::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

adSense

Monday, 15 June 2015

I am 25th. I am not young anymore.

When i was 25, i feel so old. Jumat kemarin secara resmi gw tidak lagi menyandang status 'muda'. Ya, gw udah tua, brewokan, banyak makan, tapi masih jomblo #sial. Jika tahun lalu gw agak-agak sedih karena kecuali keluarga gw, tak ada seorang pun yang inget ulang taun gw, maka tahun ini gw ga perlu sedih lagi, karena ada dua orang yang inget ulang tahun gw. Dialah Marta, orang yang gw taksir waktu SMP (dan mungkin sampe sekarang), tapi doi ga naksir gw. Dan satu lagi Jepun, temen melancong gw. Well, dua orang tentu lebih baik jika dibanding tidak sama sekali.

  Perjalanan dari 24 menuju 25 adalah perjalanan yang penuh dengan pelajaran. Satu hal yang paling terasa adalah bagaimana gw menyikapi masalah. Mungkin gw udah pernah cerita gimana grusa-grusunya gw dulu, gimana nervousnya gw kalo dihadapkan pada masalah. Maka, pada perjalanan menuju 25 ini gw merasa bisa berantem dengan berbagai masalah itu dengan tenang. Sekarang gw juga lebih bisa melihat segala permasalahan yang gw hadapi dari dua kacamata yang berbeda, positif dan negatifnya. Bahkan gw sekarang sering ketawa-tawa sendiri ketika berhadapan dengan masalah, dan bisa mengintip sedikit rencana Tuhan disana. Misal ketika kemarin gw gagal jadi dosen karena dapet jadwal di hari kerja, gw memutuskan untuk mundur. Kemudian untuk mengisi waktu luang di weekend, gw daftar kursus bahasa inggris. Dan setelah kursus jalan, ternyata kampus ngabarin gw untuk gantiin dosen yang cuti di hari sabtu, di jam-jam yang bener-bener pas di luar jam kursus gw. So, gw bisa ngajar, gw bisa kursus. Ga cuman itu aja, dengan kursus itu seakan Tuhan ingin menuntun gw untuk mendekat ke mimpi gw yang lain yaitu 'get a scholarship', karena temen-temen kursus gw banyak juga yang pengen ngejar beasiswa. Keren banget dah rencana yang telah disiapkan Tuhan buat gw. Dan dengan bisa berpikiran tenang, melihat masalah dari berbagai sisi, it make me be a better person, actually. 

  Hal-hal besar juga terjadi di perjalanan gw menuju 25 tahun, dimana di akhir 2014 kemarin gw akhirnya bisa menuntaskan mimpi gw untuk #go(w)esToBali. For me, #go(w)esToBali adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidup gw. Proses mengumpulkan mental dan keberanian (dan kenekatan), lebih fokus pada tujuan dan mengecilkan rintangan yang mungkin bakal gw hadapi, secara tidak langsung menjadikan gw menjadi orang seperti hari ini. Dan pengalaman besar itu ga bakal gw lupain seumur hidup gw. Finish Full Marathon juga terjadi di perjalanan menuju 25 tahun gw, dan itu juga merupakan satu pencapaian besar. I make impossible to be possible.

  Setahun terakhir ini, dunia juga memaksa gw untuk melihat realitas dunia. Dunia memaksa gw untuk melihat 'uang' secara lebih dekat. Bagaimana uang harus menjadi tujuan, namun di saat yang bersamaan uang tidak boleh  membutakan mata gw. Uang menjadi tujuan artinya gw harus menjadi orang kaya. Ini sebabnya beberapa bulan ke belakang ini gw mengganti sedikit demi sedikit bacaan novel gw dengan buku-buku tentang uang. Ketika gw membaca buku-buku itu, kemudian melihat masa depan, maka gw harus menjadi orang kaya. Bukan untuk gw sendiri, tapi juga untuk keluarga gw kelak. Tapi saat gw pulang kuliah, jam 9/10 malam gw jalan pulang dan mendapati anak-anak kecil yang masih di jalan dengan karung di punggungnya, sementara sebagian yang lain telah pulas di teras toko-toko yang sudah tutup, ibu-ibu dengan pakaian kotor mendorong gerobak-gerobaknya (yang kadang di gerobak itu ada anak-anaknya yang tertidur pulas), it makes me sad. I have to do something for them. Dan di saat seperti itu gw berpikir, 'gw harus jadi orang kaya, bukan buat gw sendiri, bukan buat keluarga gw kelak, tapi juga buat anak-anak ini, untuk ibu-ibu ini'. Buku yang baru gw baca, 'Rich Dad and Poor Dad' mengajari gw satu hal. Sebagian orang berkata, 'Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan', tapi kamu harus berkata, 'Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan'.

  Namun menuju 25 tahun ternyata tak hanya hal-hal positif saja yang meningkat, yang negatif pun demikian. Gw merasa, kemampuan gw dalam hal mengambil keputusan semakin kacau. Kemampuan gw menganalisa, bahwa jika gw memilih A maka bakal bla bla bla, dan jika memilih B bakal bla bla bla, malah menjadi bumerang buat gw. Walaupun mungkin di mata orang lain jelas A positif dan B negatif, so i should choose A. Tapi karena gw sekarang punya dua kacamata, maka gw melihat A yang positif tak melulu positif dan B yang negatif tak semuanya negatif. Ini membuat segala permasalahan menjadi runyam, dan ujung-ujungnya bikin pusing pala berbie karena tidak bisa mengambil keputusan.

  Menjadi 25 juga memaksa gw untuk memikirkan segala hal yang pada awalnya tak pernah terpikirkan. Dan jujur, kadang itu bikin gw stres dan ga bisa fokus. Gw sekarang udah mulai mikirin gimana ngebantu adik gw (secara finansial) yang tahun ini bakal mulai kuliah. Gw mikir gimana buat ngasih uang lebih ke nyokap, gw mikir gimana buat ngebantu TPA di kampung gw yang ga cuman sekedar uang, gw mikir gimana kuliah S2 gw ke depannya, gw mikir kapan mulai hunting beasiswa ke luar negeri, dan yang paling berat adalah gw mikir 'mau jadi apa gw ke depan?'. Pertanyaan yang sungguh, sangat sulit gw jawab. Gw pengen jadi penulis, gw pengen jadi dosen, gw pengen jadi peneliti, gw pengen melancong, gw pengen ngelakuin banyak hal, dan itu semua membuat gw bingung sendiri memutuskan, 'mau jadi apa gw nanti'.

  Dan ya, terakhir, di saat umur kita semakin bertambah, apalagi 25 bukan lagi umurnya anak muda, maka pertanyaan dari orang-orang akan selalu sama, 'kapan nikah?'. Dan jujur, itu bikin gw jenuh, sekaligus nambah beban pikiran gw. Bahkan temen-temen gw sampe bela-belain mau ngenalin sama orang ini orang itu lah. Everyone say that you can do both, reach your dream and married. But, i don't know, i think it'll be hard. Ketika lo nikah, lo bakal punya tanggung jawab lain selain diri lo sendiri. Lo yang pada awalnya cuman mikirin ini itu untuk ngelakuin sesuatu, jadi harus mikirin ini itu ini. Dan how about get scholarship when you have married? Harus ninggalin istri di rumah, sementara gw di luar? Bagaimana kalo nanti ternyata udah punya anak ? Gimana gw harus nuntasin ambisi gw buat #go(w)esToTokyo kalo di sisi lain gw punya tanggung jawab terhadap istri dan anak? I think i'll reach my dreams first, and then married. Not married first, and then ...

  Well, whatever, gw berharap di awal-awal masa dewasa gw ini, gw bisa do de best for my self, for my lovely family, and for my dreams. Gw berharap bisa menemukan diri gw sendiri yang entah kenapa sangat sulit untuk menemukannya. Gw berharap bisa berjalan sejauh mungkin yang gw bisa, selagi gw masih bisa, dan dengan itu gw berharap bisa lebih mengenal dunia, masyarakat, orang-orang, dan Tuhan. Amien.

No comments:

Post a Comment