Hari-hari ini gw sangat kagum dengan perkembangan impressive Fakih, anak gw yang cowok. Btw, umurnya baru 3.5 tahun.
Beberapa bulan ini, beliau yang dipetuan agung Bapak Fakih mengalami perkembangan yang menurut gw luar biasa.
Hari-hari ini gw sangat kagum dengan perkembangan impressive Fakih, anak gw yang cowok. Btw, umurnya baru 3.5 tahun.
Beberapa bulan ini, beliau yang dipetuan agung Bapak Fakih mengalami perkembangan yang menurut gw luar biasa.
Suatu hari, gw tersentuh pas liat konten di Instagram tentang "kesepian seorang ayah". Tulisan berikut adalah intisari konten tersebut yang udah gw custom.
Seorang ayah adalah orang paling kesepian di dunia.
Dia adalah orang yang punya banyak masalah, tapi menutupinya dengan tawa.
Di tempat kerja, di lingkungan, bahkan di rumahnya.
Di tempat kerja, mungkin saja ia dimaki-maki atasannya.
Tapi ia harus bertahan karena ia butuh menafkahi keluarganya.
Di lingkungan mungkin saja ia bertengkar dengan tetangganya.
Tapi itu dilakukan karena mungkin sedang membela martabat keluarga.
Pun di rumah kadang bertengkar dengan istri dan anak-anaknya.
Tapi pun begitu, ia tetap harus menjadi yang pertama berdamai karena ia adalah kepala keluarga.
Seorang anak ketika punya masalah, ia akan datang ke ayahnya.
Ayah pasti akan membereskan semuanya.
Seorang istri ketika punya masalah, ia akan datang ke suaminya.
Suaminya yang akan mengelap air matanya.
Tapi seorang ayah, ketika punya masalah.
Dia tak punya seorang pun untuk berkeluh kesah.
Tak ada lagi teman, karena teman-temannya sudah tak terjamah.
Tak ada lagi orang tua, karena orangtuanya sudah menua, tak pantas baginya berkeluh kesah.
Bahkan sebagian sudah menghadap sang Illah.
Pun tak mungkin ayah cerita ke istri dan anak-anaknya.
Karena seorang ayah tak boleh terlihat lemah.
Sesekali lihatlah,
Jika di rumah ada ayam untuk makan malam, lihatlah, apa yang ia makan dan sisakan.
Jika kalian ke mall dan makan di restauran, perhatikan, apa yang ayah pesan.
Jika kalian bisa terus sekolah, peganglah, sepatu dan jaket sang ayah.
Seorang ayah rela memberikan dunianya untuk anak dan istrinya.
Karena sejatinya kebahagiannya adalah pada tawa mereka.
Tapi coba pikirkan bagaimana perasaan sang ayah,
Ketika ia tiba di rumah,
Istri menyambut dengan raut muka yang tak ramah,
Sementara anak-anaknya sibuk dengan TV dan gadgetnya,
Lantas,
Mungkin saja saat itu Ayah menghela nafas,
Merasa tak pantas,
Dan berkata, "Aku hanya harus bekerja lebih keras".
Kesepian sang Ayah, tak pernah tuntas,
Dan semakin hari semakin tanpa batas,
Bahwa siklus hidup seseorang biasanya akan berulang, gw percaya. Mungkin Tuhan sengaja mengulang karena waktu itu kita belum lulus ujian. Jadi pengulangan ini semacam remidial agar mendapat nilai yang lebih bagus.
Persis apa yang telah dan sedang terjadi sama gw hari ini. Gw dari zaman SMP kelas 1 suka banget puisi. Bagi gw waktu itu puisi itu sesimpel curhat aja. Bercerita jujur tentang apa yang kita rasakan. Puisi bagi gw waktu itu bisa lebih mewakili suasana hati yang kadang hiperbolic, yang kalo disampaikan lewat cerita narasi kurang dapet feelnya. Puisi bisa.
Menginjak SMA, gw masih suka berpuisi, tapi gayanya totally berubah. Waktu SMA ketika diksi-diksi gw udah mulai banyak, puisi itu ga hanya bercerita, tapi juga tentang keindahan. Oleh karenanya penggunaan majas, rima, dan lain-lain itu ada banget. Tapi puisi gw mulai kehilangan maknanya.
Puncaknya adalah ketika kuliah, puisi gw semakin teknis. Penuh dengan perumpamaan, diksi-diksi aneh, dan tentu saja rima. Tapi gw ngerasa, puisi ini ga jujur. Hanya ngejar teknis aja. Oleh karenanya, waktu kuliah, gw pindah lagi nulis narasi. Nulis di blog. Karena waktu itu gw udah ga mungkin lagi cerita pake puisi. Puisi gw waktu itu ga lebih dari penulisan penuh teknik yang indah. Tapi tak bermakna.
Lama kemudian gw ga nulis puisi lagi. Pun kemudian dibarengi ga nulis blog pula. So, everything hanya muter-muter di kepala aja, tapi ga bisa keluar. Seperti yg gw ceritain di post sebelumnya.
Tapi seakan roda berputar, hari ini gw kembali harus berhadapan dengan puisi, atau mungkin lirik, mungkin. Gw lagi seneng-senengnya dengerin lagu-lagunya Panji Sakti. Kemudian menyusul Raim Laode, Sal Priadi, dan sebagainya. Yang, menurut gw, secara lirik itu keren sekali. Dan ketika dibawain lewat lagu, ya tambah keren. Walaupun kalo didengar dengan seksama, nada-nadanya mirip-mirip. Tapi d point is lyric. Gw terpukau dengan lirik-liriknya yang terlihat sederhana, tapi tidak sederhana. Terlihat biasa, tapi indah. Dan satu lagi yang penting, ketika gw baca atau denger background story nya, itu sempurna.
Gw aja sampe bingung, kok bisa gw nangis denger lagu anak-anaknya Panji Sakti yang "Agar-agar". Gw putar lagi, dan gw nangis lagi. Gw nyanyiin sendiri, sampe gw ga bisa nyanyi lagi. Gini liriknya kira-kira.
Ketika gw nyanyiin lirik pertama dari lagu ini aja gw udah terharu. Inget Ibu di rumah. Inget waktu-waktu kecil Ibu masakin ini-itu (ga harus agar-agar), inget masa-masa ketika dunia kita adalah orang tua. Dan gw kebayang, apakah nanti anak-anak gw, ketika udah gedhe, merasakan apa yg gw rasain hari ini. Kerinduan kepada orang tua, atau malah mereka ga mau inget ke gw, karena gw ga bearti di mata mereka".
Kalimat-kalimat ini Hanya memperjelas lirik pertama.
Disini gw terharu lagi, kadang nangis juga. Bahwa cita-cita seorang anak itu sederhana. Ingin sepandai, sehabat, sekeren ibunya atau ayahnya. Kalau dibalikin ke gw, "ya gw pengen sekeren bapak ku". Di mataku hari ini, bapaku yang sebulan lagi pensiun itu keren sekali. Pengorbanan, kesabaran, ketabahan, keikhlasannya luar biasa. Gw pribadi ingin seperti beliau. Lantas sekarang pertanyaannya, ketika hari ini gw udah jadi orang tua, apakah anak-anak ku juga bercita-cita "jika sepandai Ibu/Ayah?". I don't know. Yang jelas itu adalah kalimat yang bagi gw penuh makna.
Di lirik ini gw kebayang, bahwa setelah anak selesai dengan orang tuanya, merasa sudah "sepandai Ibu", maka orang-orang yang bakal dia undang adalah "kawan-kawannya". Bukan orang tuanya lagi. Artinya, nanti setelah anak-anak sudah merasa "selesai dengan orang tua sebagai dunianya", ketika anak udah mulai remaja, anak akan punya dunianya sendiri, yaitu dunia dengan teman-temannya. Dan saat itu terjadi, gw, kita, sebagai orang tua harus siap merelakan anak kita pergi dengan dunianya. Bahkan mungkin di kasus terburuknya, harus rela untuk dilupakan. Karena saat itu datang kita udah ga bisa relate lagi dengan anak-anak kita.
Well, mungkin gw lebay memaknai lagu ini. Atau terlalu overthinking. Tapi itu yang gw rasain setiap kali gw nanyiin lagu ini sembari naik motor pergi/pulang kerja. Dan udah mau sebulan ini gw belum bosen. Dan sesekali masih terhenti untuk sekedar menyeka air mata.
Dari lirik lagu agar-agar ini gw belajar bahwa puisi, lirik, narasi seharusnya tidak sekedar diksi, rima, makna, cerita, atau latar belakang cerita. Tapi lebih dari itu adalah rasa. Rasa adalah ketika kita mendengar, membaca dan kemudian saat itu juga kita terbawa dan terlibat dalam theather of mind yg terbentuk. Sama seperti gw baca "Ibuku pandai membuat agar-agar", saat itu juga langsung terbentuk Theather of Mind, di dalam rumah, saat kita masih kecil, kita bercengkerama dengan Ibu untuk dibuatkan agar-agar. Gambarannya jelas dan rasa rindu itu datang seketika. That's a perfect story.
Rasanya aneh, ketika udah lama ga nulis, terus sekarang harus nulis lagi. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ga nulis panjang di blog atau di catatan itu rasanya aneh. Tapi lebih aneh lagi, ketika gw yang dulunya sering nulis, menumpahkan segala keluh kesah bahkan cerita sampah dalam tulisan, terus akhirnya sekarang ga nulis. Itu aneh. Perasaan itu aneh. Sama rasanya ketika dulu gw suka olahraga, almost everyday, terus akhirnya sekarang hanya olahraga seminggu sekali atau bahkan ga sama sekali, itu juga aneh. Perasaannya sama. Gw ga sedang menyalahkan keadaan ya, karena keadaan, kondisi, dan situasi sekarang emang menuntut demikian. Yang gw bicarakan disini adalah perasaan. Perasaan aneh yang gw rasain.
Sejujurnya gw hari nulis, ketrigger sama Donee di Podcastnya Raditya Dika. Donee, yang seorang penulis lagu bilang, "Ketika gw sedang down, gw inget, gw bisa nulis. Maka, gw nulis!". Ketika Donee ngomong begitu, kok gw merasa relate ya. Seenggaknya dulu. Dulu, ketika gw sekolah, kepala gw tiap hari penuh. Ya mikirin pelajaran sekolah, organisasi, kegiatan di luar sekolah, sampai hal remeh kayak gimana caranya nyelesain GTA Pokemon. Tapi waktu itu gw punya buku catatan yang disitu gw bisa "nulis". Gw bukan introvert yang ga punya teman, bukan. Temen gw banyak, tapi ada satu titik dimana gw "ga enak, ga mau nambahin beban pikiran orang". Atau gw udah cerita, tapi temen-temen ga bisa nangkep maksud gw. Satu-satunya jalan adalah nulis. Karena dengan nulis isi otak gw keluar, tidak ada yang terbebani, dan tulisan pasti ngerti apa yang gw utarakan.
Puncaknya pas gw mulai kuliah S1. Saking penuhnya otak gw, gw sampe sering berhalusinasi, didatengin sosok hitam kayak "malaikat pencabut nyawa yang di film-film". Temen gw, Ariza sering jadi tempat gw curhat soal ini. Dan, sekali lagi, menulis ngebantu gw. Gw waktu itu lagi suka-sukanya baca bukunya Raditya Dika, mulai dari Kambing Jantan, Cintra Brontosaurus, dll. Apa yang gw dapet setelah baca buku itu ? Kemampuan menulis dengan gaya lain, gaya yang lebih ringan dan santai. Itu ngebantu gw banget. Silahkan dicek tulisan-tulisan gw di tahun 2011-2015 an. Dan akitfitas menulis ini, tetep gw rutinin sampai awal-awal nikah.
Setelah itu Instagram datang. To be honest gw agak candu sama Instagram. Ga yang candu banget, tapi gw berfikir bahwa Instagram is enough untuk ngegantiin tempat gw berekspresi. Karena di Instagram pun kita bisa nulis caption yang cukup panjang. Tapi setelah berjalan sampai hari ini, gw ngerasa ada yang aneh. Otak gw penuh lagi. Instagram ga kayak nulis di blog atau di catetan. Instagram bukan tempat "menulis". So akhirnya gw kayak balik pas gw sekolah dulu aja. Otak penuh, tapi ga ada yang bisa keluar.
Ketika gw nulis ini, bisa aja istri gw baca. So, gw juga udah nyiapin statement ini.
Dua minggu kemarin akhirnya Kak Sasa bisa naik sepeda roda dua. Gw sebagai orang tua hepi banget. Secara Kak Sasa udah kepengen bisa naik sepeda roda dua udah dari hampir 6 bulan lalu. Tapi baru bisa kemarin ini.
Beberapa bulan yang lalu Kak Sasa udah minta ke gw untuk belajar naik sepeda roda 2. Gw sanggupin, karena emang udah cukup lama Sasa pake roda 3. Gw kira udah waktunya dia belajar. Akhirnya bermodal dengan referensi sejarah gimana dulu gw dulu belajar sepeda, itupula yang gw terapin ke Sasa.
Cara pertama adalah dengan megangin sepedanya dari belakang dan Sasa suruh fokus ngegowes aja. Nanti kalau mau jatuh gw yang pegangin. Hasilnya ? Gw yang ngos-ngosan, dan begitu pegangan gw lepas, Sasa jatuh. Sasa ga dapet keseimbangannya. Gagal.
Cara kedua adalah dengan nyuruh Sasa belajar keseimbangan dulu, dengan kedua kakinya ke tanah dulu, dan ngedorong sendiri sepedanya sambil jalan. Ga ada ngegowes. Hasilnya ? Begitu kakinya naik ga lama sepeda jatuh juga. Dan Sasanya kecapean karena kakinya harus ngedorong sepeda terus.
Selama beberapa minggu kita belajar dan masih belum ada hasil yang berarti. Akhirnya Kak Sasa nyerah, merasa frustasi karena ga bisa-bisa. Dan minta roda tambahannya dipasang lagi.
Hampir 6 bulan setelah terakhir belajar, akhirnya kemarin Kak Sasa minta belajar lagi. Kebetulan lagi libur panjang juga.
Awalnya gw masih pake dua cara lama itu. Tapi ternyata ga berhasil juga. Dan akhirnya setelah gw capek sendiri, gw inget sesuatu. Dulu Sasa bisa baca, bukan karena gw ajarin langsung bisa. Tapi karena gw ajarin teorinya (caranya), dan dia coba sendiri, dan bisa. Dulu pas gw ajarin Sasa nulis, gw ajarin teorinya, gw kasih tugas, pas gw pulang kerja, bisa sendiri. Pas mewarnai gradasi juga gitu. Bukan paham pas gw ada disitu, tapi gw kasih contoh, dia coba sendiri, dan tiba-tiba bisa.
Akhirnya, cara itu gw pake. Gw cuman kasih tahu gini :
1. Kaki kanan naik ke pedal, gowes, begitu sepeda jalan, kaki kiri langsung naik, dan gowes pelan-pelan. Lihat ke depan. Fokus.
2. Kalau mau jatuh, kedua kaki turunin.
3. Kalau mau berhenti, kedua kaki turunin.
4. Kalau terlanjut jatuh, berdiri lagi, ambil nafas dalam, setelah ga deg-deg an, mulai lagi.
Dan ajaib, ga berapa lama Sasa ngecoba sendiri, langsung BISA. Sehari itu kita belajar, Sasa udah bisa sepedaan lurus di jalan depan rumah dari ujung ke ujung. Besoknya, dia udah berani muter-muter cluster. Termasuk udah jago belok, ngelewatin polisi tidur, bahkan adu balap sama temen-temen nya.
Dan begitupun dengan Fakih, adiknya. Kebetulan pas kita belajar, Fakih ikutan mulu. Berbarengan dengan itu pula, Fakih udah bisa gowes sepeda roda tiganya sendiri. Padahal biasanya ngegerakin pedal aja susah dia. Dan Fakih lebih ekstrim. Begitu bisa, dipegangin aja ga mau dia. Bahkan gw ga boleh jalan di belakangnya. Gw harus jalan di depan dia. Biar ga ada alasan gw megangin/ngebantu dorong sepedanya.
Well, kesimpulan dari post ini adalah. Setiap anak punya caranya sendiri. Satu cara tidak bisa diduplikasi begitu aja untuk setiap orang. Untuk itu, kita sebagai orang tua, harusnya lebih wise, kalau di sekolah nanti anak kita ga sementereng anak lain, karena bisa jadi cara belajarnya yang ga cocok. Berkaca pada keluarga kecil gw aja. Gw sendiri kalo belajar sesuatu harus baca, ga bisa pakai suara/gambar. Sementara istri gw orangnya audio banget. Dikasih buku/text guide mana dilihat. Sasa orangnya teoritis and planner, dan gampang menyerah. Sementara adiknya kalau belajar harus ngumpet. Ga mau orang lain lihat.
Intinya, we have our own method.
Karena kerjaan kantor yang lagi ribet, ga kerasa 2024 udah jalan sebulan aja. Dan udah mau Imlek aja. Gong xi, Gong xi!! Well, ritual awal tahun gw, warisan dari Pak Pracih, akan tetap dan selalu (inshaAllah) gw jalanin, yaitu "Set The Goals for 2024". Lets go!
Meskipun ini jauh dan jujur aja gw ga tahu gimana harus mencapai target ini, tapi ga ada salahnya gw tulis. Toh sama kayak tahun lalu gw tulis pengen mobil, dan voila, berhasil. So, ga ada salahnya gw coba lagi. Sebenarnya, selain target tahunan, gw juga ada target jangka panjang yang gw tulis di buku (literally buku). Dan target jangka panjang gw untuk lunas KPR adalah sebelum gw umur 35 tahun (2036). But sekali lagi, gw mau coba tulis disini, siapa tahu jadi doa, dan Allah kasih free pass. So, target pertama gw di tahun 2024 adalah KPR Rumah Lunas.
Well, itu adalah 13 target gw tahun ini. Ada yang kayaknya bisa tercapai, karena plan nya jelas. Tapi ada juga yang bahkan kita ga tahu itu mungkin atau engga. But, who knows kan. Gw percaya, alam itu penuh penuh keajaiban. Ya kali 1 keajaiban ga mampir di gw. Hehe.
Say goodbye to 2023 and welcome 2024. Ada beberapa hal besar yang terjadi tahun ini, seperti : Serdos cair untuk pertama kalinya, Sasa mulai sekolah, istriku mau coba jadi super mom : ngurus dua anak balita sendiri, nganter sekolah, ngajar, dll, Fakih mulai pakai celana dan lagi belajar pup di closet, cukup banyak jurnal yang terbit, dan alhamdulillah bisa nerbitin buku untuk pertama kalinya. Meskipun tetep aja ada target yang tidak terpenuhi. So, let's make it clear to the detail.
1. Menstabilkan Keuangan dan Coba untuk punya mobil
Seriously and honestly, gw cukup kaget ketika gw baca lagi target gw di awal tahun 2023 bahwa gw nulis "pengen punya mobil". And, amazingly, di akhir tahun 2023, tanpa dinyana tanpa diduga, mobil beneran parkir di garasi rumah gw. Wow. But well, in detail di bidang keuangan ini banyak juga yang belum tercapai. Salah satunya karena gw ada renovasi teras dan pagar rumah yang dimana ini diluar plan gw, kita sekeluarga sering sakit dan harus berobat, yang mana itu "mahal", beli sepeda listrik untuk istri anter Sasa ke sekolah, dan lain-lain lah.
a. Punya tabungan sekolah untuk Sasa : 20jt => SUCCED
b. Punya tabungan sekolah untuk fakih : 10jt => SUCCED
c. Punya dana darurat : 50jt => FAILED
d. Punya dana KPR mengendap : 50jt => FAILED
e. Punya dana investasi : 50jt => FAILED
f. Punya tabungan lain-lain : 30jt => FAILED
Well, kalau dihitung secara detail, hanya dua item yang tercapai yaitu tabungan sekolah anak-anak. Yang lainnya zonk. But, tetap harus disyukuri, karena di tahun 2023 ini kami sekeluarga tidak kekurangan.
Status : Half Succed
2. Nambah sedekah di 1 panti lagi
Mungkin target ini belum tercapai di tahun ini karena dua hal, yaitu dana yang belum stabil dan oleh karena itu belum berani nambah lagi. Sebenarnya secara dana ada, walaupun ga besar, tapi karena bingung mau nambah kemana lagi, akhirnya daripada ribet dan takut ketunda, akhirnya dimasukin aja ke kotak masjid.
Status : Half Succed
3. Naik jabatan ke Lektor
Setelah di akhir tahun 2022 kemarin gw lolos serdos, maka emang target selanjutnya adalah naik jabfung ke lektor. Dan alhamdulillah, berbekal plan yang cukup matang, termasuk nyiapin segala materi yang berkaitan dengan pengajuan jabfung, bulan Juni gw diminta BAU untuk melengkapi formulir pengajuan dan bulan september 2023 kemarin gw berhasil ganti status dari Asisten Ahli ke Lektor (200). Thanks God. Lumayan gaji naik 200rb. For me, ini bukan semata karena "uang" nya sih, tapi lebih kayak we make it to the next level gitu loh.
Status : Succed
4. Nerbitin 2 jurnal, 1 buku, ikut 5 seminar/webinar
Tahun 2023 ini bisa dibilang gw dan istri cukup produktif di bidang publikasi. Untuk publikasi penelitian, tahun 2023 ini kami sudah nerbitin 4 jurnal, 2 jurnal Sinta 3 dan 2 jurnal Sinta 4.
Selain itu, kami juga nerbitin 1 buku yang berjudul "Pengantar Teknologi Web", yang temen-temen bisa cek di link berikut : link buku. Ini adalah pengalaman pertama kami nerbitin buku.
Selain itu juga, di tahun 2023 ini kami berupaya untuk ngadain kegiatan Abdimas sendiri. Dan alhamdulillah dari Abdimas itu terbit pula 1 jurnal pengabdian masyarakat.
Untuk seminar/webinar, it's easily achieved lah. Asal mau luangin waktu aja.
Well, produktifitas seperti ini yang gw rasa akan sangat sulit dicapai di tahun-tahun berikutnya. Well done.
Status : Succed
5. Memulai proyek @pakcondro
Tahun 2023 ini, gw memutuskan untuk proyek @pakcondro akan gw fokuskan di konten Instagram dan blog aja. Gw udah nyerah untuk bikin konten di Youtube. Karena ngabisin waktu banget. Take videonya, editnya, uploadnya. Dan dampaknya, kalo gw liat juga ga signifikan.
Sedangkan untuk instagram, gw mulai agak sering upload konten, meskipun dampaknya sama ga signifikan juga sih. But, instagram jauh lebih fleksibel pengerjaannya dibandingkan Youtube. Di IG, gw bisa bikin konten di sela-sela istirahat kantor, atau bengong nungguin beli pecel lele, atau simply foto + kasih caption dikit langsung upload, jadi.
Untuk blog pakcondro.blogspot.com, Hiatus. Gw masih males banget buat nulis. Blog masih idup thanks to materi kuliah yang masih bisa gw taro disana.
Status : Half Succed
6. Menguasai ReactNative dan WebServices
Failed lah. Gw di tahun 2023 ga banyak ngulik teknologi. Repot sama migrasi yang banyak banget. Migrasi dari PHP 5 ke PHP 8, migrasi dari CI 2 ke CI 4, migrasi dari SQL Server 2005/2008 ke 2019, migrasi dari BDE ke ADO. Semuanya udah nyita banyak waktu banget. Belum lagi banyak drama-drama di kantor, yang bikin sadar juga akhirnya bahwa kerja itu ga cuman kerja. Intinya gagal lah.
Status : Failed
7. Hafal Juz 29 dan 30, khatam baca Al Quran
Target ini gagal. Bahkan juz 30 aja gw belum hafal. But well, gw masih bersyukur sih karena target ini gw cantolin ke Sasa. Karena mau ga mau gw harus ngafal juga bareng Sasa. Gw agak surprise juga, ternyata di awal tahun 2023 Sasa baru sampai An Naziat. Jadi selama tahun 2023 ini udah nambah lumayan banyak : Abasa, At Takwir, Al Infithor, Al Muthoffifin, dan sekarang lagi jalan Al Insyiqoq. Untuk surat pendeknya, kalau awal tahun baru sampai Al Asr, sekarang udah mulai Al 'Ala (Iqro). Wow. Keren Kak Sasa. Walaupun bagi Ayah, Ayah tetep Failed mencapai target.
Status : Failed
8. Persiapan S3
Mimpi gw untuk tetap bisa lanjut S3 masih membara, meskipun dengan berbagai macam pertimbangan, akhinya di tahun 2023 ini no action taken lah. Paling mentok cuman nyari info beasiswa dan biaya kuliah. But, to take it seriously, semoga di tahun depan deh.
Status : Failed
9. Bisa beliin Handphone baru buat istri
Akhirnya sampai habis tahun 2023, HP istri masih belum ganti. Gw udah ga ada dana, istri katanya tabungan masih sayang kalau mau dibeliin handphone. Walaupun sebenarnya kalau istri mau minta juga udah layak banget. Orang HP xiomi nya udah mule lemot dan tombol powernya udah ga nyala. Tapi ya apa daya lah, gw cuman bisa minta maaf dan minta sabar.
Status : Failed
10. Sepedaan ke Kantor lagi
Gw tahun ini ga bisa sepedaan sama sekali. Sepeda gw rusak dan gw belum sempet benerin selama setahun ini. Bayangin tuh. Untuk olahraga secara umum, gw masih rutin badminton, nambah pingpong kadang-kadang, dan kadang-kadang pula treadmil.
Status : Failed
Well, seperti biasanya, target-target di tahun 2023 inipun ada yang tercapai ada yang tidak. Dan seperti yang selalu gw bilang tiap tahun juga, yang paling penting bukan achieved or not, tapi kita punya target, kita punya mimpi, dan kita punya willing and passion to achieved dat. Thanks God for 2023. Hope we'll be better person in 2024.
Note :
Kolom ini selalu gw dedikasikan untuk Pak Pracih yang udah ngajarin 'menulis mimpi' dulu waktu SMK. My best wishes untuk beliau.