::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Tuesday, 16 July 2013

Sebuah Pandangan : Ramadhan dan Laju Perekonomian Masyarakat Sekitar

    Widih, pasti pada widih baca judul tulisan gw kali ini. Hehe. Secara yang biasanya cuma cerita tentang kisah penggalauan tiada ujung atau hal-hal sampah yang udah ga bisa didaur ulang saking ga mutunya, hari ini gw nulis judul yang cukup fenomenal, 'Sebuah Pandangan : Ramadhan dan Laju Perekonomian Masyarakat Sekitar'. Tinggal disebutin salah satu nama daerah aja nih, udah jadi laporan PKL. Lumayan lah buat nulis skripsi. Hehe. Oke, lets see, how shit my work. Hehe,

    Ramadhan, bulan penuh berkah. Bagi gw, nampaknya julukan bulan penuh berkah cocok banget buat bulan Ramadhan ini. Kecuali tentu saja, buat dompet gw. Hehe. Seenggaknya, itulah yang gw lihat beberapa hari di awal Ramadhan ini. Bagaimana Ramadhan bisa membuat perekonomian masyarakat sekitar bergeliat? Berikut ini adalah pandangan gw sebagai seorang pengamat abal-abal, #benerinKacamata #padahalGaMakeKacamata #terusGwHarusBilangWowGitu

Pertama,
Ketika bulan Ramadhan datang, yang sebenarnya ga datang juga sih. Wong Ramadhan dari dulu juga ga kemana-mana dan ga pula dari mana-mana. Disitu aja, tetep tiap tahunnya.Oke, balik lagi, setiap bulan Ramadhan datang, setiap orang muslim 'yang beriman' insaAllah puasa. Seenggaknya seperti itulah isi materi yang disampaikan setiap khotib jumat ketika menjelang puasa. Hehe.

Kedua,
Ketika puasa, ada dua waktu makan, yaitu sahur dan buka. Plus satu desert pas selese tarawih (desert, baca : gurun. Karena biasanya pas abis tarawih, makanan satu gurun juga masih abis juga).

Ketiga,
Waktu sahur adalah pagi-pagi bener, sebelum subuh. Bahkan bagi anak-anak kos, makan sahur adalah setelah tengah malam, karena telat dikit aja, bisa ga makan sahur, karena udah diembat sama anak kos lainnya (referensi : pengalaman pribadi). Nah, ketika makan sahur inilah, gejolak perekonomian mulai meningkat. Faktanya adalah, hampir semua orang yang puasa makan sahur(kecuali bagi mereka yang telat bangun, atau karena hal non teknis lainnya). Hal ini berbeda ketika tidak puasa, dimana biasanya banyak orang yang tidak sarapan pagi, baik karena faktor kebiasaan atau membiasakan diri karena alasan penghematan. Dilihat dari sisi ini saja sudah akan menunjukkan grafik pergerakan ekonomi yang meningkat. Faktor ini menyumbang sekitar 10% dari total kenaikan perekonomian ini.

Selain itu, waktu sahur yang pagi-pagi buta, membuat orang-orang malas atau tidak sempat untuk mencari tempat makan yang lokasinya jauh. Bagi mereka, tidak penting rasa dan selera, yang penting deket dan perut keisi. Hal ini berbeda ketika tidak puasa, dimana biasanya orang-orang akan mencari tempat makan sesuai selera lidah dan selera dompet. Dengan adanya mindset 'yang penting deket' ini, secara tidak langsung akan berdampak pada penjualan di tempat-tempat makan lokal, yang biasanya, dilirik aja engga. Dengan demikian, roda perekonomian lokal akan berputar. Yang perlu dicatat adalah, meskipun orang-orang cenderung meninggalkan tempat makan yang sesuai selera tadi, namun pada kenyataannya hal ini tidak menimbulkan pengurangan pendapatan yang signifikan. Yang terjadi justru sebaliknya, pemerataan perekonomian dan pemusnahan monopoli. Faktor ini berdampak sekitar 30% dari total kenaikan perekonomian di bulan Ramadhan.

Keempat,
Setelah seharian berpuasa, rasa lapar dan haus menumpuk. Hal ini secara tidak sadar akan menimbulkan mindset 'balas dendam', khususnya bagi mereka yang tidak terbiasa berpuasa. Dengan adanya mindset balas dendam ini, orang-orang akan cenderung membeli segala sesuatu dengan porsi yang berlebih. Yang biasanya makan malam cuma pake kuah gratisan sama sambel doank, ketika puasa, menu makanan menjadi lebih bervariasi. Begitupun dengan minuman pendampingnya, yang biasanya cuman air putih doank, ketika puasa minimal adalah es teh, es buah, atau es es lain di luar sana. Pertanyaannya adalah, dimana orang-orang ini mendapatkan makanan dan minuman ini? Menurut survery yang telah dilakukan, orang-orang ini memilih tempat makan lokal sekitar tempat tinggal untuk memenuhi kebutuhan berbuka mereka. Hal ini dikarenakan, adanya kegiatan sholat tarawih yang biasanya dilakukan di masjid/mushola lokal, yang waktunya tidak lama setelah berbuka.

Tidak bisa dipungkiri, fakta ini menyumbang sekitar 40% peningkatan penjualan di tempat makan lokal.

Kelima,
Bagi sebagian orang, berbuka yang sebenarnya adalah setelah sholat tarawih. Hal ini menyebabkan beberapa tempat makan tetap ramai setelah sholat tarawih. Ditambah lagi dengan cemilan dan kudapan lain yang terlalu menggoda untuk dilewatkan. Hal ini menyumbang sekitar 10% dari peningkatan perekonomian lokal,

Keenam,
Sisa 10% disumbangkan oleh sektor ekonomi lain selain makan dan minuman, seperti laundry, ojek, pedagang keliling, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan keadaan fisik seorang yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk tidak melakukan pekerjaan berat seperti mencuci, berjalan kaki, dan lain-lain.

    Nah, demikianlah hasil analisa saya tentang korelasi antara Bulan Ramadhan dengan peningkatan perekonomian lokal. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi rujukan dan motivasi tersendiri bagi para penggiat bisnis tingkat lokal. Sekian.

1 comment:

  1. omset usaha toilet umum saya menurun, dikarenakan di bulan ini sudah semakin jarang orang yang buang air kecil dan besar, padahal untuk menarik pengunjung saya sudah membuat promo "buang air kecil 2x gratis teh manis, buang air besar 4x gratis kolak pisang, tapi sepertinya orang-orang menatap jijik ke arah saya, apakah ada yang salah dengan tulisan teh dan pisang, mohon pencerahannya

    ReplyDelete