::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Monday, 24 October 2011

Cinta Untuk Rumbela dan Amore,

Empat tahun lalu, seorang sahabat memberiku hadiah seekor kucing persia. Rumbela namanya. 'Biar kamu g merasa kesepian', katanya. Aku hanya tersenyum sambil memindahkan Rumbela ke pelukanku. Yah, menurut sahabatku ini, aku adalah tipe orang yang selalu diredam kesepian, yang selalu hidup sendiri dan memendam perasaan sendiri. Entah itu perasaan bahagia atau yang menyahat hati sekalipun. Semuanya kusimpan sendiri. Di dalam kesepian. Untuk itulah, mungkin Rumbela bisa menyembuhkan penyakitku ini.

Baru beberapa hari, aku dan Rumbela sudah seperti Nakula dan Sadewa. Benar apa yang dikatakan sahabatku ini. Rumbela membuatku lebih menikmati hidup. Membawaku keluar dari area gelap kesendirian. Tak ada hari yang kulewati tanpa Rumbela. Ketika terbangun dari tidur, Rumbela telah menantiku di ujung kasur. Sepulang sekolah, Rumbela selalu siap di teras rumah, seolah menyambutku dengan ramah. Bersama Rumbela, tak ada lagi warna abu-abu. Hari-hari sepi yang kujalani di hari lalu, kini telah secerah pelangi di langit biru.

Namun keadaan ini berubah. Setelah dua tahun menjadi satu-satunya teman yang kupunya, tiba tiba Rumbela menghilang. Dua hari ia tak pulang. Aku yang khawatir, segera mencarinya. Di taman kota, di rumah tetangga, di manapun, tapi Rumbela tetap tak berhasil kutemukan. Berhari-hari pencarianku tak berbuah hasil, hingga aku benar-benar muak dengan semua ini. Tapi tepat ketika aku hendak menyerah itulah, Rumbela hadir di teras rumahku. Persis seperti yang ia lakukan sebelumnya. Menantikanku pulang. Dengan segera aku berlari ke arahnya. Seperti seorang sahabat yang lama tak saling jumpa, kutumpahkan semua rasa rindu yang tak berhasil kusalurkan, beberapa hari atau mungkin minggu ini. Untuk beberapa saat senyumku merekah. Namun di detik berikutnya, senyum itu sirna, digantikan oleh rasa sedih juga marah. Ada benda menggantung di leher Rumbela. Sebuah kalung dengan bandul yang bertuliskan sebuah nama, 'Sania'. Aku tak ingin percaya, tapi perlahan Rumbela meyakinkaku. Ia berjalan menjauhiku, sementara aku tak bergerak. Air mataku menetes tanpa dengan sendirinya. Aku hendak menghentikan Rumbela, tapi kuurungkan. 'Bahkan ia tak melihat ', pikirku. Sampai lewat pagar rumah, Rumbela tetap berjalan tanpa menoleh ke arahku, dan kemudian menghilang di balik pagar rumah. Tak lama kemudian, seorang lelaki 20an terlihat berlari tergopoh-gopoh di depan pagar. 'Sania, kemana saja kau! Aku mencarimu kemana-mana. Tunggu aku!', teriaknya. Aku mendudukkan kepala. Rupanya yang tadi itu adalah salam perpisahan dari Rumbela.

Kehilangan Rumbela begitu sulit kuterima. Setidaknya, butuh waktu yang sama antara bersamanya dan melupakannya. Tak kurang dari dua tahun aku masih menginginkan Rumbela kembali menungguku di teras rumah. Yang tentu saja selalu berakhir dengan kekecewaan karena Rumbela tak pernah datang lagi. Tak kurang dari dua tahun pula, ketika akhirnya aku melihat seekor kelinci putih berlarian di depan taman rumahku. Warna putihnya begitu cantik. Bulu-bulunya terlihat lembut. Dan senyumnya. Aku menyukainya.

Dengan hati terkembang, aku mendekati kelinci putih itu. Ada pita biru terikat di lehernya. Sebuah lempengan alumunium yang diukir cantik membentuk kata 'Amore' tergantung di peta itu. 'Mungkin itu namanya', pikirku. Tapi aku tak peduli. Alih-alih mencarikan sang pemilik Amore, aku malah mengajaknya bermain-main. Kerinduan pada Rumbela yang telah kusimpan dua tahun kucurahkan kepada Amore di saat itu juga. Dalam kerinduan itu kutitipkan pula salam perpisahan untuk Rumbela yang tak sempat kuucapkan dua tahun lalu. 'Aku ikhlas Rumbela'. Amore pun nampaknya tak keberatan dengan hal itu. Kelinci putih itu seakan tersenyum, menuatkanku, dan sekaligus menggodaku untuk memilikinya. Tapi denga segear kuurungkan niat itu.

Keesokan harinya, Amore kembali datang. Aku lihat sekitar, tak ada siapapun. Amore hanya memandangku. Terus memandangku. Entah apa yang hendak dikatakannya, tapi aku yakin, siapapun yang melihat mata itu, akan tergoda untuk melepas pita itu, dan menggantinya dengan nama baru.

Tapi sekali lagi tidak. Aku tak ingin sang pemilik Amore merasakan kehilangan seperti apa yang aku rasakan atas kehilangan Rumbela. Cukup aku. Dan hanya aku. Toh aku juga sudah terlatih hidup dalam kesepian sebelumnya. Dan apa salahnya kembali ke dunia kesendirian itu? Namun begitu aku tetap bermain-main dengan Amore sejenak. Mencurahkan segala kasih sayang yang kupunya untuknya. Toh, siapa yang tahu kalau mungkin kasih sayang ini adalah kasih sayang terakhir yang kupunya. Memiliki Amore mungkin tidak, tapi mencintainya, tak ada yang salah dengan itu.

No comments:

Post a Comment