::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

Si Kecil Mulai Makan, Apa yang Perlu Kita Tahu?

     Hari ini, putri cantik gw, bayi lucu gw mule belajar makan. Belum genap 6 bulan sih, masih kurang beberapa hari lagi. Tapi ga apa lah ya, dicoba. Sebelumnya, gw dan istri udah konsul ke dokter, nanya sana-sini, dan baca entah dari buku atau internet soal apa-apa aja yang perlu diperhatikan. Berikut adalah beberapa hal yang bisa gw share, yang barangkali bisa menjadi info buat young-pa young-ma lain di luar sana. Hehe.

1. Konsep Dasar
Konsep dasarnya adalah untuk memperkenalkan anak/bayi terhadap makanan. Sekali lagi ingat, memperkenalkan. Bisa jadi ini adalah perkenalan yang baik, bisa jadi tidak. Bisa jadi anaknya mau diajak kenalan dengan makanan, bisa jadi engga. Bisa jadi anak kita alergi, bisa jadi engga. Macem-macem lah. So, dengan meyakini bahwa konsepnya adalah "memperkenalkan", maka ketika anak tidak mau makan, Anda tidak segera pusing alias stress. Konsep memperkenalkan ini juga punya nama beken yaitu MPASI, atau singkatan dari Makanan Pendamping ASI. Artinya apa? Yang utama tetap ASI dan makanan adalah pendampingnya. Jangan dibalik!!!

2. Kapan Dimulai ?
Secara teori adalah ketika bayi berusia 6 bulan. Boleh kurang lebih beberapa hari lah, sesuai dengan kondisi bayi. Boleh kurang dari 6 bulan dengan catatan: bayi sudah siap dan tertarik dengan makanan, ditandai dengan : suka memperhatikan orang lain makan, mulutnya seringkali clomat-clamit kayak ngunyah sesuatu, sering nangis meski sudah dikasih ASI seperti biasanya, dll. Tidak boleh lebih dari 6 bulan, karena mulai usia 6 bulan, aktifitas bayi sudah mulai banyak (gulang-guling, tengkurep, mulai merangkak, bahkan ada yang sudah minta berdiri), sehingga kalau tidak ditambah dengan asupan makanan, dikhawatirkan bayi akan kekurangan energi. Efek paling ringannya, bayi akan sering nangis. Dan efek paling ekstrimnya bayi bisa kena stunting/kuntet.

3. Apa yang Dimakan ?
Meskipun ada beberapa perbedaan diantara beberapa referensi yang kami dapat, tapi pada intinya adalah : makanan bayi (yang dijual di toko-toko : milna, promina, cerelac, farley, dll) yang sudah dihaluskan dan diencerkan, hingga mendekati cair. Terutama untuk minggu-minggu awal. Hal ini bertujuan agar sistem pencernaan anak tidak kaget, karena selama ini hanya mengkonsumsi ASI/susu saja. Nanti secara bertahap teksturnya diperkasar. Setelah dua minggu, bisa ditambah dengan buah. Saran dokter kami waktu itu adalah pisang. Tapi kenyataannya malah membuat anak kami susah pup. Solusinya kami ganti dengan buah lain seperti alpukat, pepaya, dll. Yang penting jangan dicampur. Satu kali makan, satu jenis buah.

4. Kapan Waktu Makan ?
Dihitung dari bulan keenam, maka :

  • Dua (2) minggu pertama : pagi dan sore (bubur bayi/makanan bayi yang sudah dihaluskan dan dicairkan)
  • Dua (2) minggu kedua : pagi (makanan bayi), siang (buah yang sudah dihaluskan/dijus super halus), sore (makanan bayi).
  • Empat (4) minggu ketiga : belum belajar lagi. Hehe.


5. Apa yang Perlu Diperhatikan ?
Beberapa hal yang mungkin terjadi dan perlu diperhatikan adalah :

  • Makanan harus dihaluskan dan dicairkan seencer mungkin (hingga mendekati cair), agar sistem pencernaan bayi tidak kaget/luka.
  • Porsi makan jangan terlalu banyak. Ingat!!! Ini adalah makanan pendamping, artinya porsi utama konsumsi bayi masih tetap ASI. Perhitungkan agar bayi tetap mengkonsumsi ASI dalam jumlah yang dianjurkan, yaitu antara 600-800 ml.
  • Perhatikan pup bayi. Ada kala nya bayi tidak cocok dengan makanan yang dikonsumsinya sehingga menyebabkan pup bayi menjadi keras dan susah dikeluarkan. Seperti yang bayi kami alami akibat mengkonsumsi pisang. Namun kondisi ini tidak sama antara satu bayi dengan bayi lainnya. Perhatikan pula warna dan bau pupnya. Wajarnya adalah warna pup sesuai dengan yang dimakan. Misanya, abis makan pisang : pup nya cerah cenderung kuning, makan pepaya : pup nya orange, dll. Jika ada yang tidak wajar segera konsultasikan ke dokter.
  • Perhatikan pula kondisi bayi. Ada beberapa bayi yang alergi terhadap makanan tertentu. Tandanya diantaranya adalah muncul bintik-bintik pada kulit bayi, bayi muntah, dll. Jika itu terjadi ganti menu makanan. Jika alergi terus berlanjut, hubungi dokter Anda. Alergi pada bayi bisa berbahaya bagi bayi itu saat ini, atau nanti ketika dewasa. Misalnya anak saya. Dari lahir, anak saya alergi susu sapi dan juga susu kedelai. Padahal hampir semua makanan bayi pasti mengandung susu. Maka dari itu, setelah konsultasi ke dokter, kami diberi alternatif makanan bayi yang tidak ada susunya, yaitu Farley (ini bukan iklan ya) dan Milna Goodmil. Kalau di kota sih, susah-susah gampang nyari produk ini. Tapi di online banyak kok. Nah, masalahnya adalah kedua produk ini varian rasanya sedikit, sehingga kalau bayi bosan, tidak ada alternatif lain. Terus gimana? Sarannya suruh bikin makanan bayi sendiri.
     Nah, itu tadi pengalaman kami di awal-awal masa MPASI. Belum genap sebulan sih. Nanti kita share lagi perkembangan-perkembangan yang lainnya. O ya, kondisi setiap anak beda-beda ya, dan referensi yang ditawarkan oleh dokter dan buku-buku kadang emang beda-beda. Jangan bingung! Ditampung semua dan dicari yang paling pas buat anak kita aja. Bisa aja saran dokter ga pas, saran buku lebih oke, bisa jadi saran buku ga bisa diterapin, tapi kata ibu mertua malah berhasil, dll. Pokoknya dinikmatin aja, biar ga stress.

     Untuk young-pa di luar sana, sesekali boleh deh belajar nyuapin anak. Biar tahu gimana kerja kerasnya young-ma di rumah. Gw sendiri kalo libur ikut bantu-bantu istri gw ngurusin si kecil, termasuk nyuapin. Dan capek saudara. Biar kita sebagai young-pa tahu betapa besar perjuangan young-ma dan tahu gimana caranya berterimakasih sama istri tercinta.



No comments:

Post a Comment

A Little Note from 2018