::: tunjukilah kami jalan yg lurus [QS 1:6] :::

Obrolan santai dengan istri : Apa itu Kesuksesan ?

Kemarin pagi, tiba-tiba istri nanya gini "Mas, ada ga temen mas yang udah sukses?". Pertanyaan sederhana yang pada akhirnya ngebuat gw mikir bahkan sampe sekarang. 

Saat itu, begitu pertanyaan itu keluar, yang ada di otaku adalah "Memangnya apa itu sukses? Kriterianya apa ?" Harap maklum ya, karena terlalu sering baca jurnal penelitian, segala sesuatu harus selalu dimulai dari definisi. Tapi aku urungkan pertanyaan balik itu dan menjawab dengan contoh. Karena aku sendiri pun ga yakin dengan definisi dan kriteria sukses itu apa.

"Temen SMP ku, namanya Prima. SMA di SMA unggulan, kuliah kedokteran di UNS, lanjut spesialis di UI, dan sekarang jadi Dokter Spesialis di Cipto"
Menurut kamu itu sukses ga ? Dan istriku menjawab "Iya, sukses".

"Temen SMP ku, namanya Nitya. SMA di SMA unggulan, kuliah di Undip, dapet beasiswa ke luar negeri. Sekarang udah doktor dan jadi pejabat di Undip".
Menurut kamu itu sukses ga? Dan istriku menjawab, "Sukses, tapi ada kemungkinan dulu mas juga bisa".

"Temen SMP ku, namanya Subhan. SMA di SMA unggulan, walaupun dari dulu sering dianggap remeh orang karena ga sepinter itu. Tapi selalu masuk kelas unggulan. Bapaknya kepala polisi dan Ibunya punya toko bangunan yang gedhe banget. Orang kaya. Kuliah kedokteran di kampus swasta. Dan sekarang jadi dokter spesialis kandungan".
Menurut kamu itu sukses ga? Dan istriku menjawab, "Kurang, karena dia orang kaya".

"Satu lagi, temen SMP ku. Waktu SMP pinter, rangking, aktif organisasi. Waktu SMA juga sama. Tapi kebetulan orang tuanya biasa aja. Ga jauh beda sama aku. Akhirnya kuliah di tempat yang bisa langsung kerja. Kuliah di Pendidikan. Sekarang jadi guru SMA."

Menurut kamu itu sukses ga? Istriku tidak menjawab.

"Satu lagi. Aku. Dari kecil, dari SMP aku sudah memantapkan cita-citaku untuk jadi Dosen. Waktu SMK, tak tambahin ingin jadi Programmer dan Dosen. Hari ini aku jadi keduanya. Walaupun secara ekonomi, biasa aja. Kalah jauh dibanding temen-temenku"
Menurut kamu itu sukses ga? Istriku tidak menjawab.

Lalu, sebenernya apa sih sukses itu? Apakah kalau kita kaya, punya banyak mobil, itu sukses? Apakah ketika kita punya usaha, usahanya lancar itu sukses? Atau gimana ? 

Kalau menurutku pribadi, sukses adalah ketika kita punya target atau cita-cita (atau kalau di komputer bahasanya Goals/Output), kita berusaha ke arah sana, dan tercapai. Itulah sukses. Jadi kalau ditanya, apakah aku sukses? 100% aku jawab, aku sukses. Karena dari awal cita-citaku adalah jadi programmer dan dosen. Dan disinilah aku sekarang. Kalau hari ini misalnya, secara ekonomi, orang-orang melihat aku biasa aja atau tidak "sesukses" temen-temenku, maka yang perlu dikoreksi adalah "cita-cita" nya.

Apakah orang yang jadi Menteri bahkan Presiden itu sukses? Menurutku, Pak Prabowo sukses. Karena dari awal cita-citanya jadi Presiden. Dalam prosesnya 3 kali gagal  dan 1 kali berhasil. Tapi sukses. Apakah ketika menjadi menteri, itu artinya Bu Susi sukses? Belum tentu. Karena bisa jadi, menjadi menteri itu bukan goalsnya. Itu cerita lain aja.

Dan berakhirlah diskusi kami itu.

Tapi masalahnya, sampai hari ini, pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di otaku. Dari pertanyaan paling dasar, "Apa itu sukses? Apa kriterianya? Apakah orang yang berhasil meraih targetnya, secara kebetulan, itu juga sukses? Bagaimana meraih kesuksesan? Apakah kesuksesan itu hanya kebetulan saja? Apakah kita sekolah, jadi rangking 1 di kelas, itu menjamin kesuksesan kita? Apakah perlu kita rangking di kelas? Apakah cara kita mengajari anak banyak hal, akan membantu dia sukses? Atau sebaliknya, malah akan menjauhkannya dari sukses?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang masih belum berhenti di kepalaku. Maka, lain kali kita bahas lagi.

Set Target For 2025 !!!

Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Mari kita awali tahun 2025 ini dengan penuh semangat hidup! Merdeka!

Well, meskipun di awal tahun ini agak-agak melehoi, tapi kita tetap harus semangat. Ada beberapa hal yang bikin gw berpikir ulang tentang hidup dan kehidupan ini. Tapi semuanya bermuara pada satu hal : usia. Tahun 2024 kemarin aku ditampar fakta bahwa Koko dan Yayi sudah sepuh, 80 tan 75 tahun. Bapak tahun ini udah pensiun. Ibu, ubannya udah mulai banyak. Tetangga depan rumah sudah berpulang. Anak-anaknya temen kantor udah pada kuliah. Dan anak-anak gw sekarang udah mulai sekolah. Semuanya bermuara pada : usia.

Tapi well, ini adalah post tentang Goals dan Target untuk tahun 2025. So, jangan menye-menye. Harus tetap dan selalu SEMANGAT ! 

1. KPR Rumah Lunas
Gw masih belum bosen nulis goals ini, karena sejatinya gw udah nulis di target besar gw bahwa KPR Rumah Lunas sebelum usia gw 35 tahun. Alasannya apa gw netapin umur 35? Ga ada. Wkwkw. Ya asal tulis aja. Dan kita lihat aja, bagaimana semesta meresponnya. Jadi meskipun waktunya ga banyak lagi, gw masih tetap akan nulis ini sebagai target tahunan gw di 2025 ini.

2. Tabungan Sekolah Anak Aman
Tahun ini Sasa udah masuk SD. Fakih, entah tahun ini atau tahun depan masuk TK. Semuanta butuh biaya dan sudah sepatutnya gw nabung untuk menjamin biaya bukan kendala.  Sebenarnya gw udah mulai buka Tabungan Berencana dari tahun lalu. Cukup lah kalau sekedar untuk biaya masuk, SPP, dan lain-lain selama setahun. Tapi kan sekolahnya ga cuman setahun ya. Jadi, tahun 2025 ini seengaknya gw harus punya uang 50jt deh untuk garansi uang pendidikan. Kalaupun ga sampe lulus, tapi masih ada spare untuk nabung lagi nanti.

3. Ngebikin Pojok Baca (lagi)
Berhasil bikin Pojok Baca tahun kemarin tuh bikin gw something loh, seriously. Kayak ada perasaan lega karena itu impian gw dari lama. Tapi selain itu juga karena gw seneng ama dunia pendidikan, ya ini bentuk paling minimal gw di dunia pendidikan. Gw yakin banget, buku dan baca itu masih akan sangat relevan sampe kapanpun. Even ada internet, gadget, digitalisasi, dan sebagainya. Buku itu magic man. So, tahun 2025 ini, gw punya rencana untuk bikin 1 Pojok Baca lagi.

5. One Month One Book
Ini program baru gw. Gw pengen ngebiasain diri lagi untuk baca. Semester ini, di kampus, gw ngadain program "Wajib Baca" untuk mahasiswa sebelum perkualiahan dimulai. Meskipun kayaknya ga semuanya antusias, tapi ngeliat mereka baca itu fun. Gw sih ga berharap mereka lanjut baca setelah semester ini selesai ya, tapi paling ga anak-anak itu kenal buku dan baca. Dan ketrigger karena hal itu, i found my happiness there, tahun ini gw berencana untuk bisa rutin baca  lagi. Sebagai permulaan, gw kira 1 bulan 1 buku masih OK lah ya.

6. Nerbitin Jurnal, Buku, dan Ikut Seminar
Target gw masih sama kayak biasanya, yaitu :

a. Nerbitin 2 jurnal di bidang Informatika
b. Nerbitin 1 buku di bidang Informatika
c. Ikut 5 seminar/webinar/workshop dalam setahun

Dan ditambah, gw pengen Nerbitin Buku di Google Play Book atau Amazon atau apapun lah. Buku apa aja boleh. Kayak sekarang misal, gw lagi nyari-nyari info untuk bikin buku anak.

7. Persiapan Lektor 300
Tahun 2024 kemarin, surprisingly gw lolos inpassing Lektor 200 (Golongan 3C). Dan logicnya, wajarnya, untuk set target berikutnya ke Lektor 300, masih butuh waktu. But, untuk persiapan kayaknya udah bisa dimulai dari sekarang. Target gw di akhir tahun 2025 udah siap pengajuan dan 2026 bisa beneran pengajuan jenjang akademik. Plus, gw mau nemenin istri untuk lolos Lektor 300 juga,karena dia sebenarnya yang lebih siap naik.

8. Persiapan S3
This is the time. Lebih tepatnya udah deadlinenya. Karena umur 35 tahun adalah batas akhir apply beasiswa S3. Melihat sikon di kantor yang sedang kurang baik, so, tahun 2024 kemarin gw bener-bener wait and see aja. Semoga aja tahun 2025 ini kondisi membaik dan gw bisa cari celah untuk gimana caranya bisa kuliah S3. Setelah eksplor sana-sini, kayaknya udah saatnya say good bye to beasiswa reguler (LPDP, BPI, dll), karena kayaknya ga mungkin bareng dengan gw kerja. Satu-satunya jalan beasiswa yang belum gw coba adalah ngajuin ke kampus sendiri. Pun kalau itu pun gagal jalan terakhir adalah mandiri. Tapi itu butuh uang besar. I don't know. Let's keep the flow aja.

9. Maintanence Medsos @pakcondro
Gw setahun ini udah diejek-ejek, ditowel-towel sama temen kantor, "nanya mulu, ga dipraktekin". Tahun ini insaAllah. Masalahnya adalah konsistennya itu lho. Konsisten butuh manajemen waktu yang lebih fix. Dan itu masalahnya. Gw setahun ini masih kesulitan manage waktu yang terbatas ini. Tahun ini fokus ke IG untuk keseharian dan blog pakcondro buat nulis (biar ga gila kebanyakan ide). Tiktok? Still don't know.

10. Menguasai Skill Baru : Project Management dan AI
Di usia gw yang sekarang, rasanya kalo masih ngasah skill teknis, udah ga pas deh. Bukan karena apa-apa, cuman otak dan speednya udah ga ngejar. Tau sendiri seberapa cepatnya skill IT berubah. Serius ga ngejar. Makanya gw mau coba belajar skill Project Management, karena jarang berubahnya. Tapi ga boleh acuh juga dengan perkembangan teknologi baru, makanya mau coba juga  belajar-belajar teknologi AI. Siapa tahu ada gunanya.

11. Sepedaan ke Kantor Lagi, bareng Channel Jr
Tahun 2024 kemarin adalah momen. Karena akhirnya gw bisa sepedaan lagi ke kantor. Tapi masih ada yang kurang, karena gw hanya bisa sepedaan bareng Marija. Tahun ini gw pengen  bisa sepedaan bareng Channel Jr. It was simply karena Channel Jr adalah teman pertama gw, dia juga yang udah nemenin jalan sampe Bali dan Lampung, dan entah berapa kali muter kota, ujan-ujanan, dll. Makanya, sekarang agak sedih karena Channel Jr lagi sakit, dan gw belum bisa bawa berobat. InsaAllah tahun ini bro, kita jalan lagi !

12. Ngajak Istri Treking
Akhir tahun kemarin, abis istri ulang tahun, gw ajak doi treking ke Sentul. Ini adalah jalan ke alam pertama kami berdua sejak bulan madu ke Dieng. So, meskipun agak effort, karena harus beliin tas, sepatu, dll, harus jalan pagi-pagi buta, harus nitip anak, tetep gw jalanin. Dan, meskipun capek, meskipun ga nyampe puncak, kita happy. So, gw berpikir kayaknya tahun 2025 ini kita harus jalan lagi. Either sama istri doank, atau ngajak anak-anak juga.

13. Hafal Juz 29 dan 30
Tahun kemarin gw skip target ini karena ngerasa "Niat ga sih lo, nargetin tiap tahun, tapi ga ada effort". Tahun ini beda. Tahun ini gw mau coba ngapalin lagi. Beneran, suwer! Malu gw sama Sasa. Dia aja juz 30 udah apal. Masak gw ga? Target gw sih simple, ngafal bareng Sasa aja. Sasa sampe mana, gw juga harus ikut.

14. Bikin Schedule dan Punya Log Book
Di 2024 ini, sumpah gw kacau banget. Awal tahun gw masih rapi, punya schedule, punya catetan. Tapi lama-lama males, dan akhirnya kacau. Dan ini juga karena gw nontonin podcastnya Raditya Dika, dan juga mantengin obrolan para komika. Mereka tiap hari nulis lho. Ga nulis materi deh, tapi ya sekedar nulis, "What happen today?". So, setelah gw pikir-pikir, apa perlu gw gabung komunitas Stand Up Comedy? Tapi kayaknya belum sekarang deh. Sekarang cukup niru bikin Log Booknya aja. Nulis activity/memori/anything yang terjadi hari ini, selama setahun. Berat!!!


Itu adalah 14 target gw tahun ini. So, tugas awal tahun gw udah selesai, tinggal nunggu alam bekerja. Yuhuhuuuuu.

Note :
Gw masih akan say thanks to Pak Pracih. Karena budaya menulis goals/target ini adalah ilmu dari beliau. Semoga Pak Pracih senantiasa sehat dan bahagia. Amin.


Thanks Good For 2024 (Target Review of 2024)

Tahun 2024, entah kenapa  gw ngerasa capek, phisicly. Maybe, karena gw udah TUA. Taun ini udah masuk 35 tahun bro. So, I feel dat everything  is tiring. Wkwkwk. But, it's oke. Karena di balik itu semua ada banyak hal yang patut dijadikan memori di tahun ini. Adiku, Bendol, tahun ini mulai kuliah S2 di UI. Tahun ini gw bisa mudik bawa mobil for the first. Tahun ini Sasa Wisuda Hafaidz. Tahun ini Fakih mulai bisa berhitung. Tahun ini istriku mau diajak treking. Dan lain-lain, dan lain-lain. But, for d target, here are :

1. KPR Rumah Lunas
Tahun 2024 ini belum juga. BUT,  I see a hope. Hope yang sama sekali tak terduga, tak terdeteksi, sedikitpun. Not for 2024, but maybe, bisa jadi for the next year. Amin. Kalo ini beneran terjadi, gw jadi semakin yakin, kenapa takdir kita ditulis, ga cuman diomongin. Karena tulisan itu magic bro. Kita tunggu tahun depan ya. Yang jelas, belum sekarang.

2. Tabungan Sekolah Anak Aman
To have 100 juta per anak masih berat juga. Tapi paling ga, untuk amanin masuk SD dan SPP setahun untuk Sasa, udah. Untuk TK Fakih, insaAllah juga udah. Khusus untuk Fakih kita bahkan udah ngebuka Tabungan Berencana, biar bisa nabung lagi. Puji Tuhan, uang serdos sangat membantu. So, meskipun belum tercapai, tahun ini tetap patut disyukuri lah.

3. Nambah sedekah di 1 panti
Well, sekarang kita udah bisa steady di empat tempat, dua panti dan dua TPQ. Dan sejujurnya, ini bukan sombong, tapi tahun ini sebenarnya banyak banget lebihnya. I mean, gw setiap bulan ada, tapi ada beberapa bulan yang kita sampe bingung mau dikasih kemana lagi. Tapi Puji Tuhan, ada way out nya yaitu bikin Pojok Baca dan nyumbang buku.

4. Ngebikin Pojok Baca
Well, impian gw dari jaman SMK, "BIKIN POJOK BACA", akhirnya terwujud. It took long long time. Lebih dari 10 tahun. Meskipun ga gede  ya, cuman dua rak doank, tapi lumayan lah ya, daripada ga mule-mule. Pojok Baca pertama kami ada di TPQ Masjid di kampung, Dsn Welar. Kalo diceritain detail-detail gimana-gimananya, ga cukup lah satu post ini. Tapi yang jelas, begitu ide itu muncul lagi, gw tulis sebagai target, dan akhirnya beneran gw realisasiin, semesta mendukung. Bapak tiba-tiba nyumbang rak buku. Pas gw share di status WA dan Instagram, tiba-tiba banyak banget yang mau nyumbang buku. Ga cuman buku bekas, bahkan ada yang mau nyumbang buku baru yang nilainya ga kecil. Sampe karena tempatnya terbatas dan ini adalah project pertama, akhirnya kita cukupkan. Semua proses ini tiring sih, kita harus ambil buku ke beberapa tempat, belanja buku bekas, nyortir buku berhari-hari, sampe akhirnya dibawa ke lokasi, itu semua melelahkan. But, I am happy, istriku happy, anak-anakku happy, dan semoga yang baca buku-bukunya juga happy. Terima kasih semuanya.

Well, ini adalah impian gw dari SMK. So, kalau temen-temen tahu, dari SD gw udah pengen punya sekolah sendiri. Tapi karena makin gede, otak imajinasi makin terhalang oleh otak realisasi, maka pas SMK gw coba realistis untuk at least punya Pojok Baca. Ya namanya Pojok ya, untuk permulaan, satu rak buku gw kira cukup. Gw akan kasih nama, semoga istri gw setuju, Sakha 

#Akhirnya pojok bacanya ga dikasih nama. Biarin aja.

5. Bikin PT atau CV Bareng Bendol
It was so serious at d first time, karena kita dapet lumayan banyak project dengan nilai yang lumayan. Dan akhirnya beneran Bendol bikin PT. Namanya PT COCO Teknologi Indonesia. But setelah itu, many thing happen ya, yang intinya belum bisa kepegang ni barang. Dan akhirnya berhenti di pembuatan PT doank. Projectnya ga ada. Ato mungkin juga targetnya salah. Bukan bikin PT, tapi punya PT yang continues dan menghasilkan. Hehe.

6. Nerbitin 2 jurnal, 1 buku, ikut 5 seminar/webinar
Dua jurnal yang terbit di tahun 2024 adalah "Implementasi Metode Bernsen Pada Perbaikan Kualitas Citra Digital Naskah Kuno" dan "Implementasi dan Analisis Akurasi Pengukuran Luas Wilayah Kota Bekasi Menggunakan Algoritma Divide dan Conquer & Metode Grid". Keduanya terbit di bulan Juni. Ikut seminar, kalau dihitung-hitung mungkin lebih dari 10 sudah. Jadi, oke. Nah, yang baru di tahun ini adalah untuk pertama kalinya, gw dan istri, ngedaftarin karya di HKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) untuk buku pertama kami yang berjudul "Pengantar Teknologi Web". Dan ga cuman 1, menjelang akhir tahun 2024 ini kami juga ngedaftarin karya kami yang kedua yaitu "Coding 0.1" di HKI juga. Kalau ini karena salah perhitungan aja. Harusnya terbit   buku dulu, baru daftar HKI. Tapi karena ada beberapa pertimbangan, jadi kami daftarin dulu di HKI. So, untuk tahun 2024 ini kami belum ada buku baru. Tapi naskah udah siap, tinggal terbit tahun depan, tunggu waktu yang pas aja. So, gw bilang untuk target ini achieved lah.

7. Lolos Inpassing Dosen
Kalo taun kemarin gw surprise karena bisa lolos Lektor, tahun 2024 ini gw suprise lagi karena akhirnya lolos Inpassing juga. Karena berkaca dari temen-temen yang lain, proses inpassing bisa makan waktu setahun-dua tahun, tapi di kasus gw ga ada setahun. Walopun di SK nya tertulis, baru akan aktif sejak 1 Januari 2025. So, akankah taun depan bisa kita naikkan target? Let's see.

8. Maintanence Medsos @pakcondro
Gw bilang, I try, tapi ga berhasil. Tahun 2024 ini gw belajar kesana kemari, nanya temen yang udah sukses ngebranding medsos duluan, mencoba beberapa kali, dan resultnya belum berhasil. Indikatornya simple aja deh, follower gw di IG cuman nambah paling 20 orang, tulisan gw di blog cuman nambah 1 artikel dalam setahun. Ini jelas bukan pencapaian sih. Maybe kita coba lagi taun depan.

9. Persiapan S3
Tahun ini gw udah cari info ke banyak Perguruan Tinggi, cari info beasiswa kesana-kemari, nanya orang-orang yang sedang dan udah selesai S3, dan udah  nanya beberapa orang penerima beasiswa LPDP dan BPI. Semuanya udah tahu. Intinya, kalau mau dapet beasiswa, kuliah S3 pagi. Selain itu, mandiri. Dan dengan ngeliat kondisi kantor gw yang setahun ini lagi tidak baik-baik saja, kayaknya tahun 2024 cukup dengan cari-cari info aja. Kita liat tahun depan apakah kondisi akan membaik apa engga. Semoga aja ya. Karena maybe ini akan jadi kesempatan terakhir untuk ngejar beasiswa. Setelah itu, kalau tetap mau S3 ya modal sendiri.

10. Menguasai Skill Baru : Project Management dan Public Speaking
Di kantor lagi mau migrasi sistem, dan itu butuh a lot of effort. Tahun ini gw menguasai skill baru, tapi bukan Project Management dan Public Speaking, tapi malah lebih ke teknikal. So, bisa dibilang target yang ini gw gagal.

11. Sepedaan ke Kantor Lagi
Setelah bertahun-tahun, akhirnya ga sia-sia kan gw set target. Gw tahun ini bisa sepedaan ke kantor saudara-saudara. Ga tiap hari, cukup seminggu sekali aja, but ini bener-bener make me alive again. Kenangan dari dulu waktu sepedaan. Romance banget. But, satu hal yang perlu gw antisipasi adalah fisik. Sepedaan ke kantor masih kuat sih, masih aman. Tapi kalo kena ujan, masuk angin. Padahal dulu sepedaan ujan-ujanan dari Semarang sampe Surabaya aman-aman aja. Sekarang kena ujan dari kantor sampe rumah udah mriang. Dan yang lebih sedih, Channel belum bisa ikutan, karena masih rusak belum gw benerin. Jadi sejauh ini baru bisa sepedaan bareng Marija. 

12. Mudik 4 kali dalam setahun
Belum empat kali sih, baru dua kali ini. Karena ternyata ngepasin jadwal kerja, ngajar, dan sekolah anak-anak itu susah. Tapi ya disyukuri aja. Target tahun depan tetep 4 kali setahun. Let's go !!

13. Jalan Ke Bandung
Belum tercapai dan istri tetap masih nagih. BUT, akhirnya kita bisa nginep di Solo. Ini salah satu impian istri juga. Dari dulu dia mau nginep di Solo, tapi belum kesampean juga. Tahun ini, puji Tuhan terlaksana juga. Walaupun Solo akhirnya tidak begitu mengesankan buat dia. Hehe.

Dan selain 13 target di atas, ada beberapa hal yang bisa jadi memori di tahun 2024 ini.

1. Bisa ngajakin Koko dan Yayi jalan-jalan. Ini pertama kalinya gw bisa ngajakin Mbah berdua jalan-jalan. Ga jauh-jauh, cuman ke Solo Safari, tapi it's kind of fun. Tapi ada melow nya juga, karena di momen menyenangkan itu, gw sadar, Koko dan Yayi udah setua itu. Rasanya baru kemarin gw dibonceng Koko naik sepeda, tapi ternyata itu udah hampir 30 tahun yang lalu. Gw masih OK, tapi Koko udah menua 30 tahun. I hate that fact.

2. Gw dan istri diundang ke nikahan anaknya Pak Irwan dan Bu Metty. Berkali-kali gw bilang ini adalah kehormatan buat kami berdua, karena beliau berdua are another level lah dengan kita yang hanya remeh temeh ini.

3. Jalan dan nginep di Solo. Muterin "Maliboro" nya Solo yang lebih OK dari Yogya dan mencoba menikmati berbagai makanan viral dari Solo yang aslinya biasa aja.

4. Kak Sasa bisa naik sepeda roda dua dan Fakih mulai naik sepeda roda tiga.

5. Kak Sasa wisuda Tahfidz Juz 30.

6. Fakih mulai paham konsep berhitung, udah khatam angka 1-20, udah hampir selesai Iqro 1, dan makin cerewet.

7. Istriku mau diajak treking ke Sentul.

That's all target and memories in 2024. Beberapa tercapai, beberapa engga. But overall, gw bersyukur 2024 ngasih kami banyak hal. Thanks God, Thanks All.

Kak Sasa Wisuda Tahfidz dan Drama-dramanya

Minggu kemarin (16/11/2024) Kak Sasa Wisuda Tahfidz Juz 30. It's kind of milestone for her, and also for us. Gw pribadi bangga dan cukup terharu dengan pencapaian ini. Walaupun berusaha sekuat tenaga untuk terlihat "biasa aja" di depan semua orang. Tapi lebih dari itu, sebenernya yang bikin gw lebih terharu lagi adalah ketika ngelihat istriku, mama nya Sasa nangis tipis pas Wisuda. Itu lebih menyentuh.

Gw ceritain kenapa kita berdua bisa se-emosional itu.

1. Kak Sasa mulai ngaji di umur 4 tahun. Waktu mulai ngaji bener-bener dari 0. Ga ada hafalan sedikitpun, belum kenal huruf hijaiyah. Mentok paling ikut sholat jamaah sama ayah mamanya atau dengerin ngaji ayah mamanya. That's all. Dulu kami punya rencana ngebiasain dengerin murottal Al Quran tiap pagi. Niru yang dilakuin oleh keluarga Kakak. Tapi gagal, karena setelah beberapa lama ternyata Kak Sasa ga begitu antusias. Yang ada malah cemberut mulu tiap hari. Karena ga pengen meninggalkan kesan bacaan Quran itu "nyebelin" buat Kak Sasa, akhirnya kami stop. Mungkin bukan ini caranya.

2. Kak Sasa punya sepupu yang emang into banget ke Tahfidz Quran. Sepupu yang gede (Mas Naufal) bahkan kalau ditanya cita-citanya apa? Akan lantang jawab pengen jadi Syeikh. Sementara sepupu yang kecil (Mas Fahri, adiknya Mas Naufal) dikasih kelebihan sama Allah suka dengerin Murottal, suka ngaji, dan cepet menghafal. Dua tiga kali denger bacaan Quran aja langsung hafal. Sementara Kak Sasa, kami tahu, ga sehebat sepupu-sepupunya itu dalam hal menghafal. So, dalam POV yang positif, Kak Sasa akan termotivasi untuk sehebat sepupu-sepupunya. Tapi dalam POV negatif akan tertekan karena harus sehebat mereka. Kami orang tuanya tahu, dan udah sering ngobrol ke Kak Sasa, untuk do the best aja, yang penting berusaha, bla bla bla. Tapi tetep aja, jiwa kompetitifnya itu yang kadang bikin dia stress dan sebel ama dirinya sendiri. "Kenapa aku ga sehebat Mas Fahri ?", begitulah kata yang dulu sering terdengar dari curhatannya Kak Sasa.

3. Karena mungkin bukan 'passion' nya dia, akhirnya setiap kali nambah hafalan atau murojaah, ada aja dramanya. Sampai pada satu titik, mamanya nyerah, karena ga bisa ngelihat Kak Sasa nangis kalo ngaji. Dan yang dulunya kita gantian berdua, sekarang-sekarang ini kebanyakan ngajinya sama Ayah aja. Semua berjalan baik, sampai akhirnya kemarin mau ujian. Ayah mungkin lebih konsisten, tiap abis maghrib ngaji bareng anak-anak. Tapi ayah kalau ngajarin ngaji ga detail. Salah-salah dikit dibiarin, dimaklumin. Lupa satu dua ayat dibantuin dan ga dibenerin, di-skip aja. Target juz 30 selesai sih. Tapi pas murojaah ulang banyak bolongnya, banyak lupanya.

4. Karena faktor itulah, akhirnya mamanya mau turun tangan lagi. Hampir sebulan penuh mamanya mau ngajarin ngaji lagi, buat benerin yang salah-salah dan nambal yang bolong-bolong. Sampai anak dan mamanya nangis-nangis, sampai karena ga tega ayah debat sama mama mulu, ngaji sampai malem, nonton TV minim sekali, dan seterusnya-seterusnya. Tapi akhirnya, kerja keras itu berbuah manis. Ujian lancar. Lulus dengan catatan minim, Dan Kak Sasa lulus sebagai wisudawan termuda, 6 tahun. Good job !

(Kak Sasa dan Mas Fahri bersama Kak Lutfia, Guru Ngajinya)

Kami berdua selalu bilang sama anak-anak, Kak Sasa dan Fakih, bahwa semua orang itu punya kelebihan masing-masing. Mas Fahri (sepupu yang tadi) dikasih kelebihan "mudah menghafal, susah lupa. Ingatannya kuat", Anbiya (temen TK-nya) diberi kelebihan "pinter menggambar". Sementara itu kita (Ayah, Mama, Kak Sasa, dan Fakih) tidak punya kelebihan itu. Tapi sama Allah diberi kelebihan :
"punya mimpi, selalu berusaha, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah".
Itu juga kelebihan, karena tidak semua orang punya. 

Satu-satunya PR dari anak-anak Ayah dan Mama adalah mengelola emosi. Suka sebel sendiri, nangis,  kalau ga bisa-bisa. Tapi disuruh berhenti atau istirahat dulu juga ga mau, karena masih harus berusaha dan harus bisa. Bagi mereka, "pokoknya kalau belum selesai atau belum bisa, ya jangan berhenti".  Itu sekarang yang jadi PR buat ayah dan mama. Gimana ngajarin anak-anak untuk bisa mengelola emosi dan berkata "cukup untuk hari ini".

Well, apapun itu, sekali lagi selamat buat Kak Sasa. Selamat buat mamanya Sasa. Ini adalah kemenangan dan keberhasilan kalian berdua. Good Job !

Selamat juga Mas Fahri dan Mas Naufal. Keren! Dan tak lupa terima kasih buat guru-guru di TPQ Azzahra (Bu Zahra, Kak Lutfia, dan guru-guru lainnya). Terima kasih Uti, Bunda, Bude, Pakdhe  yang sering direpotin.

Si Fakih 3.5 Tahun

Hari-hari ini gw sangat kagum dengan perkembangan impressive Fakih, anak gw yang cowok. Btw, umurnya baru 3.5 tahun. 

Beberapa bulan ini, beliau yang dipetuan agung Bapak Fakih mengalami perkembangan yang menurut gw luar biasa. 

Pertama,
Mulai dari sekitar dua bulan yang lalu Fakih mulai mau memperbaiki kata-katanya yang kurang jelas. Ga tau kenapa dari kecil Fakih kalo ngomong suka cepet-cepet, jadi banyak kata yang jadinya kurang jelas. Misalnya : Lagi diucapin Agi, Sedikit diucapin Letik, Mandi jadi Andi, Minum jadi Inum, Sepeda jadi Eda, dan lain-lain. Pokoknya diambil bagian belakangnya aja. Tapi sejak dua bulan lalu, Fakih  mau belajar memperbaiki kata-katanya dan ngomong lebih pelan. 

Kedua,
Gw lupa kapan mulainya, mungkin dua bulan yang lalu juga, Fakih mulai mau belajar Ngaji dan Iqro. Kalau ngajinya masih agak sulit dia. Tapi Iqro nya lumayan bro. Sampai sekarang Fakih udah sampai Iqro 1 huruf Tho. Buat anak 3.5 tahun, menurut gw ini cukup keren sih. Sebagai perbandingan, Kak Sasa yang kami anggap pinter aja baru pegang Iqro setelah 4 tahun. Gw sendiri dulu pegang Iqro baru kelas 1 SD. Wkwkwk.

Ketiga,
Tiba-tiba hafal angka 1-10. Mungkin karena sering nonton kartun Balok Angka di Mentari TV tiap pagi, jadi tanpa disadari Fakih bisa angka 1-10. Sekarang bahkan udah coba-coba berhitung sampai 30. Ngeri. Selain itu Fakih juga udah mulai paham konsep menghitung benda. Tidak hanya menghafal urutan angka. Saking senengnya menghitung, sekarang kalau bikin susu bubuk, dia ga mau disendokin susunya. Maunya dia yang ambil sambil berhitung, Satu-Dua-Tiga-Empat-Lima. Terus kalo lihat apa-apa semuanya dihitung ama dia. Keren. Ga cuman itu, Fakih juga udah tahu bentuk angka 1-10 itu gimana. Jadi kalo ditanya ini angka berapa? Dia udah bisa jawab. Bahkan sampai 20 udah tahu juga.

Keempat,
Selain menghitung, Fakih juga mulai belajar menulis angka. Gw dan istri ga pernah ngajarin juga. Sampai suatu hari tiba-tiba pas mandi, di bikin angka 1 dan 7 di balik pintu kamar mandi pake tangannya yang basah. "Ayah, ini angka 1. Ini angka 7". Terus dia minta gw untuk ajarin bikin angka yang lainnya. Tapi karena Fakih belum bisa bikin garis lengkung, akhirnya cuman gw ajarin bikin angka 1,4,dan 7. Dan sekali diajarin, langsung bisa, ingat, dan lancar. Seminggu kemarin (20241017) Fakih minta diajarin nulis angka yang lain. Dan akhirnya gw ajarin bikin angka 2,3,5, dan 6. Dia agak kesulitan bikin 2 dan 3, karena lengkungannya. Tapi akirnya tetap bisa, walaupun gede banget. Dan yang paling bikin kaget, besoknya, pas gw pulang kerja, Kak Sasa laporan ke gw kalo Fakih udah bisa nulis sampai 9. Gw kaget donk, kan belum diajarin. Tapi pas gw tes, ternyata emang udah bisa, walaupun cara nulisnya salah (8 dibikin dua bola, 9 dibikin kayak lolipop). Tapi apapun itu, itu keren menurut gw.

Kelima,
Besoknya lagi (20241019), kak Sasa laporan lagi ama gw, kalo Fakih udah bisa nulis huruf AIUEO. Fakih bilangnya bikin "AIE". Pas gw liat bukunya, bener donk. Tapi gw tetep ga percaya. Ini pasti dibantuin kakaknya ni. Tapi pas gw suruh nulis sendiri, ternyata emang bisa sendiri. Ngeri.

Keenam, Terakhir,
Beberapa hari yang lalu Fakih minta ke gw untuk diajarin gambar rumah. Beberapa hari kemudian Fakih nunjukin ke gw sebuah gambar. Gw kaget lagi donk. Karena gambarnya ga cuman rumah. Tapi ada bukit, rumah, pohon, matahari, lengkap dengan awannya. Sekali lagi gw ga percaya, ini pasti yang nglengkapin kakaknya. Tapi ternyata engga, ini bikinin Fakih ganteng.

Ketujuh, Tambahan,
Karena Fakih udah mulai bisa angka, akhirnya gw kasih tugas (soal), kayak Kakaknya dulu. Menghitung dan menulis angka sederhana. Dan dia bisa saudara-saudara. Tulisannya juga jauh lebih bagus. Mantap. 

Next,
Gw bakal ajarin Fakih konsep penjumlahan. Dan memperkenalkan huruf lebih intens lagi. Biar umur 4 tahun bisa baca. Walaupun nanti pasti gw bakal diomelin sama eyangnya. Bilangnya, "jangan maksain anak". Padahal kan anaknya seneng yak. Hehe. 

Ayah, Manusia Paling Kesepian Di Dunia

Suatu hari, gw tersentuh pas liat konten di Instagram tentang "kesepian seorang ayah". Tulisan berikut adalah intisari konten tersebut yang udah gw custom.


Seorang ayah adalah orang paling kesepian di dunia.
Dia adalah orang yang punya banyak masalah, tapi menutupinya dengan tawa.
Di tempat kerja, di lingkungan, bahkan di rumahnya.
Di tempat kerja, mungkin saja ia dimaki-maki atasannya.
Tapi ia harus bertahan karena ia butuh menafkahi keluarganya.
Di lingkungan mungkin saja ia bertengkar dengan tetangganya.
Tapi itu dilakukan karena mungkin sedang membela martabat keluarga.
Pun di rumah kadang bertengkar dengan istri dan anak-anaknya.
Tapi pun begitu, ia tetap harus menjadi yang pertama berdamai karena ia adalah kepala keluarga.


Seorang anak ketika punya masalah, ia akan datang ke ayahnya.
Ayah pasti akan membereskan semuanya.
Seorang istri ketika punya masalah, ia akan datang ke suaminya.
Suaminya yang akan mengelap air matanya.
Tapi seorang ayah, ketika punya masalah.
Dia tak punya seorang pun untuk berkeluh kesah.
Tak ada lagi teman, karena teman-temannya sudah tak terjamah.
Tak ada lagi orang tua, karena orangtuanya sudah menua, tak pantas baginya berkeluh kesah.
Bahkan sebagian sudah menghadap sang Illah.
Pun tak mungkin ayah cerita ke istri dan anak-anaknya.
Karena seorang ayah tak boleh terlihat lemah. 


Sesekali lihatlah,
Jika di rumah ada ayam untuk makan malam, lihatlah, apa yang ia makan dan sisakan.
Jika kalian ke mall dan makan di restauran, perhatikan, apa yang ayah pesan.
Jika kalian bisa terus sekolah, peganglah, sepatu dan jaket sang ayah.
Seorang ayah rela memberikan dunianya untuk anak dan istrinya.
Karena sejatinya kebahagiannya adalah pada tawa mereka.


Tapi coba pikirkan bagaimana perasaan sang ayah,
Ketika ia tiba di rumah,
Istri menyambut dengan raut muka yang tak ramah,
Sementara anak-anaknya sibuk dengan TV dan gadgetnya,
Lantas,
Mungkin saja saat itu Ayah menghela nafas,
Merasa tak pantas,
Dan berkata, "Aku hanya harus bekerja lebih keras".
Kesepian sang Ayah, tak pernah tuntas,

Dan semakin hari semakin tanpa batas,

Nangisin "Agar-agarnya" Panji Sakti

Bahwa siklus hidup seseorang biasanya akan berulang, gw percaya. Mungkin Tuhan sengaja mengulang karena waktu itu kita belum lulus ujian. Jadi pengulangan ini semacam remidial agar mendapat nilai yang lebih bagus.

Persis apa yang telah dan sedang terjadi sama gw  hari ini. Gw dari zaman SMP kelas 1 suka banget puisi. Bagi gw waktu itu puisi itu sesimpel curhat aja. Bercerita jujur tentang apa yang kita rasakan. Puisi bagi gw waktu itu bisa lebih mewakili suasana hati yang kadang hiperbolic, yang kalo disampaikan lewat cerita narasi kurang dapet feelnya. Puisi bisa.

Menginjak SMA, gw masih suka berpuisi, tapi gayanya totally berubah. Waktu SMA ketika diksi-diksi gw udah mulai banyak, puisi itu ga hanya bercerita, tapi juga tentang keindahan. Oleh karenanya penggunaan majas, rima, dan lain-lain itu ada banget. Tapi puisi gw mulai kehilangan maknanya.

Puncaknya adalah ketika kuliah, puisi gw semakin teknis. Penuh dengan perumpamaan, diksi-diksi aneh, dan tentu saja rima. Tapi gw ngerasa, puisi ini ga jujur. Hanya ngejar teknis aja. Oleh karenanya, waktu kuliah, gw pindah lagi nulis narasi. Nulis di blog. Karena waktu itu gw udah ga mungkin lagi cerita pake puisi. Puisi gw waktu itu ga lebih dari penulisan penuh teknik yang indah. Tapi tak bermakna.

Lama kemudian gw ga nulis puisi lagi. Pun kemudian dibarengi ga nulis blog pula. So, everything hanya muter-muter di kepala aja, tapi ga bisa keluar. Seperti yg gw ceritain di post sebelumnya.

Tapi seakan roda berputar, hari ini gw kembali harus berhadapan dengan puisi, atau mungkin lirik, mungkin. Gw lagi seneng-senengnya dengerin lagu-lagunya Panji Sakti. Kemudian menyusul Raim Laode, Sal Priadi, dan sebagainya. Yang, menurut gw, secara lirik itu keren sekali. Dan ketika dibawain lewat lagu, ya tambah keren. Walaupun kalo didengar dengan seksama, nada-nadanya mirip-mirip. Tapi d point is lyric. Gw terpukau dengan lirik-liriknya yang terlihat sederhana, tapi tidak sederhana. Terlihat biasa, tapi indah. Dan satu lagi yang penting, ketika gw baca atau denger background story nya, itu sempurna. 

Gw aja sampe bingung, kok bisa gw nangis denger lagu anak-anaknya Panji Sakti yang "Agar-agar". Gw putar lagi, dan gw nangis lagi. Gw nyanyiin sendiri, sampe gw ga bisa nyanyi lagi. Gini liriknya kira-kira.

Lirik 1 :
"Ibuku pandai membuat agar-agar"

Ketika gw nyanyiin lirik pertama dari lagu ini aja gw udah terharu. Inget Ibu di rumah. Inget waktu-waktu kecil Ibu masakin ini-itu (ga harus agar-agar), inget masa-masa ketika dunia kita adalah orang tua. Dan gw kebayang, apakah nanti anak-anak gw, ketika udah gedhe, merasakan apa yg gw rasain hari ini. Kerinduan kepada orang tua, atau malah mereka ga mau inget ke gw, karena gw ga bearti di mata mereka".

Lirik 2 dan seterusnya :
Beraneka rasanya
Strawberry kelapa
Atau sari pandan
Didalamnya roti
Atau serat sayuran
Disirami susu
Oh lezat sekali um

Kalimat-kalimat ini Hanya memperjelas lirik pertama.

Lirik selanjutnya :
Jika sepandai Ibu
Akan kubuat satu
Agar-agar yang tinggi
Setinggi rumah

Disini gw terharu lagi, kadang nangis juga. Bahwa cita-cita seorang anak itu sederhana. Ingin sepandai, sehabat, sekeren ibunya atau ayahnya. Kalau dibalikin ke gw, "ya gw pengen sekeren bapak ku". Di mataku hari ini, bapaku yang sebulan lagi pensiun itu keren sekali. Pengorbanan, kesabaran, ketabahan, keikhlasannya luar biasa. Gw pribadi ingin seperti beliau. Lantas sekarang pertanyaannya, ketika hari ini gw udah jadi orang tua, apakah anak-anak ku juga bercita-cita "jika sepandai Ibu/Ayah?". I don't know. Yang jelas itu adalah kalimat yang bagi gw penuh makna.

Lirik selanjutnya :
Lalu kawan-kawanku
Datang berduyun-duyun
Bawa sendok dan pinggan
Dan kuucapkan
Selamat menikmati

Di lirik ini gw kebayang, bahwa setelah anak selesai dengan orang tuanya, merasa sudah "sepandai Ibu", maka orang-orang yang bakal dia undang adalah "kawan-kawannya". Bukan orang tuanya lagi. Artinya, nanti setelah anak-anak sudah merasa "selesai dengan orang tua sebagai dunianya", ketika anak udah mulai remaja, anak akan punya dunianya sendiri, yaitu dunia dengan teman-temannya. Dan saat itu terjadi, gw, kita, sebagai orang tua harus siap merelakan anak kita pergi dengan dunianya. Bahkan mungkin di kasus terburuknya, harus rela untuk dilupakan. Karena saat itu datang kita udah ga bisa relate lagi dengan anak-anak kita.

Well, mungkin gw lebay memaknai lagu ini. Atau terlalu overthinking. Tapi itu yang gw rasain setiap kali gw nanyiin lagu ini sembari naik motor pergi/pulang kerja. Dan udah mau sebulan ini gw belum bosen. Dan sesekali masih terhenti untuk sekedar menyeka air mata.

Dari lirik lagu agar-agar ini gw belajar bahwa puisi, lirik, narasi seharusnya tidak sekedar diksi, rima, makna, cerita, atau latar belakang cerita. Tapi lebih dari itu adalah rasa. Rasa adalah ketika kita mendengar, membaca dan kemudian saat itu juga kita terbawa dan terlibat dalam theather of mind yg terbentuk. Sama seperti gw baca "Ibuku pandai membuat agar-agar", saat itu juga langsung terbentuk Theather of Mind, di dalam rumah, saat kita masih kecil, kita bercengkerama dengan Ibu untuk dibuatkan agar-agar. Gambarannya jelas dan rasa rindu itu datang seketika. That's a perfect story.

Anyway,
semesta kayaknya tahu apa yang gw rasain, makanya Home Youtube gw tiba-tiba muncul "Gala Bunga Matahari" nya Sal Priadi, Raim Laode, dan Nadine Amizah. Lagu-lagu yang mengedepankan lirik. Gw berpendapat bahwa kayaknya gw harus masuk lagi ke dunia penulisan karena kayaknya gw belum lulus betul di bidang ini.