::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

Buka Lapak di Pasar Saham

    Gw sekarang paham, kenapa seorang trader ataupun  investor di pasar saham itu bisa begitu cepet kaya, sekaligus bisa langsung bangkrut total. Gw sekarang juga paham makna dari 'resiko', apa itu high risk dan low risk. Terima kasih klinik Tongtong.

    Well, sebulan yang lalu gw akhirnya nyoba masuk ke pasar saham. Dari rasa penasaran dan tentu saja didorong oleh motivasi mainstream pada umumnya yaitu 'ekspektasi' bahwa bermain saham bisa cepet kaya, akhirnya gw sibuk browsing sana-sini, telpon dan email berbagai perusahaan sekuritas dan akhirnya memilih BNI Securities sebagai lapak gw bermain saham. Kenapa BNI Securities? Dua alasan, dan ini bukan bentuk promosi. Satu karena murah. Lo ga perlu uang berpuluh-puluh juta untuk mulai berinvestasi. Cukup sejuta doank lo udah bisa jual beli di pasar saham. Beberapa perusahaan yang gw telpon mensyaratkan setoran awalnya adalah rata-rata 10jt, sehingga jelas mana yang kiranya masuk di dompet gw. Alasan kedua adalah mudah. Ya, mudah karena gw ga perlu beranjak dari depan komputer untuk bisa regristrasi sebagai klien dari BNI Securities. Cukup isi form by inet, tunggu email konfirmasi, dan voila 'Selamat Anda telah terdaftar'. Semudah itu.

    Pembelian saham pertama gw adalah murni karena coba-coba, ga ada analisa fundamental, ga ada analisa teknikal. Murni karena gw ngelihat hari itu sahamnya naik dan gw beli. Hasilnya? Ga perlu waktu lama, cukup dua hari ketika akhirnya saham gw turun. Dalam sekejap gw kehilangan beberapa puluh ribu uang gw. Cukup sesuatu. But, pengalaman ini, bener-bener kehilangan duit dalam sekejap membuat gw memutuskan do something untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Dan baru setelah kejadian itu gw belajar tentang analisa fundamental (yang pada akhirnya sama sekali ga tertarik) dan analisa teknikal.

    Gw belajar dasar-dasar analisa teknikal, menentukan tren, membuat garis resistence, support, moving average, Cut Loss, dll. Hingga akhirnya gw merasa punya dasar untuk beli saham dan benar-benar merealisasikan apa yang gw pelajari. Dan bener aja, dua tiga hari berikutnya saham gw naik lumayan, sekitar 10-15%. Tapi setelah itu saham gw turun, bahkan terjun bebas. Salah satu saham gw turun lebih dari 30%. Nyesek. Menurut aturan, ketika saham gw udah turun segitu bebasnya gw harusnya udah jual itu saham, karena semua indikator menyarankan demikian. Tapi dasarnya nyubis, gw tetep hold itu saham dan viola, saham gw terperosok di dasar neraka. Sial.

    Gw perhatiin, apa yang salah dengan analisa yang ge lakukan. Gw bolak-balik lihat grafiknya, gw liat indikator, semua yang gw lakukan sudah sesuai petunjuk, tapi kenapa gw tetep beli saham yang anjlok? Gw browsing-browsing dan nemu artikel dari orang yang antipati dengan analisa teknikal dan percaya sepenuhnya dengan analisa fundamental. Menurut tu orang, semua analisa teknikal itu bullshit. Kenapa? Karena dasar data analisa teknikal adalah data saham kemarin-kemarin, artinya 'Bukan tren yang menentukan saham, tapi saham yang menentukan tren  tersebut'. Gw mikir, dan agaknya sedikit terpengaruh untuk setuju dengan pendapat orang tersebut. Selanjutnya artikel itu mengajak pembaca untuk menemukan sendiri jalan 'kapan harus beli, apa yang dibeli, dan kapan harus jual'. Menarik.

    Well, kembali ke pembukaan post gw ini, bahwa seorang yang bermain di pasar saham bisa kaya seketika dan bangkrut detik kemudian. Dari pengalaman gw, itu benar adanya. Let's see dari kasus gw. Ketika gw beli saham dan kemudian naik selama dua hari. Dengan modal cuman sejuta doank, dalam dua hari itu (seandainya gw jual) gw bisa dapat untung sekitar 100rb atau 10% dari modal gw. Tapi berhubung gw copo, maka saham itu gw hold dan dihari ketiga sahamnya jatuh dan gw rugi sekitar 200rb atau sekitar 20%. Untungnya, modal gw cuman sejuta. Gimana kalo gw nanem modal 100jt? Dalam dua hari gw bisa dapet 10jt atau setara dengan kerja+lembur selama sebulan. Tapi di hari ketiga gw bakal rugi 20jt atau setara dengan cicilan rumah selama 6 bulan. Gimana kalo gw investasi 1 milyar? Hemm. Ga heran kalo Warren Buffet langsung bisa nyalip kekayaannya Bill Gates.

    Anyway, gw belum nyerah. Gw masih terus belajar dan berharap bisa secepatnya menemukan 'my way' dalam jualan di lapak saham. Mumpung ada perusahaan sekuritas yang berbaik hati dengan mempermurah dan mempermudah untuk bisa masuk pasar saham. So, good luck for me. O ya, gw juga udah nanya ke temen yang lebih tahu agama daripada gw tentang transaksi di pasar saham. Dan temen gw jawab bahwa 'itu dibolehkan' dengan catatan perusahaan yang dibeli sahamnya berjalan di jalan yang benar. Karena ketika kita beli saham, otomatis kita jadi pemilik perusahaan. Kalo perusahaan yang sahamnya kita beli adalah perusahaan yang memproduksi miras, artinya sama aja kita punya perusahaan miras, artinya ketika kita beli saham itu perusahaan sama dengan kita beli tiket masuk neraka. But, secara transaksi semua oke, kecuali beberapa yang ga oke (misal pasar uang, forex, dsb). Bye.

Focus in your dream, set your eyes just on the goal

    Focus in your dream, set your eyes just on the goal. Itulah status Whatsapp yang gw pake mulai beberapa minggu ini. Bukan apa-apa, melainkan cuma untuk mengingatkan diri gw sendiri bahwa gw punya mimpi, gw punya goal yang harus gw capai dalam beberapa tahun kedepan. So, gw harus fokus dan ga boleh tergoda untuk nengok kanan-kiri yang akhirnya membuat gw jauh dari goal yang gw set. Just like a few month past. Gw ga mau menyia-nyiakan lebih banyak waktu, dan i think this is the right time to start.

    Well, seperti yang gw tulis di post Resolusi 2015 januari kemarin, salah satu goal yang ingin gw capai adalah nyelesein S3 sebelum 30 tahun, dan atau dapet scholarship untuk kuliah ke luar negeri, Jepang atau Korea. Tapi, meskipun gw udah ngeset goal sejak januari, pada kenyataannya gw bahkan belum bergerak sampai bulan mei. Penyebabnya ya cuma satu, gw kebanyakan nengok kiri-kanan. But, pada akhirnya gw sadar gw kudu fokus dan mulai mempersiapkan diri sebaik mungkin, secepat mungkin, sebelum 30 tahun keburu lewat. Time flies so fast, so i must run faster too.

    Actually, syarat utama untuk bisa dapet beasiswa ke luar negeri adalah score TOEFL/EILTS. Dan sadar kalo bahasa inggris gw kaco, terutama di bagian listening, makanya gw ambil kursus bahasa inggris di LBI UI. Minggu besok, gw tamat level 2 English Conversation, dan i think my english is better and more important is i have a confidence to speak in english. So, i think i am going to take next level. Dan lebih dari itu, gw juga ketemu temen-temen sekelas gw yang amazingly punya mimpi yang kurang lebih sama kayak gw, memburu scholarship, so it give an advantages for me, cause i'll have infos and friends to reach our dream together. Kelas EC juga jadi lebih menyenangkan karena temen-temen sekelas gw sangat menyenangkan. Kompor abis.

    Rencana gw adalah, selesai dari level 2 ini, gw bakal ambil TOEFL IPT sekedar untuk tahu seberapa jauh level gw. Kemudian ambil EC level 3, kemudian di bulan-bulan november ambil TOEFL IPT lagi, dan kalau udah oke, baru ambil TOEFL IBT. And then tahun 2016 gw udah bisa mulai hunting beasiswa. Biasanya beasiswa ke Korea dan Jepang dibuka bulan Maret/April untuk keberangkatan tahun berikutnya. So, it'll be great if i can get it. Semoga. Amin. But, if i can't get it, i still have Plan B.

    The Plan B is... i'll finished my master here.. Actually, sekarang gw juga udah ambil S2 di Gunadarma dan insyaAllah september besok udah selesai semester 1. Dan jika semua berjalan sesuai rencana, maka insyaAllah akhir 2016 S2 gw udah kelar. Itu artinya, kalo gw dapet beasiswa di Plan A, gw bisa langsung berangkat di pertengahan 2017, dan kalau gagal gw bakal ngemis beasiswa S3 ke Gundar, sembari tetep nyari beasiswa ke luar. Dan kalau pun itu gagal, gw masih punya Plan C.

    And the Plan C is... gw tetep bakal hunting scholarship ke luar, tapi melalui jalur yang berbeda. Dari info yang gw dapet, baik dari baca atau kabar dari temen, bahwa ada jalur yang lebih mudah untuk dapet beasiswa ke luar, yaitu dari jalur dosen. Ya, baik LPDP atau Kemendiknas atau DIKTI menyediakan beasiswa yang dikhususkan untuk dosen atau calon dosen. Dan menurut info yang gw dapet itu lebih mudah. But, something easy need more sacrifice right, begitupun jalur ini. Syaratnya ada dua: satu lo harus jadi dosen dan dua lo harus ngajar/ngabdi di universitas yang ngasih lo surat rekomendasi. So, for my backup of Plan A and Plan B, i've already registered to be a lecturer dan fortunetly gw lolos, meskipun agak-agak risky juga karena gw ga total jadi dosennya. Gw ga bisa ambil jam ngajar di weekdays karena gw kerja, sedangkan sabtu waktu gw abis buat kursus. Last semester, dengan sangat beruntung jam kursus dan jam ngajar ga berbarengan. But, i haven't knew yet the schedule for next semester. Sejujurnya, gw takut ga bisa ambil jam ngajar, dan lebih dari itu gw takut status dosen gw didepak. Wkwkwk. Gw juga sedang berusaha untuk ngedapetin NIDN (No Induk Dosen Nasional) untuk lebih mematengkan posisi gw. Another thing make my position as lecturer still too risky is because i still haven't finished my master. DIKTI mensyaratkan untuk jadi dosen tetap, lo harus udah S2 atau sedang jalan S2. Itu artinya gw tetep harus nyelesein S2 gw disini agar semua tetap jalan pada relnya. If, semua berjalan lancar, setelah lulus S2 gw bisa punya kesempatan untuk ngajuin beasiswa S3 dari jalur ini, dan kemudian setelah selesai, gw kudu balik ke kampus dan ngajar, jadi dosen di kampus ini. It's not so bad yeah, cause actually i like to be lecturer. Menurut gw dosen itu pekerjaan yang menyenangkan. Pertama, karena kita akan ketemu orang baru jadi ga bosen. Kedua, untuk ngajar kita harus tahu lebih dahulu materi dan selalu update info, n it'll be fun to know more and always uptodate. Ketiga, darah keluarga, karena bokap adalah guru. Keempat, satu dari tiga hal yang pahalanya tidak akan putus, ilmu yang bermanfaat. Dan kelima, masih banyak hal yang belum terungkap yang gw bisa dapet dan lakukan jika jadi dosen. So, actually the risks is not risk anymore.
    Well, rencana udah dibuat sedemikian rupa, dan sekarang tinggal gimana gw nya. Apakah bisa menjalankan rencana-rencana itu dengan sebaik-baiknya, atau tergoda untuk lihat kiri-kanan lagi seperti yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Semoga tidak. Semoga beruntung. Semoga Allah meridhoi. Amin. Fighting!!!

    Oya, satu lagi, kenapa gw getol banget dan ngebet banget pengen dapet beasiswa ke luar? Dua alasan sederhana, pertama karena gw miskin, ga punya duit buat kuliah ke luar dengan biaya sendiri. Dan kedua adalah gw pengen ngerasain bagaimana hidup dan belajar di luar negeri, di negara yang lebih maju dari Indonesia, dan belajar lebih banyak disana untuk kemudian dibawa pulang. That's all. Doakan gw ya guys...

Wisata Foto di Semarang : Berburu Foto di Negeri 'China'

Gunung Raung di Jawa Timur mengalami erupsi. Dampaknya ga cuman dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung tersebut, tapi juga gw. Ya, setelah merencanakan buat ke Banyuwangi pas libur lebaran kemarin, akhirnya gw harus meraung-raung karena plan terpaksa dicancel. Kita ga bisa masuk Banyuwangi demi keselamatan bersama. Pun, kalo misalnya boleh, nyokap gw ga bakal ngijinin. So, dengan berat hati gw harus menunda satu dari tiga rencana liburan gw tahun ini, Gunung Kidul (udah), Banyuwangi, dan Karimun Jawa. 

Well, pembatalan rencana liburan ini bener-bener bikin gw mati kutu. Liburan di rumah selama hampir seminggu tanpa melakukan hal apapun yang special sukses bikin gw stres. Ditambah stok film yang udah abis di hari ketiga setelah lebaran, dikali acara TV yang penuh dengan sinetron India dan Turki yang bikin gw mual-mual, dikuadratkan dengan ga ada sinyal internet di kampung, dan diintegralkan dengan adik gw yang ga mau diajakin jalan-jalan, bener-bener bikin otak gw ga lurus. Dan puncaknya di hari keempat setelah lebaran akhirnya gw memutuskan untuk keluar rumah dan pergi ke Semarang. Ga ada tujuan pasti, selain cuma mau menghirup udara kotor di luar rumah.

Sebelum gw berangkat, iseng gw SMS temen gw, Ilam, buat nemenin gw jalan bareng. Dan lucky, dia bisa. Lantas, kemana kita pergi? Awalnya gw mau ke daerah selatan Semarang, karena hampir setiap tempat di utara Semarang udah sering dikunjungi. Lawang sewu, Masjid Agung, Gereja Blenduk, dan Kota Lama udah ga kayak tempat wisata buat gw, saking seringnya kesitu. So, bermodal browsing sejenak, akhirnya kita memutuskan untuk ke Gedong Songo dilanjut ke Umbul Sidomukti.

Di luar dugaan gw, Gedong Songo jauhnya ampun.  Untung kita kesananya naik motor, berabe kalo ngandelin angkutan umum, karena dari jalan gede Semarang-Ungaran sampe lokasi, jaraknya masih lumayan bikin pantat pegel, selain angkutan umumnya juga sangat sangat terbatas. Di luar dugaan yang kedua adalah, rame banget. Dan di luar dugaan yang ketiga adalah gitu-gitu aja. FYI, Gedong Songo adalah kawasan candi yang berjumlah songo (baca: sembilan) yang letak satu candi dengan candi lainnya saling terpisah. Dan unfortunetly, misahnya ga tanggung-tanggung, yaitu antar bukit ke bukit lainnya. Jadi, satu bukit satu candi. Itu artinya kalo situ mau ngelihat semua candi, situ kudu menjelajah ke sembilan bukit yang berbeda. Cukup sesuatu. But, yang luar biasa adalah banyak banget pengunjung yang kalo dilihat dari wajahnya, sudah sedikit tua (baca: kakek-kakek, dan nenek-nenek), tapi masih semangat sekali jalan dari satu candi ke candi lain, dari satu bukit ke bukit lain. Salut. Sedangkan gw? Gw nyerah sampe candi yang keempat.


Dari Gedong Songo, gw dan Ilam lanjut ke Umbul Sidomukti yang letaknya ga begitu jauh. Dari hasil googling, Umbul Sidomukti adalah semacam kolam renang yang ada di atas bukit, dan dari kolam itu pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas bukit. Jadi rasanya kayak berenang di atas awan. Tapi yang perlu jadi catatan adalah, "jangan berekspektasi terlalu tinggi". Dari hasil googling, umbul sidomukti sangat 'wah' dengan pemandangan yang 'wow' dan setidaknya menurut perkiraan gw kolamnya cukup gede. But, ketika nyampe disana yang gw lihat adalah kolam renang yang panjangnya ga lebih dari 10 meter dengan air yang sangat keruh saking banyaknya pengunjung yang renang disitu. Gw cuman liat dari atas, ga tega nyentuh airnya apalagi nyemplung. Bukan apa-apa, gw curiga perbandingan air kolam sama keringat pengunjung, gedean keringat pengunjungnya. Yang amazing adalah, ketika gw hadapkan kamera gw ke arah kolam, pemandangan indah yang gw dapet dari hasil googling muncul lagi. Surga. Tapi pas gw turunin kamera gw, neraka muncul lagi. Ga nyampe 30 menit, gw dan Ilam memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ke Umbul Sidomukti.


Pas perjalanan pulang, kita ngelewatin Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal dengan Watugong. Apa aja yang ada disana? Hanya dua, yaitu Wihara dan Pagoda, sama beberapa patung, sama satpamnya. Tapi ketika masuk kesana, kita seakan-akan dibawa ke China. Bangunan wihara, pagoda, pendopo, dan segala sesuatu yang berbau Budha dan China ditampilkan disana, dalam kompleks yang begitu luas. Dan akhirnya, we get some awesome picture.



Dari Watugong, kita kemudian meluncur ke Klenteng Sam Po Kong. Mungkin udah bukan hal yang baru lagi ya. Sam Po Kong adalah tempat yang tepat untuk berfoto, kemudian memamerkan dan mengelabui temen-temen lo dengan bilang bahwa lo abis liburan dari China. Ya, ketika masuk Sam Po Kong, aura China nya kerasa  banget. Dan tentu saja, we got some picture too.  


Well, ketika keluar dari Sam Po Kong, jam sudah menujukkan pukul 16.40, dan itu artinya gw kudu segera mengakhiri perjalanan hari ini, karena kereta gw dari Semarang ke Purwodadi berangkat jam 17.10. Dari perjalanan singkat ini, gw dan Ilam punya satu kesimpulan. Kalau Solo terkenal dengan wisata budayanya, Gunung Kidul terkenal dengan wisata alamnya, maka Semarang harusnya memperkenalkan diri dengan wisata fotonya. Karena hampir semua tempat wisata di Semarang itu biasa-biasan aja tapi jadi luar biasa kalau ada di dalam bingkai kamera. Ga percaya? Datang aja ke Semarang dan buktikan sendiri kebenarannya! Kalian akan mendapati bahwa Lawang Sewu itu biasa-biasa aja, tapi ketika tertangkap kamera menjadi luar biasa. Kalian akan mendapati di internet bahwa Gereja Blenduk itu wow, padahal aslinya ya cuma gereja yang ukurannya ga lebih dari rumah kalian, dan isinya ya sama kayak gereja pada umumnya. Kalian akan mendapati bahwa foto-foto di depan pagoda dan wihara di watugong itu keren bingit, padahal aslinya ketika kalian datang kesana, ya cuman itu doank yang bisa kalian nikmatin,. Gw yakin, ga lebih dari 30 menit kalian udah bosen. Ya, seperti itu lah. But, kalian akan mendapatkan some awesome photos, yang bisa kalian pamerkan ke temen-temen kalian di media sosial, dan itu ga bisa kalian dapatkan di kota-kota lain. 

Horrible Ied

Hallo Hallo gays! Akhirnya kembali lagi ke hutan Jakarta setelah selama dua minggu menyepi di kampung tanpa sinyal inet. Sial. Well, banyak hal menarik selama lebaran kemarin, sampe gw bingung mau nulis yang mana dulu. But  first gw pengen ngucapin Happy Ied Mubarrak! Semoga tahun besok jadi tahun-tahun penuh berkah. Amien.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang paling diantisipasi oleh jomblo-jomblo akut kayak gw ketika mudik adalah pertanyaan "Kapan nikah?", entah dari keluarga, temen baik, sampe temen yang ga baikpun. Dan untuk mengantisipasi hal ini, sejujurnya gw udah nyiapin jawaban yaitu "Kita tunggu setelah lulus S2 ya!". Walopun belum tentu juga setelah lulus S2 gw bakal nikah, ato lebih parahnya belum tentu setelah lulus S2 ada yang mau ama gw, ato lebih parahnya lagi kalo gw ga lulus-lulus S2nya. Kaco.


Akan tetapi sodara, ternyata selama liburan Idul Fitri kemarin jawaban yang udah gw siapin itu sama sekali ga kepake. Keluarga besar gw, entah kenapa, ga ada yang melontarkan pertanyaan "Kapan nikah?". Satupun, tak ada. Mungkin mereka udah bosen dan paham akan kejombloan gw. Well, ga masalah. Justru itu mengurangi tekanan batin gw. 


Pun temen-temen gw mule dari yang paling gw kangenin sampe yang gw udah lupa namanya juga ga ada yang nanya. Di lebaran pertama, gw berkunjung ke rumah temen main gw dari kecil. Namanya Fibri. Kita udah temenan bahkan sebelum masuk TK. Kita ngobrol ngalor ngidul, tapi tak ada pertanyaan "Kapan nikah?" disana.  Awalnya gw berpikiran positif, bahwa temen gw ini sangat pengertian sama gw, doi ga pengen menyakiti perasaan gw di hari yang suci ini. Sampe Fibri ngeluarin secarik kertas dan nyerahin kertas itu ke gw sambil bilang, "Dateng ya!". Gw baca kertas itu dan yassalam, itu adalah Undangan Kawinan. Untuk sesaat gw freeze. Gw bingung harus bereaksi seperti apa. Well jujur, dari lubuk hati gw yang paling dalam, gw seneng. Sumpah. Tapi di permukaan hati  gw yang ga begitu dalam, itu lebih menyakitkan daripada pertanyaan "Kapan nikah?". Ini lebih bikin gw depresi. Undangan itu seperti bilang "Nih, gw aja udah mau nikah. Lah elo, pacar aja ga punya!". Ga cuman itu, si doi ini, Fibri ini juga bilang bahwa di hari yang sama dengan pernikahannya dia, temen kita yang lain, Bowo namanya juga nikah. Gw udah mule susah napas. Dan detik berikutnya dia bilang, si Dwi juga udah lamaran. Dan si Linda sama Dian malah udah nikah sebelum puasa. Ga lama gw pamitan pulang.


Di hari kedua, dengan depresi yang belum sembuh, gw main ke rumah sohib gw, Marta. Marta adalah satu dari tiga temen baik gw waktu SMP (sampe sekarang) yaitu Marta, Abid, dan Emi. Dan tiap tahun, apapun yang terjadi, kita selalu janjian untuk ketemu. Minimal setahun sekali, dan biasanya pas lebaran kayak gini. Seperti biasa, gw yang pertama kali datang ke rumah Marta. Dan dari buka gerbang gw udah langsung disuguhi dengan tampang cowoknya Marta. Sial. Ga lama, cowoknya pulang, dan kemudian Emi dan Abid datang. So many things to share, but tak ada kalimat "Kapan nikah?" disana. Sampe pada akhirnya, Abid nunjukin undangan nikahannya dia ke kita. Gw seneng, ya, beneran gw seneng. Tapi entah kenapa muka gw ga bisa diajak buat senyum. Setelah peristiwa itu, pertanyaan "Kapan nikah?" dua kali mengalir, satu untuk Emi yang dijawab dengan "Secepatnya" dan satu lagi untuk Marta yang dijawab dengan "Gw nunggu dilamar aja". Gw ga ditanya "Kapan nikah", cuman ditanya "Lo kapan?" (See? Bukan "kapan nikah?" ya, tapi "lo kapan?"). Dan gw cuman bisa jawab dengan diam, karena entah kenapa mood gw ilang. Ga lama gw pamitan pulang, karena udah malem.


Setelah itu gw ga main kemana-mana. Gw di rumah aja, nontonin stok film. Nah, lebaran keempat atau kelima, temen gw dateng ke rumah. Umri namanya. Pas gw liat Umri nya seneng, pas liat ada orang di belakangnya, gw pengen kabur dari rumah. Si Umri dateng dengan istrinya. Lo boleh percaya sama gw, seriously gw seneng bisa ketemu temen lama dan istrinya. Yang jadi masalah adalah timingnya yang ga pas. Gw belum bisa menghadapi tekanan batin yang gw terima sebelumnya, and now you come with your wife. Sesuatu. Untungnya, sepertinya nyokap gw tau kondisi gw dan mengambil banyak porsi ngobrol-ngobrol sama Umri, sementara gw cukup bilang "Ya", "Oh ya?", "Heem", dll.

Well, you know, sebelum pulang gw udah mantepin hati bahwa gw mungkin bakal nikah di usia 30an, setelah gw selesai dengan mimpi-mimpi gw, bahwa gw udah nyiapin jawaban untuk pertanyaan "Kapan nikah?", dan lain-lain. Tapi faktanya adalah ketika lingkungan begitu menekan gw seperti itu, mau ga mau gw terpengaruh. Dan untuk pertama kalinya selama liburan di rumah,  gw pengen cepet-cepet balik ke Jakarta biar gw bisa terhindar dari tekanan-tekanan ini, menghindar dari pengaruh-pengaruh ini, dan fokus lagi dengan rencana-rencana yang udah gw persiapkan. Somehow, mudik tetep mudik, lebaran tetep lebaran, semuanya tetep menyenangkan. But, in another side, there is a point that force me to say, this is "Terrible Ied".

Mudik : Bermalam di Tegal, Nahan Pup di Semarang

Setlah tahun kemarin gw mudik bareng keponakan (atau sepupu) gw, tahun ini gw kudu jomblo lagi. Ya, gw mudik sendiri lagi, tanpa teman kunanti #ngok. Pengalaman hunting tiket tahun lalu, yang gw bela-belain begadang tapi pas di hari H di jam H, gw malah ga bisa akses website KAI, dan berakhir dengan tiket ngeteng Jakarta-Purwakarta-Cirebon-Tegal-Semarang-Ngrombo, maka tahun ini gw males 'ngoyo' lagi. Gw ga begadang lagi, dan pasrah aja. Gw mau ngebuktiin kalimat 'rejeki anak soleh', kalo gw soleh ma pasti dapet tiket. Tapi ternyata gw overconvident, gw ga cukup soleh, dan ga dapet tiket Jakarta-Semarang. Akhirnya gw ngeteng lagi, beli tiket Jakarta-Tegal, transit di Tegal 4 jam, dan lanjut Tegal-Semarang. Masalahnya adalah kereta Jakarta-Semarang yang gw naikin bakal nyampe jam 23.30 dan kereta Tegal-Semarang berangkat lagi jam 3.27. So, gw harus nunggu selama 4 jam, di tengah malem, sendiri. Cukup sesuatu.


Well, gw naik kereta Eksekutif Tegal Bahari dengan harga 240.000. Station Gambir masih belum rame. Gw masih bisa selonjoran di tengah ruang tunggu. Jam 6.47 kereta berangkat. Well, pada awalnya gw udah berniat mau tidur di kereta biar bisa tahan melek waktu nunggu di Station Tegal. Tapi gw ga bisa tidor, lantaran ada anak-anak jahanam di belakang kursi gw yang berisik minta ampun. Gw mikir, 'ah, paling ntar jam 10 udah pada kecapekan dan tidur sendiri', tapi gw salah. Bahkan sampe kereta nyampe Tegal mereka masih Full Charged sedangkan gw udah jadi orang China, mata sipit, ngantuk berat. 


Tahun lalu, ketika gw transit di station Tegal, gw tiduran di bangku ruang tunggu sambil nyedekahin darah gw buat nyamuk-nyamuk yang udah kayak antri sembako di Indonesia, ricuh. Tapi, ketika gw turun dari kereta dan ngelihat station Tegal, harapan hidup gw naik. Station Tegal yang sekarang bukanlah yang dulu. Lebih bersih, lebih rapi dan tertata, dan ada beberapa cafe. Tapi semua itu tidak sebanding sewaktu gw ngeliat mushola nya. Kosong, lumayan luas, dan berAC. Gw bisa tidur bok. So, abis sholat isya, tarawih, lengkap dengan witir, tanpa ba bi bu gw langsung rebahan dan tidur. Bangun-bangun jam 3 pagi dan pas bangun gw kedinginan. AC nya dingin cui. Maklum di kosan gw ga ada AC. Jangankan AC, kipas aja ga ada. Agak ndeso, tapi apa mau dikata. Abis bangun, perut laper, langsung cus ke kafe beli makan sahur. Ayam goreng+strawberry tea, surga.


Tepat jam 3.27 kereta menuju Semarang dateng. Tawang Jaya, dengan harga 65.000. So, total tiket gw dari Jakarta - Semarang adalah 240rb + 65rb = 305rb. 15 rb lebih murah dari temen gw yang dapet kereta langsungan (ekonomi) Jakarta-Semarang. Wkwkwk. Kereta yang gw naikin kali ini emang cuma ekonomi sih, tapi it's oke, cuman dua jam ini. Yang jadi masalah adalah penumpang samping gw adalah seorang wanita berhijab yang cantik maksimal, dan gw rasa waktu dua jam itu kurang lama. Krik krik. Nyampe Semarang jam 5.53, tepat persis seperti yang tertera di tiket. Salut dah buat KAI, bener-bener ontime.



Sampe di station Poncol, Semarang, langsung keluar, dan nyari tiket ke Ngrombo. GW mikirnya kereta bakal jam 8 baru berangkat, jadi masih ada waktu buat pup. Sayang sekali mimpi gw buat pup di station poncol harus gw tunda, karena ternyata ada jadwal kereta jam 6.15, 5 menit lagi setelah gw dapet tiketnya. Buset, gw lari-lari, dan sesaat lupa dengan pup gw. Kereta yang gw naikin adalah Kedung Sepur, kereta yang baru beberapa bulan beroperasi, khusus rute Semarang-Ngrombo. Kesan pertama pas masuk keretanya, ajib, lumayan luas dan kosong. Ini setara dengan kelas bisnis gw rasa. Tapi kesan kedua ketika kereta mau jalan adalah, 'buset, kopaja banget'. Suara mesinnya bok udah kayak kopaja yang siap-siap mogok dimana aja. Dan bener aja, baru jalan satu station, kereta yang gw tumpangin ini bener-bener mogok. Ga tanggung-tanggung, kereta berhenti sampe sejam. Sementara itu perut gw udah mule ga normal pengen pup. Bosen nunggu, dan berharap bisa pup, gw keluar kereta dan nyari kamar mandi di station, tapi pas gw baru masuk kamar mandi, petugas kereta langsung nyuruh gw masuk kereta lagi, karena kereta udah bisa jalan. Buset dah. Untung gw belum dalam proses pup. Parah kalo udah.




Well, sejam kemudian kereta akhirnya nyampe juga di station Ngrombo. Station Ngrombo sedikit ada perubahan sejak terakhir kali gw kesini tahun kemarin. Sekarang ada ruang tunggu untuk pengantar dan penjemput yang ada di lantai dua. Jadi pas gw jalan keluar, gw udah bisa liat bokap gw di lantai dua sono sambil dada-dada. Heh, malu bok diliatin orang. Tapi, wait Dadi, gw masih punya hajat yang kudu diselesein dulu. Gw nyari kamar mandi dan menyelesaikan kisah yang tertunda.




Anyway, terlepas dari mogoknya kereta dari Semarang-Ngrombo, overall gw seneng bange liat bagaimana KAI berprogress menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Kereta yang nyaman, pelayanan yang oke, pembelian tiket yang gampang, station yang ajib, jadwal yang ontime, dan let's see sekarang bahkan gw bisa sampe station Ngrombo, station deket rumah tanpa harus ketemu jalan raya. Sebagai orang yang hidup berbarengan dengan KAI, gw merasa sangat puas. Dari naik kereta ekonomi yang panas, desek-desekan, dan bahkan kalo beruntung bisa adep-adepan sama ayam. Crowded banget lah. So, dengan perubahan besar ini, gw yakin terminal bakal sepi dua tiga tahun ke depan kalo ga ada perubahan yang signifikan. Bahkan bandara yang melayani penerbangan domestik khususnya Jawa juga harus hati-hati. Well, akhir kata, selamat bermudik ria, semoga mudik temen-temen aman, nyaman, dan menyenangkan. 

Reposting - Berhenti Salahkan Syaitan

Well, Ramadhan kali ini bener-bener berbeda dari tahun sebelumnya. Bukan hanya dari sisi gw, tapi juga dari sisi luar gw, lingkungan. Let's see. Coba deh liat TV, ini bulan Ramadhan, bulan suci, tapi berita kriminal ga pernah berhenti nongol di layar TV. Dari kasusnya Angeline sampe bocah yang kabur dari rumah karena disiksa ibu kandungnya (tangannya digergaji). Dari sinetron yang mempertontonkan zina-dina-hina sampe mempraktekannya dalam dunia nyata. Yang terbaru ni, LGBT. Dan ternyata banyak loh orang Indonesia, yang ngakunya muslim, publik figur lagi, tapi terang-terangan mendukung LGBT. Gendeng. Ini maksudnya apa coba. Sebagai seorang jomblo akut, isu LGBT bener-bener menurunkan pamor gw sekaligus penebar fitnah. 'Lo ga punya pacar, gay ya?'.Astaghfirullah dah. Amit-amit. Ini dunia emang udah bener-bener kacau. Kaco!!
So, dengan keadaan sekarang yang kayak gini, gw jadi inget postingan gw beberapa tahun yang lalu, "Berhenti Salahkan Syaitan". Dan nampaknya opini gw itu masih sangat relevan untuk dibaca ulang hari ini. Let's see.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

              Postingan ini g bermaksud apa-apa ya, kecuali pengen share ama ngajak temen-temen pembaca buat merenung sejenak.

        Bulan Ramadhan udah setengah jalan lebih kita lalui (Alhamdulillah yah #kedipSyahrini). Gue yakin banyak yang imannya makin tebel kayak coklatnya Gerry Salut Coklut (Iklan banget) n ibadahnya makin kenceng kayak iklannya motor Yamaha. Tapi ada juga yang biasa-biasa aja dan g bisa ngemanfaatin momen Ramadhan dengan sebakik-bakinya gue yakin. Kenapa gue bilang kayak gitu? Soalnya gue termasuk di dalam tipe yang kedua ini. G bisa manfaatin momen Ramadhan kali ini (setidaknya 18 hari ini) dengan sebaik-baiknya. Liat aja kebiasaan-kebiasaan yang g berubah,Abis subuh, bukannya baca Quran malah tidur lagi, Sholat sunnah g nambah, kecuali Tarawih. Itu juga dikebut. Pengen cepet-cepet nonton Putri Yang Ditukar-Tukar.Sementara yang wajibnya juga ditunda-tunda. Apalagi yang maghrib tu. Udah buka nya dilama-lamain, maghrib nya ditunda-tunda deh. Pake alesan kekenyangan kek, makanannya belum abis kek, nunggu Upin Ipin nya iklan dulu kek. Ada-ada aja.Baca Quran juga cuma abis sholat maghrib doank, itu juga sama males-malesan.Yah, gitu-gitu aja. Sama kayak di bulan-bulan lain. Dan beberapa maksiat yang yah, masih dilakuin juga. Mantengin cewek di jalan, ngegosip ria, ngobrol ngalor ngidul, liat berita tipi yang g penting yang malah bikin kita esmosi, suudzan dan mengumpat sana-sini sampe liatin iklan di TV yang artisnya bohai-bohai. Astaghfirullah. Terlalu (Itu dosa udah berapa galon yah?)


        Nah, dalam kegiatan gue yang biasa-biasa aja dan cenderung kurang dari sama dengan, gw jadi kepikiran gini : 'Kalo di luar Ramadhan pas kita lagi males sholat n nunda-nunda waktu sholat kita bilang 'godaan syaitan neh' '. Kalo lagi bedua-duaan sama pacar, pegang-pegangan, grepe-grepe kita juga bilang 'godaan syaitan ni'. Ato kalo lagi jalan-jalan ngeliat cewek cakep trus mata g bisa dikendaliin kita juga bilang 'godaan syaitan ni'. Dan berbagai kesalahan dan kemaksiatan lain, kita selalu bilang 'godaan syaitan nih' atau kalo kita ngasih pesen ato dikasih pesen seseorang selalu bilang 'ati-ati ama godaan syaitan'. Lalu pertanyaanya adalah, 'ITU SEMUA TADI MASIH KITA LAKUIN G DI BULAN RAMADHAN INI?'. Nunda-nunda waktu sholat, pegang-pegangan sama non mahrom, g bisa jaga pandangan dan lain-lain ITU MASIH KITA LAKUIN G?? Padahal gue pernah denger tu ada yang bilang kalo 'DI BULAN RAMADHAN ITU SYAITAN-SYAITAN DIBELENGGU'.


        Logikanya, kalo syaitan-syaitan dibelenggu, doi g bisa godain kita donk. Kalo pun bisa efeknya dikit doank donk. Kecuali kalo di bangsa syaitan ada Gayus yang bisa pergi ke Bali waktu dibelenggu (dipenjara), itu lain cerita. Itu juga yang bisa digodain brati juga cuma orang Bali doank dong, padahal hal kayak gini kan bisa terjadi di mana aja. Nah, kalo doi g bisa godain kita, otomatis kemaksiatan yang kita lakukan almost zero donk. Soalnya kan kalo kita ngelakuin kemaksiatan, kita selalu berdalih 'godaan syaitan nih'. Padahal, faktanya kita masih aja tuh ngelakuin perbuatan salah dan maksiat. Nah loh, gimana donk? Kita g bisa nyalahin syaitan lho di Bulan Ramadhan. Syaitan udah dibelenggu lho.


        Dari situ kemudian gue berpikir bahwa 'kalo di bulan Ramadhan yang syaitan dibelenggu aja kita masih berbuat maksiat, yang artinya perbuatan maksiat kita itu bukan akibat dari godaan syaitan, BISA JADI, sekali lagi, BISA JADI perbuatan maksiat yang kita lakuin sebelum-sebelumnya, di bulan-bulan selain bulan Ramadhan itu juga bukan karena godaan syaitan. Terus dari siapa? Ya dari diri kita sendiri. Akibat kita g bisa nahan nafsu. Akibat kita g bisa nahan iri, g bisa nahan sombong, g mau disalah-salahin yang ujungnya boong dan fitnah, g pake kacamata kuda, dan sebarek maksiat lainnya.


        So, gue jadi berpikir. Berhenti deh nyalahin syaitan. Karena maksiat yang kita perbuat itu, jangan-jangan itu salah kita sendiri. Karena kita g bisa ngendaliin nafsu kita sendiri. Belum lagi, misalnya kalo pagi-pagi pas kita mau buka jendela rumah, trus liat emak-emak cakep pake daster lewat. Mata kita g bisa dimeremin, melotot mulu, trus kita bilang 'godaan syaitan nih'. Padahal ternyata itu adalah nafsu kita yang g bisa dikekang, sementara syaitannya aja masih tidur, bukannya itu artinya kita juga memfitnah syaitan yah?? Syaitan yang g tau apa-apa, masih enak-enak bobo, mimpi indah, eh, tiba-tiba disalahin sama kalimat 'godaan syaitan nih'.


         Hahaha, sekian aja deh. Cuma mau share sih. CMIIW yah, Correct Me If I am Wrong, and CMIIW juga kalo bermanfaat, Cendol Me If I am Wow. Hohoho,

Apply and Interview

        Seorang teman SMP bertanya, atau tepatnya berkata, 'Lo harusnya udah pindah dari kerjaan lo. Lima tahun itu udah sangat lama. Kok lo betah sih?'. Pertanyaan ini mengusik gw. Pertama karena memang benar, sudah terlalu lama gw stay di satu perusahaan dan itu menjadikan gw minim pengalaman kerja. Dan yang kedua adalah karena yang berkata kayak gitu adalah temen yang gw respect dari dulu, Jacky. Sedikit overview tentang Jacky adalah dia salah satu temen gw yang antimainstream. Ketika dulu gw dan temen-temen pada sibuk belajar karena besok ujian, temen gw yang satu ini malah asik main game. Seakan ga peduli dengan sekolahnya. Tapi uniknya ketika ketemu dengan pelajaran atau topik yang dia suka, dia langsung jadi nomor satu, maju paling depan, dan bener-bener berbeda dari Jacky yang biasanya. Di jaman sekolah, ketika yang lain galau soal pacar (dia juga sih), dia udah punya bisnis sendiri. Dia punya Warnet dan Game Centre, dia buka toko komuter, dan ya, itu cukup membuat gw jadi fans nya dia. Doi bakal jadi pengusaha besar gw pikir. Tapi ternyata gw salah. Setelah jeda empat tahun ga ketemu, sekarang dia kerja di perusahaan. Ya, gw pikir itu aneh, karena yang ada di otak gw, 'Jacky bukan tipe orang yang mau bekerja untuk orang lain', tapi nyatanya dia melakukannya. But nevermind, gw yakin doi punya target yang jauh lebih besar dari itu, dan gw tinggal menyaksikan aja apa yang bakal dia lakuin.

Well, kembali ke masalah gw. Karena kritik (dan mungkin saran) dari si Jacky ini, akhirnya gw buka jobstreet. Ini adalah pertama kalinya gw buka jobstreet. Gw apply di beberapa perusahaan. Ini adalah pertama kalinya gw apply kerja ke perusahaan lain. Dipanggil untuk interview. Ini adalah pertama kalinya pengalaman gw interview kerja. Sebagian ditolak dan sebagian digantung dan sebagain lagi gw tolak karena ga sesuai dengan idealisnya gw. Dan ini juga pengalaman pertama gw.

Tercatat gw apply di Melawai, Tokopedia, MetroData, Megapolitan Developments, dan Bakr Interactive. Dari lima perusahaan itu, empat merespon untuk interview, sedangkan MetroData menjadi satu-satunya yang ga merespon lamaran gw. Meskipun begitu, gw ga dateng interview di Melawai karena gw melihat ada yang ga beres setelah gw browsin sana-sini. So, tinggal tiga yang tersisa: Tokopedia, Megapolitan, dan Bakr.

Well, interview Tokopedia menjadi pengalaman pertama gw interview. Tidak semenegangkan yang gw kira, tapi gw gagal. Ya, pada akhirnya gw ga diterima dan gw tahu persis kalimat mana yang membuat gw gagal. Anyway, background gw adalah programmer tapi gw apply untuk Database Administrator. Tujuan gw adalah pengen belajar dan trying something new. Dan disitulah salahnya. Dunia kerja bukan tempat untuk trying something new that you don't understand about it. Oke, itu mungkin bakal menunjukkan bahwa lo orang yang dinamis, lo ingin terus berkembang with trying something new, but perusahaan butuh orang yang bisa menghandle pekerjaan dengan benar, bukan coba-coba. Gw gagal.

Pelajaran gagal di Tokopedia gw bawa di interview kedua dengan Megapolitan Developments. Gw lolos interview satu dan dua, tapi mandek di interview ketiga. Mandeknya ini bukan karena skill gw ga memenuhi syarat atau apa, tapi lebih karena tekanan batin. Megapolitan menawarkan pekerjaan yang sangat menantang yaitu untuk bikin project tentang 'Forecasting' for other company in US , how to predict future value of saham, emas, minyak, dll. Sangat menarik karena gw ditawari untuk belajar tentang SQL, Big Data, Hadoop, analisa bisnis, dan segala macem. But, i can't stand in the work time. Karena gw harus bekerja dengan orang-orang di US sono by video chat, etc, dan jam kerjanya menyesuaikan jam kerja mereka. Di interview ketiga gw sengaja ga menunjukkan minat yang berlebih dan juga ga langsung berkata i can't do it, karena sesungguhnya gw sendiri ga yakin apakah gw oke dengan pekerjaan ini atau ga. Karena gw yakin, meskipun kecil, ini akan merusak plan yang sedang gw jalani sekarang, S3 sebelum 30, hunting scholarship, etc. I'm still waiting.

Interview ketiga di Badr tidak terlalu mengesankan. Gw udah paham teknik-teknik interview dan ketika gw tanya tentang jam kerja, dan mereka strict tentang itu, gw langsung ambil keputusan, gw ga bakal lanjut. And then, gw ga menjual diri gw secara berlebihan, pun juga ga secara eksplisit menunjukkan kalo gw ga tertarik. Let Badr yang memutuskan.

Well, dari lika-liku apply and interview ini gw bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama, bener kata temen gw bahwa gw terlalu lama stay di satu perusahaan dan itu membuat gw seperti katak dalam baskom. Taunya ya hanya itu-itu aja. Kedua, gw tahu bahwa perusahaan gw sekarang adalah yang terbaik (sampai saat ini) yang bisa menunjang semua plan gw ke depan. Ketiga, gw tambah benci dengan lingkungan Jakarta. Keempat, gw bukan orang IT yang kompeten. Terlalu banyak hal yang gw lewatin dan terlalu banyak hal yang gw ga bisa di dunia IT. Kelima, so, kesimpulan akhirnya adalah, gw tetep galau, 'apakah gw bakal stay di dunia IT yang gw ga begitu in di dalamnya, atau doing something else tapi ga tau apa itu'.  Hemmm.

Fakih si Pemberani