::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Thursday, 20 August 2015

Buka Lapak di Pasar Saham

    Gw sekarang paham, kenapa seorang trader ataupun  investor di pasar saham itu bisa begitu cepet kaya, sekaligus bisa langsung bangkrut total. Gw sekarang juga paham makna dari 'resiko', apa itu high risk dan low risk. Terima kasih klinik Tongtong.

    Well, sebulan yang lalu gw akhirnya nyoba masuk ke pasar saham. Dari rasa penasaran dan tentu saja didorong oleh motivasi mainstream pada umumnya yaitu 'ekspektasi' bahwa bermain saham bisa cepet kaya, akhirnya gw sibuk browsing sana-sini, telpon dan email berbagai perusahaan sekuritas dan akhirnya memilih BNI Securities sebagai lapak gw bermain saham. Kenapa BNI Securities? Dua alasan, dan ini bukan bentuk promosi. Satu karena murah. Lo ga perlu uang berpuluh-puluh juta untuk mulai berinvestasi. Cukup sejuta doank lo udah bisa jual beli di pasar saham. Beberapa perusahaan yang gw telpon mensyaratkan setoran awalnya adalah rata-rata 10jt, sehingga jelas mana yang kiranya masuk di dompet gw. Alasan kedua adalah mudah. Ya, mudah karena gw ga perlu beranjak dari depan komputer untuk bisa regristrasi sebagai klien dari BNI Securities. Cukup isi form by inet, tunggu email konfirmasi, dan voila 'Selamat Anda telah terdaftar'. Semudah itu.

    Pembelian saham pertama gw adalah murni karena coba-coba, ga ada analisa fundamental, ga ada analisa teknikal. Murni karena gw ngelihat hari itu sahamnya naik dan gw beli. Hasilnya? Ga perlu waktu lama, cukup dua hari ketika akhirnya saham gw turun. Dalam sekejap gw kehilangan beberapa puluh ribu uang gw. Cukup sesuatu. But, pengalaman ini, bener-bener kehilangan duit dalam sekejap membuat gw memutuskan do something untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Dan baru setelah kejadian itu gw belajar tentang analisa fundamental (yang pada akhirnya sama sekali ga tertarik) dan analisa teknikal.

    Gw belajar dasar-dasar analisa teknikal, menentukan tren, membuat garis resistence, support, moving average, Cut Loss, dll. Hingga akhirnya gw merasa punya dasar untuk beli saham dan benar-benar merealisasikan apa yang gw pelajari. Dan bener aja, dua tiga hari berikutnya saham gw naik lumayan, sekitar 10-15%. Tapi setelah itu saham gw turun, bahkan terjun bebas. Salah satu saham gw turun lebih dari 30%. Nyesek. Menurut aturan, ketika saham gw udah turun segitu bebasnya gw harusnya udah jual itu saham, karena semua indikator menyarankan demikian. Tapi dasarnya nyubis, gw tetep hold itu saham dan viola, saham gw terperosok di dasar neraka. Sial.

    Gw perhatiin, apa yang salah dengan analisa yang ge lakukan. Gw bolak-balik lihat grafiknya, gw liat indikator, semua yang gw lakukan sudah sesuai petunjuk, tapi kenapa gw tetep beli saham yang anjlok? Gw browsing-browsing dan nemu artikel dari orang yang antipati dengan analisa teknikal dan percaya sepenuhnya dengan analisa fundamental. Menurut tu orang, semua analisa teknikal itu bullshit. Kenapa? Karena dasar data analisa teknikal adalah data saham kemarin-kemarin, artinya 'Bukan tren yang menentukan saham, tapi saham yang menentukan tren  tersebut'. Gw mikir, dan agaknya sedikit terpengaruh untuk setuju dengan pendapat orang tersebut. Selanjutnya artikel itu mengajak pembaca untuk menemukan sendiri jalan 'kapan harus beli, apa yang dibeli, dan kapan harus jual'. Menarik.

    Well, kembali ke pembukaan post gw ini, bahwa seorang yang bermain di pasar saham bisa kaya seketika dan bangkrut detik kemudian. Dari pengalaman gw, itu benar adanya. Let's see dari kasus gw. Ketika gw beli saham dan kemudian naik selama dua hari. Dengan modal cuman sejuta doank, dalam dua hari itu (seandainya gw jual) gw bisa dapat untung sekitar 100rb atau 10% dari modal gw. Tapi berhubung gw copo, maka saham itu gw hold dan dihari ketiga sahamnya jatuh dan gw rugi sekitar 200rb atau sekitar 20%. Untungnya, modal gw cuman sejuta. Gimana kalo gw nanem modal 100jt? Dalam dua hari gw bisa dapet 10jt atau setara dengan kerja+lembur selama sebulan. Tapi di hari ketiga gw bakal rugi 20jt atau setara dengan cicilan rumah selama 6 bulan. Gimana kalo gw investasi 1 milyar? Hemm. Ga heran kalo Warren Buffet langsung bisa nyalip kekayaannya Bill Gates.

    Anyway, gw belum nyerah. Gw masih terus belajar dan berharap bisa secepatnya menemukan 'my way' dalam jualan di lapak saham. Mumpung ada perusahaan sekuritas yang berbaik hati dengan mempermurah dan mempermudah untuk bisa masuk pasar saham. So, good luck for me. O ya, gw juga udah nanya ke temen yang lebih tahu agama daripada gw tentang transaksi di pasar saham. Dan temen gw jawab bahwa 'itu dibolehkan' dengan catatan perusahaan yang dibeli sahamnya berjalan di jalan yang benar. Karena ketika kita beli saham, otomatis kita jadi pemilik perusahaan. Kalo perusahaan yang sahamnya kita beli adalah perusahaan yang memproduksi miras, artinya sama aja kita punya perusahaan miras, artinya ketika kita beli saham itu perusahaan sama dengan kita beli tiket masuk neraka. But, secara transaksi semua oke, kecuali beberapa yang ga oke (misal pasar uang, forex, dsb). Bye.

Wednesday, 12 August 2015

Focus in your dream, set your eyes just on the goal

    Focus in your dream, set your eyes just on the goal. Itulah status Whatsapp yang gw pake mulai beberapa minggu ini. Bukan apa-apa, melainkan cuma untuk mengingatkan diri gw sendiri bahwa gw punya mimpi, gw punya goal yang harus gw capai dalam beberapa tahun kedepan. So, gw harus fokus dan ga boleh tergoda untuk nengok kanan-kiri yang akhirnya membuat gw jauh dari goal yang gw set. Just like a few month past. Gw ga mau menyia-nyiakan lebih banyak waktu, dan i think this is the right time to start.

    Well, seperti yang gw tulis di post Resolusi 2015 januari kemarin, salah satu goal yang ingin gw capai adalah nyelesein S3 sebelum 30 tahun, dan atau dapet scholarship untuk kuliah ke luar negeri, Jepang atau Korea. Tapi, meskipun gw udah ngeset goal sejak januari, pada kenyataannya gw bahkan belum bergerak sampai bulan mei. Penyebabnya ya cuma satu, gw kebanyakan nengok kiri-kanan. But, pada akhirnya gw sadar gw kudu fokus dan mulai mempersiapkan diri sebaik mungkin, secepat mungkin, sebelum 30 tahun keburu lewat. Time flies so fast, so i must run faster too.

    Actually, syarat utama untuk bisa dapet beasiswa ke luar negeri adalah score TOEFL/EILTS. Dan sadar kalo bahasa inggris gw kaco, terutama di bagian listening, makanya gw ambil kursus bahasa inggris di LBI UI. Minggu besok, gw tamat level 2 English Conversation, dan i think my english is better and more important is i have a confidence to speak in english. So, i think i am going to take next level. Dan lebih dari itu, gw juga ketemu temen-temen sekelas gw yang amazingly punya mimpi yang kurang lebih sama kayak gw, memburu scholarship, so it give an advantages for me, cause i'll have infos and friends to reach our dream together. Kelas EC juga jadi lebih menyenangkan karena temen-temen sekelas gw sangat menyenangkan. Kompor abis.

    Rencana gw adalah, selesai dari level 2 ini, gw bakal ambil TOEFL IPT sekedar untuk tahu seberapa jauh level gw. Kemudian ambil EC level 3, kemudian di bulan-bulan november ambil TOEFL IPT lagi, dan kalau udah oke, baru ambil TOEFL IBT. And then tahun 2016 gw udah bisa mulai hunting beasiswa. Biasanya beasiswa ke Korea dan Jepang dibuka bulan Maret/April untuk keberangkatan tahun berikutnya. So, it'll be great if i can get it. Semoga. Amin. But, if i can't get it, i still have Plan B.

    The Plan B is... i'll finished my master here.. Actually, sekarang gw juga udah ambil S2 di Gunadarma dan insyaAllah september besok udah selesai semester 1. Dan jika semua berjalan sesuai rencana, maka insyaAllah akhir 2016 S2 gw udah kelar. Itu artinya, kalo gw dapet beasiswa di Plan A, gw bisa langsung berangkat di pertengahan 2017, dan kalau gagal gw bakal ngemis beasiswa S3 ke Gundar, sembari tetep nyari beasiswa ke luar. Dan kalau pun itu gagal, gw masih punya Plan C.

    And the Plan C is... gw tetep bakal hunting scholarship ke luar, tapi melalui jalur yang berbeda. Dari info yang gw dapet, baik dari baca atau kabar dari temen, bahwa ada jalur yang lebih mudah untuk dapet beasiswa ke luar, yaitu dari jalur dosen. Ya, baik LPDP atau Kemendiknas atau DIKTI menyediakan beasiswa yang dikhususkan untuk dosen atau calon dosen. Dan menurut info yang gw dapet itu lebih mudah. But, something easy need more sacrifice right, begitupun jalur ini. Syaratnya ada dua: satu lo harus jadi dosen dan dua lo harus ngajar/ngabdi di universitas yang ngasih lo surat rekomendasi. So, for my backup of Plan A and Plan B, i've already registered to be a lecturer dan fortunetly gw lolos, meskipun agak-agak risky juga karena gw ga total jadi dosennya. Gw ga bisa ambil jam ngajar di weekdays karena gw kerja, sedangkan sabtu waktu gw abis buat kursus. Last semester, dengan sangat beruntung jam kursus dan jam ngajar ga berbarengan. But, i haven't knew yet the schedule for next semester. Sejujurnya, gw takut ga bisa ambil jam ngajar, dan lebih dari itu gw takut status dosen gw didepak. Wkwkwk. Gw juga sedang berusaha untuk ngedapetin NIDN (No Induk Dosen Nasional) untuk lebih mematengkan posisi gw. Another thing make my position as lecturer still too risky is because i still haven't finished my master. DIKTI mensyaratkan untuk jadi dosen tetap, lo harus udah S2 atau sedang jalan S2. Itu artinya gw tetep harus nyelesein S2 gw disini agar semua tetap jalan pada relnya. If, semua berjalan lancar, setelah lulus S2 gw bisa punya kesempatan untuk ngajuin beasiswa S3 dari jalur ini, dan kemudian setelah selesai, gw kudu balik ke kampus dan ngajar, jadi dosen di kampus ini. It's not so bad yeah, cause actually i like to be lecturer. Menurut gw dosen itu pekerjaan yang menyenangkan. Pertama, karena kita akan ketemu orang baru jadi ga bosen. Kedua, untuk ngajar kita harus tahu lebih dahulu materi dan selalu update info, n it'll be fun to know more and always uptodate. Ketiga, darah keluarga, karena bokap adalah guru. Keempat, satu dari tiga hal yang pahalanya tidak akan putus, ilmu yang bermanfaat. Dan kelima, masih banyak hal yang belum terungkap yang gw bisa dapet dan lakukan jika jadi dosen. So, actually the risks is not risk anymore.
    Well, rencana udah dibuat sedemikian rupa, dan sekarang tinggal gimana gw nya. Apakah bisa menjalankan rencana-rencana itu dengan sebaik-baiknya, atau tergoda untuk lihat kiri-kanan lagi seperti yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Semoga tidak. Semoga beruntung. Semoga Allah meridhoi. Amin. Fighting!!!

    Oya, satu lagi, kenapa gw getol banget dan ngebet banget pengen dapet beasiswa ke luar? Dua alasan sederhana, pertama karena gw miskin, ga punya duit buat kuliah ke luar dengan biaya sendiri. Dan kedua adalah gw pengen ngerasain bagaimana hidup dan belajar di luar negeri, di negara yang lebih maju dari Indonesia, dan belajar lebih banyak disana untuk kemudian dibawa pulang. That's all. Doakan gw ya guys...

Tuesday, 4 August 2015

Wisata Foto di Semarang : Berburu Foto di Negeri 'China'

Gunung Raung di Jawa Timur mengalami erupsi. Dampaknya ga cuman dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung tersebut, tapi juga gw. Ya, setelah merencanakan buat ke Banyuwangi pas libur lebaran kemarin, akhirnya gw harus meraung-raung karena plan terpaksa dicancel. Kita ga bisa masuk Banyuwangi demi keselamatan bersama. Pun, kalo misalnya boleh, nyokap gw ga bakal ngijinin. So, dengan berat hati gw harus menunda satu dari tiga rencana liburan gw tahun ini, Gunung Kidul (udah), Banyuwangi, dan Karimun Jawa. 

Well, pembatalan rencana liburan ini bener-bener bikin gw mati kutu. Liburan di rumah selama hampir seminggu tanpa melakukan hal apapun yang special sukses bikin gw stres. Ditambah stok film yang udah abis di hari ketiga setelah lebaran, dikali acara TV yang penuh dengan sinetron India dan Turki yang bikin gw mual-mual, dikuadratkan dengan ga ada sinyal internet di kampung, dan diintegralkan dengan adik gw yang ga mau diajakin jalan-jalan, bener-bener bikin otak gw ga lurus. Dan puncaknya di hari keempat setelah lebaran akhirnya gw memutuskan untuk keluar rumah dan pergi ke Semarang. Ga ada tujuan pasti, selain cuma mau menghirup udara kotor di luar rumah.

Sebelum gw berangkat, iseng gw SMS temen gw, Ilam, buat nemenin gw jalan bareng. Dan lucky, dia bisa. Lantas, kemana kita pergi? Awalnya gw mau ke daerah selatan Semarang, karena hampir setiap tempat di utara Semarang udah sering dikunjungi. Lawang sewu, Masjid Agung, Gereja Blenduk, dan Kota Lama udah ga kayak tempat wisata buat gw, saking seringnya kesitu. So, bermodal browsing sejenak, akhirnya kita memutuskan untuk ke Gedong Songo dilanjut ke Umbul Sidomukti.

Di luar dugaan gw, Gedong Songo jauhnya ampun.  Untung kita kesananya naik motor, berabe kalo ngandelin angkutan umum, karena dari jalan gede Semarang-Ungaran sampe lokasi, jaraknya masih lumayan bikin pantat pegel, selain angkutan umumnya juga sangat sangat terbatas. Di luar dugaan yang kedua adalah, rame banget. Dan di luar dugaan yang ketiga adalah gitu-gitu aja. FYI, Gedong Songo adalah kawasan candi yang berjumlah songo (baca: sembilan) yang letak satu candi dengan candi lainnya saling terpisah. Dan unfortunetly, misahnya ga tanggung-tanggung, yaitu antar bukit ke bukit lainnya. Jadi, satu bukit satu candi. Itu artinya kalo situ mau ngelihat semua candi, situ kudu menjelajah ke sembilan bukit yang berbeda. Cukup sesuatu. But, yang luar biasa adalah banyak banget pengunjung yang kalo dilihat dari wajahnya, sudah sedikit tua (baca: kakek-kakek, dan nenek-nenek), tapi masih semangat sekali jalan dari satu candi ke candi lain, dari satu bukit ke bukit lain. Salut. Sedangkan gw? Gw nyerah sampe candi yang keempat.


Dari Gedong Songo, gw dan Ilam lanjut ke Umbul Sidomukti yang letaknya ga begitu jauh. Dari hasil googling, Umbul Sidomukti adalah semacam kolam renang yang ada di atas bukit, dan dari kolam itu pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas bukit. Jadi rasanya kayak berenang di atas awan. Tapi yang perlu jadi catatan adalah, "jangan berekspektasi terlalu tinggi". Dari hasil googling, umbul sidomukti sangat 'wah' dengan pemandangan yang 'wow' dan setidaknya menurut perkiraan gw kolamnya cukup gede. But, ketika nyampe disana yang gw lihat adalah kolam renang yang panjangnya ga lebih dari 10 meter dengan air yang sangat keruh saking banyaknya pengunjung yang renang disitu. Gw cuman liat dari atas, ga tega nyentuh airnya apalagi nyemplung. Bukan apa-apa, gw curiga perbandingan air kolam sama keringat pengunjung, gedean keringat pengunjungnya. Yang amazing adalah, ketika gw hadapkan kamera gw ke arah kolam, pemandangan indah yang gw dapet dari hasil googling muncul lagi. Surga. Tapi pas gw turunin kamera gw, neraka muncul lagi. Ga nyampe 30 menit, gw dan Ilam memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ke Umbul Sidomukti.


Pas perjalanan pulang, kita ngelewatin Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal dengan Watugong. Apa aja yang ada disana? Hanya dua, yaitu Wihara dan Pagoda, sama beberapa patung, sama satpamnya. Tapi ketika masuk kesana, kita seakan-akan dibawa ke China. Bangunan wihara, pagoda, pendopo, dan segala sesuatu yang berbau Budha dan China ditampilkan disana, dalam kompleks yang begitu luas. Dan akhirnya, we get some awesome picture.



Dari Watugong, kita kemudian meluncur ke Klenteng Sam Po Kong. Mungkin udah bukan hal yang baru lagi ya. Sam Po Kong adalah tempat yang tepat untuk berfoto, kemudian memamerkan dan mengelabui temen-temen lo dengan bilang bahwa lo abis liburan dari China. Ya, ketika masuk Sam Po Kong, aura China nya kerasa  banget. Dan tentu saja, we got some picture too.  


Well, ketika keluar dari Sam Po Kong, jam sudah menujukkan pukul 16.40, dan itu artinya gw kudu segera mengakhiri perjalanan hari ini, karena kereta gw dari Semarang ke Purwodadi berangkat jam 17.10. Dari perjalanan singkat ini, gw dan Ilam punya satu kesimpulan. Kalau Solo terkenal dengan wisata budayanya, Gunung Kidul terkenal dengan wisata alamnya, maka Semarang harusnya memperkenalkan diri dengan wisata fotonya. Karena hampir semua tempat wisata di Semarang itu biasa-biasan aja tapi jadi luar biasa kalau ada di dalam bingkai kamera. Ga percaya? Datang aja ke Semarang dan buktikan sendiri kebenarannya! Kalian akan mendapati bahwa Lawang Sewu itu biasa-biasa aja, tapi ketika tertangkap kamera menjadi luar biasa. Kalian akan mendapati di internet bahwa Gereja Blenduk itu wow, padahal aslinya ya cuma gereja yang ukurannya ga lebih dari rumah kalian, dan isinya ya sama kayak gereja pada umumnya. Kalian akan mendapati bahwa foto-foto di depan pagoda dan wihara di watugong itu keren bingit, padahal aslinya ketika kalian datang kesana, ya cuman itu doank yang bisa kalian nikmatin,. Gw yakin, ga lebih dari 30 menit kalian udah bosen. Ya, seperti itu lah. But, kalian akan mendapatkan some awesome photos, yang bisa kalian pamerkan ke temen-temen kalian di media sosial, dan itu ga bisa kalian dapatkan di kota-kota lain.