::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Wednesday, 12 August 2015

Focus in your dream, set your eyes just on the goal

    Focus in your dream, set your eyes just on the goal. Itulah status Whatsapp yang gw pake mulai beberapa minggu ini. Bukan apa-apa, melainkan cuma untuk mengingatkan diri gw sendiri bahwa gw punya mimpi, gw punya goal yang harus gw capai dalam beberapa tahun kedepan. So, gw harus fokus dan ga boleh tergoda untuk nengok kanan-kiri yang akhirnya membuat gw jauh dari goal yang gw set. Just like a few month past. Gw ga mau menyia-nyiakan lebih banyak waktu, dan i think this is the right time to start.

    Well, seperti yang gw tulis di post Resolusi 2015 januari kemarin, salah satu goal yang ingin gw capai adalah nyelesein S3 sebelum 30 tahun, dan atau dapet scholarship untuk kuliah ke luar negeri, Jepang atau Korea. Tapi, meskipun gw udah ngeset goal sejak januari, pada kenyataannya gw bahkan belum bergerak sampai bulan mei. Penyebabnya ya cuma satu, gw kebanyakan nengok kiri-kanan. But, pada akhirnya gw sadar gw kudu fokus dan mulai mempersiapkan diri sebaik mungkin, secepat mungkin, sebelum 30 tahun keburu lewat. Time flies so fast, so i must run faster too.

    Actually, syarat utama untuk bisa dapet beasiswa ke luar negeri adalah score TOEFL/EILTS. Dan sadar kalo bahasa inggris gw kaco, terutama di bagian listening, makanya gw ambil kursus bahasa inggris di LBI UI. Minggu besok, gw tamat level 2 English Conversation, dan i think my english is better and more important is i have a confidence to speak in english. So, i think i am going to take next level. Dan lebih dari itu, gw juga ketemu temen-temen sekelas gw yang amazingly punya mimpi yang kurang lebih sama kayak gw, memburu scholarship, so it give an advantages for me, cause i'll have infos and friends to reach our dream together. Kelas EC juga jadi lebih menyenangkan karena temen-temen sekelas gw sangat menyenangkan. Kompor abis.

    Rencana gw adalah, selesai dari level 2 ini, gw bakal ambil TOEFL IPT sekedar untuk tahu seberapa jauh level gw. Kemudian ambil EC level 3, kemudian di bulan-bulan november ambil TOEFL IPT lagi, dan kalau udah oke, baru ambil TOEFL IBT. And then tahun 2016 gw udah bisa mulai hunting beasiswa. Biasanya beasiswa ke Korea dan Jepang dibuka bulan Maret/April untuk keberangkatan tahun berikutnya. So, it'll be great if i can get it. Semoga. Amin. But, if i can't get it, i still have Plan B.

    The Plan B is... i'll finished my master here.. Actually, sekarang gw juga udah ambil S2 di Gunadarma dan insyaAllah september besok udah selesai semester 1. Dan jika semua berjalan sesuai rencana, maka insyaAllah akhir 2016 S2 gw udah kelar. Itu artinya, kalo gw dapet beasiswa di Plan A, gw bisa langsung berangkat di pertengahan 2017, dan kalau gagal gw bakal ngemis beasiswa S3 ke Gundar, sembari tetep nyari beasiswa ke luar. Dan kalau pun itu gagal, gw masih punya Plan C.

    And the Plan C is... gw tetep bakal hunting scholarship ke luar, tapi melalui jalur yang berbeda. Dari info yang gw dapet, baik dari baca atau kabar dari temen, bahwa ada jalur yang lebih mudah untuk dapet beasiswa ke luar, yaitu dari jalur dosen. Ya, baik LPDP atau Kemendiknas atau DIKTI menyediakan beasiswa yang dikhususkan untuk dosen atau calon dosen. Dan menurut info yang gw dapet itu lebih mudah. But, something easy need more sacrifice right, begitupun jalur ini. Syaratnya ada dua: satu lo harus jadi dosen dan dua lo harus ngajar/ngabdi di universitas yang ngasih lo surat rekomendasi. So, for my backup of Plan A and Plan B, i've already registered to be a lecturer dan fortunetly gw lolos, meskipun agak-agak risky juga karena gw ga total jadi dosennya. Gw ga bisa ambil jam ngajar di weekdays karena gw kerja, sedangkan sabtu waktu gw abis buat kursus. Last semester, dengan sangat beruntung jam kursus dan jam ngajar ga berbarengan. But, i haven't knew yet the schedule for next semester. Sejujurnya, gw takut ga bisa ambil jam ngajar, dan lebih dari itu gw takut status dosen gw didepak. Wkwkwk. Gw juga sedang berusaha untuk ngedapetin NIDN (No Induk Dosen Nasional) untuk lebih mematengkan posisi gw. Another thing make my position as lecturer still too risky is because i still haven't finished my master. DIKTI mensyaratkan untuk jadi dosen tetap, lo harus udah S2 atau sedang jalan S2. Itu artinya gw tetep harus nyelesein S2 gw disini agar semua tetap jalan pada relnya. If, semua berjalan lancar, setelah lulus S2 gw bisa punya kesempatan untuk ngajuin beasiswa S3 dari jalur ini, dan kemudian setelah selesai, gw kudu balik ke kampus dan ngajar, jadi dosen di kampus ini. It's not so bad yeah, cause actually i like to be lecturer. Menurut gw dosen itu pekerjaan yang menyenangkan. Pertama, karena kita akan ketemu orang baru jadi ga bosen. Kedua, untuk ngajar kita harus tahu lebih dahulu materi dan selalu update info, n it'll be fun to know more and always uptodate. Ketiga, darah keluarga, karena bokap adalah guru. Keempat, satu dari tiga hal yang pahalanya tidak akan putus, ilmu yang bermanfaat. Dan kelima, masih banyak hal yang belum terungkap yang gw bisa dapet dan lakukan jika jadi dosen. So, actually the risks is not risk anymore.
    Well, rencana udah dibuat sedemikian rupa, dan sekarang tinggal gimana gw nya. Apakah bisa menjalankan rencana-rencana itu dengan sebaik-baiknya, atau tergoda untuk lihat kiri-kanan lagi seperti yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Semoga tidak. Semoga beruntung. Semoga Allah meridhoi. Amin. Fighting!!!

    Oya, satu lagi, kenapa gw getol banget dan ngebet banget pengen dapet beasiswa ke luar? Dua alasan sederhana, pertama karena gw miskin, ga punya duit buat kuliah ke luar dengan biaya sendiri. Dan kedua adalah gw pengen ngerasain bagaimana hidup dan belajar di luar negeri, di negara yang lebih maju dari Indonesia, dan belajar lebih banyak disana untuk kemudian dibawa pulang. That's all. Doakan gw ya guys...

No comments:

Post a Comment