::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

A Little Note from 2018

Well, compare to last year and tahun-tahun sebelumnya, bisa dibilang tahun ini gw parah. Ini adalah tulisan tersedikit gw dalam satu tahun. It's only four articles. Bayangkan sodara-sodara! Satu semester cuman dua tulisan. Kalah sama tugas softskill dulu waktu kuliah. Dan not only about quantity, quality pun gw meragukan. Tahun ini bukan tahun gw. But, overall, tetep patut disyukuri karena satu dua keinginan yang gw canangkan di awal tahun kemarin tercape.

First, yang tercape di tahun ini adalah status gw sekarang bukan lagi suami, tapi juga bapak (papa). Sebelum memandang jauh ke depan, gw pengen flashback ke belakang gimana gw dan istri gw berjuang buat kelahiran anak pertama kami ini. Banyak ujian bahkan dari hari pertama periksa ke dokter sampai akhirnya melahirkan dan terus berjalan sampai hari ini pun, semuanya ujian. Ato lebih tepatnya Allah sedang mengajari kami (gw dan istri) untuk memikirkan kembali soal orang tua kami dulu. Gimana kami berjuang sekarang, begitulah dulu orang tua kita berjuang. Dan yah, harus diakui, God's succed (always). Rencana Allah itu keren, Maha Keren. 

Oya, berhubungan dengan cerita tentang baby gw ini dan gimana gw dan istri menjalaninya, gw sedang mempersiapkan new blog. You can access it in https://youngpa-log.blogspot.com/. Semoga jadi blog beneran, ga kayak blog yang udah-udah, yang akhirnya amburadul tak terurus. Hehe. 

Second yang tercape di tahun ini adalah gw dapet NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional). NIDN mean a lot for me. Paling ga, minimal, mengamankan status gw sebagai dosen. It means juga, mimpi gw dari kecil juga udah kecape, walaupun belum sempurna. Still too many things to do, but patut disyukuri, karena ini merupakan big stepping stone I got. Well, nilai plus sampingnya adalah tentu saja gw dapet tambahan penghasilan. But, it's second lah, karena tujuan gw ngajar bukan semata karena uang. It's just fun to share. 

Ketiga yang kecape di tahun ini adalah kenaikan gaji gw di kantor yang sekarang. Meskipun awalnya target yang gw tulis adalah kenaikan pangkat, tapi setelah ngobrol sana-sini, dengar kanan-kiri, ternyata untuk kondisi saat ini, this is d best thing I can reach. It's not that big, but tetep Alhamdulillah.

Well, dan akhirnya yang ga kecape di tahun ini lumayan banyak juga. Hehe. Punya rumah sendiri belum, tanda-tanda lanjut S3 belum, fokus di bidang investasi dan ngembangin blog kotainvestasi.blogspot.com belum, punya toko buku online belum, nambah hafalan tiga juz juga belum. Well, masih banyak yang belum, tapi tak perlu gw risaukan berkepanjangan sepertinya karena semuanya toh berproses. 

Finally, akhir paragraf, gw pengen bilang, dengan kesibukan gw yang sekarang ini, gw cukup bersyukur bisa memenuhi sebagian dari apa yang gw canangkan di awal tahun. Kalo ini ujian sekolah, mungkin gw gagal, karena dari delapan target, gw baru bisa memenuhi tiga. But, daripada tidak sama sekali, tiga alhamdulillah sudah oke lah ya. Semoga taun ini lebih baik lagi. Amiin.

Si Kecil Mulai Makan, Apa yang Perlu Kita Tahu?

     Hari ini, putri cantik gw, bayi lucu gw mule belajar makan. Belum genap 6 bulan sih, masih kurang beberapa hari lagi. Tapi ga apa lah ya, dicoba. Sebelumnya, gw dan istri udah konsul ke dokter, nanya sana-sini, dan baca entah dari buku atau internet soal apa-apa aja yang perlu diperhatikan. Berikut adalah beberapa hal yang bisa gw share, yang barangkali bisa menjadi info buat young-pa young-ma lain di luar sana. Hehe.

1. Konsep Dasar
Konsep dasarnya adalah untuk memperkenalkan anak/bayi terhadap makanan. Sekali lagi ingat, memperkenalkan. Bisa jadi ini adalah perkenalan yang baik, bisa jadi tidak. Bisa jadi anaknya mau diajak kenalan dengan makanan, bisa jadi engga. Bisa jadi anak kita alergi, bisa jadi engga. Macem-macem lah. So, dengan meyakini bahwa konsepnya adalah "memperkenalkan", maka ketika anak tidak mau makan, Anda tidak segera pusing alias stress. Konsep memperkenalkan ini juga punya nama beken yaitu MPASI, atau singkatan dari Makanan Pendamping ASI. Artinya apa? Yang utama tetap ASI dan makanan adalah pendampingnya. Jangan dibalik!!!

2. Kapan Dimulai ?
Secara teori adalah ketika bayi berusia 6 bulan. Boleh kurang lebih beberapa hari lah, sesuai dengan kondisi bayi. Boleh kurang dari 6 bulan dengan catatan: bayi sudah siap dan tertarik dengan makanan, ditandai dengan : suka memperhatikan orang lain makan, mulutnya seringkali clomat-clamit kayak ngunyah sesuatu, sering nangis meski sudah dikasih ASI seperti biasanya, dll. Tidak boleh lebih dari 6 bulan, karena mulai usia 6 bulan, aktifitas bayi sudah mulai banyak (gulang-guling, tengkurep, mulai merangkak, bahkan ada yang sudah minta berdiri), sehingga kalau tidak ditambah dengan asupan makanan, dikhawatirkan bayi akan kekurangan energi. Efek paling ringannya, bayi akan sering nangis. Dan efek paling ekstrimnya bayi bisa kena stunting/kuntet.

3. Apa yang Dimakan ?
Meskipun ada beberapa perbedaan diantara beberapa referensi yang kami dapat, tapi pada intinya adalah : makanan bayi (yang dijual di toko-toko : milna, promina, cerelac, farley, dll) yang sudah dihaluskan dan diencerkan, hingga mendekati cair. Terutama untuk minggu-minggu awal. Hal ini bertujuan agar sistem pencernaan anak tidak kaget, karena selama ini hanya mengkonsumsi ASI/susu saja. Nanti secara bertahap teksturnya diperkasar. Setelah dua minggu, bisa ditambah dengan buah. Saran dokter kami waktu itu adalah pisang. Tapi kenyataannya malah membuat anak kami susah pup. Solusinya kami ganti dengan buah lain seperti alpukat, pepaya, dll. Yang penting jangan dicampur. Satu kali makan, satu jenis buah.

4. Kapan Waktu Makan ?
Dihitung dari bulan keenam, maka :

  • Dua (2) minggu pertama : pagi dan sore (bubur bayi/makanan bayi yang sudah dihaluskan dan dicairkan)
  • Dua (2) minggu kedua : pagi (makanan bayi), siang (buah yang sudah dihaluskan/dijus super halus), sore (makanan bayi).
  • Empat (4) minggu ketiga : belum belajar lagi. Hehe.


5. Apa yang Perlu Diperhatikan ?
Beberapa hal yang mungkin terjadi dan perlu diperhatikan adalah :

  • Makanan harus dihaluskan dan dicairkan seencer mungkin (hingga mendekati cair), agar sistem pencernaan bayi tidak kaget/luka.
  • Porsi makan jangan terlalu banyak. Ingat!!! Ini adalah makanan pendamping, artinya porsi utama konsumsi bayi masih tetap ASI. Perhitungkan agar bayi tetap mengkonsumsi ASI dalam jumlah yang dianjurkan, yaitu antara 600-800 ml.
  • Perhatikan pup bayi. Ada kala nya bayi tidak cocok dengan makanan yang dikonsumsinya sehingga menyebabkan pup bayi menjadi keras dan susah dikeluarkan. Seperti yang bayi kami alami akibat mengkonsumsi pisang. Namun kondisi ini tidak sama antara satu bayi dengan bayi lainnya. Perhatikan pula warna dan bau pupnya. Wajarnya adalah warna pup sesuai dengan yang dimakan. Misanya, abis makan pisang : pup nya cerah cenderung kuning, makan pepaya : pup nya orange, dll. Jika ada yang tidak wajar segera konsultasikan ke dokter.
  • Perhatikan pula kondisi bayi. Ada beberapa bayi yang alergi terhadap makanan tertentu. Tandanya diantaranya adalah muncul bintik-bintik pada kulit bayi, bayi muntah, dll. Jika itu terjadi ganti menu makanan. Jika alergi terus berlanjut, hubungi dokter Anda. Alergi pada bayi bisa berbahaya bagi bayi itu saat ini, atau nanti ketika dewasa. Misalnya anak saya. Dari lahir, anak saya alergi susu sapi dan juga susu kedelai. Padahal hampir semua makanan bayi pasti mengandung susu. Maka dari itu, setelah konsultasi ke dokter, kami diberi alternatif makanan bayi yang tidak ada susunya, yaitu Farley (ini bukan iklan ya) dan Milna Goodmil. Kalau di kota sih, susah-susah gampang nyari produk ini. Tapi di online banyak kok. Nah, masalahnya adalah kedua produk ini varian rasanya sedikit, sehingga kalau bayi bosan, tidak ada alternatif lain. Terus gimana? Sarannya suruh bikin makanan bayi sendiri.
     Nah, itu tadi pengalaman kami di awal-awal masa MPASI. Belum genap sebulan sih. Nanti kita share lagi perkembangan-perkembangan yang lainnya. O ya, kondisi setiap anak beda-beda ya, dan referensi yang ditawarkan oleh dokter dan buku-buku kadang emang beda-beda. Jangan bingung! Ditampung semua dan dicari yang paling pas buat anak kita aja. Bisa aja saran dokter ga pas, saran buku lebih oke, bisa jadi saran buku ga bisa diterapin, tapi kata ibu mertua malah berhasil, dll. Pokoknya dinikmatin aja, biar ga stress.

     Untuk young-pa di luar sana, sesekali boleh deh belajar nyuapin anak. Biar tahu gimana kerja kerasnya young-ma di rumah. Gw sendiri kalo libur ikut bantu-bantu istri gw ngurusin si kecil, termasuk nyuapin. Dan capek saudara. Biar kita sebagai young-pa tahu betapa besar perjuangan young-ma dan tahu gimana caranya berterimakasih sama istri tercinta.



Two Flowers for Two Years from My One and Only Lady


Happy Second Anniversary of our Marriage my lady. All good things have and done will be better and better. Love you beb.

This flowers are from my beautifull wife. She hide it in my office bag, without I was knowing nothing. I just realize when arrived at the office. And now these two flowers is displayed at my office desk. Tks beb.

Cinta Kita Sederhana

Cinta kita sederhana, 
Sesederhana mencium keningmu di pagi buta,
Mengucap kata cinta saat kau membuka mata,

Cinta kita sederhana,
Sesederhana memelukmu sebelum mengejar dunia,
Menyengaja pelukmu berberkas hingga datang senja,

Cinta kita sederhana,
Sesederhana membiarkan rindu membahana,
Meninggalkan lekuk bibir yang berkata,

Cinta kita sederhana,
Sesederhana seteguk air yang kau sedia,
Menghilangkan kesah, lelah, dan amarah,

Cinta kita sederhana,
Sesederhana menyisir rambutmu yang indah,
Hingga kau terlelap dalam buai cinta kita,

Cinta kita memang sederhana,
Kau, sesederhana kau yang terlihat mata,
Cinta, sesederhana cinta yang ditulis pujangga,
Kita, sesederhana kita yang orangpun rasa,
Tapi jika cinta adalah kau dan kita,
Maka cinta tak lagi sesederhana kata dalam prosa,

Kau yang kucinta adalah berkah,
Kau yang mencinta adalah gairah,
Kita yang mencinta adalah anugerah,
Dan cinta yang kita rasakan adalah marwah,

Cara kita mencinta memang sederhana,
Tapi kita yang mencinta tak pernah sederhana,


I AM A DAD!!!

Hai everybody! So long time yah gw ga nulis. Kalo mau dicari-cari alesan gw ga nulis bisa setumpuk, tapi pada intinya sih, karena mungkin passion gw buat nulis ketutup sama banyak hal yang silih berganti datang dan pergi #tsah

Well, first thing yang pengen gw sampein adalah one of my dream come true. Setelah di postingan sebelumnya gw posting tentang another dream gw yang jadi nyata which is to have a NIDN, sekarang mimpi gw untuk menjadi a Dad terwujud. Alhamdulillah. Well, sebenarnya udah agak lama sih. Udah hampir 2 bulan yang lalu, putri pertama gw lahir. Inisialnya SAS, keren kan? Wkwkwk. Kesan pertama gw kalo ditanya orang, gimana rasanya jadi Bapak? Jujur gw jawab, "capek". Yah, menjadi seorang bapak, apalagi anak baru lahir, capeknya banget-banget. Satu hal yang paling kerasa adalah No Time To Sleep. Alhasil, beberapa hal harus kececer, termasuk kerjaan di kantor (dan nulis di blog juga), karena saking ngantuknya kadang terpaksa harus tidur di kantor. Hehe. Magabut dah  gw. But, di luar itu semua it's full of pleasure and gratefull. Feel tired, new responsibility, but pleasure and gratefull. Tapi kalo ditanya soal perjuangan, yang paling banyak berjuang adalah istri gw. She have to strugle and adapt with new responsibility. Bagi yang ga kenal istri gw dan yang pernah ngalamin jadi ibu baru, mungkin bakal berpikiran bahwa what my wife doing right now is hal yang biasa dan semua ibu menjalaninya. Kurang tidur malem, seharian ngurusin bayinya, full day at home, ga bisa keluar jalan, badan sakit, dll. But for me, it's different. Apa bedanya? Bedanya adalah istri gw memulai semua ini dari minus. Sebelum punya anak, istri gw itu super manja (but, the way she is 'manja', i love it), so, ketika dihadapkan dengan semua responsibility ini, gw ngeliatnya luar biasa. Istri gw termasuk ibu yang kena sindrom baby blues, berhari-hari tak pernah terlihat tersenyum, bingung, pucet. But, alhamdulillah dia tetap berjuang dan gw salut. My lady, you do not need to be others, do not need to be like them, just be yourself, and believe that I love you, whoeva you are #ciumManjah



Selain kabar soal kelahiran putri gw, rasa-rasanya nothing special. Ngajar ya gitu-gitu aja, kerjaan nambah banyak, badan tambah gendut, dan hal-hal standar lainnya. Paling kemarin ikut Tim RT lomba badminton 17-an antar RT dan kalah, itu aja. Salah strategi sih sebenernya. Kans menang ada, tapi salah strategi aja. Sama lah kayak Tim Badminton kita di Thomas/Uber/Sudirman/Hadinata Cup, kans menang sangat ada, tapi karena salah strategi ya kalah-kalah juga. Sial dah.

Oke, gitu aja. Oya, di akhir blog gw, gw mau menyapa dan mensupport temen SMP gw dulu, Aninditya Sabdaningsih yang sekarang sedang berjuang kuliah S3 di Undip. Dan nampaknya dia lah yang akan jadi Doktor pertama di angkatan gw. Semangat dan terus berprestasi nduk!

Narasi Perjuangan Seorang Ibu

  Sudah dua malam ini, baik aku apalagi istriku, sudah tak nyenyak tidur. Istriku sibuk dengan rasa sakit yang dialaminya, aku pun sibuk dengan melakukan apapun agar rasa sakit yang dideritanya berkurang. Sungguh, kalau saja aku bisa menggantikan rasa sakitnya, aku rela. Ini bukan sekedar kata-kata indah untuk mempermanis tulisan pun ucapan, akan tetapi memang benar adanya, karena aku menyayangi istriku, tak tega rasanya melihatnya sakit tanpa henti. Sudah sejak jam 7 malam tadi hingga sekarang menjelang jam 12 malam, setiap 6-7 menit sekali dia melirih kesakitan. Sungguh, ini adalah pelajaran bagi para anak dan muda. Tak akan kau rendahkan ibumu jika sudah kau lihat bagaimana rasa sakit yang dialami istrimu. Begitulah beliau dulu saat mengandungmu. Maka, aku pun bisa menambahkan satu lagi daftar keutamaan menikah dan punya anak : AGAR KAU HORMAT KEPADA IBU BAPAKMU, dengan melihat sakit yang dialami separuh jiwamu, istrimu.

  Waktu terus berdetak, jam 02.00 istriku terkasih tak lagi kuasa menahan sakit yang dialaminya. Pun aku terus melihat jam bahwa jeda waktu sebelum rasa sakitnya pun sudah memenuhi syarat persalinan. Kini sudah di bawah 5 menit sekali rasa sakit itu datang dan pergi. Maka jam itu pula kami memutuskan untuk ke Rumah Sakit. Tak butuh waktu lama, karena jarak rumah dan rumah sakit pun tak jauh, dan jalanan sunyi sepi karena masih tengah malam. Kami langsung menuju ke ruang persalinan. Dokter yang menanangani kami sedari awal, Dokter Yudianto, pun sangat kooperatif. Jauh-jauh hari beliau sudah berpesan, kalau sudah waktunya, silahkan telpon saja, karena beliau standby di Jakarta. Tapi situasi sedikit berbeda karena menurut suster yang menemui kami, Dokter Yudianto sedang keluar kota. Aku mencoba untuk tenang, karena aku yakin istriku sudah tak tenang. Aku minta suster untuk menghubungi ulang Dokter Yudianto karena beliau yang bilang akan standby di Jakarta. Suster pun mencoba menghubungi beliau kembali. Setengah jam berselang kami mendapat informasi bahwa Dokter Yudianto akan datang ke RS dan saat ini sedang dalam perjalanan ke RS langsung dari bandara. Ternyata benar, Dokter Yudianto baru saja pulang dari Surabaya untuk urusan yang tak direncanakan sebelumnya. Sembari di perjalanan, Dokter memberikan istruksi-instruksi kepada para suster tindakan apa yang harus dilakukan.

  Setiap satu jam suster datang ke ruang bersalin dan mengecek level pembukaan. Ketika baru datang sudah pembukaan 3. Tapi hampir tiga jam berselang baru pembukaan 5. Sementara itu istriku sudah setengah sadar, dia sudah tak bisa berpikir lagi, karena hanya rasa sakit luar biasa yang dirasakan. Hingga jam 05.00 Dokter Yudianto tiba di rumah sakit dengan membawa koper di tangan kanannya dan oleh-oleh di tangan kirinya. Dokter langsung bergegas mengecek kondisi istriku dan memutuskan untuk memberikan semacam obat perangsang agar cepat pembukaannya. Kami sudah baca-baca sebelumnya dan efek obat ini akan memberikan rasa sakit yang lebih dari sebelumnya. Tapi jika tidak dilakukan, akan lebih beresiko karena artinya sang calon ibu harus merasakan sakit yang jauh lebih lama. Maka tak lama kemudian istriku semakin kencang menarik tangan dan leherku pertanda dia mengalami sakit yang luar biasa, akan tetapi memang level pembukaannya naik signifikan. 

  Detik-detik menjelang melahirkan menjadi titik tegang semua orang. Aku sudah meminta Mama (Ibu mertua) untuk keluar ruang bersalin beberapa saat yang lalu karena aku tahu beliau mudah terbawa perasaan dan tak akan tega melihat putrinya merintih kesakitan. Istriku sendiri semakin tak bisa mengontrol dirinya. Bahkan untuk mengatur nafasnya saja dia tak tahu bagaimana caranya. Sehingga untuk urusan bernafas, aku minta dia untuk mengikuti gerak nafasku. Kalau aku bernafas panjang, ikuti nafas panjang. Kalau aku bernafas normal, ikuti bernafas normal. Kalau aku mengejan, ikuti mengejan. Sehingga seolah aku tahu bagaimana melahirkan itu. Yang tidak aku tahu adalah bagaimana rasa sakit yang dialaminya. Aku hanya bisa mengira-ngira, tapi perkiraanku pun terbatas. Karena katanya batas level yang bisa dirasakan oleh orang dalam kondisi sadar itu berkisar di angka 16-20, sedangkan level sakit orang melahirkan itu bisa lebih dari 26 bahkan 32, katanya.

Tapi entah kenapa, aku tak merasakan ketegangan seperti 'cerita' teman-temanku saat menanti istrinya melahirkan. Bahkan tak sedikit para suami ini tak berani menemani istrinya melahirkan. Aku sendiri tak bisa seperti itu dan tak merasakan demikian. Tak bisa karena bagaimana mungkin aku meninggalkan istri yang sedang berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa, sedangkan tak ada tempat mengaduh selain kepada suaminya. Tak merasakan, karena entah kenapa yang kurasakan adalah dua hal : satu, aku yakin istriku bisa dan mampu meskipun banyak orang (bahkan termasuk orang-orang terdekat kami), dan dua, yang muncul malah rasa ingin tahu bagaimana seorang manusia terlahir di dunia. Oleh karena dua alasan itulah, selama proses melahirkan itu, mataku tertuju cuma pada dua hal, yaitu kondisi istriku dan bagaimana bayi itu keluar dari rahim ibunya ke rahim dunia. Tak ada rasa takut, tak ada rasa tegang, tak ada rasa was-was.

  Jam 07.23 pada hari ini 19 Juni 2018, putri pertama kami lahir dalam kondisi fisik normal dengan berat badan sedikit kecil 2,7kg dan panjang 49cm, dan tangisan kecil sisa-sisa perjuangannya keluar dari rahim ibunya. Lahir dari seorang ibu yang hebat, kuat, tegar, dan sabar : Dessy Tri Anggraeni, istriku terkasih. Namanya Sabrina Azzahra Sakhi. Sabrina berarti sabar. Sebagai pengingat bagi kami, bahwa kami pernah berjuang dengan penuh kesabaran dan ketegaran dalam memperjuangkan ia. Sekaligus doa agar kelak ia bisa menjadi anak yang Sabr (Sabar), Zahra (Cerdas), dan Sakhi (rendah hati). Amiin.



A Way to Reach The Dream : To Be A Lecturer

Hal yang paling bikin gw senyum sendiri dan takjub adalah ketika gw dihadapkan dengan How did Allah plan goes well and be d best scenario. Once is gimana gw bisa jadi pengajar aka dosen kayak sekarang. Well, sampe di titik ini gw punya satu pemikiran bahwa "Jika gw berdoa dan Allah mengabulkan doa gw, maka itulah jalan terbaik, dan memang itulah jalan yang harus gw tempuh. Tapi jika ternyata Allah tidak mengabulkan doa gw, maka ada dua kemungkinan : mungkin belum waktunya atau mungkin memang tidak seharusnya". Just like to be a lecturer. May be ini emang jalan yang kudu gw tempuh. 

Mimpi gw untuk jadi pengajar khususnya dosen berawal dari SMP. Gw juga ga ngerti, tapi rasanya menjadi seorang pengajar menyenangkan buat gw. Bisa share ilmu, belajar tiap hari was always make me exited. Meskipun sebenernya bokap gw dari kecil selalu bilang bahwa "Pekerjaan bagus tak cuma guru atau PNS. Bahkan tukang cukur rambut yang dilihat sepele mungkin bisa lebih berpenghasilan daripada guru atau PNS", cara halus bokap gw untuk bilang "JANGAN JADI GURU ATAU PNS, KARENA KESEJAHTERAANNYA BELUM TENTU TERJAMIN". Alasan itu yang akhirnya ngebuat gw masuk STM. Alasan itu pula yang menyebabkan gw ga bisa mencoba kuliah di ITB. Alasan itu yang menyebabkan gw harus kerja, di saat sebenarnya gw pengen kuliah, just like my others friends : Dimas Abdillah Fikri yang kuliah di ITB dan S2 di Belanda, Yudho yang kuliah di Singapore, Nitya yang walaupun setelah S1 sempet kerja tapi akhirnya lanjut S2/S3 di Undip. Alasan yang pada akhirnya ngebuat gw waktu itu berpikir bahwa, "NO MORE DREAM TO BE A LECTURER", karena ga mungkin gw jadi dosen tanpa kuliah. Just go with the flow.

Dan setelah tamat STM dan kerja, gw bener-bener udah ganti cita-cita. In 2010, I HAVE NO DREAM TO BE A LECTURER. Kebayangpun engga. Tapi gw berpikir untuk tetep kuliah (kuliah malem), tapi tujuannya bukan untuk ngejar jadi dosen, tapi sekedar untuk mengembangkan karir di tempat gw kerja sekarang.

Cerita gw kuliah di kampus swasta terbaik ini pun, Universitas Gunadarma, juga bukan hal yang gw sengaja. Semua ini rencana Allah kalo gw bilang ma. Niat awal gw untuk kuliah adalah di BSI (Mohon maaf, bukan bermaksud merendahkan BSI). Sama sekali tak terbayang dan terpikir karena gw ga tau ada kampus swasta bagus di Depok, yaitu Gunadarma. Niat awal gw ke Depok waktu itu adalah untuk nyari kampus BSI, yang karena letaknya emang mojok dan tersembunyi, akhirnya ga ketemu, dan nyasarlah gw di depan kampus E Gunadarma. Gw liat sejenak, "Ini kampus apa ya, kok rame juga, gede juga", dan masuklah gw ke Gunadarma, iseng. Dan well, singkat cerita gw masuk Gunadarma. Just as simple as that.

Rencana Allah so perfect karena akhirnya gw dipertemukan dengan Pak Irwan Bastian dan Aldiana. Pak Irwan adalah pembimbing skripsi gw dan Aldiana adalah temen skripsi gw. Dari Pak Irwan gw dapet motivasi dan surat rekomendasi untuk lanjut S2. Dan dari Aldiana gw kenal dengan Elyana. Elyana inilah yang jadi penyelamat gw pas daftar S2. Karena informasi pendaftaran S2 yang minim dan kebetulan waktu itu gw lagi ada di luar kota. Di saat injury time, besok pendaftaran ditutup, dan Elyana lah yang ngurusin semua keperluan gw. Mulai dari pendaftaran, minta surat rekomendasi dari Pak Irwan, ngumpulin berkas, dll. So thanks to her. Dan cerita tentang Elyana ini juga bisa jadi postingan tersendiri, karena semuanya serba kebetulan.

Dari Pak Irwan juga gw akhirnya bisa jadi dosen di Gunadarma. Di saat temen-temen gw pada cerita kalo udah pada kirim surat  lamaran ngajar di Gundar, tapi tak ada yang tembus. Gw alhamdulillah direkomendasikan oleh Pak Irwan dan prosesnya ga nyampe sebulan. Dari Pak Irwan juga gw kenal Bu Metty yang tak lain adalah istri beliau. Dari Bu Metty gw dapet ilmu tentang bikin jurnal, ngadain penelitian dan nulis jurnal bareng, sampe bikin Tesis pun, semuanya mudah karena gw kenal Bu Metty. Meskipun dosen pembimbing gw bukan Bu Metty, tapi berkat bantuan Bu Metty lah gw bisa lulus cepet. Kalo pada saat itu sistem memungkinkan, bahkan gw bisa lulus 1 tahun 7 bulan saja. Tapi, sekali lagi rencana Allah emang super. Kenapa? Karena dari periode selesei tesis hingga sidang itu, akhirnya gw dipertemukan dengan istri gw, si cantik Dessy, yang kebetulan lagi juga adalah dosen di Gunadarma. 

Dari kuliah S2, gw kenal temen-temen sesama dosen muda yang juga masih pada kuliah. Ka Hana, Uce, Hafidz, Intan, Tya, Ebi, dll  yang banyak juga ngebantu gw sebagai dosen di Gundar. Ka Hana misalnya, beliau ada di bagian penjadwalan, dan dipermudah ketika gw minta pindah jadwal ke Bekasi (biar deket dari rumah). Hafidz misalnya mudah saat gw butuh nitip-nitip berkas. Uce misalnya, bisa dimintain tolong kalo ada urusan administrasi di kampus. Intan, Tya yang ada di sekdos, mudah kalo gw lagi ga bisa ngajar di E, bisa titip tugas atau backup. Dan tak lupa Egi. Egi mungkin satu dari sekian orang baik yang dikirimkan buat gw. Dibilang sahabat engga, kenal deket juga engga, tapi Egi banyak ngebantu gw. Ketika gw operasi usus buntu, Egi yang ngurusin administrasi gw di RS (selain Edi, Sari, dan Mas Amal juga : temen kos gw). Ketika gw mau nikahan, Egi lah yang mau mobilnya dipinjem dan bahkan nganterin gw ke lokasi sampe begadang segala. Pas ngurus kelengkapan untuk ambil ijasah, urus keuangan, tanda tangan profesor, sumbangan buku, semuanya Egi. So, terima kasih banyak Gi. Semoga lo tambah sukses, dan semua yang lo punyai berkah. Gw berdoa buat kebaikan lo. Egi adalah contoh orang kaya yang selalu merendah dan ga enggan buat ngebantu. 

Dari Dessy kemudian gw dapet banyak info soal dosen dan kampus, termasuk ketika kemarin ada info untuk registrasi NIDN. Alhamdulillah, ijasah gw keluar bulan Mei, dan bulan September kebetulan lagi ada info pengangkatan Dosen Tetap. Salah satu syarat untuk mengajukan diri sebagai dosen tetap + dapet NIDN adalah tes kesehatan yang biayanya lumayan juga (sekitar  1-2 jt), dan sekali lagi alhamdulillah karena kampus lagi ngadain tes kesehatan juga dan gratis. Betapa beruntungnya gw, kemarin tanggal 16 Januari gw cek data di Forlap Dikti dan akhirnya nama gw tercantum disana sebagai Dosen Tetap di Gunadarma dengan NIDN 0312069002. Di saat temen-temen yang lain bisa menunggu bertahun-tahun untuk dapet NIDN, gw bisa dapet dengan bisa dibilang tanpa usaha dan cepat, di kampus yang bagus pula.


Well, sampai saat ini gw yakin bahwa inilah jalan gw. Allah dengan segala best skenario nya, mengirimkan orang-orang yang tepat yang banyak ngebantu gw. Dan insyaAllah gw bakal memperjuangkan jalan ini. Still too long to feel enough. Ini baru awal, step kecil dari banyak step yang harus diraih. Masih banyak hal yang harus diraih : S3, pengangkatan, penelitian, dll. But, gw yakin, kalau memang ini jalan gw, Allah akan ngasih jalan. Just like before.

Gw bangga bisa jadi dosen. Gw bangga bisa jadi bagian dari Universitas Gunadarma.


Noted : Terima kasih sebanyak-banyaknya juga buat Om Mamo dan Bulik Harni. Mereka adalah orang tua gw disini. Gw ga bisa nulis tentang mereka di post ini, karena konteksnya yang kurang pas. dan akan terlalu panjang kalo gw tulis juga. Bukan karena mengecilkan peran beliau berdua.

A Little Note from 2018