway, Run For River juga membawa gw kembali ke masa dua tahun lalu, dimana gw pertama kali mulai lari. FYI, jadwal lari pertama kali gw gagal gara-gara Run For River. Gw lari pas hari-H Run For River pertama diadakan. Gw ga jadi lari karena mlongo liat para pelari yang lari dengan kencangnya. Yang kemudian bikin gw minder, balik kanan, pulang.

    Selain itu, Run For River kali ini juga spesial karena ini adalah pertama kalinya sejak beberapa bulan ini gw bisa kumpul rame-rame, ikutan race bareng anak-anak Derby. Ya, sejak bulan April kemarin gw udah jarang bahkan ga pernah ikutan Samrui (Saturday Morning Run UI) lagi. Jadwal kursus bahasa inggris yang kebetulan hari sabtu jadi alasan. Pun, sejak itu pula gw sudah sangat jarang sekali lari. Mungkin dalam empat bulan terakhir bisa diitung jari berapa kali gw lari, dan itupun ga pernah lebih dari 10 km. Dan kemudian, tiba-tiba kaki disuruh lari Half Marathon (21Km). Cukup super dan sukses bikin kaki gw cenat-cenut. Cukup surprise juga karena ternyata gw masih kuat lari sejauh itu, tanpa istirahat, tanpa minum. Ya, meskipun dengan speed keong, 2:24 jam. Km 1-12 gw 'baik-baik saja', km 12-16 gw masih 'baik', dan di sisa km terakhir tinggal 'saja'. Kaki gw udah pegel maksimal, pace gw turun, tapi entah kenapa gw ga mau berhenti, dan akhirnya tetep maksain lari dengan pace seadanya sampai garis finish. But, it's okai, karena dari pertama gw nginjek garis start tujuan gw memang bukan ngejar waktu, tapi mengembalikan kesenangan dalam berlari.
 
 
   Disini gw juga melihat bahwa temen-temen lari gw, yang dulu satu pace sama gw, udah berkembang sangat jauh, sedangkan gw masih aja jalan di tempat. Bagol, Andre, dulu itu kita satu pace, lari bareng-barengan, pacer-paceran. Tapi sekarang gw tertinggal jauh di belakang mereka. Bagol udah expert Full Marathon, sedangkan Andre ga jauh beda sama Bagol. Gw? HM aja perlu kerja ekstra keras kayak gini. Yah, apa daya, kaki tak bisa boong. Wkwkwk.

    Well, untuk ngejar mereka gw perlu latihan lebih keras, dan untuk latihan lebih keras gw perlu mulai lari. Dan untuk mulai lari gw perlu niat. Dan untuk menumbuhkan niat gw perlu perang badar melawan rasa malas. Fighting!!!   

Friday, 4 September 2015

Karena : But, Selalu Ada Tapi.

    Kadang gw capek dengan hidup gw sendiri. Cara hidup yang gw pilih-pilih sendiri. Kadang gw pengen bilang, "oke, stop here, and just enjoy your life". Kadang gw pengen bener-bener berhenti dan pergi kemanapun dimana tidak ada lagi kerja, kuliah, kursus, tugas, dan segala tetek bengek ini. Kadang gw pengen tidur seharian tanpa harus mikirin ada presentasi minggu depan. Kadang gw pengen pulang ke rumah, nemenin emak gw pergi ke pasar, kebon, dan hanya menghabiskan waktu gw sama orang rumah tanpa harus keganggu dengan pikiran "minggu depan udah mulai kuliah lagi, kerjaan di kantor belum kelar, ada ujian". Kadang gw pengen berhenti. Just stop.

    But, selalu ada tapi. Dan gw sadar "tapi" ini jauh lebih kuat dari "kadang gw". What's it? Just a word. Dream. Ya, mimpi. Mimpi membuat gw hidup. Ketika gw inget bahwa gw masih punya mimpi yang ingin diwujudkan, maka 'kadang gw' seakan melemah dengan sendirinya.

    Gw pengen lulus S3 sebelum 30 tahun, maka ketika gw ngerasa capek karena tiap hari kudu kuliah, rasa capek itu pudar dengan sendirinya. Maka ketika gw ngerasa berat untuk berhemat sana sini buat nabung biaya kuliah, rasa berat itu terbayar dengan kembali memikirkan mimpi gw. Emang kadang gw kalah, tapi gw ga pernah nyerah.

    Gw pengen get a scholarship to study abroad, maka ketika gw ngerasa seharusnya sabtu adalah waktu buat ngendon di kasur sampai siang, tidur seharian dan nonton Keluarga Somad di Indosiar, gw tetep bangun ontime seperti biasanya dan berangkat kursus bahasa inggris. Karena simpel, bahasa inggris (dan TOEFL) adalah salah satu jalan yang kudu gw taklukan sebelum gw bisa melangkah lebih jauh lagi.

    Gw pengen merealisasikan mimpi gw buat sepedaan farther and farther, maka ketika gw lagi males banget buat sepedaan ke kantor, gw tetep ngayuh sepeda gw. Ga peduli panas, ujan, mriang, ato galau. Karena sekali gw memenangkan rasa males itu, maka ketika itu pula gw sedang jadi parasit buat mimpi gw sendiri. Sepedaan ke kantor tiap hari adalah sarana latihan gw untuk tetep fresh dan kuat sepedaan jauh. So, ketika kesempatan itu datang, gw ga punya alasan untuk tidak merengkuh mimpi gw. Akhir tahun ini gw bakal #go(w)esToKL, dan itu bakal terwujud. InsyaAllah.

    Dan.. akhir-akhir ini gw menelurkan satu mimpi lagi. Gw pengen belajar Agrisbisnis. Gw pengen do something to my beloved village and villagers. Gw pengen ngebantu ekonomi mereka melalui jalan pertanian. Why must agriculture? Simpel, karena gw besar dari hasil tani, so, ketika gw udah segede sekarang, gw pengen balas budi. Sekarang emang gw belum punya rencana apa-apa, tapi gw yakin gw bisa mewujudkan mimpi ini juga. Just wait lah.

    Dream. Sebagai orang yang ga punya harta benda melimpah, sebagai orang yang ga jenius, sebagai orang yang ga punya nyali lebih, satu-satunya hal yang gw bisa adalah bermimpi. But, selalu ada tetapi. Even that, someday, i will realize it all. I'll make my dreams come true. Just wait.

Thursday, 20 August 2015

Buka Lapak di Pasar Saham

    Gw sekarang paham, kenapa seorang trader ataupun  investor di pasar saham itu bisa begitu cepet kaya, sekaligus bisa langsung bangkrut total. Gw sekarang juga paham makna dari 'resiko', apa itu high risk dan low risk. Terima kasih klinik Tongtong.

    Well, sebulan yang lalu gw akhirnya nyoba masuk ke pasar saham. Dari rasa penasaran dan tentu saja didorong oleh motivasi mainstream pada umumnya yaitu 'ekspektasi' bahwa bermain saham bisa cepet kaya, akhirnya gw sibuk browsing sana-sini, telpon dan email berbagai perusahaan sekuritas dan akhirnya memilih BNI Securities sebagai lapak gw bermain saham. Kenapa BNI Securities? Dua alasan, dan ini bukan bentuk promosi. Satu karena murah. Lo ga perlu uang berpuluh-puluh juta untuk mulai berinvestasi. Cukup sejuta doank lo udah bisa jual beli di pasar saham. Beberapa perusahaan yang gw telpon mensyaratkan setoran awalnya adalah rata-rata 10jt, sehingga jelas mana yang kiranya masuk di dompet gw. Alasan kedua adalah mudah. Ya, mudah karena gw ga perlu beranjak dari depan komputer untuk bisa regristrasi sebagai klien dari BNI Securities. Cukup isi form by inet, tunggu email konfirmasi, dan voila 'Selamat Anda telah terdaftar'. Semudah itu.

    Pembelian saham pertama gw adalah murni karena coba-coba, ga ada analisa fundamental, ga ada analisa teknikal. Murni karena gw ngelihat hari itu sahamnya naik dan gw beli. Hasilnya? Ga perlu waktu lama, cukup dua hari ketika akhirnya saham gw turun. Dalam sekejap gw kehilangan beberapa puluh ribu uang gw. Cukup sesuatu. But, pengalaman ini, bener-bener kehilangan duit dalam sekejap membuat gw memutuskan do something untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Dan baru setelah kejadian itu gw belajar tentang analisa fundamental (yang pada akhirnya sama sekali ga tertarik) dan analisa teknikal.

    Gw belajar dasar-dasar analisa teknikal, menentukan tren, membuat garis resistence, support, moving average, Cut Loss, dll. Hingga akhirnya gw merasa punya dasar untuk beli saham dan benar-benar merealisasikan apa yang gw pelajari. Dan bener aja, dua tiga hari berikutnya saham gw naik lumayan, sekitar 10-15%. Tapi setelah itu saham gw turun, bahkan terjun bebas. Salah satu saham gw turun lebih dari 30%. Nyesek. Menurut aturan, ketika saham gw udah turun segitu bebasnya gw harusnya udah jual itu saham, karena semua indikator menyarankan demikian. Tapi dasarnya nyubis, gw tetep hold itu saham dan viola, saham gw terperosok di dasar neraka. Sial.

    Gw perhatiin, apa yang salah dengan analisa yang ge lakukan. Gw bolak-balik lihat grafiknya, gw liat indikator, semua yang gw lakukan sudah sesuai petunjuk, tapi kenapa gw tetep beli saham yang anjlok? Gw browsing-browsing dan nemu artikel dari orang yang antipati dengan analisa teknikal dan percaya sepenuhnya dengan analisa fundamental. Menurut tu orang, semua analisa teknikal itu bullshit. Kenapa? Karena dasar data analisa teknikal adalah data saham kemarin-kemarin, artinya 'Bukan tren yang menentukan saham, tapi saham yang menentukan tren  tersebut'. Gw mikir, dan agaknya sedikit terpengaruh untuk setuju dengan pendapat orang tersebut. Selanjutnya artikel itu mengajak pembaca untuk menemukan sendiri jalan 'kapan harus beli, apa yang dibeli, dan kapan harus jual'. Menarik.

    Well, kembali ke pembukaan post gw ini, bahwa seorang yang bermain di pasar saham bisa kaya seketika dan bangkrut detik kemudian. Dari pengalaman gw, itu benar adanya. Let's see dari kasus gw. Ketika gw beli saham dan kemudian naik selama dua hari. Dengan modal cuman sejuta doank, dalam dua hari itu (seandainya gw jual) gw bisa dapat untung sekitar 100rb atau 10% dari modal gw. Tapi berhubung gw copo, maka saham itu gw hold dan dihari ketiga sahamnya jatuh dan gw rugi sekitar 200rb atau sekitar 20%. Untungnya, modal gw cuman sejuta. Gimana kalo gw nanem modal 100jt? Dalam dua hari gw bisa dapet 10jt atau setara dengan kerja+lembur selama sebulan. Tapi di hari ketiga gw bakal rugi 20jt atau setara dengan cicilan rumah selama 6 bulan. Gimana kalo gw investasi 1 milyar? Hemm. Ga heran kalo Warren Buffet langsung bisa nyalip kekayaannya Bill Gates.

    Anyway, gw belum nyerah. Gw masih terus belajar dan berharap bisa secepatnya menemukan 'my way' dalam jualan di lapak saham. Mumpung ada perusahaan sekuritas yang berbaik hati dengan mempermurah dan mempermudah untuk bisa masuk pasar saham. So, good luck for me. O ya, gw juga udah nanya ke temen yang lebih tahu agama daripada gw tentang transaksi di pasar saham. Dan temen gw jawab bahwa 'itu dibolehkan' dengan catatan perusahaan yang dibeli sahamnya berjalan di jalan yang benar. Karena ketika kita beli saham, otomatis kita jadi pemilik perusahaan. Kalo perusahaan yang sahamnya kita beli adalah perusahaan yang memproduksi miras, artinya sama aja kita punya perusahaan miras, artinya ketika kita beli saham itu perusahaan sama dengan kita beli tiket masuk neraka. But, secara transaksi semua oke, kecuali beberapa yang ga oke (misal pasar uang, forex, dsb). Bye.

Wednesday, 12 August 2015

Focus in your dream, set your eyes just on the goal

    Focus in your dream, set your eyes just on the goal. Itulah status Whatsapp yang gw pake mulai beberapa minggu ini. Bukan apa-apa, melainkan cuma untuk mengingatkan diri gw sendiri bahwa gw punya mimpi, gw punya goal yang harus gw capai dalam beberapa tahun kedepan. So, gw harus fokus dan ga boleh tergoda untuk nengok kanan-kiri yang akhirnya membuat gw jauh dari goal yang gw set. Just like a few month past. Gw ga mau menyia-nyiakan lebih banyak waktu, dan i think this is the right time to start.

    Well, seperti yang gw tulis di post Resolusi 2015 januari kemarin, salah satu goal yang ingin gw capai adalah nyelesein S3 sebelum 30 tahun, dan atau dapet scholarship untuk kuliah ke luar negeri, Jepang atau Korea. Tapi, meskipun gw udah ngeset goal sejak januari, pada kenyataannya gw bahkan belum bergerak sampai bulan mei. Penyebabnya ya cuma satu, gw kebanyakan nengok kiri-kanan. But, pada akhirnya gw sadar gw kudu fokus dan mulai mempersiapkan diri sebaik mungkin, secepat mungkin, sebelum 30 tahun keburu lewat. Time flies so fast, so i must run faster too.

    Actually, syarat utama untuk bisa dapet beasiswa ke luar negeri adalah score TOEFL/EILTS. Dan sadar kalo bahasa inggris gw kaco, terutama di bagian listening, makanya gw ambil kursus bahasa inggris di LBI UI. Minggu besok, gw tamat level 2 English Conversation, dan i think my english is better and more important is i have a confidence to speak in english. So, i think i am going to take next level. Dan lebih dari itu, gw juga ketemu temen-temen sekelas gw yang amazingly punya mimpi yang kurang lebih sama kayak gw, memburu scholarship, so it give an advantages for me, cause i'll have infos and friends to reach our dream together. Kelas EC juga jadi lebih menyenangkan karena temen-temen sekelas gw sangat menyenangkan. Kompor abis.

    Rencana gw adalah, selesai dari level 2 ini, gw bakal ambil TOEFL IPT sekedar untuk tahu seberapa jauh level gw. Kemudian ambil EC level 3, kemudian di bulan-bulan november ambil TOEFL IPT lagi, dan kalau udah oke, baru ambil TOEFL IBT. And then tahun 2016 gw udah bisa mulai hunting beasiswa. Biasanya beasiswa ke Korea dan Jepang dibuka bulan Maret/April untuk keberangkatan tahun berikutnya. So, it'll be great if i can get it. Semoga. Amin. But, if i can't get it, i still have Plan B.

    The Plan B is... i'll finished my master here.. Actually, sekarang gw juga udah ambil S2 di Gunadarma dan insyaAllah september besok udah selesai semester 1. Dan jika semua berjalan sesuai rencana, maka insyaAllah akhir 2016 S2 gw udah kelar. Itu artinya, kalo gw dapet beasiswa di Plan A, gw bisa langsung berangkat di pertengahan 2017, dan kalau gagal gw bakal ngemis beasiswa S3 ke Gundar, sembari tetep nyari beasiswa ke luar. Dan kalau pun itu gagal, gw masih punya Plan C.

    And the Plan C is... gw tetep bakal hunting scholarship ke luar, tapi melalui jalur yang berbeda. Dari info yang gw dapet, baik dari baca atau kabar dari temen, bahwa ada jalur yang lebih mudah untuk dapet beasiswa ke luar, yaitu dari jalur dosen. Ya, baik LPDP atau Kemendiknas atau DIKTI menyediakan beasiswa yang dikhususkan untuk dosen atau calon dosen. Dan menurut info yang gw dapet itu lebih mudah. But, something easy need more sacrifice right, begitupun jalur ini. Syaratnya ada dua: satu lo harus jadi dosen dan dua lo harus ngajar/ngabdi di universitas yang ngasih lo surat rekomendasi. So, for my backup of Plan A and Plan B, i've already registered to be a lecturer dan fortunetly gw lolos, meskipun agak-agak risky juga karena gw ga total jadi dosennya. Gw ga bisa ambil jam ngajar di weekdays karena gw kerja, sedangkan sabtu waktu gw abis buat kursus. Last semester, dengan sangat beruntung jam kursus dan jam ngajar ga berbarengan. But, i haven't knew yet the schedule for next semester. Sejujurnya, gw takut ga bisa ambil jam ngajar, dan lebih dari itu gw takut status dosen gw didepak. Wkwkwk. Gw juga sedang berusaha untuk ngedapetin NIDN (No Induk Dosen Nasional) untuk lebih mematengkan posisi gw. Another thing make my position as lecturer still too risky is because i still haven't finished my master. DIKTI mensyaratkan untuk jadi dosen tetap, lo harus udah S2 atau sedang jalan S2. Itu artinya gw tetep harus nyelesein S2 gw disini agar semua tetap jalan pada relnya. If, semua berjalan lancar, setelah lulus S2 gw bisa punya kesempatan untuk ngajuin beasiswa S3 dari jalur ini, dan kemudian setelah selesai, gw kudu balik ke kampus dan ngajar, jadi dosen di kampus ini. It's not so bad yeah, cause actually i like to be lecturer. Menurut gw dosen itu pekerjaan yang menyenangkan. Pertama, karena kita akan ketemu orang baru jadi ga bosen. Kedua, untuk ngajar kita harus tahu lebih dahulu materi dan selalu update info, n it'll be fun to know more and always uptodate. Ketiga, darah keluarga, karena bokap adalah guru. Keempat, satu dari tiga hal yang pahalanya tidak akan putus, ilmu yang bermanfaat. Dan kelima, masih banyak hal yang belum terungkap yang gw bisa dapet dan lakukan jika jadi dosen. So, actually the risks is not risk anymore.
    Well, rencana udah dibuat sedemikian rupa, dan sekarang tinggal gimana gw nya. Apakah bisa menjalankan rencana-rencana itu dengan sebaik-baiknya, atau tergoda untuk lihat kiri-kanan lagi seperti yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Semoga tidak. Semoga beruntung. Semoga Allah meridhoi. Amin. Fighting!!!

    Oya, satu lagi, kenapa gw getol banget dan ngebet banget pengen dapet beasiswa ke luar? Dua alasan sederhana, pertama karena gw miskin, ga punya duit buat kuliah ke luar dengan biaya sendiri. Dan kedua adalah gw pengen ngerasain bagaimana hidup dan belajar di luar negeri, di negara yang lebih maju dari Indonesia, dan belajar lebih banyak disana untuk kemudian dibawa pulang. That's all. Doakan gw ya guys...

Tuesday, 4 August 2015

Wisata Foto di Semarang : Berburu Foto di Negeri 'China'

Gunung Raung di Jawa Timur mengalami erupsi. Dampaknya ga cuman dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung tersebut, tapi juga gw. Ya, setelah merencanakan buat ke Banyuwangi pas libur lebaran kemarin, akhirnya gw harus meraung-raung karena plan terpaksa dicancel. Kita ga bisa masuk Banyuwangi demi keselamatan bersama. Pun, kalo misalnya boleh, nyokap gw ga bakal ngijinin. So, dengan berat hati gw harus menunda satu dari tiga rencana liburan gw tahun ini, Gunung Kidul (udah), Banyuwangi, dan Karimun Jawa. 

Well, pembatalan rencana liburan ini bener-bener bikin gw mati kutu. Liburan di rumah selama hampir seminggu tanpa melakukan hal apapun yang special sukses bikin gw stres. Ditambah stok film yang udah abis di hari ketiga setelah lebaran, dikali acara TV yang penuh dengan sinetron India dan Turki yang bikin gw mual-mual, dikuadratkan dengan ga ada sinyal internet di kampung, dan diintegralkan dengan adik gw yang ga mau diajakin jalan-jalan, bener-bener bikin otak gw ga lurus. Dan puncaknya di hari keempat setelah lebaran akhirnya gw memutuskan untuk keluar rumah dan pergi ke Semarang. Ga ada tujuan pasti, selain cuma mau menghirup udara kotor di luar rumah.

Sebelum gw berangkat, iseng gw SMS temen gw, Ilam, buat nemenin gw jalan bareng. Dan lucky, dia bisa. Lantas, kemana kita pergi? Awalnya gw mau ke daerah selatan Semarang, karena hampir setiap tempat di utara Semarang udah sering dikunjungi. Lawang sewu, Masjid Agung, Gereja Blenduk, dan Kota Lama udah ga kayak tempat wisata buat gw, saking seringnya kesitu. So, bermodal browsing sejenak, akhirnya kita memutuskan untuk ke Gedong Songo dilanjut ke Umbul Sidomukti.

Di luar dugaan gw, Gedong Songo jauhnya ampun.  Untung kita kesananya naik motor, berabe kalo ngandelin angkutan umum, karena dari jalan gede Semarang-Ungaran sampe lokasi, jaraknya masih lumayan bikin pantat pegel, selain angkutan umumnya juga sangat sangat terbatas. Di luar dugaan yang kedua adalah, rame banget. Dan di luar dugaan yang ketiga adalah gitu-gitu aja. FYI, Gedong Songo adalah kawasan candi yang berjumlah songo (baca: sembilan) yang letak satu candi dengan candi lainnya saling terpisah. Dan unfortunetly, misahnya ga tanggung-tanggung, yaitu antar bukit ke bukit lainnya. Jadi, satu bukit satu candi. Itu artinya kalo situ mau ngelihat semua candi, situ kudu menjelajah ke sembilan bukit yang berbeda. Cukup sesuatu. But, yang luar biasa adalah banyak banget pengunjung yang kalo dilihat dari wajahnya, sudah sedikit tua (baca: kakek-kakek, dan nenek-nenek), tapi masih semangat sekali jalan dari satu candi ke candi lain, dari satu bukit ke bukit lain. Salut. Sedangkan gw? Gw nyerah sampe candi yang keempat.


Dari Gedong Songo, gw dan Ilam lanjut ke Umbul Sidomukti yang letaknya ga begitu jauh. Dari hasil googling, Umbul Sidomukti adalah semacam kolam renang yang ada di atas bukit, dan dari kolam itu pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas bukit. Jadi rasanya kayak berenang di atas awan. Tapi yang perlu jadi catatan adalah, "jangan berekspektasi terlalu tinggi". Dari hasil googling, umbul sidomukti sangat 'wah' dengan pemandangan yang 'wow' dan setidaknya menurut perkiraan gw kolamnya cukup gede. But, ketika nyampe disana yang gw lihat adalah kolam renang yang panjangnya ga lebih dari 10 meter dengan air yang sangat keruh saking banyaknya pengunjung yang renang disitu. Gw cuman liat dari atas, ga tega nyentuh airnya apalagi nyemplung. Bukan apa-apa, gw curiga perbandingan air kolam sama keringat pengunjung, gedean keringat pengunjungnya. Yang amazing adalah, ketika gw hadapkan kamera gw ke arah kolam, pemandangan indah yang gw dapet dari hasil googling muncul lagi. Surga. Tapi pas gw turunin kamera gw, neraka muncul lagi. Ga nyampe 30 menit, gw dan Ilam memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ke Umbul Sidomukti.


Pas perjalanan pulang, kita ngelewatin Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal dengan Watugong. Apa aja yang ada disana? Hanya dua, yaitu Wihara dan Pagoda, sama beberapa patung, sama satpamnya. Tapi ketika masuk kesana, kita seakan-akan dibawa ke China. Bangunan wihara, pagoda, pendopo, dan segala sesuatu yang berbau Budha dan China ditampilkan disana, dalam kompleks yang begitu luas. Dan akhirnya, we get some awesome picture.



Dari Watugong, kita kemudian meluncur ke Klenteng Sam Po Kong. Mungkin udah bukan hal yang baru lagi ya. Sam Po Kong adalah tempat yang tepat untuk berfoto, kemudian memamerkan dan mengelabui temen-temen lo dengan bilang bahwa lo abis liburan dari China. Ya, ketika masuk Sam Po Kong, aura China nya kerasa  banget. Dan tentu saja, we got some picture too.  


Well, ketika keluar dari Sam Po Kong, jam sudah menujukkan pukul 16.40, dan itu artinya gw kudu segera mengakhiri perjalanan hari ini, karena kereta gw dari Semarang ke Purwodadi berangkat jam 17.10. Dari perjalanan singkat ini, gw dan Ilam punya satu kesimpulan. Kalau Solo terkenal dengan wisata budayanya, Gunung Kidul terkenal dengan wisata alamnya, maka Semarang harusnya memperkenalkan diri dengan wisata fotonya. Karena hampir semua tempat wisata di Semarang itu biasa-biasan aja tapi jadi luar biasa kalau ada di dalam bingkai kamera. Ga percaya? Datang aja ke Semarang dan buktikan sendiri kebenarannya! Kalian akan mendapati bahwa Lawang Sewu itu biasa-biasa aja, tapi ketika tertangkap kamera menjadi luar biasa. Kalian akan mendapati di internet bahwa Gereja Blenduk itu wow, padahal aslinya ya cuma gereja yang ukurannya ga lebih dari rumah kalian, dan isinya ya sama kayak gereja pada umumnya. Kalian akan mendapati bahwa foto-foto di depan pagoda dan wihara di watugong itu keren bingit, padahal aslinya ketika kalian datang kesana, ya cuman itu doank yang bisa kalian nikmatin,. Gw yakin, ga lebih dari 30 menit kalian udah bosen. Ya, seperti itu lah. But, kalian akan mendapatkan some awesome photos, yang bisa kalian pamerkan ke temen-temen kalian di media sosial, dan itu ga bisa kalian dapatkan di kota-kota lain. 

Tuesday, 28 July 2015

Horrible Ied

Hallo Hallo gays! Akhirnya kembali lagi ke hutan Jakarta setelah selama dua minggu menyepi di kampung tanpa sinyal inet. Sial. Well, banyak hal menarik selama lebaran kemarin, sampe gw bingung mau nulis yang mana dulu. But  first gw pengen ngucapin Happy Ied Mubarrak! Semoga tahun besok jadi tahun-tahun penuh berkah. Amien.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang paling diantisipasi oleh jomblo-jomblo akut kayak gw ketika mudik adalah pertanyaan "Kapan nikah?", entah dari keluarga, temen baik, sampe temen yang ga baikpun. Dan untuk mengantisipasi hal ini, sejujurnya gw udah nyiapin jawaban yaitu "Kita tunggu setelah lulus S2 ya!". Walopun belum tentu juga setelah lulus S2 gw bakal nikah, ato lebih parahnya belum tentu setelah lulus S2 ada yang mau ama gw, ato lebih parahnya lagi kalo gw ga lulus-lulus S2nya. Kaco.


Akan tetapi sodara, ternyata selama liburan Idul Fitri kemarin jawaban yang udah gw siapin itu sama sekali ga kepake. Keluarga besar gw, entah kenapa, ga ada yang melontarkan pertanyaan "Kapan nikah?". Satupun, tak ada. Mungkin mereka udah bosen dan paham akan kejombloan gw. Well, ga masalah. Justru itu mengurangi tekanan batin gw. 


Pun temen-temen gw mule dari yang paling gw kangenin sampe yang gw udah lupa namanya juga ga ada yang nanya. Di lebaran pertama, gw berkunjung ke rumah temen main gw dari kecil. Namanya Fibri. Kita udah temenan bahkan sebelum masuk TK. Kita ngobrol ngalor ngidul, tapi tak ada pertanyaan "Kapan nikah?" disana.  Awalnya gw berpikiran positif, bahwa temen gw ini sangat pengertian sama gw, doi ga pengen menyakiti perasaan gw di hari yang suci ini. Sampe Fibri ngeluarin secarik kertas dan nyerahin kertas itu ke gw sambil bilang, "Dateng ya!". Gw baca kertas itu dan yassalam, itu adalah Undangan Kawinan. Untuk sesaat gw freeze. Gw bingung harus bereaksi seperti apa. Well jujur, dari lubuk hati gw yang paling dalam, gw seneng. Sumpah. Tapi di permukaan hati  gw yang ga begitu dalam, itu lebih menyakitkan daripada pertanyaan "Kapan nikah?". Ini lebih bikin gw depresi. Undangan itu seperti bilang "Nih, gw aja udah mau nikah. Lah elo, pacar aja ga punya!". Ga cuman itu, si doi ini, Fibri ini juga bilang bahwa di hari yang sama dengan pernikahannya dia, temen kita yang lain, Bowo namanya juga nikah. Gw udah mule susah napas. Dan detik berikutnya dia bilang, si Dwi juga udah lamaran. Dan si Linda sama Dian malah udah nikah sebelum puasa. Ga lama gw pamitan pulang.


Di hari kedua, dengan depresi yang belum sembuh, gw main ke rumah sohib gw, Marta. Marta adalah satu dari tiga temen baik gw waktu SMP (sampe sekarang) yaitu Marta, Abid, dan Emi. Dan tiap tahun, apapun yang terjadi, kita selalu janjian untuk ketemu. Minimal setahun sekali, dan biasanya pas lebaran kayak gini. Seperti biasa, gw yang pertama kali datang ke rumah Marta. Dan dari buka gerbang gw udah langsung disuguhi dengan tampang cowoknya Marta. Sial. Ga lama, cowoknya pulang, dan kemudian Emi dan Abid datang. So many things to share, but tak ada kalimat "Kapan nikah?" disana. Sampe pada akhirnya, Abid nunjukin undangan nikahannya dia ke kita. Gw seneng, ya, beneran gw seneng. Tapi entah kenapa muka gw ga bisa diajak buat senyum. Setelah peristiwa itu, pertanyaan "Kapan nikah?" dua kali mengalir, satu untuk Emi yang dijawab dengan "Secepatnya" dan satu lagi untuk Marta yang dijawab dengan "Gw nunggu dilamar aja". Gw ga ditanya "Kapan nikah", cuman ditanya "Lo kapan?" (See? Bukan "kapan nikah?" ya, tapi "lo kapan?"). Dan gw cuman bisa jawab dengan diam, karena entah kenapa mood gw ilang. Ga lama gw pamitan pulang, karena udah malem.


Setelah itu gw ga main kemana-mana. Gw di rumah aja, nontonin stok film. Nah, lebaran keempat atau kelima, temen gw dateng ke rumah. Umri namanya. Pas gw liat Umri nya seneng, pas liat ada orang di belakangnya, gw pengen kabur dari rumah. Si Umri dateng dengan istrinya. Lo boleh percaya sama gw, seriously gw seneng bisa ketemu temen lama dan istrinya. Yang jadi masalah adalah timingnya yang ga pas. Gw belum bisa menghadapi tekanan batin yang gw terima sebelumnya, and now you come with your wife. Sesuatu. Untungnya, sepertinya nyokap gw tau kondisi gw dan mengambil banyak porsi ngobrol-ngobrol sama Umri, sementara gw cukup bilang "Ya", "Oh ya?", "Heem", dll.

Well, you know, sebelum pulang gw udah mantepin hati bahwa gw mungkin bakal nikah di usia 30an, setelah gw selesai dengan mimpi-mimpi gw, bahwa gw udah nyiapin jawaban untuk pertanyaan "Kapan nikah?", dan lain-lain. Tapi faktanya adalah ketika lingkungan begitu menekan gw seperti itu, mau ga mau gw terpengaruh. Dan untuk pertama kalinya selama liburan di rumah,  gw pengen cepet-cepet balik ke Jakarta biar gw bisa terhindar dari tekanan-tekanan ini, menghindar dari pengaruh-pengaruh ini, dan fokus lagi dengan rencana-rencana yang udah gw persiapkan. Somehow, mudik tetep mudik, lebaran tetep lebaran, semuanya tetep menyenangkan. But, in another side, there is a point that force me to say, this is "Terrible Ied".

Monday, 13 July 2015

Mudik : Bermalam di Tegal, Nahan Pup di Semarang

Setlah tahun kemarin gw mudik bareng keponakan (atau sepupu) gw, tahun ini gw kudu jomblo lagi. Ya, gw mudik sendiri lagi, tanpa teman kunanti #ngok. Pengalaman hunting tiket tahun lalu, yang gw bela-belain begadang tapi pas di hari H di jam H, gw malah ga bisa akses website KAI, dan berakhir dengan tiket ngeteng Jakarta-Purwakarta-Cirebon-Tegal-Semarang-Ngrombo, maka tahun ini gw males 'ngoyo' lagi. Gw ga begadang lagi, dan pasrah aja. Gw mau ngebuktiin kalimat 'rejeki anak soleh', kalo gw soleh ma pasti dapet tiket. Tapi ternyata gw overconvident, gw ga cukup soleh, dan ga dapet tiket Jakarta-Semarang. Akhirnya gw ngeteng lagi, beli tiket Jakarta-Tegal, transit di Tegal 4 jam, dan lanjut Tegal-Semarang. Masalahnya adalah kereta Jakarta-Semarang yang gw naikin bakal nyampe jam 23.30 dan kereta Tegal-Semarang berangkat lagi jam 3.27. So, gw harus nunggu selama 4 jam, di tengah malem, sendiri. Cukup sesuatu.


Well, gw naik kereta Eksekutif Tegal Bahari dengan harga 240.000. Station Gambir masih belum rame. Gw masih bisa selonjoran di tengah ruang tunggu. Jam 6.47 kereta berangkat. Well, pada awalnya gw udah berniat mau tidur di kereta biar bisa tahan melek waktu nunggu di Station Tegal. Tapi gw ga bisa tidor, lantaran ada anak-anak jahanam di belakang kursi gw yang berisik minta ampun. Gw mikir, 'ah, paling ntar jam 10 udah pada kecapekan dan tidur sendiri', tapi gw salah. Bahkan sampe kereta nyampe Tegal mereka masih Full Charged sedangkan gw udah jadi orang China, mata sipit, ngantuk berat. 


Tahun lalu, ketika gw transit di station Tegal, gw tiduran di bangku ruang tunggu sambil nyedekahin darah gw buat nyamuk-nyamuk yang udah kayak antri sembako di Indonesia, ricuh. Tapi, ketika gw turun dari kereta dan ngelihat station Tegal, harapan hidup gw naik. Station Tegal yang sekarang bukanlah yang dulu. Lebih bersih, lebih rapi dan tertata, dan ada beberapa cafe. Tapi semua itu tidak sebanding sewaktu gw ngeliat mushola nya. Kosong, lumayan luas, dan berAC. Gw bisa tidur bok. So, abis sholat isya, tarawih, lengkap dengan witir, tanpa ba bi bu gw langsung rebahan dan tidur. Bangun-bangun jam 3 pagi dan pas bangun gw kedinginan. AC nya dingin cui. Maklum di kosan gw ga ada AC. Jangankan AC, kipas aja ga ada. Agak ndeso, tapi apa mau dikata. Abis bangun, perut laper, langsung cus ke kafe beli makan sahur. Ayam goreng+strawberry tea, surga.


Tepat jam 3.27 kereta menuju Semarang dateng. Tawang Jaya, dengan harga 65.000. So, total tiket gw dari Jakarta - Semarang adalah 240rb + 65rb = 305rb. 15 rb lebih murah dari temen gw yang dapet kereta langsungan (ekonomi) Jakarta-Semarang. Wkwkwk. Kereta yang gw naikin kali ini emang cuma ekonomi sih, tapi it's oke, cuman dua jam ini. Yang jadi masalah adalah penumpang samping gw adalah seorang wanita berhijab yang cantik maksimal, dan gw rasa waktu dua jam itu kurang lama. Krik krik. Nyampe Semarang jam 5.53, tepat persis seperti yang tertera di tiket. Salut dah buat KAI, bener-bener ontime.



Sampe di station Poncol, Semarang, langsung keluar, dan nyari tiket ke Ngrombo. GW mikirnya kereta bakal jam 8 baru berangkat, jadi masih ada waktu buat pup. Sayang sekali mimpi gw buat pup di station poncol harus gw tunda, karena ternyata ada jadwal kereta jam 6.15, 5 menit lagi setelah gw dapet tiketnya. Buset, gw lari-lari, dan sesaat lupa dengan pup gw. Kereta yang gw naikin adalah Kedung Sepur, kereta yang baru beberapa bulan beroperasi, khusus rute Semarang-Ngrombo. Kesan pertama pas masuk keretanya, ajib, lumayan luas dan kosong. Ini setara dengan kelas bisnis gw rasa. Tapi kesan kedua ketika kereta mau jalan adalah, 'buset, kopaja banget'. Suara mesinnya bok udah kayak kopaja yang siap-siap mogok dimana aja. Dan bener aja, baru jalan satu station, kereta yang gw tumpangin ini bener-bener mogok. Ga tanggung-tanggung, kereta berhenti sampe sejam. Sementara itu perut gw udah mule ga normal pengen pup. Bosen nunggu, dan berharap bisa pup, gw keluar kereta dan nyari kamar mandi di station, tapi pas gw baru masuk kamar mandi, petugas kereta langsung nyuruh gw masuk kereta lagi, karena kereta udah bisa jalan. Buset dah. Untung gw belum dalam proses pup. Parah kalo udah.




Well, sejam kemudian kereta akhirnya nyampe juga di station Ngrombo. Station Ngrombo sedikit ada perubahan sejak terakhir kali gw kesini tahun kemarin. Sekarang ada ruang tunggu untuk pengantar dan penjemput yang ada di lantai dua. Jadi pas gw jalan keluar, gw udah bisa liat bokap gw di lantai dua sono sambil dada-dada. Heh, malu bok diliatin orang. Tapi, wait Dadi, gw masih punya hajat yang kudu diselesein dulu. Gw nyari kamar mandi dan menyelesaikan kisah yang tertunda.




Anyway, terlepas dari mogoknya kereta dari Semarang-Ngrombo, overall gw seneng bange liat bagaimana KAI berprogress menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Kereta yang nyaman, pelayanan yang oke, pembelian tiket yang gampang, station yang ajib, jadwal yang ontime, dan let's see sekarang bahkan gw bisa sampe station Ngrombo, station deket rumah tanpa harus ketemu jalan raya. Sebagai orang yang hidup berbarengan dengan KAI, gw merasa sangat puas. Dari naik kereta ekonomi yang panas, desek-desekan, dan bahkan kalo beruntung bisa adep-adepan sama ayam. Crowded banget lah. So, dengan perubahan besar ini, gw yakin terminal bakal sepi dua tiga tahun ke depan kalo ga ada perubahan yang signifikan. Bahkan bandara yang melayani penerbangan domestik khususnya Jawa juga harus hati-hati. Well, akhir kata, selamat bermudik ria, semoga mudik temen-temen aman, nyaman, dan menyenangkan. 

Thursday, 9 July 2015

Reposting - Berhenti Salahkan Syaitan

Well, Ramadhan kali ini bener-bener berbeda dari tahun sebelumnya. Bukan hanya dari sisi gw, tapi juga dari sisi luar gw, lingkungan. Let's see. Coba deh liat TV, ini bulan Ramadhan, bulan suci, tapi berita kriminal ga pernah berhenti nongol di layar TV. Dari kasusnya Angeline sampe bocah yang kabur dari rumah karena disiksa ibu kandungnya (tangannya digergaji). Dari sinetron yang mempertontonkan zina-dina-hina sampe mempraktekannya dalam dunia nyata. Yang terbaru ni, LGBT. Dan ternyata banyak loh orang Indonesia, yang ngakunya muslim, publik figur lagi, tapi terang-terangan mendukung LGBT. Gendeng. Ini maksudnya apa coba. Sebagai seorang jomblo akut, isu LGBT bener-bener menurunkan pamor gw sekaligus penebar fitnah. 'Lo ga punya pacar, gay ya?'.Astaghfirullah dah. Amit-amit. Ini dunia emang udah bener-bener kacau. Kaco!!
So, dengan keadaan sekarang yang kayak gini, gw jadi inget postingan gw beberapa tahun yang lalu, "Berhenti Salahkan Syaitan". Dan nampaknya opini gw itu masih sangat relevan untuk dibaca ulang hari ini. Let's see.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

              Postingan ini g bermaksud apa-apa ya, kecuali pengen share ama ngajak temen-temen pembaca buat merenung sejenak.

        Bulan Ramadhan udah setengah jalan lebih kita lalui (Alhamdulillah yah #kedipSyahrini). Gue yakin banyak yang imannya makin tebel kayak coklatnya Gerry Salut Coklut (Iklan banget) n ibadahnya makin kenceng kayak iklannya motor Yamaha. Tapi ada juga yang biasa-biasa aja dan g bisa ngemanfaatin momen Ramadhan dengan sebakik-bakinya gue yakin. Kenapa gue bilang kayak gitu? Soalnya gue termasuk di dalam tipe yang kedua ini. G bisa manfaatin momen Ramadhan kali ini (setidaknya 18 hari ini) dengan sebaik-baiknya. Liat aja kebiasaan-kebiasaan yang g berubah,Abis subuh, bukannya baca Quran malah tidur lagi, Sholat sunnah g nambah, kecuali Tarawih. Itu juga dikebut. Pengen cepet-cepet nonton Putri Yang Ditukar-Tukar.Sementara yang wajibnya juga ditunda-tunda. Apalagi yang maghrib tu. Udah buka nya dilama-lamain, maghrib nya ditunda-tunda deh. Pake alesan kekenyangan kek, makanannya belum abis kek, nunggu Upin Ipin nya iklan dulu kek. Ada-ada aja.Baca Quran juga cuma abis sholat maghrib doank, itu juga sama males-malesan.Yah, gitu-gitu aja. Sama kayak di bulan-bulan lain. Dan beberapa maksiat yang yah, masih dilakuin juga. Mantengin cewek di jalan, ngegosip ria, ngobrol ngalor ngidul, liat berita tipi yang g penting yang malah bikin kita esmosi, suudzan dan mengumpat sana-sini sampe liatin iklan di TV yang artisnya bohai-bohai. Astaghfirullah. Terlalu (Itu dosa udah berapa galon yah?)


        Nah, dalam kegiatan gue yang biasa-biasa aja dan cenderung kurang dari sama dengan, gw jadi kepikiran gini : 'Kalo di luar Ramadhan pas kita lagi males sholat n nunda-nunda waktu sholat kita bilang 'godaan syaitan neh' '. Kalo lagi bedua-duaan sama pacar, pegang-pegangan, grepe-grepe kita juga bilang 'godaan syaitan ni'. Ato kalo lagi jalan-jalan ngeliat cewek cakep trus mata g bisa dikendaliin kita juga bilang 'godaan syaitan ni'. Dan berbagai kesalahan dan kemaksiatan lain, kita selalu bilang 'godaan syaitan nih' atau kalo kita ngasih pesen ato dikasih pesen seseorang selalu bilang 'ati-ati ama godaan syaitan'. Lalu pertanyaanya adalah, 'ITU SEMUA TADI MASIH KITA LAKUIN G DI BULAN RAMADHAN INI?'. Nunda-nunda waktu sholat, pegang-pegangan sama non mahrom, g bisa jaga pandangan dan lain-lain ITU MASIH KITA LAKUIN G?? Padahal gue pernah denger tu ada yang bilang kalo 'DI BULAN RAMADHAN ITU SYAITAN-SYAITAN DIBELENGGU'.


        Logikanya, kalo syaitan-syaitan dibelenggu, doi g bisa godain kita donk. Kalo pun bisa efeknya dikit doank donk. Kecuali kalo di bangsa syaitan ada Gayus yang bisa pergi ke Bali waktu dibelenggu (dipenjara), itu lain cerita. Itu juga yang bisa digodain brati juga cuma orang Bali doank dong, padahal hal kayak gini kan bisa terjadi di mana aja. Nah, kalo doi g bisa godain kita, otomatis kemaksiatan yang kita lakukan almost zero donk. Soalnya kan kalo kita ngelakuin kemaksiatan, kita selalu berdalih 'godaan syaitan nih'. Padahal, faktanya kita masih aja tuh ngelakuin perbuatan salah dan maksiat. Nah loh, gimana donk? Kita g bisa nyalahin syaitan lho di Bulan Ramadhan. Syaitan udah dibelenggu lho.


        Dari situ kemudian gue berpikir bahwa 'kalo di bulan Ramadhan yang syaitan dibelenggu aja kita masih berbuat maksiat, yang artinya perbuatan maksiat kita itu bukan akibat dari godaan syaitan, BISA JADI, sekali lagi, BISA JADI perbuatan maksiat yang kita lakuin sebelum-sebelumnya, di bulan-bulan selain bulan Ramadhan itu juga bukan karena godaan syaitan. Terus dari siapa? Ya dari diri kita sendiri. Akibat kita g bisa nahan nafsu. Akibat kita g bisa nahan iri, g bisa nahan sombong, g mau disalah-salahin yang ujungnya boong dan fitnah, g pake kacamata kuda, dan sebarek maksiat lainnya.


        So, gue jadi berpikir. Berhenti deh nyalahin syaitan. Karena maksiat yang kita perbuat itu, jangan-jangan itu salah kita sendiri. Karena kita g bisa ngendaliin nafsu kita sendiri. Belum lagi, misalnya kalo pagi-pagi pas kita mau buka jendela rumah, trus liat emak-emak cakep pake daster lewat. Mata kita g bisa dimeremin, melotot mulu, trus kita bilang 'godaan syaitan nih'. Padahal ternyata itu adalah nafsu kita yang g bisa dikekang, sementara syaitannya aja masih tidur, bukannya itu artinya kita juga memfitnah syaitan yah?? Syaitan yang g tau apa-apa, masih enak-enak bobo, mimpi indah, eh, tiba-tiba disalahin sama kalimat 'godaan syaitan nih'.


         Hahaha, sekian aja deh. Cuma mau share sih. CMIIW yah, Correct Me If I am Wrong, and CMIIW juga kalo bermanfaat, Cendol Me If I am Wow. Hohoho,

Wednesday, 8 July 2015

Apply and Interview

        Seorang teman SMP bertanya, atau tepatnya berkata, 'Lo harusnya udah pindah dari kerjaan lo. Lima tahun itu udah sangat lama. Kok lo betah sih?'. Pertanyaan ini mengusik gw. Pertama karena memang benar, sudah terlalu lama gw stay di satu perusahaan dan itu menjadikan gw minim pengalaman kerja. Dan yang kedua adalah karena yang berkata kayak gitu adalah temen yang gw respect dari dulu, Jacky. Sedikit overview tentang Jacky adalah dia salah satu temen gw yang antimainstream. Ketika dulu gw dan temen-temen pada sibuk belajar karena besok ujian, temen gw yang satu ini malah asik main game. Seakan ga peduli dengan sekolahnya. Tapi uniknya ketika ketemu dengan pelajaran atau topik yang dia suka, dia langsung jadi nomor satu, maju paling depan, dan bener-bener berbeda dari Jacky yang biasanya. Di jaman sekolah, ketika yang lain galau soal pacar (dia juga sih), dia udah punya bisnis sendiri. Dia punya Warnet dan Game Centre, dia buka toko komuter, dan ya, itu cukup membuat gw jadi fans nya dia. Doi bakal jadi pengusaha besar gw pikir. Tapi ternyata gw salah. Setelah jeda empat tahun ga ketemu, sekarang dia kerja di perusahaan. Ya, gw pikir itu aneh, karena yang ada di otak gw, 'Jacky bukan tipe orang yang mau bekerja untuk orang lain', tapi nyatanya dia melakukannya. But nevermind, gw yakin doi punya target yang jauh lebih besar dari itu, dan gw tinggal menyaksikan aja apa yang bakal dia lakuin.

Well, kembali ke masalah gw. Karena kritik (dan mungkin saran) dari si Jacky ini, akhirnya gw buka jobstreet. Ini adalah pertama kalinya gw buka jobstreet. Gw apply di beberapa perusahaan. Ini adalah pertama kalinya gw apply kerja ke perusahaan lain. Dipanggil untuk interview. Ini adalah pertama kalinya pengalaman gw interview kerja. Sebagian ditolak dan sebagian digantung dan sebagain lagi gw tolak karena ga sesuai dengan idealisnya gw. Dan ini juga pengalaman pertama gw.

Tercatat gw apply di Melawai, Tokopedia, MetroData, Megapolitan Developments, dan Bakr Interactive. Dari lima perusahaan itu, empat merespon untuk interview, sedangkan MetroData menjadi satu-satunya yang ga merespon lamaran gw. Meskipun begitu, gw ga dateng interview di Melawai karena gw melihat ada yang ga beres setelah gw browsin sana-sini. So, tinggal tiga yang tersisa: Tokopedia, Megapolitan, dan Bakr.

Well, interview Tokopedia menjadi pengalaman pertama gw interview. Tidak semenegangkan yang gw kira, tapi gw gagal. Ya, pada akhirnya gw ga diterima dan gw tahu persis kalimat mana yang membuat gw gagal. Anyway, background gw adalah programmer tapi gw apply untuk Database Administrator. Tujuan gw adalah pengen belajar dan trying something new. Dan disitulah salahnya. Dunia kerja bukan tempat untuk trying something new that you don't understand about it. Oke, itu mungkin bakal menunjukkan bahwa lo orang yang dinamis, lo ingin terus berkembang with trying something new, but perusahaan butuh orang yang bisa menghandle pekerjaan dengan benar, bukan coba-coba. Gw gagal.

Pelajaran gagal di Tokopedia gw bawa di interview kedua dengan Megapolitan Developments. Gw lolos interview satu dan dua, tapi mandek di interview ketiga. Mandeknya ini bukan karena skill gw ga memenuhi syarat atau apa, tapi lebih karena tekanan batin. Megapolitan menawarkan pekerjaan yang sangat menantang yaitu untuk bikin project tentang 'Forecasting' for other company in US , how to predict future value of saham, emas, minyak, dll. Sangat menarik karena gw ditawari untuk belajar tentang SQL, Big Data, Hadoop, analisa bisnis, dan segala macem. But, i can't stand in the work time. Karena gw harus bekerja dengan orang-orang di US sono by video chat, etc, dan jam kerjanya menyesuaikan jam kerja mereka. Di interview ketiga gw sengaja ga menunjukkan minat yang berlebih dan juga ga langsung berkata i can't do it, karena sesungguhnya gw sendiri ga yakin apakah gw oke dengan pekerjaan ini atau ga. Karena gw yakin, meskipun kecil, ini akan merusak plan yang sedang gw jalani sekarang, S3 sebelum 30, hunting scholarship, etc. I'm still waiting.

Interview ketiga di Badr tidak terlalu mengesankan. Gw udah paham teknik-teknik interview dan ketika gw tanya tentang jam kerja, dan mereka strict tentang itu, gw langsung ambil keputusan, gw ga bakal lanjut. And then, gw ga menjual diri gw secara berlebihan, pun juga ga secara eksplisit menunjukkan kalo gw ga tertarik. Let Badr yang memutuskan.

Well, dari lika-liku apply and interview ini gw bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama, bener kata temen gw bahwa gw terlalu lama stay di satu perusahaan dan itu membuat gw seperti katak dalam baskom. Taunya ya hanya itu-itu aja. Kedua, gw tahu bahwa perusahaan gw sekarang adalah yang terbaik (sampai saat ini) yang bisa menunjang semua plan gw ke depan. Ketiga, gw tambah benci dengan lingkungan Jakarta. Keempat, gw bukan orang IT yang kompeten. Terlalu banyak hal yang gw lewatin dan terlalu banyak hal yang gw ga bisa di dunia IT. Kelima, so, kesimpulan akhirnya adalah, gw tetep galau, 'apakah gw bakal stay di dunia IT yang gw ga begitu in di dalamnya, atau doing something else tapi ga tau apa itu'.  Hemmm.