::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Wednesday, 3 July 2013

Tugas Ke-4 Bahasa Indonesia 2 - Berbahasa Sesuai Kodratnya,

    Bahasa adalah salah satu produk budaya yang selalu ada di setiap peradaban. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga menjadi ciri khas kebudayaan. Peradaban China dengan bahasa mandarinnya, peradaban lembah sungai indus dengan bahasa hindustannya, peradaban babylonia dengan bahasa semitiknya, hingga munculnya peradaban baru di Indonesia yang ditandai dengan kerajaan-kerajaan Hindu pertama dengan bahasa sansekertanya. Selain itu, khususnya di Indonesia, bahasa juga menjadi ciri khas adat dan kedaerahan, karena hampir semua daerah di Indonesia memiliki bahasa masing-masing. Dalam hal ini, bahasa telah bermetamorfosis menjadi ciri khas sekaligus identitas kebudayaan.

    Tidak hanya itu, bahasa nampaknya memiliki pengaruh yang lebih besar dalam kehidupan sosial. Di beberapa kebudayaan seperti di budaya jawa dan sunda, bahasa juga dipakai sebagai sarana penghormatan kepada orang yang lebih dihormati. Hal ini terlihat jelas dengan adanya kasta-kasta dalam berbahasa. Penggunaannyapun juga tidak boleh sembarangan. Seorang anak di jawa misalnya, harus menggunakan bahasa kromo alus saat berbicara dengan orang tuanya. Hal ini ditujukan untuk memberi penghormatan kepada sang orang tua. Berbeda lagi ketika anak tersebut ketika berbicara dengan teman sebayanya. Penggunaan bahasa kromo justru akan menimbulkan suasana kaku dalam pergaulan. Untuk itulah, seorang jawa atau sunda harus benar-benar tahu dan paham, kepada siapa dan kapan ia harus menggunakan kasta bahasa yang tepat. Penggunaan kasta dalam berbahasa ini juga menunjukkan tata krama dan sopan santun yang sangat dijunjung tinggi, khususnya di kebudayaan timur.

    Namun, seiring perkembangan zaman dan semakin besarnya pengaruh globalisasi, terutama pengaruh dari dunia barat, penggunaan kasta bahasa dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai terlupakan. Banyak anak-anak daerah yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa kromo alus kepada orang tua atau yang dituakan. Hal ini terjadi karena memang di dunia barat, khususnya bahasa inggirs, tidak mengenal adanya kasta dalam berbahasa. Orang-orang barat lebih menghargai kebebasan individu daripada kehidupan sosial. Berbeda dengan kebudayaan timur yang menekankan pentingnya kehidupan sosial dan menekan ego individu.

    Meski terlihat sederhana, namun implikasi berbahasa dalam kehidupan sehari-hari sangatlah besar. Berbahasa dan berkehidupan memiliki hubungan yang saling bergantungan. Bahasa merupakan ekspresi dari budaya, begitupun bahasa juga akan mempengaruhi kebudayaan itu sendiri. Ketika seorang jawa sudah meninggalkan berbicara dalam kasta-kasta yang ada dalam bahasa jawa, maka secara tidak langsung, iapun sedang berproses menuju budaya untuk tidak lagi menghormati 'trah-trah' sosial, yang pada akhirnya akan menghancurkan budaya jawa itu sendiri. Akibatnya apa? Akan kita lihat orang-orang dengan kulit jawa namun bersikap seperti seorang bule.

    Tidak ada yang salah memang berbicara dengan bahasa inggris, jerman, belanda, atau apapun. Asalkan kita bisa menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya. Dalam ukuran global, bolehlah kita menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa penghubung dengan dunia luar. Namun ketika berada di rumah sendiri, ada baiknya untuk menggunakan bahasa daerah masing-masing. Hal ini bukan hanya untuk mempertahankan eksistensi bahasa itu sendiri, namun juga untuk mempertahankan eksistensi budaya budaya itu sendiri. Tidak sedikit contoh orang-orang yang sudah kehilangan jati diri budayanya hanya karena menggunakan bahasa tidak pada tempatnya. Contohnlah negara Korea, dimana di negara tersebut, penggunaan bahasa daerah masih sangat dijunjung tinggi. Orang masih menggunakan kasta-kasta dalam berbahasa. Bahkan tidak jarang seorang mendapat teguran keras dan dicap sebagai orang yang tidak sopan hanya karena salah menggunakan kata sapaan, seperti Hyung, Nuna, atau Oppa (Mas atau Mbak dalam bahasa Jawa). Akibatnya apa? Kita lihat sekarang ini di Korea, sikap saling hormat-menghoarmati masih tetap terjaga dengan cantiknya.

    Di akhir tulisan ini, saya pribadi ingin mengajak kepada teman-teman dan para pembaca semuanya untuk menggunakan bahasa sesuai dengan tempatnya. Bahasa tak hanya sekedar alat untuk berkomunikasi. Tapi lebih dari itu, bahasa adalah cerminan budaya, sedang budaya adalah hasil budi dan daya dari diri manusia, dari diri kita masing-masing.

No comments:

Post a Comment