::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Tuesday, 4 August 2015

Wisata Foto di Semarang : Berburu Foto di Negeri 'China'

Gunung Raung di Jawa Timur mengalami erupsi. Dampaknya ga cuman dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung tersebut, tapi juga gw. Ya, setelah merencanakan buat ke Banyuwangi pas libur lebaran kemarin, akhirnya gw harus meraung-raung karena plan terpaksa dicancel. Kita ga bisa masuk Banyuwangi demi keselamatan bersama. Pun, kalo misalnya boleh, nyokap gw ga bakal ngijinin. So, dengan berat hati gw harus menunda satu dari tiga rencana liburan gw tahun ini, Gunung Kidul (udah), Banyuwangi, dan Karimun Jawa. 

Well, pembatalan rencana liburan ini bener-bener bikin gw mati kutu. Liburan di rumah selama hampir seminggu tanpa melakukan hal apapun yang special sukses bikin gw stres. Ditambah stok film yang udah abis di hari ketiga setelah lebaran, dikali acara TV yang penuh dengan sinetron India dan Turki yang bikin gw mual-mual, dikuadratkan dengan ga ada sinyal internet di kampung, dan diintegralkan dengan adik gw yang ga mau diajakin jalan-jalan, bener-bener bikin otak gw ga lurus. Dan puncaknya di hari keempat setelah lebaran akhirnya gw memutuskan untuk keluar rumah dan pergi ke Semarang. Ga ada tujuan pasti, selain cuma mau menghirup udara kotor di luar rumah.

Sebelum gw berangkat, iseng gw SMS temen gw, Ilam, buat nemenin gw jalan bareng. Dan lucky, dia bisa. Lantas, kemana kita pergi? Awalnya gw mau ke daerah selatan Semarang, karena hampir setiap tempat di utara Semarang udah sering dikunjungi. Lawang sewu, Masjid Agung, Gereja Blenduk, dan Kota Lama udah ga kayak tempat wisata buat gw, saking seringnya kesitu. So, bermodal browsing sejenak, akhirnya kita memutuskan untuk ke Gedong Songo dilanjut ke Umbul Sidomukti.

Di luar dugaan gw, Gedong Songo jauhnya ampun.  Untung kita kesananya naik motor, berabe kalo ngandelin angkutan umum, karena dari jalan gede Semarang-Ungaran sampe lokasi, jaraknya masih lumayan bikin pantat pegel, selain angkutan umumnya juga sangat sangat terbatas. Di luar dugaan yang kedua adalah, rame banget. Dan di luar dugaan yang ketiga adalah gitu-gitu aja. FYI, Gedong Songo adalah kawasan candi yang berjumlah songo (baca: sembilan) yang letak satu candi dengan candi lainnya saling terpisah. Dan unfortunetly, misahnya ga tanggung-tanggung, yaitu antar bukit ke bukit lainnya. Jadi, satu bukit satu candi. Itu artinya kalo situ mau ngelihat semua candi, situ kudu menjelajah ke sembilan bukit yang berbeda. Cukup sesuatu. But, yang luar biasa adalah banyak banget pengunjung yang kalo dilihat dari wajahnya, sudah sedikit tua (baca: kakek-kakek, dan nenek-nenek), tapi masih semangat sekali jalan dari satu candi ke candi lain, dari satu bukit ke bukit lain. Salut. Sedangkan gw? Gw nyerah sampe candi yang keempat.


Dari Gedong Songo, gw dan Ilam lanjut ke Umbul Sidomukti yang letaknya ga begitu jauh. Dari hasil googling, Umbul Sidomukti adalah semacam kolam renang yang ada di atas bukit, dan dari kolam itu pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas bukit. Jadi rasanya kayak berenang di atas awan. Tapi yang perlu jadi catatan adalah, "jangan berekspektasi terlalu tinggi". Dari hasil googling, umbul sidomukti sangat 'wah' dengan pemandangan yang 'wow' dan setidaknya menurut perkiraan gw kolamnya cukup gede. But, ketika nyampe disana yang gw lihat adalah kolam renang yang panjangnya ga lebih dari 10 meter dengan air yang sangat keruh saking banyaknya pengunjung yang renang disitu. Gw cuman liat dari atas, ga tega nyentuh airnya apalagi nyemplung. Bukan apa-apa, gw curiga perbandingan air kolam sama keringat pengunjung, gedean keringat pengunjungnya. Yang amazing adalah, ketika gw hadapkan kamera gw ke arah kolam, pemandangan indah yang gw dapet dari hasil googling muncul lagi. Surga. Tapi pas gw turunin kamera gw, neraka muncul lagi. Ga nyampe 30 menit, gw dan Ilam memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ke Umbul Sidomukti.


Pas perjalanan pulang, kita ngelewatin Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal dengan Watugong. Apa aja yang ada disana? Hanya dua, yaitu Wihara dan Pagoda, sama beberapa patung, sama satpamnya. Tapi ketika masuk kesana, kita seakan-akan dibawa ke China. Bangunan wihara, pagoda, pendopo, dan segala sesuatu yang berbau Budha dan China ditampilkan disana, dalam kompleks yang begitu luas. Dan akhirnya, we get some awesome picture.



Dari Watugong, kita kemudian meluncur ke Klenteng Sam Po Kong. Mungkin udah bukan hal yang baru lagi ya. Sam Po Kong adalah tempat yang tepat untuk berfoto, kemudian memamerkan dan mengelabui temen-temen lo dengan bilang bahwa lo abis liburan dari China. Ya, ketika masuk Sam Po Kong, aura China nya kerasa  banget. Dan tentu saja, we got some picture too.  


Well, ketika keluar dari Sam Po Kong, jam sudah menujukkan pukul 16.40, dan itu artinya gw kudu segera mengakhiri perjalanan hari ini, karena kereta gw dari Semarang ke Purwodadi berangkat jam 17.10. Dari perjalanan singkat ini, gw dan Ilam punya satu kesimpulan. Kalau Solo terkenal dengan wisata budayanya, Gunung Kidul terkenal dengan wisata alamnya, maka Semarang harusnya memperkenalkan diri dengan wisata fotonya. Karena hampir semua tempat wisata di Semarang itu biasa-biasan aja tapi jadi luar biasa kalau ada di dalam bingkai kamera. Ga percaya? Datang aja ke Semarang dan buktikan sendiri kebenarannya! Kalian akan mendapati bahwa Lawang Sewu itu biasa-biasa aja, tapi ketika tertangkap kamera menjadi luar biasa. Kalian akan mendapati di internet bahwa Gereja Blenduk itu wow, padahal aslinya ya cuma gereja yang ukurannya ga lebih dari rumah kalian, dan isinya ya sama kayak gereja pada umumnya. Kalian akan mendapati bahwa foto-foto di depan pagoda dan wihara di watugong itu keren bingit, padahal aslinya ketika kalian datang kesana, ya cuman itu doank yang bisa kalian nikmatin,. Gw yakin, ga lebih dari 30 menit kalian udah bosen. Ya, seperti itu lah. But, kalian akan mendapatkan some awesome photos, yang bisa kalian pamerkan ke temen-temen kalian di media sosial, dan itu ga bisa kalian dapatkan di kota-kota lain. 

No comments:

Post a Comment