::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Wednesday, 11 January 2012

Cinta Yang Bisu

"kring kring kring",
"1 pesan diterima", sebuah tulisan muncul di layar handphone Marta. Marta yang sedari tadi asyik dengan teenlitnya, dengan malas menutup cerita dalam buku itu untuk sejenak. Ia mengambil handphone dan membaca isi pesan yang baru saja diterimanya. Isi pesan itu singkat. Hanya tiga kata, "aku kangen kamu",
"Dari Dio", bisik Marta lirih, yang ia tujukan untuk dirinya sendiri. Marta ingin mengacuhkan pesan itu, tapi ragu. Sejenak ia nampak berpikir sambil menempelkan handphone ke dagunya. Ragu untuk melanjutkan membaca atau membalas pesan itu. Beberapa detik kemudian, Marta menutup handphone nya, dan meletakkannya di tempat semula. Ia terdiam sejenak. Membuka teenlit yang ada di tangannya. Tapi lalu kembali mengambil handphone nya. Dan saat itulah, kenangan-kenangan masa lalu nya seperti diputar kembali.

Enam tahun lalu Marta dan Dio sedang berada di kelas barunya. Hari itu adalah hari pertama mereka menjadi siswa SMA. Ketika teman-teman yang lain berhamburan ke luar kelas ketika istirahat siang, Marta dan Dio tetap bertahan di kelasnya. Mereka sama-sama pemalu dan pendiam. Mereka sama-sama belum berkenalan dengan satu pun dari 38 teman-teman barunya itu.
"H H Hey, mau roti?", sapa Marta gugup, mencoba memecah keheningan.
"E e eh??", Dio menoleh ke asal suara itu. Sama gugupnya dengan Marta.
"Mau roti?", ulang Marta.
Dio berdiri. Berjalan mendekat ke arah Marta. Kaki-kakinya yang sejak tadi bergetar, dipaksakannya, hingga membuat cara berjalnnya terlihat aneh, dan lambat.
"Mau .... roti?, ulang Marta sekali lagi, dengan suara yang kini terdengar wajar. Sambil mengambilkan sepotong roti dan memberikannya kepada Dio. Dio malu-malu, tapi tetap menerimanya.
"Ma makasih ya"
"Kamu kok g istirahat di luar?"
"Kamu juga"
Hening. Mereka berdua terperangkap dalam diam.
"Namaku Dio"
"Aku Marta"
Keduanya tersenyum dan saling menatap mata masing-masing. Hening.

"Awh", Marta menggeleng, mencoba menutup kenangan nya itu. Tangannya masih memegang handphone tadi. Ia lalu bangkit mengambil air minum. Nampaknya kenangan tadi menguapkan banyak cairan di tubuh Marta. Keringat di keningnya bermunculan satu-satu.

Marta melihat ke luar jendela. Berusaha menenangkan pikirannya. Ia melihat daun-daun belimbing kering yang jatuh diterpa angin sepoi. Dari jendela ini ia juga bisa melihat jalan raya. Motor yang lalu lalang. Penjual gorengan. Anak-anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Dan beberpa sepeda yang diparkir di halaman rumah tetangganya, sementara pemiliknya adalah anak-anak SMA yang sedang belajar bersama atau bercanda bersama mungkin, di teras rumah. Yang jelas mereka terlihat tertawa bersama.
"Sepeda", ucap Marta pelan.
Nampaknya usaha Marta untuk menenangkan diri gagal. Kini pikirannya tengah bersepeda menuju kenangan yang lain.

"Marta, ntar sore main ke taman yuk!", ajak Dio suatu kali di tahun keduanya di SMA.
"Emmmmm ..."
"Ntar aku jemput jam 3 ya!"
"Emmmmm ..."
"Bye bye, pulang dulu!"
Sebuh senyum kecil tersungging manis di bibirnya. Sejak Marta membagi roti nya untuk Dio, mereka menjadi sering ngobrol bersama, mengerjakan tugas atau PR, jalan-jalan, atau sekedar cerita tentang Pusy, kucing peliharaan Marta. Mereka nyaman satu sama lain.

Jam 3 sore itu, Marta sedang membaca novel di kamarnya, ketika sebuah suara memanggilnya,
"Marta, main yuk!", panggil Dio khas anak-anak SMA.
Marta segera menutup novelnya dan segera menemui Dio yang tengah menunggunya di depan gerbang dengan sepeda kesayangannya. Channel, itulah nama yang diberikan Dio kepada sepedanya itu.
"Jadi ke taman kan?"
"Iya, sebentar. Aku bilang Ibu dulu"
Tak lama berselang Marta keluar.
"Udah?", tanya Dio.
Marta hanya mengangguk sambil mendekat ke arah Dio. Ketika dilihatnya Channel, Marta bingung karena tak ada boncengannya.
Marta bertanya, "Aku duduk dimana?"
Dio menepuk-nepuk galangan sepeda yang ada di antara setang dan dirinya.
"Ato kamu mau jalan sampai taman?", kata Dio sambil nyengir.
Marta mendekat, pasrah. Mencoba mengatur posisi duduk di galangan sepeda itu.
"Siap?", tanya Dio
Marta hanya mengangguk pelan. Hatinya berdebar. Bahkan detaknya bertambah cepat, ketika tangan Dio mulai memegang setang. Marta merasakan tubuh Dio sangat dekat dengan kepalanya. Dan tangan itu ... seperti hendak memeluknya. Marta tersenyum kecil. Gugup, malu, dan senang.
Dio juga merasakan hal yang sama. Sebisa mungkin ia mengatur detak jantungnya yang bergerak cepat, agar Marta tak mendengarnya. Ia gugup, malu, dan tentu saja senang. Dio mulai mengayuh sepedanya, dan dalam debaran sepanjang jalan itu, mereka hanya tersenyum. Tanpa suara. Hanya diam. Hening.

"Awh", sekali lagi Marta menggeleng. Kali ini lebih keras. Dengan cepat ia berpaling dari sepeda yang dilihatnya itu. Menghabiskan minumnya. Dan kembali lagi ke kamarnya. Ia mengambil teenlit yang tadi ditinggalkannya di meja. Memandang sejenak handphone itu. Lalu berbaring di tempat tidurnya. Marta mulai membuka teenlit dan membacanya lagi. Tidak. Hanya memandangnya. Karena pikirannya kembali lari ke kenangan bersama Dio. Kali ini saat pengumuman kelulusan SMA.

Dio berlari menghampiri Marta di kelasnya. Di kelas 3 ini, mereka tidak sekelas.
Dio berkata, "Selamat ya! Peringkat Dua. Keren!!!"
Marta tersenyum.
"Kamu juga keren. Masuk 10 besar!"
Hening.
"Kamu jadi lanjut ke Semarang?", tanya Dio
"Heem. Kamu?"
"Seperti rencana, Bandung"
"Owh",
Hening. Mereka menunduk. Memandang tanah, seolah meyakinkan diri sendiri, bahwa dimanapun kita berada, kita masih menginjak bumi yang sama.
"Marta ...", kata Dio. Sambil mengangkat kepalanya, memandang Marta.
"Emm ...?", Marta juga mengangkat kepalanya. Memandang DIo. Tepat di matanya.
Hening. Mereka masih saling memandang. Seolah mata mereka telah berbicara panjang lebar, sementara mulut mereka tak bergerak. Bisu. Tak ada suara.
Marta meneteskan air mata. Dio masih memandang mata itu, sambil mengusap air mata Marta dengan tangannya. Seketika itu Marta menghambur memeluk Dio. Dio yang kaget sempat terhuyung, namun bisa menahannya. Dio membelai rambut panjang Marta. Ia bisa merasakan dadanya basah oleh air mata Marta. Pandangan Dio kosong. Ada banyak yang ingin diucapkannya kepada Marta, meski intinya cuma satu. Namun mulutnya terkunci. Marta juga sama, tapi air mata mengalahkannya. Menyumbat semua kata yang diredamnya dalam hati.

Angin berhembus menggugurkan daun-daun yang harusnya bisa bertahan lebih lama di pohonnya.
"Kalau kamu mau, kamu bisa bertahan lebih lama", kata Dio dengan tatapannya yang kosong.
Marta melepaskan pelukannya perlahan. Memandang mata Dio yang hampa.
"Kita akan bertahan lebih lama"
"Ya"
Hening. Marta kembali menghambur ke pelukan Dio.
"Dio"
"Ya"
"Aku ingin hari ini lebih lama dari biasanya"
Dio tak menjawab. Dio juga ingin hari ini lebih lama. Marta mempererat pelukannya, hingga Dio bisa merasakan nafas Marta di dadanya.
"Besok aku berangkat ke Bandung", kata Dio
"Aku g bisa nganter kamu. Besok aku juga harus ke Semarang"
"Oke. Lagian, aku g ingin melihat air matamu lagi"
"Aku g akan nangis cuma karena kamu pergi ke Bandung"
"Kalau gitu, aku g ingin kamu melihat air mataku"
"Cengeng"
Angin masih berhembus, mencoba menyentuh rambut panjang Marta. Namun Dio tak akan membiarkannya. Ia membelai rambut Marta lebih sering. Tak ingin kecolongan oleh angin.
"Bapak dan Ibu rencana juga akan pindah ke Bandung. Nenek mulai sakit-sakitan"
"Jadi?"
"Mungkin aku bakal jarang pulang"
"Sangat jarang", Dio menambahkan.
Hening.
Dio tahu ini bakal berat. Sejak hari pertama mereka kenal, sejak Marta membagi roti untuknya, Dio melihat ada yang lain di mata Marta. Di dalam sana ada kedamaian. Nyaman. Itulah yang membuat Marta begitu berarti buat Dio. Begitu juga Marta. Ia juga melihat hal yang sama. Cinta. Marta mencintai Dio. Begitu juga halnya Dio. Dio mencintai Marta. Namun selama tiga tahun mereka bersama, entah kenapa hanya kata itu yang tak pernah terucapkan. Meski itu sebenarnya tak perlu, karena mereka sudah tahu perasaan masing-masing tanpa harus mengucapkannya. Karena alasan itu lah, Dio tak pernah mengucapkan cinta pada Marta. Marta juga paham, dan karenanya telah ia simpan dengan rapi keinginannya untuk mendengar kata itu dari mulut Dio. Tapi di saat seperti ini, Dio justru ingin mengucapkan kedua kata itu pada Marta, "aku mencintaimu". Dan itu sama sekali tak mudah. Mulutnya telah tertutup terlalu lama untuk mengucapkan kedua kata itu. Mata telah mengambil alih fungsi mulut untuk mengucapkan nya. Tapi Dio benar-benar ingin mengatakannya pada Marta.
"Marta ...", kata Dio pelan.
"Hemmm ???"
"Aku ..."
Marta melepas pelukannya. Memegang erat tangan Dio dan menatap dalam matanya. Berharap kata itu akan terucap. Tapi lama, Dio tak kunjung mengatakannya.
"Apa?", tanya Marta. Berusaha mendesaknya.
"Aku mau pulang. Udah sore"
"Ohw, yah benar. Udah sore ya? Hehe", jawab Marta, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
"Aku anter kamu ya?", tanya Dio
Marta mengangguk.

Marta melepas pegangannya pada Dio dan berlari ke kelas mengambil tas nya. Sementara Dio memukul-mukul kepalanya dengan tangan kanannya, sambil mengutuk dirinya sendiri, "Bodoh!". Sedangkan tangan kirinya masih belum bergerak sejak Marta melepaskan genggamannya dari tangan itu.
Marta keluar dari pintu kelas. Dio melihat sekilas tangan kirinya. Menjatuhkannya. Dan segera berlari menghampiri Marta.

Dalam perjalan pulang, Dio menyatukan tangan kirinya dengan tangan kanan Marta.
"Ga apa-apa kan?", tanya Dio sambil tertawa kecil.
Sementara Marta hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan kenangan itu hilang.

Marta menutup teenlit yang terbuka dan menunggu untuk dibaca. Sementara matanya terpejam, berusaha menutup lembaran kenangan yang baru saja terputar kembali.
"Sudah tiga tahun aku menunggu kamu pulang dan sudah enam tahun aku menunggu kata itu kau ucapkan", batin Marta,
Marta bangkit dari tempat tidurnya, mengusap air mata yang mengalir tanpa disadarinya. Ia mengambil handphone nya, dan membalas pesan itu,
"aku menunggu ... :D",

No comments:

Post a Comment