::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

Late Post - Cerita Perjalanan #go(w)esToBali

    Entah kenapa belakangan ini banyak temen yang nanya tentang #go(w)esToBali. Ah, it take me back to the adventure i ever have. Gw pribadi sebenernya emang udah punya niat buat nulis perjalanan #go(w)esToBali, tapi setiap kali gw mulai nulis, selalu terhalang satu hal : mau ditulis dalam satu post apa beberapa post? Kalo ditulis dalam satu post, gw ga yakin bakal seberapa panjang itu post, secara every little detail is just a wonderfull story. Dan kalau gw buat beberapa post, takut jadi ga menarik. Bukannya ga pernah mencoba, gw udah beberapa kali mencoba, tapi kemudian gw berhenti nulis karena ga puas dengan apa yang gw tulis. Terlalu banyak #mikir. Haha. But, it's oke, i'll try once more to tell my story in this post (just one post). Semoga tidak mengurangi esensi dan tetap menarik untuk dibaca.

    Well, perjalanan dimulai dari sebuah kegalauan. Gimana engga coba, dari rencana #go(w)esToBali bertiga bareng temen-temen sepedaan gw, pada akhirnya, H-1, satu temen gw mengundurkan diri karena ada panggilan kerja. Dan 10 jam sebelum start, ketika gw udah packing segala macem, satu temen gw bilang kalo dia juga ga bisa ikutan, karena ada tugas negara yang harus diselesaikan. Bagaimana menurut Anda? Pantaskah saya galau? Di saat gw bimbang kayak gitu, gw memutuskan untuk tidur, dan kita lihat besok pas bangun tidur, apakah gw tetep akan ambil sepeda and take the chance, ato tetep ngegelingsek di kasur. Intinya, sampe gw tidur, 7 jam sebelum gw berangkat, jam 10 malem, gw masih belum punya keputusan.

    Subuh gw bangun, dan setelah sholat subuh, gw udah mantep. Ya, gw bakal berangkat. Tahun lalu gw berangkat ke Surabaya juga sendirian, dan Bali hanya 400km lebih jauh, i think i can do it. And yup, the story begin. Keputusan yang tidak akan pernah gw sesali seumur hidup gw. Haha.

    Perjalanan hari pertama dan kedua, dari Jakarta-Cirebon-Semarang tak banyak halangan dan rintangan. Gw udah tiga kali gowes melewati rute ini dan udah apal karakter jalan, spot menarik, spot yang 'tidak' menarik, dimana gw kudu istirahat, dimana gw kudu nambah kecepatan, etc. Jalan Patok Besi antara Cikampek-Pamanukan tetep jadi nerakanya Jawa Barat, panas dan tiada ujung. Sementara rute neraka di Jawa Tengah, Tegal - Pemalang - Pekalongan nampaknya berbaik hati, karena pas gw lewat situ dikasih hujan. Ada dua hal menarik di Jawa Tengah. Pertama, aspal Kota Pekalongan yang tahun lalu gw nobatin sebagai aspal terbaik selama #go(w)esToSby, tahun ini tidak lagi. Aspal yang dulunya licin, sekarang udah mule jerawatan dan didempul sana-sini. Sementara rute alas roban yang sebelumnya sangat gw antisipasi, karena rutenya yang ajib. Naik-turun dan tahun kemarin aspalnya bocor, tahun ini naik kelas. Aspalnya mulus, sampe-sampe pas keluar alas roban dan nyampe Kendal, gw agak sedikit nyesel kenapa tadi gw cepet-cepet. Hihi.


    Hari ketiga, Semarang-Tuban, menghadirkan beberapa cerita menarik. Tahun lalu, ketika melewati Demak, Pati, dan Kudus gw selalu lewat rute lingkar luar. Artinya gw ga masuk kotanya. Dan disitulah penyesalan terjadi, karena yang gw lihat cuman jalan dan sawah. Gw ga lihat kotanya, orang-orangnya, keramaiannya, dan hal menarik lain yang mungkin gw lewatkan. Maka berbekal penyesalan itu, tahun ini 100% gw ambil rute dalam kotanya. Dan well, keputusan itu benar. Gw bisa mampir di Masjid Agung Demak, muter-muter di alun-alun Kota Pati, dan hunting Soto Kudus di rumahnya sendiri, Kudus. Sementara rute Rembang-Lasem-Tuban, tak jauh berbeda. Lasem tetap menjadi kota misteri bagi gw, karena karakter orangnya, logat ngomongnya, even joke-joke khas daerahnya mirip dengan yang ada di kampung gw, Purwodadi. I don't know why, padahal jarak Purwodadi-Lasem lumayan jauh, dan terpisahkan beberapa kabupaten. Sementara Tuban menghadirkan kejutan yang sangat menyenangkan. Jalanan di daerah Jenu yang tahun lalu rusak parah+banyaknya bus dan tronton, sama sekali berbeda di tahun ini. Itu jalan bahkan mungkin adalah yang terbaik sampe hari ketiga ini.



   Setelah menghabiskan malam di Tuban (gw sempet main-main ke pasar malem di alun-alun Kota Tuban, makan pecel dan do some 'jepret-jepret'), gw bersiap melanjutkan perjalanan hari keempat, Tuban-Probolinggo. Pemandangan laut Tuban di pagi hari sangat menggoda dan membuat gw berat untuk meningalkan Kota Cantik ini. But, gw ga bisa berhenti karena masih ada ratusan kilometer yang menanti untuk dijelajahi. Perjalanan Tuban-Lamongan sangat menyenangkan, tapi ketika masuk kabupaten Gresik sangat menyeramkan. Ya, jalanan Gresik adalah perpaduan antara tanjakan dan turunan + jalan rusak dan bergelombang + ga ada warung. Gw bener-bener harus hemat minum, karena diluar dugaan gw jarang banget yang jualan.  Harapan akan 'jalanan yang lebih baik' muncul ketika gw memasuki gerbang Kota Gresik, tapi ternyata Kota Gresik tak lebih baik dari Kabupaten Gresik. Kota Gresik yang Kota Industri adalah gabungan dari polusi+panas+truk+jalanan rusak/bergelombang. Pokoknya yang ada di pikiran gw ketika ada di Kota Gresik adalah cepet-cepet keluar dari kota ini dan segera masuk Surabaya. Tapi kemudian yang terjadi ketika gw masuk Surabaya adalah, gw pengen cepet-cepet keluar Surabaya dan segera masuk Sidoarjo. Ya, Surabaya tak lebih baik dari Kota Gresik. Jalanan mulus cuma ada di pusat kota, itupun masih dinodai dengan macet dan polusi. Sementara di pinggiran kotanya amburadul. Gw yang awalnya mau foto di Tugu Pahlawan, harus mengurungkan niat karena males berususan dengan jalanan yang tidak bersahabat, bahkan saking malesnya, jadwal istirahat dan makan siang yang harusnya gw lakukan di Surabaya, terpaksa gw cancel.

    Melewati Sidoarjo, berarti melewati penderitaan warga Porong. Gw udah beberapa kali berkesempatan melewati kawasan luapan lumpur Sidoarjo, tapi tetap saja gw masih belum terbiasa. Tetap saja, membayangkan daerah seluas itu, yang harusnya penuh dengan cengkrama sosial, anak-anak yang pada berlarian, emak-emak yang ngegosip di pasar, atau sekedar bapak-bapak yang menghabiskan waktu sorenya dengan minum kopi di teras rumah, harus terkubur oleh lumpur. Sidoarjo tell me the story. Memasuki Pasuruan, gw dan channel (nama sepeda gw) disambut hujan. Satu hal yang berkesan dari Pasuruan adalah aspalnya moncer. Ini aspal terbaik yang gw lewatin sejauh ini. Bahkan dari masuk sampe keluar Pasuruan gw ga berhenti, atau bahkan ga mengurangi kecepatan sama sekali. Jalannya terlalu dewa. Menjelang isya, gw mulai masuk Probolinggo. Satu hal yang ga gw antisipasi adalah, pinggiran Probolinggo adalah hutan. Meskipun ga hutan-hutan banget, karena masih ada satu dua rumah penduduk. Perjalanan agak horor, apalagi selama melewati hutan itu, beberapa kali gw ketemu anjing dengan tatapan yang seakan bilang 'apa lo liat-liat, gw gigit juga lo!'. Dan di saat seperti itu, cuma satu hal yang bisa gw lakuin, ngebut. Well, gw mengakhiri perjalanan hari keempat dengan menginap di salah satu hotel dengan fasilitas lengkap, ac+tv+air panas dengan harga 100rb. Sangat bersahabat buat badan yang capek dan dompet yang bokek.

    Perjalanan hari kelima, Probolinggo-Banyuwangi diawali dengan jalanan yang bikin dongkol. Bayangin, dari pusat kota sampe mau keluar kota, jalanan sebelah kiri, yang gw lewatin ancur parah, sementara yang sebelah kanan semulus Sandra Dewi. Gimana ga bikin dongkol, sementara yang di sebalah kanan bisa ngebut dengan nyaman, gw kudu ekstra hati-hati kalo ga mau Channel terluka. Sungguh kejam. Untungnya Situbondo tak sejahat Probolinggo. Kalo sebelumnya gw bilang perjalanan pinggir pantai Tuban adalah yang terbaik, maka ketika sampe di Situbondo, Tuban jadi nomor dua. Di sebelah kiri ada pantai dengan pasir-pasirnya yang halus, kawasan bakau, kapal-kapal nelayan, dan orang-orang pacaran (sial). Sementara di sebelah kanan kadang sawah, kadang bukit, kadang hutan, atau kadang juga kuburan. Pokoknya variatif dan sangat menarik. Lebih menarik lagi ketika gw nyampe di Kawasan Taman Nasional Baluran. Well, gw mulai masuk Baluran sekitar jam 4 sore. Awalnya exited, akhirnya amit-amit. Exited karena sepanjang jalan gw bisa lihat sapi, domba, beberapa kali rusa, pada malang melintang ga hanya di hutannya, tapi juga di tengah jalan. Ga jarang kendaraan yang lewat kudu berhenti dulu karena ada sapi yang mau lewat. Tak terkecuali gw. Gw bahkan sempet ngeri diseruduk, pas ngelewatin kawanan sapi. Petualangan bertambah seru ketika jalannya terus nanjak. Terus, terus,  dan terus sampai akhirnya gw teriak 'ini kapan sampai puncaknya???!!'. Dengkul gw udah mule kelelahan, bekal minum udah mau kalap, sementara hari udah mule gelap. Jangan berpikir ada alfamart, kita lagi di tengah hutan. Jangankan alfamart, rumah aja ga ada. Jangankan rumah, orang lewat aja ga ada. Gw bahkan bisa ngambil jalan kanan-kiri-tengah seenaknya, karena emang ga ada satupun kendaraan yang lewat. Pas ada yang lewat, ternyata anjing hutan, atau babi hutan, atau apalah, yang jelas setelah itu yang ada di pikiran gw cuman cepet keluar dari hutan ini. Alhamdulillah, tepat setelah maghrib gw berhasil keluar hutan. Ini adalah pengalaman paling keren sekaligus thrilling selama perjalanan ini. Sejam setelah keluar hutan Baluran, gw udah nyampe di Ketapang, menanti mimpi yang esok akan gw miliki, Bali.

    Subuh gw udah ada di Pelabuhan Ketapang untuk nyebrang ke Gilimanuk. You know what i feel? It's more than wisuda, atau ketika gw pertama kali terima gaji, atau ketika gw menang berbagai lomba di masa lalu atau ketika gw punya pacar berapa abad yang lalu, it's more than anything. Bahkan ketika di kapal, dan kebetulan saat itu ujan, gw tetep duduk di luar, basah-basahan keujanan, cuma demi ga mau melewatkan setiap jengkal menuju Bali. Dan ketika kita nyampe di Bali, hal pertama yang gw lakukan adalah nyari tempat yang pas di pelabuhan, berhenti bersepeda, taro tas di samping sepeda, dan meluk sepeda gw, Channel Jr. We did it boy.


    Km 0-30 di Bali menyenangkan, selanjutnya melelahkan. Jujur aja, ini adalah pertama kalinya gw ke Bali, dan gw sama sekali ga menduga bahwa jalanan di Bali bakal segila ini. Naik-turun ga jelas, bahkan kalo gw boleh lebay dikit, kagak ada jalanan yang lempeng. Cuma dua, kalo ga nanjak, ya turun. But, satu hal yang gw salut dari Bali adalah sosial-budaya nya. Tak ada satu rumah dan bangunanpun yang tanpa 'mini pura'nya (apa itu namanya, tempat buat naro persembahan dan doa). Antar masyarakat juga terlihat rukun dan bersahabat. It's just great i think. Sesuatu yang sangat langka didapetin di Jakarta. Jalan sepanjang Negara-Tabanan gw lewatin dengan napas setengah-setengah, karena ga ada kesempatan buat narik napas lebih panjang. Jalanan yang asoi, memaksa gw untuk berhenti setiap 5km, paling jauh 7km. Alhasil, kalo waktu di Jawa dalam sehari gw bisa menempuh jarak minimal 200km, sampe jam 5 sore hari itu, gw baru sampe di Tabanan, sekitar 120km. Sekitar jam 7 malem (atau sore, soalnya jam 7 di Bali masih kayak jam 5 di Jakarta), akhirnya gw sampe di Denpasar, muter-muter ga jelas, cuma ga mau turun dari sepeda, saking berterima kasihnya gw sama Channel karena udah nganter gw sejauh ini.

    Hari ketujuh, hari kedua di Bali, gw habiskan waktu pagi gw di pantai Kuta. Satu hal yang gw rasakan saat di Kuta, 'Apa istimewanya Kuta dibanding pantai-pantai lain?'. Karena i think, pantai-pantai di Jogja jauh lebih bagus, Sawarna jauh lebih maknyus. Jujur saja, gw pikir pantai Kuta tak seindah ceritanya. But nevermind, gw tetep menghabiskan waktu di pantai Kuta selama dua jam, menikmati matahari yang ngebakar kulit gw, yang sejatinya udah gosong dari kemarin-kemarin. Hehe. Selepas dari Kuta, gw dan Channel menuju Garuda Wisnu Kencana. Orang Bali sangat kreatif gw pikir. Gimana engga, bukit yang penuh dengan bebatuan keras, dipoles-diukir menjadi kawasan yang aduhai. Ga hanya itu, GWK juga menjual budaya Bali dengan cara yang elegan. Kalo di Jakarta misalnya ada pementasan tari tradisional, bisa dipastikan ga banyak yang bakal nonton. Tapi di GWK, cuma berbekal pengumuman : 'akan dipentaskan tarian tradisonal Bali di aula bla bla bla', semua orang langsung berbondong-bondong dateng. Tariannya pun ga ngebosenin, sangat menarik lah menurut gw. Gw bahkan nonton tarian yang sama 2 kali berturut-turut, dan tetep ga bosen.

    Dari GWK, gw gowes lagi ke ujung selatan Bali menuju Uluwatu. Tujuan gw ada dua, yaitu Pura Luhur Uluwatu dan Pantai Panjang-Panjang.  Perjalanan ke Uluwatu sangat tidak mudah. Kalo tadi gw bilang, jalanan di Bali secara umum 'gila', maka menuju Uluwatu ini 'idiot'. Nanjaknya ga tanggung-tanggung, walopun turunannya juga ga pake diskon. Capek, tapi seru. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu best spot di Bali gw bilang. You can see some great view from there. No other word but great. Pantai Panjang-Panjang tak kalah mempesonanya. Kalau di Pantai Kuta akan ditemukan turis dewasa cenderung tua, maka di Pantai Panjang-Panjang adalah basecampnya turis muda. Tak ada satupun turis berusia lanjut yang terlihat disana, karena selain track kesononya yang naudzubillah, Pantai Panjang-Panjang yang ombaknya asoi buat surving, memang lebih cocok buat kaum muda ketimbang mereka yang usianya udah lanjut. Gw termasuk yang muda, tapi naas ga bisa surving. Sigh. Dari Uluwatu, gw balik ke Kuta, menikmati sunset di Pantai Kuta. Some great view, some great moment.


    The next day saatnya menjelajah Bali kawasan agak tengah, Ubud dan Gianyar. Oya, di hari yang sama kebetulan di Bali lagi ada perayaan Kuningan (atau Galungan?), jadi selain bisa menikmati alam Bali, gw juga bisa melihat budaya Bali. Betapa beruntungnya gw. Jujur aja, sebagai seorang muslim gw agak syok dan gegar budaya ketika melihat banyak orang di tengah jalan nyembah-nyembah patung di depannya, sambil nyalain dupa dan nyebar kembang. But it's just fine, karena kita punya keyakinan yang berbeda, asal kita saling menghormati, tak ada masalah. Yang tak terlupakan dari perayaan ini adalah banyak anak-anak muda, ga cowok ga cewek, dengan pakaian adatnya, bawa-bawa persembahan, berdoa, ah, it's just wonderfull, mengingat tak banyak kita temui para pemuda, khususnya di kota-kota besar yang masih mau make pakaian adat, melakukan kegiatan-kegiatan adat, dan something like that. Malahan bangga banget kalo udah bisa ikut ngerayain Hallowen atau Valentine, ketimbang ikut kirab budaya misalnya. Ah, sekali lagi ah.

    Di Gianyar gw juga mampir ke Bali Bird Park. Even bayarnya agak mahal untuk ukuran kantong gw, tapi gw rasa cukup sepadan jika dibandingkan dengan pengalaman yang gw dapet di sana. Ga kayak di kebon binatang, yang hewannya pada dikandangin semua, di Bali Bird Park kita bisa bercengkerama secara langsung dengan burung-burung itu. Yang jadi masalah palingan cuman pas gw ngedeketin burung-burung disana, mereka malah pada kabur. Apa mau dikata, mungkin  gw terlalu cakep.
 

    Well, kalo mau jujur gw masih pengen menjelajah Bali dengan Channel. Gw belum ke Batur, Buleleng, dll. Tapi apa daya, waktu libur gw tinggal menghitung hari, jadi mau tidak mau gw harus mengakhiri kisah #go(w)esToBali sampai disini. Seperti yang udah pernah gw tulis di blog ini juga, Bali adalah tujuan akhir sepedaan gw ke arah timur. Itu artinya, target gw udah tercape. Dan karena target sepedaan ke arah timur udah tercape, maka saatnya membelokan stang sepeda ke arah barat. I think, #go(w)esToKL (Kuala Lumpur) is a must, sembari menguatkan mental, uang, dan segalanya untuk mimpi terbesar gw saat ini, #go(w)esToTokyo. Semoga Allah mengabulkan, dan pasti mengabulkan. Amin. Si ya,

The Golden Ways..

    Semakin bangka umur gw, sepertinya gw semakin bisa melihat dunia dengan lebih bijak. Ga cuman dengan apa yang dilihat mata dan langsung ambil kesimpulan, tapi juga ada unsur analisis dan memprediksi atau kadang cuma penasaran, 'what's next?'. Sebagai contoh, kalo dulu waktu jaman masih muda, ketika gw pengen jadi juara kelas misalnya, gw belajar mati-matian, terus pas pengumuman ternyata gw ga juara kelas, maka udah, gw bakal ngedrop, nyalahin diri sendiri, dan something like that. Paling ga, butuh waktu 2-3 hari untuk gw recovery kembali ke kondisi normal. But now, hal kayak gitu udah jarang banget gw rasain. Sebage gantinya, ketika gw pengen sesuatu, dan ternyata ga (belum) tercape, alih2 nyalahin diri sendiri, gw malah exited 'what's next ni? Tuhan punya rencana apalagi ni? Gw bakal diputer-puter kemana dulu ni?'. Dan well, pemikiran-pemikiran kayak gini bikin hidup jadi lebih seru. Although, kadang bikin stres juga, tapi ga jarang jalan yang dipilihkan Tuhan itu lebih asyik dan bikin senyum-senyum sendiri. Seperti yang baru-baru ini terjadi sama gw.

    Awal tahun lalu, gw udah siap-siap buat cabut dari kantor gw yang sekarang. Kebetulan gw ada tawaran buat jadi staff dan dosen di kampus gw. FYI aja, dulu waktu SMK gw dan temen-temen sekelas pernah diminta sama guru kita untuk nulis apa cita-cita kami. Dan well, waktu itu gw nulis Programmer dan Dosen. Empat tahun setelah gw nulis itu, gw jadi programmer, meskipun gw sekolah di jaringan. Dan 8 tahun setelahnya gw ada tawaran jadi dosen. it's just great, bahwa apa yang gw inginkan waktu itu bener-bener kejadian. Meskipun kalo mau jujur, gw ga pernah berusaha untuk meraih cita-cita itu. Kembali ke tawaran staff dan dosen. Sebenernya ada beberapa alasan kenapa gw pengen nyoba untuk jadi staff dan dosen. Alasan pertama, karena gw ngambil S2 yang lokasinya lumayan. Akan sangat berat kalo gw tetep kerja di kantor gw, sepedaan 20km dari kantor, lanjut naik krl 40 menit dan jalan kaki 20 menit. Sangat melelahkan i think. Dan bener aja, dua minggu kuliah gw ga pernah ga telat. So, dengan jadi staff dan dosen di kampus, otomatis gw akan punya waktu lebih. Plus, i'll reach my dream, jadi dosen.

    Tapi ternyata yang terjadi jalannya tak semulus itu. Waktu gw ketemu sama HRD kampus, beliau ngejelasin dari sabang sampai merauke. Tentang hak dan kewajiban, gaji, jam kerja, kesempatan belajar, dan segala macem. Tapi yang bener-bener kecantol di telinga gw cuman dua. Satu, bahwa gw ga bisa jadi dosen  tetap dan urus kepangkatan sebelum punya gelar S2. Dua, gajinya setengah dari gaji gw sekarang. Itu artinya, kalo gw tetep ambil tawaran ini, gw bakal jalan di tempat selama dua tahun, ga bisa naik pangkat, dan harus hidup dengan gaji setengah dari gaji gw sekarang. Agak berat gw pikir. So, dengan berat hati gw relakan kesempatan ini. Gw berpikir buat, 'ya udah, gw selesein dulu S2 gw, baru kalo udah kelar, coba lagi'. Dari titik ini gw udah berpikir untuk, 'Oke, gw bakal kembali ke kehidupan normal gw'.

    Seminggu setelah kejadian ini, gw iseng konsultasi sama HRD di kantor gw untuk pulang kerja lebih awal, biar ga telat mulu ke kampusnya. Kata orang HRD nya itu mungkin aja, asal bos ngijinin. Di luar dugaan gw, pak bos ngijinin tanpa banyak tanya ini itu. Padahal gw udah nyiapin segudang alasan kalo sampe diinterogasi ini itu. Dan well, gw sekarang udah ga pernah telat lagi ke kampusnya. Hehe.

    Ketika semuanya udah bisa berjalan kondusif, gw juga daftar kursus bahasa inggris di UI. Persiapan buat TOEFL dan tentu aja persiapan buat kuliah di luar negeri. Kebetulan kursus ada yang hari sabtu, jam 9.00-13.00

    Oke, semuanya udah berjalan pada tempatnya. Dan you know what, minggu kemarin gw ditelpon sama orang kampus. Katanya ada salah satu dosen yang cuti ngajar dan gw, kalo bisa, disuruh ngegantiin beliau ngajar. Pas ditelpon, jujur aja gw seneng, tapi tetep mencoba untuk ga berharap terlalu tinggi, karena bisa aja gw dapet jam ngajar di weekdays, yang otomatis gw ga bisa karena kudu kerja. Tapi ternyata, harapan gw diangkat sama Tuhan karena gw dapet jam ngajar hari sabtu. Padahal kan gw sabtu udah daftar kursus? Dan disitulah istimewanya rencana Tuhan, gw dapet ngajar di tiga kelas. Kelas pertama di jam 7.30-9.00, sedangkan kelas kedua dan ketiga jam 13.00-16.00. Keren kan ? Bisa pas banget sama jadwal kursus gw. Yah, even butuh waktu buat perjalanan, dari kampus ke tempat kursus, tapi menurut perkiraan gw ga lebih dari 15 menit, orang lokasinya deket. Hehe.

    Well, thanks to Allah karena udah nyiapin jalan yang seru ini. Gw berharap untuk tetep bisa think positively about anything. That Allah has a great plan for me. Dan well, sekarang gw juga sedang menunggu kejutan lainnya, karena atas saran dari temen lama gw, yang secara kebetulan ketemu, gw apply cv gw ke salah satu perusahaan yang dia saranin. Bukannya ga bersyukur atas apa yang gw dapet sekarang, but i think i have to take a chance and wait, apakah Tuhan mengijinkan atau engga.  Let it flows and i think i'll enjoy the path which is given to me. Ganbate.

Tentang Kuliah S2

    Halo-halo.. anybody home? Heheh. Sangat lama gw ga nulis. Rasanya jari pengen segera mencet-mencet toots keyboard. Tapi apa daya, godaan game Onet tak dapat terhindarkan. Jadi tiap kali jari udah pemanasan di atas keyboard, lalu mata menatap monitor, dan disitulah kemudian terjadi penghianatan dan terjadilah..

    Well, jujur aja, setelah kuliah S2 mule, rasanya waktu itu cepet banget abis. Udah ngalah-ngalahin pulsa aja dah, cepet banget abis. Padahal cuman buat nelpon operator doank. Apa mau dikata, pacar tak ada, gebetan tak punya. Huft. Selain itu, ritme hidup gw jadi sedikit berantakan. Dalam seminggu, sholat jamaah subuh di mesjid paling santer cuman 2 kali. Sisanya, sholat sendiri di kosan dan di masa-masa injury time karena bangun telat mulu. It happen, en olmost epride. Parah.

    Kalo gw bilang, kuliah S2 sangat melelahkan. Bukan dari sisi mata kuliahnya, tapi dari sisi jarak. Gw tinggal di Depok, sementara kuliah di Salemba. Praktis, setelah gw balik dari kantor (Cibubur) ke kosan (Depok), langsung mandi, dan langsung capcus ke station, naik krl sampe Cikini, dan jalan kaki sampe Salemba. Nyampe kampus langsung sholat, dan biasanya kelas udah mule. Praktis ga ada waktu buat istirahat. Walopun di KRL gw bisa duduk, tapi sejatinya itu bukan istirahat juga. Itu bagian dari perjalanan. Satu-satunya yang bisa jadi penghiburan adalah ketika (kebetulan) bisa jalan bareng temen-temen seperjuangan dari Station Cikini ke kampus Salemba, ato pas balik dari kampus, ngobrol ngalor ngidul, bercanda ngetan mengulon. Just a little thing, but have a big impact.

    Kesan kuliah S2, it a bit different than kuliah S1 kemarin. (Sejauh ini) dosennya lebih asik. Dan even ga semua, tapi gw ngelihat temen-temen juga oke. Yang ga oke cuman dua, kampus yang jauh dan kelas yang memprihatinkan. Ya, kelas yang dipake buat S2 memprihatinkan. Jauh lebih oke kelas waktu gw kuliah S1 dulu. Ubinnya aja kayak ubin abad pertengahan. Bentuk kelasnya  variatif, ada yang gede banget sampe kalo dosen ngajar kudu pake toa, tapi ada juga yang kayak kamar kosan dijejerin, panjang tapi sempit. Bahkan orang sekdosnya adalah bapak-bapak dan emak-emak dari jaman Bung Karno masih SD. Untuk tugas, masih standar. Belum ada yang wakwao banget. Mungkin karena baru matrikulasi, jadi masih pace nya masih selow-selow aja. Apalagi? Kayaknya ga ada lagi. Pokoknya kesimpulannya cuman satu : capek.

    But, apapun itu, semoga gw bisa melewati masa-masa ini dalam damai. Tiada hambatan yang berarti, dan well, semoga jalan yang gw ambil ini bener. amin. sekian.

Unexpected Trail Run - Halimun Salak Trail Run

    Malem itu gw baru mau menikmati setengah gelondong semangka gw, ketika temen lari gw si Irfan Oit wasap gw konfirmasi ikutan ke Halimun. FYI, tanggal 14 Maret Derby dan Indo Runners, dan para penggiat lari lainnya ngadain race di Gunung Halimun, yaitu Halimun Salak Trail Run. Meskipun Derby dipercaya sebagai penyelenggara utamanya, gw sendiri sedari awal emang udah ga tergabung jadi panitia, dan ga ngikutin perkembangannya. Gw terlalu sibuk ngurusin diri gw sendiri yang beberapa minggu dan bulan ini agak kaco. Dan well, ketika si Irfan Oit wasap, gw sama sekali ga ada persiapan. Tapi, whatever, gw iyakan, dengan niatan gw pengen ngebantu acara sebisa gw. Suruh jadi sie angkat-angkat juga gapapa deh. Gw juga anggota Derby, so let me be part of Derby. Hihi.

    Sesuai kesepakatan, jam 2 pagi keesokan harinya, gw sama Irfan Oit nebeng di mobilnya Ian. Total ada 6 orang yang berangkat saat itu: Ian, Uda Arsy, Yogi, Atthar, Irfan Oit, dan gw.

    Sampe di lokasi jam 4 subuh. Dan kesalahan adalah karena gw kesono cuma pake celana pendek sama kaos lengan pendek. Lumayan bikin badan gw beku. Setelah say hai dengan temen-temen panitia yang udah pada sibuk, oleh Kang Uban gw langsung ditarik ke area drop bag buat bantuin anak-anak disana. Beres di drop bag, gw langsung dipanggil lagi sama Om Rudi. Dengan sedikit bisik-bisik mesra, Om Rudi bilang, 'Co, lo siap lari ga ?' Gw agak cengok. 'Lo ikut lari paling belakang, ngebantu pelari kalo ada apa-apa sama laporan di tiap pos kalo lo orang terakhir'. Tanpa ba bi bu, gw langsung bilang, 'Siap Komandan!'. Yang jadi masalah adalah Om Rudi bilangnya pas peserta udah pada lari, jadi gw kudu langsung lari tanpa pemanasan.

    Tugas ini ternyata tak semudah yang gw bayangkan. Belum ada 1km lari, udah ada yang tepar. Gw sama Irfan Oit berkali-kali kudu nemenin dan memastikan bahwa doi baik-baik saja. Dan di km 1,sekian itu orang akhirnya nyerah juga. Kaki dan perutnya kram dan ga bisa lanjut lagi. Gw sama Oit yang ga punya bekal pertolongan pertama memutuskan untuk manggil tim medis yang ada di km 2,5. Lari secepet yang gw bisa, minta tolong, dan balik ke lokasi lagi. Gw sama Oit akhirnya sepakat buat menyerahkan tanggung jawab itu orang kepada tim medis, dan kemudian gw sama Oit kudu lari lagi mengejar orang terakhir berikutnya yang akhirnya ketemu di puncak kawah ratu. Di puncak kawah ratu, gw sama Oit sempet ketemu sama Andi Jon, ngobrol ngalor ngidul, sambil menikmati pemandangan dari atas gunung. Juga sempet foto-foto alay. Satu hal yang gw sadari pas foto-foto adalah, pemandangan dan suasana di puncak jauh lebih bagus dipandang mata daripada dipotret kamera. Ini kebalikan dari post gw sebelumnya 'Ketika Fotonya tak Seindah Aslinya'.


    Dari puncak kawah ratu, gw sama Oit ngikut di belakang orang terakhir lagi. Naas, itu orang terakhir kena engkel jadi doi ga bisa lari dan cuma bisa jalan aja. Di tengah jalan gw juga sempet lari-lari ngejar orang karena salah jalur. Saking paniknya gw, karena takut kenapa-napa sama tu orang dan terlalu jauh masuk ke hutan, gw sampe ga peduli tangan gw kena ranting-ranting poon dan kaki gw keantuk batu sampe sedikit berdarah. Macem-macem lah. Hingga akhirnya tugas ini selesai jam 11.30 siang, sekitar 5 jam dari langkah pertama start.

    Selesai race, langsung balik karena pak sopir udah ngajakin balik. Well, this is unexpected race yang lumayan seru. Thanks om rudi, thanks semua panitia, thanks Derby.

What's happen in this week ?

    Berat sodara, berat. Minggu-minggu kemarin, bahkan sampai minggu ini juga, hidup gw berat. Bukan berarti berat badan gw naik (walopun kenyataannya naik juga sih, sekarang udah kelewat 60... tidakkkk!!), tapi tekanan hidup yang jadi tambah berat.

    First, udah sekitar 3 minggu ini kuliah S2 gw mulai. Satu kata untuk menggambarkan kuliah ini, berat. Bukan berat karena tugas, ato dosen, ato apa, tapi berat karena kuliahnya di salemba, suatu tempat nun jauh di tengah-tengah belantara Jakarta, 22 km dari kosan gw di depok, dan 32 km dari kantor gw di cibubur. Berat karena kuliah mulai jam setengah tujuh, padahal biasanya jam 6 gw baru nyampe kosan. Berat karena itu artinya gw pasti telat. Gw udah nyobain berbagai kombinasi buat menuju kampus, mulai dari : kantor - kosan - stasiun - salemba via sepeda dan KRL, kantor - salemba via sepeda, dan yang terakhir kantor - kampus -stasiun - salemba via sepeda dan KRL. Pilihan pertama sukses bikin gw ga boleh ngisi presensi karena gw telat masuk hampir sejam, pilihan kedua sukses bikin gw tepar karena dalam sehari gw harus menempuh jarak lebih dari 70km (kosan -kantor :20km, kantor-salemba : 32 km, salemba-kosan :22km), pilihan ketiga lumayan oke, walopun abis sepedaan langsung berangkat kampus tanpa mandi dulu. Agak-agak bau sih. Well, kuliah s2 ini bener-bener sukses bikin gw capek dalam artian fisik dan mental.

    Second, sejak beberapa minggu yang lalu juga, gw dan dua orang temen gw nerima job dari orang buat bikin web gitu. Orang pertamanya temen gw. Gw dalam tim itu cuman jadi penggembira aja. Tapi well, keadaan ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan di awal-awal. Temen gw, sebut saja Bendot, yang jadi main person dalam tim ini ternyata didera kesibukan yang tiada berkesudahan. Rencana untuk kumpul tiap weekend hanya jadi kenangan, dan jujur gw ga tau ini job bakal jalan apa engga. Gw sendiri udah males.

    Third, dua minggu yang lalu gw dikasih info sama temen gw, bahwa gw keterima jadi dosen honorer di kampus. Gw seneng, kemudian sedih. Sedih kenapa? Karena gw dapet jam ngajar hari selasa, padahal gw minta buat ngajar hari sabtu, padahal kalo weekdays gw kerja, terus gimana coba ? Sampai hari ini seharusnya udah ada dua kali pertemuan. Pertemuan pertama gw dateng dg sedikit beralasan sama pak bos, dan pertemuan kedua gw ga dateng, karena ga enak sama pak bos. Well, gw udah ngajuin buat pindah jam ngajar ke hari sabtu, tapi unfortunetly sampe hari ini, belum ada respon. Tau lah..

    Fourth, seminggu yang lalu gw dipanggil lagi sama kampus gw. Kali ini masalah lamaran gw sebagai staff. FYI, gw udah ngajuin ini lamaran dari bulan desember tahun lalu, dan baru dipanggil lagi minggu kemarin. Cukup something lah. Untungnya, HRD nya baik hati dan suka bercerita. Beliau kemudian cerita apa saja yang bakal gw dapet, apa aja tugas gw, apa aja konsekuensi, bla bla bla, bla bla bla. Ada dua poin yang kemudian menjadi faktor utama buat gw ambil keputusan, gaji yang cuma setengah dari gaji gw sekarang dan perhitungan poin untuk kenaikan jabatan struktural yang baru dihitung setelah S2. Itu artinya, kalo gw ambil, selama 2 tahun ini gw bakal jalan di tempat, karena gw belum bisa ngumpulin poin. Dan pada akhirnya pada hari senin kemarin, gw putuskan, dengan berbagai pertimbangan untuk stay di kantor gw sekarang. Dan you know what, dua hari setelah gw bilang ke orang HRD kampus gw bahwa gw belum bisa gabung, giliran HRD kantor yang manggil gw. What's d matter ? Gw dipromosiin bos gw buat naik jabatan. Wkwkwk. Kalo gw bilang itu kayak kantor mau bilang 'ni jabatan lo gw naikin, so jangan berpikir untuk keluar sekarang'. Padahal, you know what, ini semua hanya kebetulan, karena kantor dan bos gw ga tau (atau belum tau, atau pura-pura ga tau) kalo gw udah ada panggilan dari kampus dan bersiap untuk resign dari kantor gw sekarang.

    Pertanyaan berikutnya mungkin adalah, kenapa gw ngelamar jadi staff di kampus dan berniat resign dari kantor? Well, pertama yang perlu gw konfirmasi adalah GW TIDAK BERNIAT UNTUK RESIGN DARI KANTOR. Tapi mungkin keadaan yang memaksa gw. Kerja di kantor gw yang sekarang asik sih. Bisa facebookan tiap hari, donlot drama korea, baca komik, orang-orangnya asik, ga begitu banyak tekanan, dll, dll. Yang jadi masalah adalah, gw bakal selalu telat kuliah kalo gw tetep stay disini. Kalo gw telat mulu dan dosennya ga asik, gw ga boleh ngisi daftar hadir kayak yang udah terjadi sebelumnya. Belum lagi kalo dosennya sampe illfeel liat gw. Kalo gw ga boleh ngisi daftar hadir, gw bisa ga lulus-lulus. Kalo gw ga lulus-lulus, semua rencana gw ke depan bakal berantakan. So, gw berniat nyari kerja di tempat baru, yang jam kerja nya lebih fleksibel, lebih deket dari kampus ato stasiun, dan kebetulan ada kesempatan buat daftar jadi staff, dan itu gw manfaatin. Dan selain itu, kalo boleh jujur, passion gw memang ada di dunia pendidikan (sepertinya). Dan dengan jadi staff di kampus gw, gw otomatis bakal jadi dosen juga, dengan begitu gw bakal terus belajar, doing research, membuka kesempatan untuk kuliah ke luar negeri, and that's my point. But, keputusan udah gw ambil, dan i don't know what'll happen then.

    Fifth, still too many stories, but pak bos udah ngelirik-ngelirik dari tadi. Jadi sebelum kena tegor, mending gw akiri post gw kali ini, dan kembali ke rutinitas (main facebook). Si ya,

Tour IT - Kampung Sumber Alam Garut

    Kampung Sumber Alam - Garut menjadi saksi tour IT ke lima gw di perusahaan tempat gw kerja sekarang. Ga kerasa sumpah, udah 5 tahun aja gw kerja disini. Rasanya baru kemarin kita tour pertama. Gw inget bener tu tour pertama kami. Tour yang menyisakan kenangan.. #ahSudahlah

    Well, perjalanan 4 jam dari kantor di Cibubur sampe Garut lancar jaya tanpa ada hambatan suatu apa. Bis yang biasanya pas tour rame sama tangis balita dan suara 'cetar' dari artis dadakan yang karokean di bus tak terdengar saat itu. Yang ada hanyalah belaian lagu DVD anak-anak yang gw gagal paham kenapa yang banyak dishoot di video nya malah emaknya yang 'wow' ketimbang anak-anaknya. Padahal ini lagu anak, tapi entah kenapa yang fokus malah bapak-bapaknya. Entahlah..

    Kampung sumber alam terletak di kaki gunung entah apa namanya. Udara dingin khas daerah pegunungan langsung kerasa di kulit begitu nyampe disana. Apalagi kita tiba disono pas abis ujan. Beuh. Dingin-dingin maknyus. Yang antimainstream adalah cara kita untuk menghangatkan tubuh dari udara dingin tersebut. Bukan dengan pake baju lengan panjang ato apa, tapi dengan rebutan kamar. Walopun udah dari lama pembagian kamar dilakukan, tapi pada kenyataannya gw sukses pindah kamar 3 kali sebelum bisa terlentang bebas. Kalo pindah kamar aja sih ga masalah, yang jadi masalah adalah gw (dan para bujang tanpa harapan) kudu mindah-mindahin barang bawaan kita + hadiah anak + doorprize + sekarung rambutan + tetek bengek lainnya yang lumayan bikin keringetan.

    Kelar rebutan kamar, ada semacam ice breaking yang dipandu sama EO nya. Gw sendiri sebagai sie acara kudu mandu anak-anak main games. Walopun pada akhirnya gw bilang sama EO nya biar dia yang mandu acara game nya, dan gw main bareng bocah-bocah tengil itu. Asik sumpah. Gw emang paling demen kalo suruh main sama anak-anak. Antara dua sih, antara masa kecil gw yang amburadul ato gw udah pengen punya anak sendiri #eh #kode #gaAdaYangNgerasaDikodein #pret

    Hari kedua di Sumber Alam gw sebagai sie acara bertindak di luar jadwal yang ditentukan. Di jadwal yang seharusnya dipake buat senam pagi, gw malah nyebur ke kolam renang. Udah gitu provokasi temen-temen yang lain lagi buat ikutan renang. Sementara sie acara yang lain pada koar-koar ngumpulin orang buat senam, gw dengan santenya renang sambil berendem di kolam air anget. Sempet ditegor sama pak bos, karena sebagai sie acara malah ngelanggar jadwal yang dibikin sendiri, tapi pada akhirnya pak bos pun ikut renang. Hahaha. Oya, FYI, kolam renang di sini airnya anget cenderung panas (emang airnya dari sumber air panas). Dan gw baru tau gimana rasanya renang di air anget. Nikmat om. Oya (lagi), disini ada yang bikin gw mikir, walopun kolam-kolam disini airnya anget cenderung panas (termasuk kolam ikan), tapi ikan-ikan disini tetap bisa idup #mikir. Gw takutnya kalo ikan-ikan ini udah pada kebal sama air panas, gimana ntar kalo mau dimasak? Bisa-bisa udah direbus sedemikian rupa sehingga, tapi tetep ga mateng-mateng. Bisa abis itu gas di rumah. Mana harga gas naik lagi. Yang ada biaya buat beli gas nya lebih mahal daripada harga ikannya. 
(Dijemur sama bapaknya)

    Di akhir acara tour ada pembagian doorprize. Mule dari Xiaomi sampe kipas angin. Dan entah pertanda apa, gw dapet sepeda. Wkwkwk. Semoga aja Channel sama Marija ga pada komplen kalo gw bawa pulang sepeda lagi. Bisa-bisa ntar kalo ada yang ke kosan pada mikir ini kamar kosan apa parkiran. Hemmm...

    Well, overall tour kali ini lumayan menyenangkan. Gw bisa main-main, becanda sama anak-anaknya Tim IT. Gw lumayan terkenal lah di kalangan anak-anak #asik. Meskipun selama tour sampe pamitan gw dipanggil Mas Jones sama Qila, Fifi, Reihan (kurang sate emang ni anak) ato om bulu sama Marsha. Menyedihkan emang, but nevermind lah, lumayan daripada cuman ngonci diri di kamar sambil meratapi gaji #eh. Kalo ada yang nanya, kok lo mainnya sama anak-anak sih? Ya, abis gimana, mau maen sama yang gedean, orangnya belum ada yang nyantol sama gw. Apa daya lah. Satu hal yang belum tercape adalah dari tour pertama sampe tour kali ini, gw masih belum bisa ngajak Athira (anak Kang Sata) sama Shasha (anak Kang Gilang) main. Entah kenapa tu anak kalo gw deketin pada lari kalo engga nangis. Gw berharap sih bapak-bapaknya tu anak pada ngasih pengertian kalo gw tu baik hati, menyenangkan, dan suka menabung. Gw sih emang cakep kayak aktor di GGS #bukanTobi. Tapi sumpah gw bukan vampir ato serigala. Sekian.
(Ini yang namanya Fifi dan Qila)

 (IT Team n Fam)

Ketika aslinya tak seindah fotonya..

    Bukan, ini bukan ngomongin cewek. Mentang-mentang gw jomblo, bukan berarti setiap gw pake kata "indah" dan "foto "itu berasosiasi dengan jomblo dan kenangan masa lalu. Gw ma ga sebegitunya kali terobsesi dengan kenangan masa lalu #tsah. 

    Well, beberapa saat yang lalu gw sempet blogwalking dan nemu post dengan judul seperti yang gw tulis di atas. Isinya, ya, seperti yang digambarkan oleh judulnya. Ketika aslinya tak seindah fotonya. Post ini menceritakan tentang seorang traveller yang sangat tertarik untuk berkunjung ke suatu tempat karena melihat foto-foto dari orang-orang, mendengar cerita yang seru dari orang-orang pula, dan akhirnya berkunjung ke tempat tersebut seperti orang-orang itu pula. Namun yang tidak ia dapatkan adalah penggambaran tentang tempat tersebut yang ternyata tak seindah seperti yang dirasakan oleh orang-orang itu (pula). Dan pas gw baca post ini, kiranya gw merasakan hal yang sama dengan yang ditulis oleh ini orang, dan setuju dengan ini orang untuk tidak setuju dengan orang-orang itu.

    Ya... beberapa kali gw berkunjung ke tempat-tempat yang 'kata' orang-orang indah. Foto-foto yang mereka tampilkan juga terlihat wow. Dan tak jarang (atau sering) mereka menyebut tempat yang mereka kunjungi sebagai 'The Hidden Paradise', 'Surganya Bumi' dan kata-kata hiperbola lain yang sangat mainstream untuk dituliskan. Tapi ketika gw berkesempatan untuk datang dan melihat dengan mata kepala sendiri 'The Hidden Paradise' itu, ternyata hati gw ga begitu bergejolak layaknya seorang yang menemukan surga. Paling-paling cuman bilang, 'Keren sih!'. Tapi keren bukan berarti surga.
   
    Bromo misalnya. Sebelum gw berkesempatan untuk berkunjung ke Bromo, gw cuma bisa ngiler lewat tulisan orang di blog atau forum-forum plus foto yang menampilkan 'wow' nya Bromo. Tapi ketika gw sampe di Bromo dan melihat Bromo dengan mata kepala sendiri, gw cuman bilang, 'Keren sih!'. Tapi ya udah. Gw ga mendapatkan gambaran surga seperti yang mereka ceritakan di blog. Dan gw ga menemukan pemandangan seindah yang ada di foto. Lantas gw mencoba ambil kamera dan foto sana-sini, dan viola, gw mendapatkan gambar surga itu. Yang sebenernya berbeda dengan apa yang gw lihat. Apa yang gw lihat tentang bromo secara utuh, tak seindah apa yang ditangkap kamera gw. Mungkin gw orang yang ga paham keindahan ato apa, tapi itulah yang gw rasakan. Rasanya, gambar di foto selalu lebih indah daripada gambar aslinya. Kalo mau jujur, yang lebih keren menurut gw adalah bagaimana proses menuju Bromo. Gimana gw melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, di Surabaya ketemu temen lama, melakukan perjalanan bareng ke Bromo, ketemu orang-orang baru, hunting foto bareng bule. Menurut gw itu lebih surga daripada 'surga'nya itu sendiri.

(Melakukan perjalanan bareng temen, jauh lebih surga daripada menikmati 'surga' seorang diri)

(di Bromo kalian memang bisa melihat keindahan ini, tapi hanya dari satu spot saja)

    Ato ketika orang-orang pada pamer foto di Bali, di pantai kuta, pantai padang-padang, pantai pandawa, tanah lot, ubud, rasanya semua yang tertampil dalam foto dan cerita mereka begitu mempesona. Namun ketika gw berkesempatan melihat dengan mata kepala sendiri sunset di pantai kuta, rasanya kok sunset di tengah sawah di kampung gw ga kalah indah. Lantas gw ambil kamera untuk mengabadikan momen-momen sunset di Kuta, dan ketika gw lihat, viola, apa yang ada di foto memang terlihat seperti surga. 
(Momen ini hanya bisa ditangkap oleh kamera, dan bukan oleh mata)

    Kalo ada yang nanya, lantas 'yang indah' menurut lo yang kayak apa Co? Gw mungkin bisa bilang bahwa bersepeda di jalan menuju Situbondo jauh lebih indah dari Kuta. Dimana di kanan lo gunung dan persawahan, sementara di kiri lo ga monoton laut, tapi ada bakau, pantai, laut yang tenang, laut yang penuh kapal nelayan, anak-anak berlarian di pantai. Ato ketika gw melakukan Temple Trip di Jogja. Berjalan dari candi satu ke candi lain, tidak hanya mengagumi candinya, tapi juga perjalanannya, kayaknya lebih cocok disebut 'indah' daripada hanya naik bis dan turun di depan Candi Borobudur. Dan biasanya, ini jarang atau bahkan tak pernah terpotret. Ato walopun terpotret biasanya hasilnya tak seindah aslinya.

    Well, itu menurut gw. Mungkin ada dan banyak yang berbeda pendapat, silahkan. Karena keindahan memang bukan monopoli milik pantai, gunung, candi, atau bahkan wanita. Keindahan adalah milik kita semua.

#Note : Maafkeun bila isi mungkin agak ga nyambung sama judulnya. Hehe..

Kak Sasa Ikut Kelas Intensif Taekwondo