::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

any suggest.. ?

    Something is not right. This week, my English Conversation Course ended. I am still in Level 3 and need one level more to complete all level in this course. But, i don't really have a choice. I have two choice, but only can choose one. First, is to continue this course to Level 4. And second choice is to come back to d campus and continue my job as a lecturer. It's not easy for me to decide, because i love both of them. But, d time and scheduled do not allow to do both.

    To be honest, right now, i like to continue my course. Simple, because it's fun. Even, you can see, my english is still lack, but the important thing is i can try to speak and listen and have a conversation in english. This course, encourage me much, to be more confident and brave enough to use english. Even, once more, it lack everywhere. And one more, I take this english course to increase my TOEFL score. Until now, I can increase my TOEFL score in about 30 point. It still 510 and my target is 550 (minimum requirement to register to abroad scholarship), so actually i haven't reach my target. I still need this course as well.

    But also, i can not abandon my job as a lecturer. This semester i took an absent. And it'll be more complex problem if i take absent again next semester. Who're you? Newbe Lecturer and brave enough to take a year absent. Haha. I can not lose this job because I hardly get it. It'll be such a waste if I just give up on it. Also, to be lecturer is one of my plan getting scholarship, because I'll have a big chance to take it as a lecturer. Despite that i need to wait longer.

    I haven't decided it, yet. To be honest, i don't know what should I choose. Situation like this, to choose something is always make me crazy. If just i can do both of them..... any suggest.. ?

Liburan di Pangrango,

    Akhirnya, setelah berapa abad gw stres karena ga pernah liburan, weekend kemarin gw akhirnya bisa berlibur. Horeeee. Gw sama temen-temen kantor camping n hiking ceria ke gunung pangrango.

    As you know, gw sama orang-orang kantor sebenernya kurang begitu akrab. Tahu namanya aja kagak. Tapi entah kenapa mereka tahu gw dan ngajakin gw buat ikutan naik gunung. Kaki gw yang udah gatel karena jarang mandi, eh, jarang diajak jalan, langsung memerintah otak untuk mengiyakan ajakan mereka. Saat itu, kendali diri gw emang ada di kaki. Kaki gw niru para buruh yang pada demo karena jarang diajak liburan. Dan, weekend kemarin kita jalan.

    Jumat malem kita jalan. Agak memalukan memang ketika kita udah jalan bareng-bareng, ngobrol ngalor ngidul, tapi gw ga tau nama mereka. Akhirnya, dengan mengandalkan intelegensi tertinggi gw, gw memperhatikan, merekam, dan menganalisa percakapan mereka, dan kemudian menyimpulkan nama-nama mereka. Pak Ketua kita namanya Ari Latiman, Pak Guide kita yang udah pengalaman jadi penjaga gunung, Denis dan adiknya, Dea. Yang tua dan dituakan Pak Widi dan Pak Rosadi. Kumpulan gadis dan emak-emak : Bu Ida, Mba Hana, Mba Ika, Mba Addah, Darni. Dan para pemuda kurang belaian : Mas Raja, Andre, Watt, dan gw. Yeah, gw apal nama mereka semua. Merdeka. Hahahaha.


     Sejak terakhir kali ke Gunung Gede, ga ada yang berubah. Namanya tetep Gunung Gede, pengunjungnya tetep seabrek, air terjunnya masih tetep terjun, cipanas masih tetep panas. Semuanya masih sama. Hanya cerita kita yang berbeda. Kau bahagia disana, aku mendaki disini. Pret.

    Singkat cerita, perjalanan dari Cibodas sampe Kandang Badak butuh waktu sekitar 6 jam dan jam 1 siang semua anggota tim baru lengkap. Terjadi perdebatan kusir disini, apakah kita akan lanjut ke Pangrango dan ngecamp di Mandalawangi atau kita ngecamp di Kandang Badak dan lanjut Pangrango besok pagi, mengingat ada beberapa anggota tim yang kakiya cramp, badan ga fit, dll. Debat kusir berakhir dengan kita ngecamp di Kandang Badak. Gw yang tergabung dalam tim kontra, akhirnya bosen. karena masih jam setengah tiga siang dan harusnya masih banyak hal yang bisa dilakukan. So, daripada garing, gw memutuskan untuk jalan ke puncak Gede sendiri. Yang pada akhirnya jadi ga sendiri juga, karena satu rekan, si Watt pengen ikutan.

    Gw dan Watt sampe puncak Gede sejam kemudian. Kita juga engga nyangka bakal secepet ini nyampe puncak. Mungkin karena ga bawa beban hidup dan beban keril, jadi jalannya lebih cepet. Yang berbeda dari Puncak Gede saat itu adalah sepi. Puncak Gede yang biasanya kayak pasar, sore itu kayak Mesjid. Pas nyampe puncak cuaca cerah dan matahari pun bersinar terang. Tapi setengah jam kemudian, kita kudu nyari tempat berlindung karena tiba-tiba angin di puncak Gede kenceng banget. Cuaca yang tadinya cerah, cuma dalam waktu 20 menit jadi penuh kabut. Saking tebelnya tuh kabut, kita cuma bisa liat dalam jarak pandang kurang dari 20m. Depan, belakang, kanan, kiri yang keliatan cuma warna putih. Nothing else. Disambangi dengan angin yang kenceng dan dingin banget, memaksa kita untuk segera turun, karena takut ada apa-apa di puncak. Sejam berlalu dan kita selamat dari kepungan kabut. Well, meskipun agak-agak ngeri. Tapi ini adalah pengalaman pertama gw dalam kondisi kayak gini. Thrilling but exciting.


    Malem di Kandang Badak lumayan dingin. Gw yang biasanya tahan sama dingin, malem itu kudu ngeringkuk kedinginan. Dingin juga memaksa gw ga bisa tidur nyenyak malem itu. Padahal jam 1 dini hari, kita udah kudu siap buat ngedaki puncak pangrango.

    Persiapan ke puncak pangrango agak ribet karena anak-anak pada susah dibangunin. Dari rencana jalan jam 1 subuh, molor sampe jam 2 karena ga ada yang bangun. Belum packingnya. Belum yang pada galau mau ikut naik apa kagak. Tapi pada akhirnya, jam setengah tiga semua udah ready, dan kita mulai perjalanan ke puncak pangrango.

    Trek ke Pangrango beda banget sama ke Gede. Keren parah. Treknya menantang banget. Pohon ngehadang dimana-mana, jadi kita kudu ngerayap atau lompat sana sini. Belum lagi trek tanah yang bikin sendal/sepatu kudu nyelup lumpur. Ada juga trek dimana kanan-kiri dinding tanah dan cuman nyisain space sebadan doank buat jalan. It's very different with the first route from Cibodas to Kandang Badak.

    Jam setengah enem kita nyampe puncak Pangrango dan ga ada apa-apa disana. Ya, cuma ada plank puncak Pangrango dan ketinggian. Itu doank. Ga ada pemandangan kayak di Gede. Karena ga banyak yang bisa dilakukan di puncak, kita akhirnya turun ke Mandalawangi. Katanya Mandalawangi itu keren parah, tapi pagi itu tebelnya kabut ga kalah parah. Di Mandalawangi, kita ga bisa liat apapun di jarak lebih dari 10 meter. Putih doank. Sementara anginnya bikin beku. Kita nunggu di Mandalawangi beberapa saat, berharap tu kabut pada kabur. Tapi sejam berlalu dan kabut masih disitu melulu. Akhirnya, karena perjalanan kita masih panjang, masih kudu turun gunung di hari yang sama, kita mutusin untuk balik ke Kandang Badak. Yang menarik dari pas balik dari Puncak ke Kandang Badak adalah treknya. Ya, kita semua ga percaya kalo kita semalem ngelewatin trek gila kayak gini. Jadi selain turun gunung, kita juga disibukkan dengan geleng-geleng kepala ga percaya.


    Ga banyak waktu tersisa pas kita nyampe di Kandang Badak. Makan, packing, dan langsung turun lagi ke Cibodas. Mungkin karena terlalu capek, beberapa anggota tim ada yang kram, keseleo, dll. Rencana nyampe Cibodas jam 2 siang molor sampe jam 6 maghrib. Apa daya kan, orang pada cidera gitu, masak dipaksain jalan cepet-cepet. Karena nyampe Cibodas jam 6 maghrib, maka gw sampe kosan jam setengah sebelas malem. Karena udah malem dan badan gw juga udah capek banget, maka ga ada yang bisa dilakukan lagi selain tidur. Selesai.

Note :
- Thanks to this trip so that i can know more about our workmate. Gw ngobrol banyak sama Mb Hana, Mb Ika, dan make a friend dengan temen-temen yang pada awalnya kenal aja kagak, Mas Ari, Watt, dkk. It's not about reaching the top, but about our friendship and togetherness.


Dunia (yang) tiada akhir..

“Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam dirinya :
1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
2. Kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya.
3. Kebutuhan yang tidak prnah terpenuhi.
4. Keinginan yang tidak akan tercapai.”
(H.R. Imam Thabrani)


    Untuk beberapa bulan ini dan terutama sebulan terakhir, hadits itu cocok banget buat gw. Ya, dari bangun sampe tidur lagi hanya dunia. Seakan gw hidup cuman untuk dunia. Astaghfirullah. Setidaknya dari empat penyakit yang diancamkan tersebut, dua diantaranya sudah kejadian sama gw. Kesibukan yang tiada pernah ada ujungnya dan kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi. Gw nulis ini pun nyempet-nyempetin diantara kesibukan yang tiada pernah ketemu dimana ujungnya. Bener-bener dah.

    Selain kerja, kuliah bener-bener banyak nyita waktu senggang gw. Hampir setiap hari di weekdays gw kuliah. Berangkat setelah pulang kerja dan pulang paling cepet jam setengah sepuluh malem. Praktis gw cuman punya waktu tersisa sejam atau maksimal dua jam buat makan malem dan istirahat. That's it. I don't have enough energy to do the other things. No reading a novel, no more study, and no reading The Qoran. Astaghfirullah. Satu hal yang masih bisa kejaga alhamdulillah adalah gw masih bisa sholat jamaah. Cuman itu yang bisa gw banggain. Itupun masih kudu dikurangin poinnya karena gw jamaah maghrib bukan di masjid, tapi di station. Dan jamaah isya di kampus bareng temen-temen, itupun waktunya udah jauh dari adzan, jam 9 atau setengah sembilan. Terkadang gw capek dan memutuskan untuk bolos kuliah. Pengen jamaah maghrib dan isya di masjid deket kosan, pengen buka dan baca Quran abis maghrib, tapi yang ada ga lama setelah buka Quran gw keserang ngantuk berat. Paling lama 30 menit setelah gw udah tepar.

    Weekend ga jauh bedanya. Gw ambil kursus tiap sabtu dari jam 8 sampe jam 1 siang. Menyenangkan sih, but see, dunia lagi. Dulu banyak temen yang suka ngajakin gw ikutan pengajian atau seminar islam di hari sabtu, tapi sekarang pun ga ada lagi. Bosen kali karena tiap kali ngajakin gw, gw selalu ga bisa dengan alasan dunia dan dunia lagi.

    Nah, kalo dulu gw punya waktu luang di hari minggu (pun ga dipake buat akhirat), buat joging pagi, full istirahat, maka sekarang pun gw ga punya cukup waktu buat itu. Gw mulai bisnis kecil-kecilan sama temen gw. Jualan es cendol franchise. Emang sih kita ngehire orang buat doing operational work, tapi tetep aja butuh kontrol. Temen gw kontrol tiap malem, sepulang kerja. Sedangkan gw ga memungkinkan untuk itu, karena gw kudu kuliah. So, mau ga mau gw harus ikutan nimbrung di weekend. Sabtu gw ga bisa karena harus ikut kelas kursus. So, mau ga mau ya minggu gw kudu setidaknya 'liat'. Ga enak juga kan, kalo gw sama sekali ga dateng. Bisa-bisa temen gw pecah kongsi karena ngerasa dia doank yang ngurusin.

    Well, gw sedang berusaha buat bikin jadwal yang bisa mengakomodasi both of them , baik dunia maupun akhirat. Bukan hal yang gampang, karena semuanya 'terlihat' penting. Gw udah nyoba buat nyempilin jadwal baca Quran pas di kereta selama perjalanan ke kampus, tapi yang ada gw banyak ga bisa konsennya. Gw gampang terattract sama hal-hal lain yang terjadi di sekitar gw. Gw juga sedang mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan kursus bahasa inggris gw untuk tingkat selanjutnya, so gw bisa punya waktu di hari sabtu. Tapi itu bakal mempengaruhi mimpi gw buat get a scholarship abroad, secara TOEFL gw masih belum memenuhi syarat dan gw kursus untuk memenuhi syarat. Gw coba saran temen gw buat mengurangi waktu tidur, tapi itu juga berat, karena saat inipun waktu tidur gw udah kurang dari 6 jam. Bukannya ga bisa, tapi gw udah nyoba dan gagal. Gw sakit keesokan harinya. I don't know. End.

Sakit Gigi dan RSKGM UI

    Sakit Gigi. Katanya, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Buat gw, ga gitu juga sih. Alesannya simpel aja. Karena bagi jomblo menahun kayak gw, gw jarang sakit hati. Yang ada hanya sakit gigi.

    FYI, sakit gigi ini tambah sakit karena jatah pengobatan di kantor gw dicabut sejak Agustus lalu. Pun, gw juga berusaha segera cabut dari kantor gw, karena melihat gelagat yang ga beres, tapi sayang belum dapet-dapet. Huft.

    Sebenernya gw bisa pake BPJS, tapi melihat pengalaman temen-temen kantor gw yang pake layanan BPJS dan ga ada yang beres, akhirnya gw mengurungkan niat itu. Sebagai contoh, kemarin anak temen kantor gw sakit. Periksa ke klinik kantor yang merupakan PPK 1. Dikasih obat dengan dosis seadanya dan berakhir dengan seminggu ga sembuh juga. Akhirnya dirujuk ke PPK 2. Eh, pas ke PPK 2 katanya untuk layanan BPJS hari itu sudah tutup, dan harus balik lagi besok. Besoknya temen gw dateng lagi. Dapet sih, tapi setelah ngantri sekian lama. Bukan apa-apa, kasihan anaknya. Ada lagi temen kantor gw juga. Rumahnya di Jonggol, tapi PPK 1 nya di klinik kantor di Cielungsi (20km lebih). Doi sakit dan ke klinik kantor. Dari klinik dapet rujukan ke RS Umum Cileungsi, yang mana lokasi rumah sakit ini deket rumahnya dia. Akhirnya doi kudu puter balik lagi. Nyampe di RSU Cileungsi, doi disuruh balik lagi besok karena layanan hari itu udah penuh. Shit banget kan. Orang sakit gitu, malah dimainin. Ngeliat pengalaman itu, gw jadi males pake BPJS.

    Alternatif kedua adalah bayar sendiri. Tapi biaya perawatan gigi itu mahal sodara. Gw pernah periksa dan tambal gigi di klinik kantor. Sekali tambal itu bisa abis 200rb an belum termasuk jasa dokternya. Udah gitu, waktu itu gw disuruh rongten dulu, yang mana di klinik kantor ga ada dan harus dirujuk ke RS. Berapa biayanya? 320rb untuk rongten panoramic. Gw juga udah telpon-telpon ke klinik gigi di sekitar kosan gw di Depok dan jawabannya adalah minimal 300rb untuk tambalan satu gigi. Miskin dah gw. Mana asuransi prudential gw ga ngecover pengobatan gigi lagi. Sial. Dan akhirnya, tanpa lelah gw browsing-browsing dan nemu tempat yang layak gw coba yaitu Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) UI, Salemba.

    FYI, RSKGM ini adalah tempat prakteknya mahasiswa kedokteran gigi UI. Jadi otomatis, ga ada biaya dokter. Gw coba dateng pertama kali tiga minggu yang lalu. Daftar, bayar biaya administrasi (15.000), nunggu antrian diagnosa. Nah, yang ngediagnosa ini dokter beneran. Jadi ga perlu khawatir salah diagnosa dan tindakan. Oleh si dokter gw disuruh rongten panoramic dan details. 'Wah, mahal ni', gw pikir. Pas gw dapet struk pembayarannya, gw shock, karena biaya rongten panoramic cuman 60rb dan detailnya 15rb. Bandingkan dengan rongten gw di RS yang mencapai 320rb. Something banget. Dari diagnosis dokter, gw disuruh ke ruang perawatan. Disana sudah menunggu mahasiswa (gw harap sih mahasiswi :P) yang akan melakukan tindakan atas diagnosis dokter. Puji Tuhan, gw dapet mahasiswi. Gw ga berani liat mukanya, karena itu dilarang agama :p. Bukan mahrom. Tapi apa daya, ketika perawatan berlangsung ya gw akhirnya ngeliat mukanya dia juga, lama malah. Apa daya, posisi pemeriksaan membuatku seperti ini. Alhamdulillah. Gw mau nutup mata, taku dia nyangka gw cemen, ga kuat nahan sakit. Jadi ya, gw buka mata terus :p.

    Yang jadi masalah kalo berobat ke sini adalah LAMA. Untuk kasus gw aja, yang cuma mau nambal aja, memakan waktu sekitar 4 jam, dari jam 9 sampe jam 1. Beberapa hal yang bikin lama adalah :
satu :
semua gigi diperiksa dulu. Positifnya adalah kita jadi tahu kondisi keseluruhan gigi kita kayak apa. Tapi negatifnya, waktu yang dibutuhkan jadi tambah lama.
dua :
setiap si mahasiswa mau dan sudah melakukan tindakan, apapun itu, harus dicatet. Jadi, periksa satu gigi selesai, dicatet. Gigi dua selesai, dicatet. Gitu terus sampe semua gigi terperiksa. Bayangkan sodara, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa semua gigi.
tiga :
setiap mau melakukan tindakan, mahasiswa harus lapor ke dosennya dulu. Padahal seringnya dosen ga ada di tempat. Jadi si mahasiswa kudu bolak-balik sana-sini untuk nemuin dan konsultasi sama si dosen.

    Selain lama, si mahasiswa juga kadang ceroboh dan kurang sigap. Misalnya, untuk melakukan satu tindakan dibutuhkan alat dan bahan a, b, dan c. Si mahasiswa, biasanya ambil a nya dulu, taro di meja, terus pergi lagi, ambil b, dan gitu seterusnya. Cerobohnya, gw kemarin sempet kesemprot sama air yang untuk nyemprot gigi, lantaran si mahasiswa keburu mencet tombolnya padahal tu alat belum masuk mulut gw, dan tepat ada di depan muka gw. Mungkin si mahasiswa lelah.

    Tapi, selain daripada yang gw sebutin di atas, semuanya oke. Misalnya, dengan diperiksa gigi satu-satu kita jadi tahu kondisi gigi kita secara detail, mana-mana yang berpotensi bermasalah, dan mana-mana saja yang masih oke. Tindakan si mahasiswa buat ngecatet dan lapor sama dosennya juga memberikan waktu untuk analisa gejala menjadi lebih cermat dan ga asal. Lagian, si mahasiswa disitu kan praktek sekaligus belajar, jadi otomatis orientasinya 'tindakan yang benar', bukan 'uang', jadi gw yakin mereka melakukan yang terbaik. Dan sudah terkonfirm oleh dosennya, itu bikin tambah yakin lagi. Masalah biaya, RSKGM UI juara pisan. Gw sudah tiga kali kunjungan, dan masing-masing kunjungan ga pernah keluar sampe lebih dari 100rb. Terakhir buat tambal amalgam cuma abis 35rb. Untuk pelayanan, dengan mengecualikan faktor 'penanganan yang lama', semuanya oke. Si calon-calon dokter ini aktif dan berusaha dekat dengan pasien dengan terus ngajak ngobrol, nanya2 keluhan, sampe ngingetin jadwal kunjungan berikutnya. Well, dari segi apapun, RSKGM lebih baik dari klinik di kantor gw, dan buktinya gw merasa gigi gw jauh lebih baik dibanding dengan ketika gw perawatan di klinik kantor.

    Kesimpulannya, gw cukup puas periksa di RSKGM UI dan berharap gigi-gigi gw bisa kembali normal. Sekian.
   

Unplanned Trip - #go(w)esToWayKambas

    Ini semua gara-gara Jepun yang cancel rencana ke Bandung dan Pangandaran. Jadinya, hari rabu gw stres berat ngebayangin libur panjang (Kamis - Minggu) tanpa liburan. Ya, gw emang stres kalo liat tanggal merah tapi ga ngapa-ngapain dibanding liat tumpukan tugas kerja dan kuliah. Males juga kalo backpackeran ke Pangandaran sendirian. Selain berat di ongkos juga berat di hati. Males banget kan nyari-nyari angkutan umum di terminal sendirian. So, hari rebo sore, menjelang detik-detik pulang kantor tiba-tiba gw inget sepeda gw, Channel Jr. 'Asik juga kali ya kalo gw sepedaan aja. Secara terakhir kali sepedaan jauh adalah #go(w)esToBali akhir taun kemarin', pikir gw. So, jadilah gw buka Google Maps, nyari lokasi di sekitar Jakarta yang bisa kejangkau sepedaan selama empat hari.

    Lokasi pertama yang ada di pikiran gw adalah Bandung dan Pangandaran, yang kemudian gw coret karena gw lagi males sepedaan nanjak. Ke Semarang atau Yogya bukan opsi karena gw udah tiga kali sepedaan nyampe Semarang dan bosen. Dan akhirnya, ketika gw ngelihat Lampung, mata gw berbinar-binar. 'Bandar Lampung nih kayaknya', gw ukur-ukur jaraknya cukup. Beres? Belum. Karena setelah gw pikir-pikir lagi, ga ada apa-apaan di Bandar Lampung. Lalu gw googling-googling lagi dan ketemulah Way Kambas, Pusat Konservasi Gajah. Gw liat jaraknya dan ternyata masuk. Dan deal. Sore itu, sepulang kantor gw langsung beli perlengkapan jalan (ban dalem, pelumas, lampu, dll), malemnya bolos kuliah, dan tidur.

    Besoknya gw langsung tancap gas. Terpaksa absen sholat ied tahun ini biar ga telat nyampe Pelabuhan Merak. Menurut Google Maps jarak Depok - Merak sekitar 130km, dan menurut estimasi gw butuh waktu maksimal 8 jam perjalanan atau jam 2 siang gw udah nyampe sono. Nyatanya? Jam 5 sore gw baru nyampe Merak. Jalanan Depok - Merak bener-bener asem, terutama setelah masuk Kabupaten Tangerang - Serang. Lobang dimana-mana dan bau. Banyak pabrik, kering, panas, debu, dan kotor. Lengkap dah. Sampai di Merak gw langsung beli tiket masuk, tapi nyebrangnya nunggu besok pagi, karena gw ga mau nyampe Sumatra tengah malem. Ngeri. Akhirnya, untuk ngabisin waktu gw muter-muter pelabuhan, liat-liat fasilitasnya apa aja, iseng ngobrol sama petugas, sampe gw ngantuk dan tidur di teras masjid. Yang unik ni menurut gw, kalo biasanya di masjid-masjid di tempel tulisan 'Dilarang tidur di masjid', nah di masjid pelabuhan merak, ada tambahan satu kalimat lagi, jadi 'Dilarang tidur di masjid lebih dari 24 jam'. Dan tentu saja, sebagai pengelana gembel gw segera cari lokasi enak buat tidur. Lumayan kan hemat ongkos buat penginapan. Hihi.

(Malam di Pelabuhan Merak)

    Jam 2 dini hari gw bangun dan segera cus ke dermaga. Lucky, gw langsung dapet kapal tanpa harus nunggu lama. Unlucky, gw dapet kapal model lama yang ga ada ruang eksekutifnya. Ruang bisnisnya pun ga beda sama yang ekonomi. Cuma beda kipas sama ac doank, sementara desain tempatnya tetep sama. Dan berhubung ini malem udah dingin, gw memutuskan untuk tetep di ruang ekonomi. Percuma kan di ruang bisnis, wong udara udah bikin mriang gini.

    Sumatra masih gelap. Bukan lantaran ga ada listrik, tapi karena gw nyampe Bakauheni masih jam 4 pagi. Selesai menunaikan tugas pagi gw langsung cus untuk sepedaan di tanah sumatra untuk pertama kalinya dalam hidup gw. Dan Lampung bener-bener tahu gimana nyambut tamu baru kayak gw. Baru keluar pelabuhan langsung dikasih tanjakan. Gw yang masih ngantuk-ngantuk seketika langsung melek. Gw mikir, 'mati aja ni kalo sampe Way Kambas jalannya gini terus'. Tapi ternyata ini belum waktunya gw mati, karena ga lama kemudian jalannya jadi lempeng. Lempeng banget, sampe gw ngantuk lagi. Sampe pada akhirnya ada tiga ekor anjing yang ngegonggong dan ngejar-ngejar gw. Sampe gw kudu ngebut biar ga kekejar. Sampe napas gw abis. Sial. Tapi disitulah kemudian otak gw jalan dan bertanya-tanya. 'Ini kok banyak anjing ya? Kok di depan rumah-rumah penduduk ada mini pura ya? Ini kok ada pura beneran ya? Ini kok ada bunga-bunga buat sembahyang orang Hindu ya? Ini gw lagi di Bali atau di Lampung?'. Konklusi sementara gw adalah 'orang Lampung banyak yang Hindu'. Lalu kemudian gw gowes lagi sampe ke Ketapang, dan menemukan fakta bahwa orang-orang pada ngomong pake bahasa Jawa ga ketinggalan logat medoknya. Gw tambah bingung, 'ini gw ada dimana sih sebenernya? Lampung, Bali, apa Jawa'. Gw gowes lagi dan sampe di Labuhan Maringgai, mampir di warung buat isi perut dan lagi orang-orang pada ngomong pake bahasa jawa dan tentu saja.. medok. Kemudian ada seorang bapak-bapak yang seakan bisa ngebaca pikiran gw dan menjelaskan bahwa Lampung adalah salah satu daerah tujuan Transmigrasi di jamannya Pak Harto. Dan 70% warga Lampung adalah orang Jawa, sisanya warga asli Lampung, dan beberapa suku lain seperti Bali (transmigran juga).Gw cuma bisa 'ooo' dan baru yakin bahwa gw memang ada di Lampung.

    Sejujurnya gw sempet waswas ketika mau gowes ke Lampung. Secara banyak banget berita kriminal soal jalan-jalan di Lampung. Begal, rampok, sampe pembunuhan. Ga ketinggalan tiap gw istirahat dan ngobrol sama orang (yang kebetulan selalu orang Jawa) bilang bahwa 'hati-hati kalo di daerah sini sama sini, rawan'. Tapi nyatanya ketika gw sampe di daerah sini dan sini, nyatanya malah banyak anak-anak kecil yang nanya dan ngasih semangat 'Kemana Om? Ikut donk!', atau para pengendara motor yang papasan sambil ngasih 'jempolnya'. Tidak ada tanda-tanda kriminalitas dan semua berjalan baik-baik saja. Gw sampe di Way Kambas dengan selamat.


    Sampai di Way Kambas gw langsung nyari penginepan. Beruntung gw ketemu Mas Radi yang dengan baik hati nunjukin gw ke tempat homestay nya Pak Sabar. FYI, hampir semua warga di Way Kambas orang Jawa. Jadi pas gw ada disana rasanya malah bikin gw kangen suasana rumah. Sore harinya gw minta tolong Mas Radi buat lihat gajah di area konservasi dan jadilah kita kesana. Sepanjang perjalanan menuju pusat konservasi (yang jaraknya 10km dari gerbang masuk Taman Nasional), Mas Radi cerita tentang gajah-gajah liar yang sering merusak tanaman warga, tentang masih banyaknya hewan liar di hutan, dan bukan hal yang baru kalo tiba-tiba ada Macan, Rusa, Kijang, Monyet, atau Gajah ada di ladang. Gw sendiri cuma berhasil liat Kijang sama Monyet yang sliweran di jalan menuju Pusat Konservasi. Dan ketika sampe di Pusat Konservasi, kesan pertama gw adalah 'Ini tempat ga keurus'. Banyak bangunan yang udah rusak dan dibiarin aja. Sayang banget, padahal ini potensi wisata yang luar biasa. Ini juga pertama kalinya gw liat kerumunan gajah di satu lokasi. Rasanya kayak liat video di National Geographic. Haha. Menjelang malam, kita udah balik lagi, karena akan bahaya kalo ada di tengah hutan malem-malem. Gw ngikut aja.


    Malem harinya gw ngobrol sama anaknya yang punya homestay. Namanya Wahyu, baru lulus SMA. Dalam waktu singkat kami udah sohib banget lah. Lalu ada beberapa orang kampung yang ikut nimbrung dan ngobrol bareng. Asik lah. Dan ternyata gw cukup beruntung, karena malem itu kebetulan ada 'Latihan Reog'. Gw sempet bertanya-tanya, apa maksud dari 'Latihan Reog'. Dan ketika gw diajak ke TKP. Reog yang dimaksud adalah Reog. Ternyata transmigran disana kebanyakan dari Ponorogo dan sekitarnya. Dan mereka kesana ga cuma bawa badan, tapi juga kebudayaan. Yang gw amaze adalah, para pemuda disana. Mereka latihan dengan sangat antusias. Ga bakal gw temuin hal kayak gini di Jakarta. Bahkan di kampung gw aja ga ada yang kayak gini. Disini, anak-anak SMP-SMA pada latihan nari reog dengan serius, sementara yang udah senior dengan sabar ngelihatin dan sesekali ngebenerin yang salah, di lain sisi bapak-bapak dan ibu-ibunya ada yang nyiapin teh dan camilan, sementara beberapa sesepuh terlihat menikmati melihat cucu-cucunya pada latihan. Keren gw pikir. Betapa suasana kampung hidup dengan begitu cairnya. Dan ga cuman itu, Reog Ponorogo 'Way Kambas' udah cukup terkenal di Lampung dan mereka sering diundang untuk tampil di berbagai event. Meskipun dengan fasilitas yang serba terbatas. Peralatan tari udah banyak yang uzur dan mereka latihan di halaman rumah warga dan debu terbang kemana-mana setiap kali ada gerakan menghentak. Anda lihat potensi wisata? Tentu saja. Catat, ini potensi yang kedua ya.

   
    Setelah melihat anak-anak pada latihan, Mas Radi ngajakin untuk safari malam. What is that? Jalan-jalan malam di sekitaran kampung dan pinggiran hutan. Melihat-lihat hewan-hewan malam pada berkeliaran. Katanya sih gitu. Tapi nyatanya gw ga tau, karena gw udah terlanjur kecapean dan kudu tidur secepatnya. But, anyway gw melihat ini sebagai satu potensi wisata yang bisa dikembangkan, karena faktanya banyak wisatawan yang tertarik ikut safari malam. Potensi yang ketiga.

    Pagi-pagi, ga lama setelah bangun, bapak pemilik homestay, Pak Sabar ngajakin gw ke hutan lagi. Kali ini bukan gajah. Coba tebak apa? Kita kesana buat ngelihat badak sumatra. Menurut cerita Pak Sabar, badak disana cuman tinggal 30an ekor. Sepanjang perjalanan ke Pusat Konservasi Badak di daerah Way Kanan, 13 km dari gerbang Taman Nasional. Berbagai suara hewan di tengah hutan bikin gw ngeri. Takut kalo tiba-tiba ada gajah sama harimau lewat. Bermacam burung, kijang, monyet, sampai babi hutan tampak asik dengan sarapan mereka. Sayang sekali, pas nyampe pusat konservasi badak, badaknya udah ga ada. Udah dilepas ke tengah hutan. Telat bro!


    Sebelum pulang, gw juga sempet ngobrol sama Wahyu. Doi bilang pengen jadi atlet voli. Ya, Lampung emang terkenal dengan atlet volinya. Dan Way Kambas jadi salah satu lokasi pembibitan atlet voli. Si Wahyu juga pernah kerja di perusahaan entah apa namanya, perusahaan yang mengekspor buah segar ke luar negeri. Buah diambil dari perkebunan sendiri yang luasnya (katanya) sampe 2000 hektar. Luar biasa. Gw ngebayangin, kalo dari 2000 hektar itu diambil aja satu atau dua hektar buat lokasi agrowisata kayak di Mekarsari, pasti jadi sesuatu. Menurut gw ini bisa jadi potensi wisata yang keempat.

    So, sekarang bayangin ketika lo dateng sore hari, lo bisa lihat kawanan gajah main-main di konservasi gajah. Malemnya, ikut safari malam, dan selesai safari malam diakhiri dengan pertunjukan reog. Pasti keren. Apalagi besoknya, wisatawan bisa berkunjung ke perkebunan dan metik buah sendiri-sendiri. Keren.

    Well, karena keterbatasan hari libur, maka hari ketiga sekitar jam 10 pagi gw udah kudu balik. Jakarta masih 300km dari sini, sedang senin udah harus masuk kerja lagi. Perjalanan pulang menjadi lebih santai, karena gw udah apal jalannya. Plus berbagai memori yang gw dapet di Way Kambas bikin perjalanan jadi ga begitu melelahkan. Like found another family there yeah. See ya.

[Tugas Kuliah - Manajemen Pemasaran Berbasis Web] : Marketing Mix pada Matahari Department Store

    Matahari Dept Store (PT Matahari Departement Store, Tbk) adalah salah satu perusahaan ritel terkemuka di Indonesia yang menyediakan perlengkapan pakaian, aksesoris, produk-produk kecantikan dan rumah tangga dengan harga terjangkau , namun tetap berkualitas tinggi (www.matahari.co.id/about).  Gerai-gerai Matahari yang modern dan luas menyajikan pengalaman berbelanja dinamis dan inspiratif yang membuat konsumen datang kembali dan membantu menjadikan Matahari sebagai department store pilihan di kalangan kelas menengah Indonesia yang tumbuh pesat.

    Dalam usahanya, Matahari Dept Store menggunakan Marketing Mix untuk menarik konsumen. Apa itu Marketing Mix? Marketing Mix adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam memenuhi target pasarnya. Ada 7 kriteria dalam Marketing Mix yang bisa dijadikan acuan, yaitu :
1. Price
2. Product
3. Promotion
4. Place
5. People
6. Process
7. Physical Environment

Bagaimana Matahari Dept Store menerapkan tujuh poin dalam Marketing Mix tersebut? Berikut adalah ulasannya.

1. Price
Jika Anda membandingkan harga pakaian di gerai-gerai Matahari dengan gerai-gerai pakaian yang ada di mal-mal, maka Anda akan mendapatkan fakta bahwa harga-harga di Matahari relatif lebih murah. Harga yang murah menarik minat konsumen, terutama dari kalangan menengah untuk lebih memilih berbelanja di Matahari ketimbang di tempat lain. Selain itu, jika kita perhatikan hampir setiap hari Matahari selalu memberikan diskon untuk semua produknya. Meskipun pada kenyataannya harga produk sudah dinaikkan dulu sebelum dilabeli 'diskon', sehingga harga diskon sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga sebenarnya, namun tetap saja secara psikologis konsumen akan tertarik untuk membeli atau setidaknya melihat-lihat produk tersebut.


2. Product
Sebagai Departement Store terkemuka, tentu saja Matahari tidak akan menjual produk yang abal-abal. Matahari bekerja sama dengan pemasok terkemuka baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga kualitas produk tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, hampir semua jenis pakaian akan bisa Anda ditemukan di sini. Sehingga, konsumen bisa mendapatkan semua kebutuhannya hanya dengan berbelanja di satu tempat saja.
Tags : kualitas, brand,

3. Promotion
Meskipun sudah memiliki brand yang cukup kuat, Matahari masih terus melakukan promosi, baik secara offline maupun online. Kita masih bisa menemukan iklan Matahari Dept Store di TV, koran, baliho, dll. Matahari juga mengembangkan eNewsLetter dan eKatalogs yang bisa konsumen download di website Matahari ataupun melalui langganan email. Tidak hanya itu, saat ini Matahari juga mengembangkan eComerce di www.mataharimall.com, dimana Matahari bisa langsung melakukan penjualan sekaligus promosi online. Belum lagi melalui berbagai media social seperti Facebook dan Twitter.

4. Place
Seperti yang tercantum di websitenya, gerai Matahari menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Pemilihan lokasi pun selalu yang terbaik dengan hadir di tengah kota atau pusat perbelanjaan sehingga mudah diakses oleh konsumen. Tidak hanya itu, melalui www.mataharimall.com, konsumen yang lokasinya tidak terjangkau oleh gerai Matahari juga bisa berbelanja secara online.


5. People
Seperti yang bisa dilihat di gerai-gerai Dept Store, karyawan yang siap melayani konsumen jumlahnya sangat banyak. Hal ini memberikan kenyamanan kepada konsumen karena akan merasa dilayani secara lebih private dan cepat. Matahari Dept Store juga selalu memberikan training kepada karyawannya, sehingga tidak asal melayani konsumen, namun juga memberi kesan bersahabat dan nyaman.

6. Process
Area gerai yang luas memberikan kenyamanan kepada konsumen untuk berbelanja. Berbagai fasilitas yang disediakan, mulai dari toilet, kamar ganti, hingga tempat bermain anak juga menambah kenyamanan konsumen. Bagi konsumen online, disediakan pula NewsLetter dan eKatalog yang akan dikirim ke email konsumen masing-masing.

7. Physical Environment
Dan kriteria terakhir adalah lingkungan fisik. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Matahari Dept Store memiliki kondisi fisik yang megah. Area yang luas yang dilengkapi dengan pendingin ruangan, musik, rak-rak yang tertata rapi, hingga tempat parkir menjadikan konsumen merasa lebih nyaman saat berbelanja.

    Dengan menerapkan berbagai kriteria dalam Marketing Mix di atas, Matahari Department Store berhasil menggaet jutaan pelanggan dan menjadi perusahaan retail terkemuka di Indonesia.

Run For River, Run For Remember

    Hari minggu kemarin gw ikut race lari yang diadain Mapala UI, Run For River. Tahun ini adalah penyelenggaraan Run For River yang ketiga dengan tetap mengambil lokasi race di kawasan kampus UI. Kawasan yang sudah sangat familiar buat gw, karena tiap lari ya gw pasti ke UI. UI juga jadi basecamp nya komunitas lari gw (Derby) dan tuan rumah UI Runner. Sesekali juga jadi tempat kumpul beberapa komunitas lari kayak JAR, Burner (Cibubur Runner), dll. Jadi ya, udah khatam lah. Namun begitu, ini adalah pertama kali nya gw ikut ngramein Run For River. Kalo hidup di jamannya Malin Kundang, mungkin gw udah dikutuk jadi batu akik, karena durhaka pada tempat lari sendiri. Hihi.

    But anyway, Run For River juga membawa gw kembali ke masa dua tahun lalu, dimana gw pertama kali mulai lari. FYI, jadwal lari pertama kali gw gagal gara-gara Run For River. Gw lari pas hari-H Run For River pertama diadakan. Gw ga jadi lari karena mlongo liat para pelari yang lari dengan kencangnya. Yang kemudian bikin gw minder, balik kanan, pulang.

    Selain itu, Run For River kali ini juga spesial karena ini adalah pertama kalinya sejak beberapa bulan ini gw bisa kumpul rame-rame, ikutan race bareng anak-anak Derby. Ya, sejak bulan April kemarin gw udah jarang bahkan ga pernah ikutan Samrui (Saturday Morning Run UI) lagi. Jadwal kursus bahasa inggris yang kebetulan hari sabtu jadi alasan. Pun, sejak itu pula gw sudah sangat jarang sekali lari. Mungkin dalam empat bulan terakhir bisa diitung jari berapa kali gw lari, dan itupun ga pernah lebih dari 10 km. Dan kemudian, tiba-tiba kaki disuruh lari Half Marathon (21Km). Cukup super dan sukses bikin kaki gw cenat-cenut. Cukup surprise juga karena ternyata gw masih kuat lari sejauh itu, tanpa istirahat, tanpa minum. Ya, meskipun dengan speed keong, 2:24 jam. Km 1-12 gw 'baik-baik saja', km 12-16 gw masih 'baik', dan di sisa km terakhir tinggal 'saja'. Kaki gw udah pegel maksimal, pace gw turun, tapi entah kenapa gw ga mau berhenti, dan akhirnya tetep maksain lari dengan pace seadanya sampai garis finish. But, it's okai, karena dari pertama gw nginjek garis start tujuan gw memang bukan ngejar waktu, tapi mengembalikan kesenangan dalam berlari.
 
 
   Disini gw juga melihat bahwa temen-temen lari gw, yang dulu satu pace sama gw, udah berkembang sangat jauh, sedangkan gw masih aja jalan di tempat. Bagol, Andre, dulu itu kita satu pace, lari bareng-barengan, pacer-paceran. Tapi sekarang gw tertinggal jauh di belakang mereka. Bagol udah expert Full Marathon, sedangkan Andre ga jauh beda sama Bagol. Gw? HM aja perlu kerja ekstra keras kayak gini. Yah, apa daya, kaki tak bisa boong. Wkwkwk.

    Well, untuk ngejar mereka gw perlu latihan lebih keras, dan untuk latihan lebih keras gw perlu mulai lari. Dan untuk mulai lari gw perlu niat. Dan untuk menumbuhkan niat gw perlu perang badar melawan rasa malas. Fighting!!!   

Kak Sasa Ikut Kelas Intensif Taekwondo